Saturday, June 29, 2019

Hukum dan Keutamaan Belajar Aqidah

Pendahuluan

Tidak diragukan lagi menuntut ilmu merupakan amalan yang sangat mulia. Bahkan merupakan kewajiban setiap Muslim1. Banyak sekali ayat maupun hadits Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menyebutkan tentang keutamaan seorang ulama dan penuntut ilmu.2 Mereka adalah sebaik baik makhluk3. Kesaksian mereka atas keesaan Allah disejajarkan dengan kesaksian Allah dan para malaikatnya4. Derajat mereka ditinggikan.5 Para malaikat serta makhluk hidup yang lainnya senantiasa mendoakan mereka.6Bahkan Allah menjadikan ukuran kebaikan seseorang dengan ilmu yang dia miliki7. Cukuplah kemudahan meraih syurga8 yang dijanjikan bagi mereka, menjadi motivasi kita untuk mengikuti jejak mereka.
Para ulama menjelaskan bahwa ilmu yang dimaksud dalam nash-nash yang ada adalah ilmu syar’i9. Ilmu yang berlandaskan dari Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman Salafusshalih. Dan diantara semua ilmu syar’i yang ada, ilmu akidah (atau disebut juga dengan ilmu tauhid) menempati posisi yang pertama. Hal ini dikarenakan objek pembahasannya yang berkaitan dengan Zat Allah dan peribadahan kepadanya. Sementara tidak ada yang lebih dibutuhkan oleh jiwa manusia melebihi pengenalannya terhadap Zat Allah ta’ala ( (ma’rifatullah). Dan –sebagaimana kata para ulama-,10 “keutamaan suatu ilmu bergantung dengan keutamaan objek yang dikaji dalam ilmu tersebut.”

Hukum Belajar Ilmu Akidah

Mempelajari Ilmu akidah secara umum hukumnya wajib bagi seorang Muslim. Namun para ulama membaginya menjadi dua bagian. Yang bersifat fardhu ‘ain, yaitu ilmu akidah secara global (Ijmaali). Dan yang bersifat fardhu kifayah, berupa rincian rincian ilmu akidah (Tafshiili).11 Akidah ahlu sunnah secara global seperti keyakinan adanya Allah, malaikat, para nabi, dan kitab kitab yang diturunkan, serta akan datangnya hari kiamat dan sebagainya. Dalam hal ini wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari dan mengetahui serta meyakininya, dan berdosa jika ditinggalkan. Adapun rincian hal hal tersebut, seperti mengenal nama nama malaikat dan tugas tugasnya atau rincian kejadian di hari kiamat dan sebagainya, maka hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah. Jika sebagian kaum Muslimin sudah mempelajarinya dengan benar, maka menjadi gugur kewajiban kaum muslimin yang lain untuk mempelajarinya.
Namun ada dua kondisi dimana mempelajari rincian akidah menjadi fardhu ain. Yang pertama ketika seseorang memiliki kesempatan dan kemampuan untuk mempelajarinya. Dalam kondisi seperti ini, tidak diperbolehkan baginya meninggalkan kesempatan mempelajari rincian akidah yang benar. Seperti seseorang yang berkesempatan menempuh pendidikan di timur tengah, dan disana diajarkan kajian akidah secara rutin, maka ketika itu diwajibkan baginya mengikuti dan mempelajari akidah tersebut. Namun bagi masyarakat awam misalnya, yang tidak memiliki kesempatan atau kemampuan mempelajari akidah, maka cukup baginya mengetahui akidah ahlu sunnah secara global.
Adapun keadaan yang kedua, mempelajari rincian akidah menjadi wajib ketika hal itu menjadi kebutuhan mendesak. Sebagai contoh, di suatu tempat yang disana tersebar aliran sesat, sehingga banyak orang yang rusak akidahnya, maka setiap orang wajib membentengi dirinya dengan ilmu akidah yang berkaitan dengan penyimpangan yang terjadi. Yang dengan itu dia bisa menangkal dan selamat dari paham sesat tersebut. Seseorang yang tinggal di tempat yang disana tersebar aliran syiah, wajib baginya untuk mempelajari syubhat syubhat syiah dan bantahannya. Seseorang yang tinggal di tempat yang disana banyak penyembah kuburan, wajib bagi nya untuk mempelajari tentang syirkul qubur (syirik yang berkaitan dengan kuburan) dan seterusnya.
Dan berikut beberapa point yang menunjukan pentingnya mempelajari ilmu akidah ;

