Saturday, February 1, 2020

MARI MENGENAL JUZ AMMA:

KANDUNGAN, CARA MENGHAFAL DAN PENGAMALAN


Posted by Editorial Team | Nov 12, 2018 | Ayat Suci | 2  |   

Mari Mengenal Juz Amma: Kandungan, Cara Menghafal dan Pengamalan
Juz Amma

Siapa tak kenal Juz Amma? Setiap umat muslim pasti akrab dengan istilah yang satu ini. Juz Amma merupakan juz terakhir yang terdapat dalam Al-Qur’an. Surat yang terdapat dalam juz ini relatif lebih pendek jika dibandingkan dengan juz sebelumnya. Juz Amma sendiri dimulai dengan Surat An-Naba’ dan diakhiri dengan surat An-Naas.

Mengapa Juz 30 disebut sebagai Juz Amma? Adakah maksud tertentu dari penamaan tersebut? Bagaimana pula cara untuk menghafalkan surat-surat pendek yang terdapat dalam Juz Amma? Kali ini Anda akan mendapatkan pembahasan lengkap mengenai Juz Amma termasuk kandungan, cara menghafal serta pengamalan beberapa surat.

MENGAPA DISEBUT JUZ AMMA?
Mengapa Disebut Juz Amma
Pertanyaan ini kerap kali dilontarkan, tidak hanya oleh anak-anak tetapi juga orang dewasa. Hal ini memang cukup menarik untuk dibahas karena hanya Juz 30 yang mendapatkan nama khusus yaitu Juz Amma. Untuk mengetahui alasan dibalik pemberian nama Amma pada Juz 30, maka Anda perlu melihat surat pertama dimulainya Juz 30.

Juz terakhir dalam Al-Qur’an ditandai dengan kata pertama ‘Amma pada surat An-Naba. Menurut sebagian besar pendapat, hal inilah yang menjadi penyebab mengapa Juz 30 disebut sebagai Juz ‘Amma. Tidak ada maksud khusus dari pemberian nama ‘Amma karena hanya merujuk pada kata yang mengawali surat pada bagian awal Juz 30.

SURAT DALAM JUZ AMMA
Surat dalam Juz Amma
Di dalam Juz Amma terkandung 37 surat yang dimulai dari surat ke-78 yaitu An-Naba’ dan diakhiri dengan surat ke-114 yaitu An-Naas. Untuk mengenal lebih jauh mengenai Juz Amma, alangkah lebih baiknya jika Anda mengetahui setiap surat yang termasuk ke dalam juz terakhir Al-Qur’an ini.

Surat pertama dalam Juz 30 adalah An-Naba’ yang berarti Berita Besar. Surat ini terdiri dari 40 ayat dan tergolong surat Makiyah karena diturunkan di Mekah. Surat An-Naba’ menjadi salah satu surat yang mempunyai jumlah ayat terbanyak dalam Juz 30. Surat yang selanjutnya adalah An-Nazi’at yang berarti Malaikat-Malaikat yang Mencabut. Surat ini mempunyai 46 ayat dan juga tergolong surat Makiyah.

Surat yang berikutnya adalah ‘Abasa yang berarti Ia Bermuka Masam. Secara garis besar surat ini menceritakan tentang teguran kepada Nabi Muhammad yang tidak begitu mempedulikan seorang lelaki yang ingin bertanya perihal agama karena beliau sibuk mengurusi pembesar Quraisy. Surat ‘Abasa terdiri dari 42 ayat dan tergolong ke dalam surat Makiyah.

Kemudian diikuti oleh Surat At-Takwir yang berarti Menggulung. Surat ini menceritakan perihal peristiwa besar yaitu kiamat. At-Takwir mempunyai 29 ayat dan diturunkan di Mekah. Surat selanjutnya adalah Al-Infithar yang berarti Terbelah. Surat ini mempunyai jumlah ayat yang lebih sedikit yaitu 19 ayat.

Surat Al-Muthaffifiin berarti Orang-orang Yang Curang mempunyai 36 ayat. Surat ini menceritakan tentang orang-orang yang curang dalam timbangan. Surat tersebut diikuti oleh Surat Al-Insyiqaq yang berarti Terbelah. Surat ini mempunyai 25 ayat dan diturunkan di Mekah.

Surat ke-85 adalah Al-Buruj yang berarti Gugusan Bintang. Surat Al-Buruj terdiri dari 22 ayat. Yang selanjutnya adalah Surat At-Tariq (Yang Datang di Malam Hari). Surat ini mempunyai 17 ayat dan menyampaikan tentang kekuasaan Allah dalam penciptaan manusia serta ancaman terhadap orang-orang kafir.

Surat Al-A’la merupakan surat ke 87 yang berarti Yang Paling Tinggi. Surat ini mempunyai 19 ayat dan membahas tentang kebesaran Allah serta kabar gembira untuk orang mukmin dan ancaman untuk orang kafir. Surat ini diikuti oleh Surat Al-Ghasyiyah (Hari Pembalasan). Surat Al-Ghasyiyah mengabarkan kepada manusia perihal hari kiamat (hari pembalasan) dan terdiri dari 26 ayat.