Kewajiban pertama dan terakhir setiap muslim

Para ulama sepakat bahwa kewajiban pertama seorang mukallaf adalah membaca dua kalimat syahadat yang merupakan kalimat tauhid12. Dan mereka juga sepakat, bahwa seseorang yang sudah melakukannya sebelum baligh tidaklah diperintahkan untuk memperbaharui dengan mengulanginya kembali ketika sudah baligh13.
Begitu juga seorang yang kafir, ketika hendak masuk islam kewajiban yang pertama kali dibebankan kepadanya adalah mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebagaimana ditunjukan oleh hadits riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu. Ketika Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal Rodhiyallahu ‘Anhu ke Yaman beliau bersabda, “Wahai Mu’adz sesungguhnya engkau akan menemui kaum ahli kitab. Maka hendaklah hal yang pertama kali engkau dakwahkan adalah supaya mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah…” 14.
Selain kewajiban yang pertama tauhid juga kewajiban akhir seorang muslim. Seseorang yang meninggal dalam keadaan bertauhid akan masuk syurga. Namun sebaliknya jika seseorang meninggal dalam keadaan syirik yang membatalkan tauhidnya, maka dia akan masuk neraka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang akhir perkataannya laa ilaaha illallah dia akan masuk syurga”15. Beliau juga bersabda, “talkinlah seorang yang hendak meninggal dari kalian untuk mengucapkan laa ilaaha illallahu..” 16 . Maka tauhid merupakan kewajiban yang pertama dan yang terakhir setiap Muslim.

Ilmu tauhid dibutuhkan di alam kubur

Bukan hanya di dunia, Ilmu tauhid juga dibutuhkan hingga di alam kubur untuk menjawab fitnah kubur berupa 3 pertanyaan malaikat17. Sebagaimana diketahui bahwa seorang yang sudah meninggal akan mendapatkan fitnah kubur berupa pertanyaan malaikat. Tentang siapa Tuhan, Nabi, dan Agama mereka. Tiga pertanyaan ini hanya akan dijawab oleh mereka yang memiliki akidah yang benar tentang tiga hal tersebut.18

Akidah dengan amalan ibarat sebuah pondasi dari sebuah bangunan

Tanpa akidah yang benar suatu amalan tidak akan berguna. Allah ta’ala berfirman, “Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Qs. Al Furqon : 23). Dan inilah salah satu alasan kenapa Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di permulaan dakwahnya, tiga belas tahun di Makkah, hanya berdakwah kepada tauhid. Sampai ketika tauhid ini sudah menancap dalam jiwa para sahabat, barulah turun syariat syariat yang merupakan bangunan agama Islam.

Inti dakwah para nabi

Diutusnya para Rosul merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia. Hal ini disebabkan kebutuhan manusia terhadap dakwah yang dibawa oleh para Rosul sangat mendesak. Bahwa keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat terdapat pada ajaran yang dibawa oleh para Rosul. Allah ta’ala berfirman, “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Qs. Al Imron : 164)
Dan kalau kita membaca nash nash yang ada, kita akan mengetahui bahwa inti ajaran para Rosul yang di utus adalah tauhid.19Tidaklah seorang Rosul di utus, kecuali menyeru kaumnya kepada tauhid. Allah ta’ala berfirman, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghutitu” (Qs. An Nahl : 34). Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “sesungguhnya aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah”20Hal ini menunjukan pentingnya tauhid.