Selanjutnya terdapat Surat Al-Fajr (Fajar) yang terdiri dari 30 ayat. Surat ini mengisahkan tentang bagaimana Allah menghukum orang-orang terdahulu yang durhaka kepada-Nya seperti Kaum ‘Ad dan Fir’aun. Surat ini diikuti oleh Surat Al-Balad (Negeri) yang mempunyai 20 ayat. Dalam surat ini Allah bersumpah dengan negeri Mekah.

Pada juz amma surat ke-91 terdapat Asy-Syams yang berarti Matahari. Surat ini mempunyai 15 ayat dan menceritakan tentang kaum Tsamud dan kaum Nabi Shalih yang menyembelih unta betina padahal telah dilarang. Surat yang selanjutnya adalah Al-Lail yang berarti Malam. Surat yang terdiri dari 21 ayat ini mengisahkan perbandingan orang mukmin dengan orang kafir.

Surat Ad-Dhuha berada pada urutan selanjutnya. Ad-Dhuha sendiri berarti Waktu Matahari Sepenggalahan Naik. Surat ini mengabarkan kepada Rasulullah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan beliau dan tidak membencinya. Ad-Dhuha terdiri dari 11 ayat. Surat ke-94 adalah Surat Al-Insyirah (Melapangkan) yang mempunyai 8 ayat. Surat ini memberikan motivasi bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan.

Setelah itu, didalam juz amma juga terdapat Surat At-tin yang berarti Buah Tin. Surat yang terdiri dari 8 ayat ini mengabarkan bahwa Allah telah memberikan bentuk yang sebaik-baiknya kepada manusia serta pesan bagi orang beriman untuk berbuat kebaikan agar mendapat pahala yang tak putus. Surat selanjutnya adalah Al-‘Alaq (Segumpal Darah). Surat ini mempunyai 19 ayat.

Surat ke-97 adalah Al-Qadr (Kemuliaan). Surat yang terdiri dari 5 ayat ini mengisahkan tentang turunnya Al-Qur’an pada malam yang mulia yaitu Lailatul Qadr. Surat ini kemudian diikuti oleh Al-Bayyinah (Pembuktian). Surat Al-Bayyinah terdiri dari 8 ayat dan mengisahkan tentang keadaan orang kafir yang tidak akan meninggalkan agama mereka hingga datang bukti yang nyata.

Surat ke-99 adalah Al-Zalzalah yang berarti Kegoncangan. Surat ini mengisahkan tentang keadaan pada hari kiamat yang begitu mengerikan. Al-Zalzalah terdiri dari 8 ayat dan turun di Madinah. Yang selanjutnya adalah Surat Al-‘Adiyat (Kuda Perang yang Berlari Kencang). Surat ini menyampaikan tentang keingkaran manusia dan kecintaan mereka pada harta secara berlebihan. Al-‘Adiyat mempunyai 11 ayat.

Surat yang berikutnya adalah Al-Qori’ah (Hari Kiamat). Surat ini mempunyai 11 ayat dan mengisahkan tentang kejadian pada hari kiamat dan ancaman bagi orang yang ringan timbangan amal baiknya. Surat ini diikuti oleh At-Takatsur (Bermegah-megahan). Surat yang terdiri dari 8 ayat ini mengabarkan tentang manusia yang lalai karena bermegah-megahan hingga masuk ke dalam kubur.

Surat ke-103 yaitu Al-‘Ashr (Masa). Surat pendek ini hanya terdiri dari 3 ayat dan menyampaikan tentang manusia yang berada dalam kerugian kecuali mereka yang berbuat kebaikan dan saling menasehati. Surat yang selanjutnya adalah Al-Humazah (Pengumpat). Surat ini menjadi peringatan bagi para pengumpat karena Allah mengancam dengan neraka Wail. Surat Al-Humazah terdiri dari 9 ayat.

Surat Al-Fiil (Gajah) adalah surat ke-105 dan terdiri dari 5 ayat. Surat ini mengisahkan tentang tentara bergajah Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah. Kemudian Allah memerintahkan burung-burung untuk membawa batu dari neraka kemudian melemparkan pada pasukan tersebut. Selanjutnya terdapat Surat Quraisy (Suku Quraisy) yang terdiri dari 4 ayat.

Surat Al-Ma’un (Barang-Barang yang Berguna) terdiri dari 7 ayat dan mengabarkan pentingnya berbuat baik pada anak yatim. Surat ini juga memberi ancaman bagi orang yang lalai dalam shalatnya. Kemudian Surat Al-Kautsar (Nikmat yang Berlimpah) mempunyai 3 ayat. Surat ini merupakan bentuk hiburan dari Allah untuk Nabi Muhammad agar tidak bersedih hati.

Pada surat ke-109 terdapat Al-Kafirun (Orang-orang Kafir) yang mempunyai 6 ayat. Surat ini diturunkan karena orang-orang kafir mencoba bernegosiasi agar Nabi Muhammad mau menyembah berhala. Surat ini merupakan bentuk penolakan yang tegas terhadap ajakan tersebut. Yang selanjutnya adalah Surat An-Nashr (Pertolongan) yang mengabarkan tentang datangnya pertolongan Allah.

Al-Lahab merupakan surat ke-111 dan berarti Gejolak Api. Surat ini turun karena Abu Lahab yang mencela Nabi Muhammad karena peringatan yang disampaikan oleh beliau. Selanjutnya terdapat surat Al-Ikhlas (Ikhlas) yang terdiri dari 4 ayat. Surat ini berisi tentang tauhid kepada Allah, bahwa hanya Allah yang patut disembah.

Dua surat terakhir dalam Juz Amma adalah Al-Falaq (Waktu Subuh) yang terdiri dari 5 ayat dan surat An-Naas (Manusia) yang terdiri dari 6 ayat. Al-Falaq menjadi surat perlindungan dari kejahatan malam dan makhluk ciptaan Allah. Sedangkan An-Naas merupakan surat perlindungan dari kejahatan setan yang tersembunyi.

KEUTAMAAN SURAT AL-IKHLAS
Keutamaan Surat Al-Ikhlas
Juz Amma diakhiri oleh tiga surat, yaitu Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas. Ketiga surat tersebut juga dikenal sebagai surat perlindungan dan dianjurkan untuk dibaca sebagai dzikir pagi dan petang. Surat Al-Ikhlas sendiri memiliki kandungan pentauhidan Allah dan pengakuan bahwa Allah itu Esa dan hanya kepada Allah tempat meminta segala sesuatu.

Meskipun surat ini pendek karena hanya terdiri dari 4 ayat, Al-Ikhlas mempunyai keutamaan yang luar biasa jika dibandingkan dengan surat-surat lain dalam Juz Amma. Rasulullah menyampaikan bahwa Al-Ikhlas merupakan sepertiga Al-Qur’an. Barang siapa yang membaca surat Al-Ikhlas 10 kali maka akan dibangunkan rumah di surga baginya. Apa keutamaan lain dari Al-Ikhlas?

Perlindungan dari keburukan
Surat Al-Ikhlas sangat dianjurkan untuk dibaca pada beberapa waktu khusus, salah satunya pada waktu pagi dan sore hari. Bersamaan dengan surat Al-Falaq dan An-Naas, ketiga surat tersebut mempunyai keutamaan sebagai perlindungan. Siapa yang membaca ketiga surat tersebut pada pagi dan petang niscaya akan dijaga dari segala keburukan.

Meruqyah
Surat Al-Ikhlas sering digunakan untuk meruqyah atau menyembuhkan orang sakit. Hal ini sesuai dengan hadist yang diriwayatkan dalam kitab Bukhari. Dari ‘Aisyah, sebelum tidur Rasulullah membaca tiga surat (Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas) kemudian meniupkan ke telapak tangan dan mengusapkan ke wajah dan seluruh tubuh. Beliau juga menyuruh ‘Aisyah untuk melakukannya ketika beliau sakit.

Sepertiga Al-Qur’an
Sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, surat Al-Ikhlas itu senilai sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhari). Dari hadist tersebut, sudah jelas bahwa Al-Ikhlas mempunyai keutamaan yang begitu besar sehingga senilai dengan sepertiga Al-Qur’an.

Mendapat rumah di surga
Salah satu keutamaan membaca surat Al-Ikhlas yang tidak bisa disepelekan adalah mendapatkan rumah di surga. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah, “Siapa yang membaca (surat Al-Ikhlas) sampai mengkhatamkannya sebanyak sepuluh kali, niscaya Allah akan membangunkan baginya istana di surga.” (HR. Ahmad)

KEUTAMAAN SURAT AL-FALAQ
Keutamaan Surat Al-Falaq
Isi berikutnya dari Juz Amma adalah surat Al-Falaq mempunyai keutamaan yang hampir sama dengan surat Al-Ikhlas karena keduanya seringkali dianjurkan untuk dibaca secara berurutan. Yang membedakan keduanya adalah surat Al-Falaq tidak dianggap senilai dengan sepertiga Al-Qur’an. Berikut keutamaan membaca surat Al-Falaq:

Terhindar dari keburukan
Seseorang yang membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas pada pagi dan petang niscaya akan diberikan kecukupan oleh Allah. Selain itu, akan diberikan pula penjagaan dari keburukan dan kejahatan ciptaan Allah.

Menangkal sihir
Al-Falaq juga mempunyai keutamaan sebagai penangkal sihir. Baca surat ini bersama dengan surat Al-Ikhlas dan An-Naas kemudian tiupkan pada telapak tangan dan usapkan ke wajah dan seluruh tubuh sebelum tidur. Surat Al-Falaq juga biasa dibaca pada waktu meruqyah.

KEUTAMAAN SURAT AN-NAAS
Keutamaan Surat An-Naas
Sebagai surat terakhir dalam Al-Qur’an, An-Naas juga mempunyai berbagai keutamaan. Dalam surat ini berisi perlindungan kepada Rabb pemilik manusia. Dengan demikian, surat An-Naas juga bisa dikatakan sebagai salah satu surat untuk perlindungan. Berikut keutamaan surat An-Naas:

Perlindungan dari gangguan jin dan manusia
Dalam surat An-Naas berisi permintaan untuk berlindung dari gangguan jin dan manusia. Dengan membaca surat ini pada waktu pagi dan petang, niscaya Allah akan senantiasa memberikan perlindungan.

Mengobati bagian tubuh yang sakit
Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah, beliau membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas kemudian meniupkan pada telapak tangan dan diusapkan pada bagian tubuh yang sakit.