Bahaya tidak memahami tauhid

Sesorang yang tidak memiliki ilmu tauhid yang benar mungkin sekali terjatuh kedalam kesyirikan yang merupakan dosa yang paling besar. Bahkan bisa mengeluarkan pelakunya ke dalam islam. Dia akan meremehkan perbuatan dosa, bahkan syirik sekalipun. Dia akan menyangka selama sudah mengucapkan dua kalimat syahadat maka dia akan aman. Padahal lihatlah nabi Ibrohim ’alaihi Salam. Imamnya Ahlu Tauhid, bapak para nabi, penghancur berhala berhala di zamannya. Meskipun begitu beliau sangat takut terhadap kesyirikan21, hingga selalu berdoa kepada Allah meminta dijauhkan dari perbuatan kaumnya yaitu menyembah patung. Allah ta’ala berfirman –menyebutkan doa nabi Ibrohim ‘alaihi salam, “dan jauhkanlah aku dan anak anaku dari menyembah patung” (Qs. Ibrohim: 35). Ini tentu berdasarkan pemahamannya terhadap makna tauhid yang benar. Hal ini tidak akan timbul dari orang yang bodoh terhadap ilmu tauhid.

Perhatian para ulama salaf terhadap Ilmu Akidah

Kalau kita membaca sejarah para pendahulu kita dari kalangan salaf, kita akan mendapatkan besarnya perhatian mereka terhadap masalah akidah. Tidak ada yang lebih diperhatikan oleh para ulama salaf melebihi perhatian mereka terhadap ilmu akidah. Hal ini terlihat dari banyaknya kitab yang ditulis dalam ilmu akidah.22Hal ini tentu saja berdasarkan pemahaman mereka akan pentingnya ilmu akidah, serta bahaya yang akan timbul dari kebodohan umat dalam masalah akidah. Wallahu ‘Alam
Bersambung insya Allah…
***
Catatan kaki
1 Hadits Anas bin Malik lihat hadits no 5266 dalam Al Jaami’ As Shoghir Imam Suyuthi, dan dihasankan oleh beliau.
2 Tentang keutamaan ilmu lihat di kitab Jaami’ bayaanul Ilmi Wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr (Dar Ibnul Jauzi, Dammam)
3 Qs. Al Bayyinah : 7
4 Qs. Al Imron : 18
5 Qs. Al Mujadalah : 11
6 Lihat hadits no 1838 di sohih Al Jaami.
7 Lihat hadits riwayat Bukhori No. 7312 dan Muslim No. 1037
8 Lihat Hadits no 88 di sohih Ibnu Hibban
9 Ibnul Qoyyim Rahimahullah dalam Qoshidah Annuniyah nya berkata,
العلم قال الله وقال رسوله قال الصحابة هم أولوا العرفانى
“Ilmu adalah firman Allah dan firman Rosul Nya perkataan para sahabat merekalah pemilik pengetahuan”
10 Ibn Abil Izz, Syarhul Akidah At Tohawiyah, hal. 2
11 Ibid hal. 3. Namun dalam ta’liq (catatan) nya terhadap Syarh Akidah Tohawiyah, Dr. Ibrohim Ar Ruhaili Rahimahullah berpandangan bahwa tidak tepat pembagian mempelajari akidah menjadi fardhu ain dan fardhu kifayah. Tapi lebih tepat dikatakan pembagiannya menjadi wajib dan mustahab. Sebagai contoh mengenal Allah ta’ala dengan mempelajari asmaul husna secara rinci tidak tepat jika dikatakan sebagai fardhu kifayah, bahkan fardhu ain bagi setiap orang untuk mengenal Allah. Wallahu ‘Alam
12 Hal ini berbeda dengan keyakinan Asyairoh. Diantara mereka ada yang menyatakan bahwa kewajiban seorang mukallaf adalah keraguan (As Syak). Sebagian lain menyatakan pengamatan (An Nadzor) dan seterusnya sampai ada 6 lebih pendapat. (lihat Dr Safar Hawali, Manhajul Asyaa’iroh Fil Akidah (Dar Sofwah, cet 1 1434 H) hal. 16 dan Syarhul Akidah Tohawiyah. Hal.6
13 Ibn Abil Izz. Hal. 6
14 HR Bukhori no. 4347
15 Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban (719), dan disohihkan oleh syaikh Al Bani dalam Irwaaul Gholil (3/50)
16 HR Muslim No. 916
17 Fitnah kubur disepakati keberadaannya oleh para ulama baik salaf maupun khalaf. Dalam hal ini kelompok yang menyelisihi dengan mengingkari adanya fitnah kubur adalah Bisyr Al Mariisi dan para pengikutnya dari kalangan Mu’tazilah. Lihat Ma’aarijul Qobul, Hafidz Al Hakimi (Dar Ibnul Jauzi, Dammam, Cet. 8; 1432 H) Juz 2 Hal. 872-880
18Penjelasan tentang tiga jawaban atas pertanyaan malaikat dijadikan dasar dalam risalah Ushulus Tsalasah, Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah
19 Lihat Ibn Abil Izz, Syarhul Akidah At Tohawiyah, Hal. 137
20 Bukhori No. 22 dan Muslim No. 25
21 Lihat pembahasan tentang hal ini di kitabut Tauhid, Muhammad bin Abdul Wahhab, bab 3. Dan syarahnya Syaikh Sholih Alu syaikh, At Tamhid (Maktabah Darul Minhaj, Riyadh) hal. 50-65
22 Lihat perkembangan penulisan kitab kitab akidah dalam kitab Tadwin Ilmul Akidah Inda Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, Dr. Yusuf bin Ali At Thoraifi (Dar Ibnu Khuzaimah, cet I: 1430 H, Riyadh), terutama di Muqoddimah (Hal. 11-43)
—
Penulis: Abdullah Hazim
Artikel Muslim.Or.Id


Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/24764-hukum-dan-keutamaan-belajar-akidah.html
Bismillah

*Mengapa Harus Belajar Aqidah*

Puasa, adalah salah satu diantara lima rukun Islam. Sebelum puasa telah ada dua kewajiban besar lain atas kita, yaitu syahadat dan sholat. Sholat dan puasa pun baru diwajibkan setelah sekian lama dakwah tauhid dikumandangkan dan disebarluaskan.

*Hal ini tentu menunjukkan kepada kita betapa butuhnya ibadah-ibadah yang agung ini -sholat, puasa, dan juga selainnya- kepada landasan akidah yang benar.*

Sebagaimana hal itu ditunjukkan oleh firman Allah (yang artinya), *“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi : 110)*

*Ibadah kepada Allah tidak akan diterima apabila dilandasi dengan akidah yang rusak dan melenceng jauh dari tauhid dan iman. Ibadah sebesar apapun apabila tercampuri dengan syirik maka ia akan menjadi musnah, lenyap, dan sia-sia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),*
*“Dan Kami teliti segala amal yang telah mereka lakukan, kemudian Kami jadikan ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan : 23)*

*Amal-amal yang tidak ikhlas, amal-amal yang tidak ditegakkan di atas tauhid dan sunnah, maka amal-amal itu akan ditolak di sisi Allah ta’ala.* Allah ta’ala berfirman (yang artinya), *“Katakanlah; Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi amalnya, yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dunia sementara mereka mengira bahwa dirinya telah melakukan dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi : 103-104)*

Seperti contohnya, kisah yang sudah sangat terkenal tentang pengingkaran sahabat Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu’anhuma terhadap kaum Qadariyah/penolak takdir. Beliau dengan lantang mengatakan, “Seandainya mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu diinfakkan maka Allah tidak akan menerimanya dari mereka sampai mereka mau beriman kepada takdir.” (HR. Muslim)

Hal ini menunjukkan bahwa amal orang yang tidak beriman tidak diterima, sebesar apapun amal itu. Karena amalan itu tidak dilandasi dengan iman yang benar, yaitu keimanan kepada segala apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya dengan penuh penerimaan dan kepatuhan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam asy-Syafi’i rahimahullah, “Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah sebagaimana yang dikehendaki Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sebagaimana yang dikehendaki Rasulullah.”