CARA MENGHAFAL JUZ AMMA
Cara Menghafal Juz Amma
Menghafal Juz Amma biasa dilakukan oleh anak-anak. Hal ini dikarenakan Juz Amma mempunyai surat yang pendek dan mudah dihafal. Jika Anda ingin mencoba untuk menghafal surat-surat yang terdapat dalam Juz Amma, cobalah tips berikut ini:

Niat
Semua amal tergantung pada niatnya. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Awali dengan niat untuk menghafal surat-surat pendek demi meraih ridho Allah. Dengan niat yang kuat, niscaya Anda akan diberi kemudahan untuk menghafal.

Awali dengan surat pendek
Kebanyakan orang menghafal Juz Amma mulai dari An-Naas, Al-Falaq, dan seterusnya. Hal ini dikarenakan surat-surat tersebut relatif pendek dan sangat mudah untuk dihafal. Ketika otak sudah terbiasa, maka akan semakin mudah untuk menghafal surat yang lebih panjang hingga An-Naba’.

Aplikasikan ketika shalat
Salah satu cara yang efektif agar cepat hafal surat pendek adalah dengan membacanya ketika shalat. Dengan mengulang-ulang hafalan, akan lebih mudah bagi Anda untuk mengingat surat tersebut sehingga cepat hafal. Selain itu, bacaan shalat Anda juga tidak itu-itu saja.

Rajin mendengar murottal
Daripada menghabiskan waktu dengan mendengarkan musik yang sia-sia, ada baiknya untuk mengubah playlist MP3 Anda menjadi murottal Al-Qur’an. Cara tersebut sangat efektif untuk membantu Anda dalam menghafal surat dalam Al-Qur’an, bahkan surat yang panjang sekalipun.

Rajin muroja’ah
Muroja’ah (mengulang hafalan) merupakan kunci penting dalam menghafal ayat Al-Qur’an. Semakin sering Anda melakukan muroja’ah, maka Anda akan semakin hafal.

Kesimpulan

Juz Amma merupakan bagian tak terpisahkan dari Al-Qur’an. Sebagian surat-surat dalam Juz 30 ini mengabarkan tentang hari kiamat, kabar baik untuk kaum muslimin dan ancaman untuk orang-orang kafir. Dalam Juz 30 terdapat 3 surat yang mempunyai kedudukan istimewa yaitu Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas. Ketiga surat mempunyai keutamaan sebagaimana yang telah disebutkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkan untuk rutin membaca ketiga surat tersebut sebagai dzikir pada pagi dan petang hari. Dengan mengamalkannya, seseorang bisa mendapatkan perlindungan dan penjagaan Allah dari segala keburukan baik jin maupun manusia.

جزء  artinya potongan atau bagian
 عمّ diambil dari surat An Naba
  عن + ما artinya tentang apa
Juz amma merupakan juz 30 dengan jumlah surat terbanyak ada 37 surat dan jumlah halamannya ada 23 ( 11,5 lembar)
Juz lainnya ada 10 lembar...

34 terdiri dari surat makiyyah
Dan 3 surat terdiri dari surat madaniyyah
Yaitu surat Al bayyinah , Az Zalzalah dan An Nashr




Thursday, January 30, 2020

Halaqah - 19

Bagaimana Wahyu Turun Kepada Rasulullãh ﷺ Bagian 2

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke - 19 dari Silsilah Ilmiyyah Sirah Nabawiyah Adalah tentang Bagaimana Wahyu Turun Kepada Rasulullãh ﷺ Bagian 2

Rasulullah ﷺ telah ditanya bagaimana wahyu datang kepadamu beliau ﷺ berkata

أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الجَرَسِ، وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ، فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ المَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ

Kadang-kadang datang kepadaku seperti lonceng dan inilah yang paling berat bagiku kemudian di hentikan dan tiba-tiba aku sudah menyerap apa yang dia ucapkan dan kadang-kadang Malaikat menjelma untukku sebagai seorang laki-laki kemudian dia berbicara kepadaku dan aku pun menyerap apa yang dia ucapkan (HR Bukhari dan Muslim)

Dan wahyu datang kepada beliau ﷺ dalam keadaan bangun sebagaimana hal ini di tunjukkan oleh riwayat yang shahih yang di keluarkan oleh Al Imam Al Bukhari dan Muslim

Wahyu turun kepada beliau ﷺ selama 23 tahun, 13 tahun ketika beliau di Mekkah dan 10 tahun di kota Madinah

Wahyu adalah mukjizah di luar kebiasaan manusia, Nabi ﷺ menerima kalamullah dengan perantaraan Malaikat Jibril عليهم السلام dengan demikian wahyu ini tidak ada hubungannya dengan ilham dan perenungan hati

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy
Di kota Pandeglang
Dakwah ilallah , dakwah kepada Tauhid, dakwah kepada Islam yang orisinil , dakwah kepada keyakinan yang benar tidak hanya sekedar di mimbar saja

Saudaraku

Semua diantara kita mesti berdakwah walaupun tidak bisa menyampaikan ilmu di majlis-majlis ilmu.

Saudaraku

Dakwah dengan keteladan dalam  kesaharian kita sangat besar sekali pengaruh dalam dakwah ini.