Ini artinya, mengerjakan ibadah puasa -atau ibadah-ibadah lainnya- harus ditopang dengan akidah sahihah. Semata-mata membaguskan amal dan memperbanyak amal tanpa meluruskan akidah dan membersihkannya dari kekafiran dan kemunafikan adalah sia-sia. Sebagaimana halnya, hanya mementingkan ikhlas namun tidak berupaya mengikuti tuntunan dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sia-sia.

Dengan demikian, seorang yang menjalankan ibadah puasa, akan tetapi masih memiliki amal-amal yang tergolong dalam syirik akbar atau kufur akbar, maka tidaklah berguna puasa yang dia lakukan. Oleh sebab itu, Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah menerangkan, bahwa dibukanya pintu surga di bulan Ramadhan adalah untuk orang beriman, adapun orang kafir maka pintu surga itu tertutup bagi mereka.

Diantara bentuk kufur akbar yang banyak tersebar di masa kini adalah anggapan bahwa semua agama benar. Semua agama itu -menurut mereka- adalah jalan-jalan menuju satu tujuan yang sama yaitu Allah. Ibarat sebuah roda pedati dengan jeruji-jerujinya. Allah adalah porosnya dan agama-agama adalah jerujinya. Demikian ungkapan yang mereka lontarkan. Sehingga -dalam anggapan mereka- semua agama pada akhirnya akan mengantarkan pemeluknya ke surga. Sampai-sampai terdengar komentar dari sebagian orang, “Kalau surga hanya dihuni orang Islam, maka orang Islam pasti akan kesepian”. Subhanallah! Maha Suci Allah, sungguh ini adalah kedustaan dan kekafiran yang sangat besar. Maha Suci Allah dari apa-apa yang mereka ucapkan…

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, bukankah anda beriman terhadap al-Qur’an? Bukankah anda beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Allah ta’ala telah menegaskan di dalam ayat-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 19)

Allah juga berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan kelak di akhirat dia pasti termasuk golongan orang-orang merugi.” (QS. Ali ‘Imran : 85)

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun yang mendengar kenabianku di antara umat ini, entah dia beragama Yahudi atau Nasrani kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak mengimani ajaran [Islam] yang aku bawa melainkan kelak dia pasti termasuk golongan penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Firman-Nya (yang artinya), “Mereka berkata: Jadilah kalian beragama Yahudi atau Nasrani niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk! Katakanlah: [Tidak] Akan tetapi kami akan mengikuti agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Baqarah: 135)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ibrahim bukanlah Yahudi, bukan pula Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif/bertauhid dan seorang muslim, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Ayat-ayat dan hadits di atas sangatlah jelas bagi orang yang mau tunduk kepada wahyu dan tidak sombong.

Adapun orang yang sombong dengan logika dan perasaannya maka dia akan menolak serta enggan untuk meyakininya.

—

Penulis: Ari Wahyudi
Artikel Muslim.Or.Id



Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/21821-mengapa-harus-belajar-akidah.html
Ustadz Abu Yahya Badrusalam

*DIDIK DAN DOAKAN ANAKMU*

Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu pernah berkata, “Didiklah anakmu karena kamu akan ditanya tentang tanggungjawabmu, apakah sudah kamu ajari anakmu, apakah sudah kamu didik anakmu dan kamu akan ditanya kebaikanmu kepadanya dan ketaatan anakmu kepadamu.” Disamping ikhtiar dengan mendidik anak hendaknya orangtua selalu mendo’akan anak-anaknya agar mereka tumbuh dengan naungan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala pula. Karena doa orangtua atas anaknya termasuk doa yang mustajab.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan, doa orang yang teraniaya, doa orang yang sedang bepergian dan doa orangtua atas anaknya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Sebagaimana para nabi dan rosul dahulu yang selalu berdo’a kepada Allah untuk kebaikan anak cucu mereka.