Dengan taufiq Allah kemudian mu'amalah kita yang baik kepada sesama , Berapa banyak saudara-saudara kita yang simpati dengan dakwah salafiyyah ini, Berapa banyak diantara keluarga kita, kerabat kita, tetangga kita ikut serta mendengarkan kajian-kajian asatidz yang berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan Sunnah nabi shallahu'alaihi wasallam diatas pemahaman salaf kita yang sholih

Semoga kita bisa menjadi pembuka kebaikan yang bisa mendekatkan ummat kepada agama ini. Aamin

Wednesday, January 29, 2020




 Halaqah - 18 - Bagaimana Wahyu Turun Kepada Rasulullãh ﷺ Bagian 1
by Rory Rachmad  |  in Silsilah Sirah Nabawiyah at  21 Februari
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke - 18 dari Silsilah Ilmiyyah Sirah Nabawiyah adalah tentang Bagaimana Wahyu Turun Kepada Rasulullãh ﷺ Bagian yang pertama

Dahulu Rasulullah ﷺ mendapatkan kesusahan yang sangat ketika menerima wahyu sebagaimana di dalam shahih Muslim, dari beliau berkeringat deras di  hari yang sangat dingin dan berubah wajah beliau, sebagaimana juga di riwayatkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya, badan beliau menjadi berat ketika turun wahyu, berkata Zayd bin Tsabit رضي الله عنه

فأنزل على رسولِهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، وفَخِذُهُ على فخذي ، فَثَقُلَتْ عليَّ حتى خِفْتُ أن تُرَضَّ فخذي

Maka diturunkan wahyu kepada Rasulullah ﷺ sedangkan paha beliau ada di atas pahaku maka menjadi berat paha beliau sampai aku takut pecah pahaku (HR Al Bukhari)

Dahulu beliau ﷺ sangat memusatkan konsentrasi beliau untuk menghafal apa yang di turunkan kepada beliau berupa ayat-ayat Al-Quran, Beliau menggerakkan lidah dan dua bibir beliau maka turunlah firman Allah ﷻ

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ ⑯ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ

"Janganlah engkau menggerakkan lisanmu dengannya karena engkau tergesa-gesa, sesungguhnya kewajiban Kami mengumpulkannya dan membacakannya" (Surat Al-Qiyamah : 16-17)

Maksudnya janganlah engkau wahai Nabi menggerakkan lisanmu untuk membaca Al-Quran ketika turun wahyu karena ingin bersegera untuk menghafalnya dan takut apabila Al-Quran tersebut lepas darimu sesungguhnya kewajiban bagi Kami mengumpulkan Al-Quran tersebut didalam dadamu, kemudian kewajiban Kami menjadikan engkau bisa membaca Al-Quran tersebut dengan lisanmu kapan saja engkau kehendaki dan dahulu kerinduan beliau ﷺ dan semangat beliau menjadikan beliau tergesa-gesa sebagaimana di jelaskan di dalam ayat, yaitu firman Allah

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

"Dan janganlah engkau tergesa-gesa dengan membaca Al-Quran sebelum wahyu itu selesai di turunkan kepadamu dan katakanlah “Wahai Rabbku tambahkanlah kepadaku ilmu” (Surat Thaha : 114)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy
Di kota Pandeglang
[29/1 16.13] Agent Resmi Umi Travel: Halaqah - 17 Terputusnya Wahyu
by Rory Rachmad  |  in Silsilah Sirah Nabawiyah at  21 Februari
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke -17 dari Silsilah Ilmiyyah Sirah Nabawiyah adalah tentang Terputusnya Wahyu

Setelah turun wahyu yang pertama tinggallah Rasulullah ﷺ tanpa ada wahyu turun kepada beliau, kemudian setelah itu turunlah firman Allah ﷻ

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ① قُمْ فَأَنْذِرْ ② وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ③ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ④ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ⑤ وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ ⑥ وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ ⑦

"Wahai orang yang berselimut, bangkitlah, kemudian berilah peringatan dan Rabbmu Agungkanlah dan pakaianmu bersihkanlah dan berhala tinggalkanlah dan janganlah engkau memberi untuk mendapatkan yang lebih banyak dan untuk Rabbmu hendaknya engkau bersabar" (Surat Al-Muddatstsir : 1-7)

Sebagaimana di dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim

Pernah terlambat wahyu turun kepada Nabi ﷺ kemudian berkata orang-orang musyrikin Rabb Muhammad telah meninggalkan Muhammad, maka Allah menurunkan firmanNya

وَالضُّحَىٰ ① وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ ② مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

"Demi waktu Dhuha dan Demi malam apabila sunyi, tidaklah Rabbmu meninggalkan kamu dan tidak membenci" (Surat Adh-Dhuhaa : 1-3)

Adapun riwayat Nabi ﷺ hampir bunuh diri dengan melemparkan dirinya dari atas gunung dan bahwasanya Jibril datang dan mengabarkan bahwa beliau Rasulullah ﷺ maka riwayat ini tidak shahih dan maknanya bertentangan dengan kema'suman seorang Nabi

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy
Di kota Pandeglang




Halaqah - 20

Dakwah Sirriiyyah Sembunyi-sembunyi


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang Ke - 20 dari Silsilah Ilmiyyah Sirah Nabawiyah adalah tentang Dakwah Sirriiyyah Sembunyi-sembunyi

Setelah turun surat Al-Mudatsir 1 s/d 7 dan dengannya beliau ﷺ menjadi seorang Rasul, mulailah beliau berdakwah di Mekkah mendakwahi orang-orang Quraisy dan penduduk Makkah dengan dakwah sembunyi-sembunyi ada yang mengatakan bahwa ini berlangsung 3 tahun, Khadijah رضي الله عنها adalah wanita pertama yang masuk Islam dan membenarkan Rasulullah ﷺ sebagaimana dalam hadits Aisyah yang telah berlalu

Ali bin Abi Thalib yang dulu di asuh Rasulullah ﷺ semenjak sebelum menjadi Nabi adalah anak kecil yang pertama masuk Islam ada yang mengatakan umurnya 10 tahun

Ali bin Abi Thalib ikut Nabi ﷺ karena Abu Thalib adalah orang yang sedikit hartanya dan banyak tanggungannya, sehingga saat itu Rasulullah ﷺ mengasuh Ali untuk meringankan beban pamannya

Adapun yang pertama kali masuk Islam dari laki-laki dewasa adalah Abu Bakar Ash Shidiq رضي الله عنه

Rasulullah ﷺ bersabda

إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ: كَذَبْتَ، وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: صَدَقَ، وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُونَ لِي صَاحِبِي

Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian, kemudian kalian mengatakan “engkau berdusta” dan berkata Abu Bakar “dia telah benar” dan dia telah menghiburku dengan dirinya dan dia telah menolongku dengan dirinya dan dia telah menolongku dengan jiwanya dan hartanya, apakah kalian meninggalkan shahabatku (HR Al Bukhari)

Dengan Islamnya Abu Bakar, keluarganya juga mengikuti beliau di dalam Islam dan diantara yang pertama-tama masuk Islam adalah Zaid bin Haritsah Maula Rasulullah ﷺ dan di antara yang pertama-tama masuk Islam adalah

1. Utsman bin Affan
2. Az Jubair bin Awwam
3. Khalid bin Said bin Al ‘ash
4. Abdullah bin Mas’ ud
5. Khubbab bin Al-Arat
6. Bilal Al Habasy
7. Ammar bin Yasir
8. Sumaiyyah (Ibu Ammar bin Yasir)
9. Amr Ibnu Abasah
10. Abu Dzar Al Ghifari dan lain-lain

Beberapa riwayat menunjukkan bahwa beberapa shahabat mengaku dan merasa dirinya yang pertama masuk Islam dan ini tidak bertentangan karena mereka mengabarkan sesuai dengan apa yang dia lihat dan dia ketahui

Kemudian ini di antara yang menunjukkan kerahasiaan dakwah yang di lakukan oleh Rasulullah ﷺ saat itu,

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy
Di kota Pandeglang

Tuesday, January 28, 2020

Nadwa



✒ Tim Nadwa

📚 *MATERI 10 : CONTOH KALIMAT MUBTADA KHOBAR* 📚
_________________________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

✍🏻 Diantara Ketentuan mubtada dan khabar adalah,

 1⃣ Bila _*mubtada-nya*_ *mufrad* maka _*khabar-nya*_ pun harus *mufrad*

        Contoh :
🍃 المُدَرِّسُ جَالِسٌ
         ( _Guru tersebut duduk_ )

          👉 _Al mudarrisu_ adalah isim *mufrad*,
_jaalisun_  juga isim *mufrad*.

          👉 Tanda Marfu' keduanya adalah dhammah.

 2⃣ Bila _*mubtada-nya*_ *mutsanna atau jamak* maka _*khabar-nya*_ pun harus *mutsanna atau jamak*

        Contoh :
         🔖 *Mutsanna*
🍃 المُدَرِّسَانِ جَالِسَانِ
               ( _Dua guru tersebut duduk_ )

                 👉 _al mudarrisaani_ isim *mutsanna*. Maka _jaalisaani_ yang merupakan khobarnya pun isim *mutsanna*.

                 👉 Tanda marfu' dari keduanya adalah *alif*.

          🔖 *Jamak*
🍃 المُدَرِّسُونَ جَالِسُوْنَ
               ( _Para guru tersebut duduk_ )

                  👉 _Al mudarrisuuna_ dan
_jaalisuuna_  keduanya adalah *jamak mudzakkar salim*. Tanda rafa'nya adalah wawu ( و ).

3⃣ Bila _*mubtada-nya*_ *muannats* maka _*khabar-nya*_ pun harus *muannats* pula,  demikian juga bila *mudzakkar*.

        🔖 Contoh yang  mudzakkar sebagaimana yang ada pada poin 1 dan 2.