Do’a Nabi Zakaria ‘alaihissalam sebagaimana firman Allah: “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38)

Doa Nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimussalam: “Ya Rabb kami jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anakcucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau.” (QS. Al Baqoroh: 128)

Sungguh islam adalah agama yang sempurna hingga pendidikan anakpun diperhatikan dengan serius. Namun sangat disayangkan orangtua zaman sekarang jarang memperhatikan pendidikan bagi buah hatinya lantaran kesibukan mereka atau kejahilan (ketidakmengertian) mereka

Judul full kajian: kaidah-kaidah dasar dalam beramal

Friday, June 28, 2019

Kajian Al Qur'an

*Idgham Kamil dan Idgham Naqish (Perbedaan dan Contohnya)*

Dalam ilmu tajwid ada istilah idgham kamil dan idgham naqish. Bagi seseorang yang belum terlalu mendalami ilmu tajwid pasti kedua istilah agak sedikit asing. Pembagian idgham menjadi kamil dan naqish berlaku pada seluruh hukum dilihat dari cara memasukkan atau meleburkan huruf.

Bahasannya :

1. Idgham Kamil
Idgham kamil artinya adalah idgham yang sempurna. Adapun dalam istilah ilmu tajwid idgham kamil adalah memasukkan huruf ke huruf yang lainnya secara sempurna baik makhraj maupun sifatnya. Contohnya:

عَبَدْتُّمْ – مِنْ نِّعْمَةٍ – عَصَوْا وَّكَانُوْا - اَلدَّهْرِ
Contoh diatas merupakan bacaan idgham kamil karena huruf yang pertama melebur ke huruf yang kedua sehingga lafal huruf yang pertama tidak tersisa sama sekali.

2. Idgham Naqish
Idgham naqish adalah memasukkan huruf ke huruf yang lainnya namun ada beberapa sifat yang masih muncul pada huruf yang pertama. Contoh:

مَنْ يَعْمَلْ – مِنْ وَّالٍ – بَسَطْتَ – اَلَمْ نَخْلُقْكُّمْ
Mengapa contoh-contoh di atas dikategorikan idgham naqish:

> Idgham pada kata pertama dan kedua disertai dengan ghunnah. Ghunnah adalah sifat yang terdapat pada huruf nun. Sedangkan ya’ dan wau tidak memiliki sifat ghunnah. Ketika nun diidghamkan ke huruf ya’ dan wau masih menyisakan sifat yang terdapat pada nun yaitu ghunnah sehingga termasuk idgham naqish.

>Untuk membahas contoh ketiga dan keempat, perhatikan bait Matn Jazariyah berikut ini!

وَبَيِّنِ الإِطْـبَاقَ مِنْ أَحَطتُّ مَعْ»«بَسَطتَّ وَالخُلْفُ بِنَخْلُقْكُمْ وَقَعْ

Artinya:

Dan jelaskanlah sifat ithbaq pada kata (أَحَطتُّ) dan (بَسَطتَّ). Dan para ulama qiraat berbeda pendapat pada (نَخْلُقْكُمْ).

Idgham pada kata (بَسَطتَّ) masih menyisakan sifat ithbaq yang terdapat pada huruf tha’ sehingga idghamnya tidak sempurna. Adapun kata (نَخْلُقْكُمْ) ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan masih terdapat sifat isti’la pada huruf qaf ada juga yang mengatakan qaf didghamkan secara sempurna ke huruf kaf.
----------------------------------
(Untuk praktik yang betul silahkan bertalaqqi kepada guru yang ahli dalam bidang qiraat).

Kesimpulan:

👉Idgham kamil terdapat pada:
> Idgham syamsiyah
> Idgham bila ghunnah
> Idgham bighunnah (selain wau dan ya’)
> Idgham mutamatsilain
> Idgham mutajanisain (selain tha’ ke ta’)
> Idgham mutaqaribain

👉Idgham naqish terdapat pada:
> Idgham bighunnah (selain mim dan nun)
> idgham tha’ ke ta.

Itulah perbedaan idgham kamil dan idgham naqish yang harus diketahui oleh para pembaca Al-Qur’an supaya bacaannya lebih fasih.

والله اعلم
🌈 *KAJIAN ANAK - PASAR MINGGU*
🍃 *KHUSUS KELAS 2 SD - 3 SMP*
🍂 *SABTU 29 JUNI  2019*


💦 *Dhuha*
⏰  09:00-11:00
👤  *Kak ABU LUQMAN*
       (Pemateri Kajian Anak Rodja TV)
🏷  *Masa Kecil Rasulullah Yang Mengagumkan*

🔴  *GRATIS*
📝  *Pendaftaran:* https://bit.ly/kajian-anak

🕌 *Masjid Nurul Amal*
      Jl AUP Raya No.1A, Pasar Minggu, Jaksel
📍 https://bit.ly/maps-mna


⚠ *Tata Tertib*

1⃣ Hadir di awal waktu

2⃣ Membawa alat tulis (buku dan pensil/pulpen) dan mencatat 📒✏

3⃣ Peserta tidak di perkenankan membawa/ mengunakan /memainkan alat elektronik ( handphone, PC tablet, MP3 player dsb ) selama kegiatan kajian berlangsung📲💻

4⃣ Peserta & pengantar wajib berpakaian sesuai syariat islam:
🧕🏻 Peserta wanita (banat & umminya) tidak diperkenankan memakai pakaian yang memperlihatkan aurat/celana panjang dan wajib menggunakan baju panjang & kerudung sesuai syariat islam, memakai kaos kaki.
👳‍♀ Peserta pria (banin & abinya) tidak diperkenankan memakai celana pendek/berbahan jeans

5⃣ Bagi yang ingin INFAQ HADIAH 🎁 dapat di serahkan ke panitia di meja registrasi (hadiah games dengan harga wajar), atau diserahkan sebelum hari H.

6⃣ Wajib menjaga kebersihan 🚮

7⃣ Menjauhi ikhtilat

8⃣ Menjaga anak-anak tidak berlari-lari dan berisik, menjaga ketenangan saat kajian berlangsung

*INFO*
📞 0812-8990-4417 (a), 0812-9166-0123 (i)
*IG*             @baraka.alummah
*Telegram* barakaalummah
*Twitter*     barakaalummah
*Facebook* barakaalummah
*Youtube*   Baraka al Ummah


_*Baraka al Ummah*_
_*DKM Nurul Amal*_
Kepada Saudaraku Prabowo dan Sandy:

Bismillah.

Ini bukan akhir segalanya,pun bukan awal sebuah akhir,ini hanyalah akhir sebuah awal.

Bagi kami,kalian telah menang sejak awal,menang karena telah menunjukkan bahwa Pemimpin itu mendengar dan bicara dengan hati.

Tidak ada kebaikan yang sia-sia,jika kalian tulus menanamnya,maka in syaa ALLAH kalianlah yang pertama memanennya.

Teruslah menebar kebaikan,menginspirasi kami tentang makna mencintai negri dengan tulus,tak lelah berjuang menyuarakan kebenaran,menegakkan keadilan,peduli pada sesama,menepis kebencian,karena itulah yang kami lihat di mata,wajah serta senyum dan keseharian kalian.

Pasti kalian lelah dan letih,mereka pun sama,jika kalian  sedih,mereka pun pasti pernah merasakan itu,tetapi jika kalian tulus semata demi menemukan keridhoan ALLAH,jangan takut dan sedih semata karena apa yang mereka putuskan dan nyatakan,kesedihan utama bagi kita adalah ketika kehilangan kesempatan mengingat dan bermunajat kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala.

Inilah Politik, dan begitulah seperti sudah kita perkirakan sebelumnya.Siasat adalah ruh utama politik dan ketika itu menafikan takut dan tanggung jawab pada ALLAH,tak ada kebaikan apapun disana.

Tak ada keadilan hakiki seperti menurut kalian,karena Keadilan hanya dan hanya jika kita menyerahkan sepenuh hati pada Syariat-NYA ,dan mengikuti keteladanan Rasulullah ShallALLAH Alaihi Wassalam.