        🔖 *Contoh muannats*,
🍃 المُدَرِّسَةُ جَالِسَةٌ
             ( _Guru Perempuan tersebut duduk_ )

🍃 المُدَرِّسَتَانِ جَالِسَتَانِ
             ( _Dua guru Perempuan tersebut duduk_ )

🍃 المُدَرِّسَاتُ جَالِسَاتٌ
             ( _Para guru Perempuan tersebut duduk_ )

📍 *KESIMPULAN*
        Dari contoh-contoh di atas, dapat kita simpulkan bahwa mubtada' dan khobar memiliki *kesesuaian* dalam hal,
         🔖 *Jenis* (Mudzakkar/Muannats)
         🔖 *Jumlah* (Mufrad/Mutsanna/Jamak)
         🔖 *I'rab* (Rafa')

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم

_________________


✒ Tim Nadwa
📚 *MATERI 11: FI'IL* 📚
_________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

*Fi'il* adalah kata yang memiliki makna *yang terikat dengan waktu*, dan berdasarkan waktunya fi'il terbagi menjadi *tiga* yaitu :

1⃣ *Fi'il madhi / الفِعْلُ المَاضِيْ*

        Fi'il madhi adalah fi'il yang menunjukkan kejadian pada *waktu lampau*.
        🌱 Contohnya :
🍃 ذَهَبَ
          ( _Dia (lk) *telah* pergi_ )


2⃣ *Fi'il mudhari' / الفِعْلُ المُضَارِعُ*

        Fi'il mudhari' adalah fi'il yang menunjukkan kejadian pada waktu *sekarang* atau *akan datang*.
        🌱 Contohnya :
🍃 يَذْهَبُ
          ( _Dia (lk) *sedang/akan* pergi_ )


3⃣ *Fi'il amr / الفِعْلُ الأَمْرُ*

        Fi'il amr adalah fi'il yang menunjukkan *perintah*, yang berarti harus dikerjakan pada waktu akan datang (yakni setelah adanya perintah).
        🌱 Contohnya :
🍃 اِذْهَبْ
          ( _Pergilah kamu!_ )

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم


_________________
✒ Tim Nadwa



12 . I'ROB FI'IL* 📚
__________________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

✍ Kita masuk pembahasan tentang i'rob pada fi'il


🏷 Sebagian fi'il ada yang *mabni* (tidak berubah akhiran katanya) dan ada yang *mu'rob* (berubah  akhiran katanya).

🏷 Yang termasuk *fi'il mabni* ada 2, yaitu:
       1⃣ *Fi'il madhi*
       2⃣ *Fi'il amr*

🏷 Yang termasuk *fi'il mu'rob* adalah *hanya* fi'il mudhari'.

🏷 Sebagaimana yang kita ketahui sebelumnya bahwa i'rab terbagi atas 4 jenis, namun *perlu diperhatikan bahwa i'rab pada fi'il mudhari' hanya berlaku 3 jenis saja*, yaitu :

       1⃣ *Marfu'/rafa' (مَرْفُوْعٌ/رَفْعٌ)*

               🌱 Contohnya :
🍃 أَذْهَبُ
                   (saya sedang/akan pergi)

               📌 Berharakat dhommah diakhir adalah *tanda asal* fi'il mudhari'.

       2⃣ *Manshub/nashab (مَنْصُوْبٌ/نَصْبٌ)*

               🌱 Contohnya :
🍃 لَنْ أَذْهَبَ
                    (saya tidak akan pergi)

               📌 Kata "لَنْ" berfungsi/menjadi *sebab manshubnya* fi'il mudhari'.

       3⃣ *Majzum/jazm (مَجْزُوْمٌ/جَزْمٌ)*

               🌱 Contohnya :
🍃 لَمْ أَذْهَبْ
                  (saya tidak pergi)

               📌 Kata "لَمْ" berfungsi/menjadi *sebab majzumnya* fi'il mudhari'.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم

_______________



📚 *MATERI 13 : FI'IL DAN FA'IL* 📚
_____________________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

1⃣ *Fi'il* adalah setiap kata yang memiliki *makna* dan *terikat dengan waktu*. Dalam bahasa Indonesia Fi'il disebut *kata kerja/Predikat*. Misal,
🍃 ذَهَبَ ( _telah pergi_ )
🍃 يَذْهَبُ ( _sedang/akan pergi_ )
🍃 اِذْهَبْ ( _pergilah_ )

2⃣ *Fa'il* adalah *isim marfu'* yang terletak *setelah fi'il ma'lum* (kata kerja aktif) yang menunjukkan siapa yang melakukan perbuatan. Dalam bahasa Indonesia Fa'il disebut dengan *Subyek*.

3⃣ *Contoh kalimat* :
🌱 يَذْهَبُ زَيْدٌ
        ( _Zaid sedang pergi_ )
     🍃 يَذْهَبُ : fi'il
     🍃 زَيْدٌ : fa'il
       📍 *Kedua kata tersebut*,
                🔖 *mufrod* (tunggal),
                🔖 sama dari segi *jenisnya* yaitu *mudzakar*,
                🔖 dan *marfu'* dengan tanda dhommah untuk menunjukkan bahwa ia adalah *fa'il (subyek).* Dan fa'il (subyek) adalah *inti kalimat.*

4⃣ Kalimat,
🍃 يَذْهَبُ زَيْدٌ
        ( _Zaid sedang pergi_ )
         👉🏻 adalah *Jumlah Fi'liyyah*, yaitu kalimat yang *didahului oleh fi'il* (kata kerja).

 و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم

___________________


📚 *MATERI 14: KAIDAH FI'IL DAN FA'IL* 📚
______________________________________

بسم ﷲ الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاۃ والسلام علی رسول ﷲ

Ikhwatii fillaah... Kita akan memasuki pembahasan "kaidah fi'il dan fa'il dan contoh-contohnya".