Dunia hanyalah permainan,dan siapa yang menjual segalanya termasuk Keimanan demi sebuah permainan,maka dia tidak lebih baik dari seekor Keledai yang hidup demi sebatas perut dan kemaluannya.
Marilah menjemput kemenangan hakiki dengan terus bekerja mempelajari,memperdalam dan mengamalkan Dien,karena Akheratlah tujuan akhir kita,disanalah Negeri kita,disana  tak ada lagi kerja karena disana kita menuai hasil.

Perjuangan telah ditunaikan,ikhtiar telah dijalankan,masalah hasil itu adalah bagian-NYA,DIA lah sebaik-baik Penilai,semoga apa yang sudah dan akan diperjuangkan jadi bagian amal shaleh kalian dan meraih ridho-NYA...aaamiiin.
Faidza Azamta Fatawakkal AllALLAH.
Nashrun MinnALLAH Wa Fathun Qoriib.

Salam dan Cinta kami!

*H.A.Attamimi*
*Penuntut Ilmu Menahan Komentar yang Memperkeruh Suasana*


Di era sosmed ini, semua orang memiliki panggung untuk bicara. Siapa saja dan kapan saja seseorang bisa berkomentar tentang apa saja.

Hendak kita seorang penuntut ilmu agama menjaga adab agar kita lebih banyak diam dan tidak berkomentar terlalu banyak. Terlebih apabila terjadi fitnah atau pembahasan yang berat dan butuh ilmu untuk memberikan komentar.

 Hendaknya penuntut ilmu lebih banyak diam daripada ikut terlalu banyak berkomentar. Terkadang komentarnya tersebut justru memperkeruh suasana dan menambah beratnya pembahasan serta menambah fitnah.

Sungguh indah nasehat dari Adz-Dzahabi

إذا وقعت الفتن فتمسك بالسنة والزم الصمت ولا تخض فيما لايعنيك وماأشكل عليك

“Apabila terjadi fitnah, berpegang teguhlah pada Sunnah dan TETAPLAH DIAM. Janganlah engkau disibukkan dengan yang tidak bermanfaat (bukan urusanmu) dan apa yang masih meragukan (musykil).” [As-Siyar A’lam AN-Nubala 20/141]

Hendaklah kita sebagai penuntut ilmu menahan diri untuk tidak berkomentar terkait hal yang kita tidak punya ilmu dalam permasalahan tersebut.

Menahan diri dari berkoemntar apabila belum belajar bahasa Arab dan belum belajar ilmu-ilmu ushul. Terlebih permalasahan tersebut adalah permasalahan berat dan menyangkut hidup dan hajat orang banyak.

Apabila seseorang yang tidak berilmu berkomentar, maka akan muncul pendapat yang aneh dan justru akan memperkeruh suasana. Sebagaimana ungkapan:

من تكلم في غير فنه أتى بالعجائب

“Barangsiapa yang berbicara di luar ilmunya, akan muncul pendapat yang aneh-aneh.”

Salah satu adab bagi kita penuntut ilmu adalah banyak diam daripada berbicara.

Ibnu Jama’ah menukil perkataan salaf:

حق على العالم أن يتواضع لله في سره وعلانيته ويحترس من نفسه ويقف على ما أشكل عليه

“Hak bagi seorang berilmu adalah tawadhu’ (rendah hati) kepada Allah dalam keadaan sendiri maupun ramai, mawas diri dan diam (tawaqquf) terhadap hal yang masih meragukannya.” [Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim hal 26]

Menjaga lisan adalah suatu hal yang harus kita lakukan sebagaimana hadits berikut:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau hendaklah diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah).

Kunci kebaikan adalah menjaga lisan sebagaimana hadits berikut:

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ قَالَ قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ ثُمَّ قَالَ هَذَا

“Dari Sufyan bin ‘Abdullah ats-Tsaqafi, ia berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang dengannya!” Beliau menjawab: “Katakanlah, ‘Rabbku adalah Allah’, lalu istiqamahlah”. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang paling anda khawatirkan atasku?”. Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu bersabda: “Ini”.[HR. Tirmidzi, Dishahihkan AL-Albani]

Demikian semoga bermanfaat


Penyusun: Ustadz Raehanul Bahraen