🏷 Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kalimat yang dimulai dengan fi'il disebut dengan *jumlah fi'liyyah*.

🏷 Jumlah fi'liyyah ini memiliki beberapa kaidah yaitu :

1⃣ *Fi'il selalu bersesuaian jenis dengan fa'ilnya.*

         📌 Jika fa'ilnya berupa isim mudzakkar fi'ilnya juga mudzakkar

                 👉 Contoh :

🍃 كَتَبَ أَحْمَدُ
            (Ahmad telah menulis)
🍃 يَكْتُبُ أَحْمَدُ
            (Ahmad sedang/akan menulis)

        📌 Jika *fa'ilnya* berupa *isim muannats* maka fi'ilnya juga muannats dengan diberi tanda muannats yaitu menambahkan *ta' sukun (تْ) di akhir fi'il madhi* dan *ta' berharakat di awal fi'il mudhari*.

               👉 Contoh :
🍃 دَرَسَتْ عَائِشَةُ
            (Aisyah telah belajar)
🍃 تَدْرُسُ عَائِشَةُ
            (Aisyah sedang/akan belajar)

2⃣ *Fi'il selalu dalam keadaan mufrad*

          📌 Meskipun fa'ilnya berupa isim mutsanna atau jamak maka *fi'ilnya tetap mufrad (tunggal)*

                  👉 Contoh,

                         🌱 Untuk mudzakkar :
سَمِعَ / يَسْمَعُ الطَّالِبُ =
Pelajar (lk) itu telah / sedang mendengar
         يَسْمَعُ الطَّالِبَانِ =
Dua pelajar (lk) itu sedang mendengar
         يَسْمَعُ الطُّلَابُ =
Para pelajar (lk) itu sedang mendengar

                         🌱 Untuk muannats :
سَمِعَتْ / تَسْمَعُ الطَّالِبَةُ
Pelajar (pr) itu telah / sedang mendengar
             تَسْمَعُ الطَّالِبَتَانِ =
Dua pelajar (pr) itu sedang mendengar
             تَسْمَعُ الطَّالِبَاتُ =
Para pelajar (pr) itu sedang mendengar

📝Keterangan :
▪سَمِعَ = dia (lk) telah mendengar
▪يَسْمَعُ = dia (lk) sedang/telah mendengar
▪سَمِعَتْ = dia (pr) telah mendengar
▪تَسْمَعُ = dia (pr) sedang/akan mendengar

3⃣ *Fa'il harus dalam keadaan marfu' (ber-i'rab rafa')**, untuk menandakan bahwa ia inti kalimat.
*Tanda i'rab rafa' isim dapat dilihat pada materi 8.


وصلی ﷲ علی نبينا محمد وعلی آله وصحبه وسلم

__________________
✒ Tim Nadwa



✒ Tim Nadwa📚
 *MATERI 15 : TANDA NASHAB ISIM* 📚
________________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
ااحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على رسول الله

Kita telah mengetahui bahwa di antara jenis I'rab kata dalam bahasa Arab adalah *Nashab*.

❓ Apa saja *tanda nashab isim*? Berikut perinciannya,
       🔖 *Fathah* ( َ- )
         Ini merupakan *tanda asal* i'rab *Nashab*. Ada pada,
                🌱 *Mufrad*
🍃 مُحَمَّدًا
🍃 عَائِشَةَ
                🌱 *Jamak Taksir*
🍃 رُسُلًا
                  ( _Para rasul/utusan_ )

       🔖 *Alif* ( ا ). Ada pada,
                🌱 *Al-Asma' Al-Khomsah*
🍃 أَخَاكَ
                  ( _saudara laki-lakimu_ )

       🔖 *Kasrah* ( ِ- ). Ada pada,
                🌱 *Jamak Muannats Salim*
🍃 مُؤْمِنَاتٍ
                  ( _para perempuan yang beriman_ )

        🔖 *Ya'* ( ي ). Ada pada,
                 🌱 *Mutsanna*
🍃 وَالِدَيْنِ
                 ( _orang tua_ )

                 🌱 *Jamak Mudzakkar Salim*
🍃 مُسْلِمِيْنَ
                 ( _Orang-orang yang berislam_ )

_______________________
📌 *Catatan*
       💡 Penulisan *fathatain* ( ً- ) diikuti dengan *alif*. *Kecuali* pada,
               🔖 *ta' marbuthoh* ( ة ), seperti :
🍃 مُسْلِمَةً
                     ( _perempuan yang berislam_ )
🍃 ثَمَرَةً
                     ( _buah_ )
               🔖 dan *hamzah* ( ء ) yang *sebelumnya alif*. Seperti,
🍃 سَمَاءً ( _langit_ )
🍃 إِنْشَاءً ( _esai_ )

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم


__________________
✒ Tim Nadwa



Monday, January 27, 2020

Amalan Rumah baru

*Amalan Menempati Rumah Baru*

By Ustadz Ammi Nur Baits


Pertanyaan:

Assalamualaikum ya ustadz. Saya ingin bertanya,

“Saudara saya akan memiliki rumah yang baru dan akan berpindah setelah siap.
Apa kah yang harus beliau lakukan sebelum beliau menginapi dirumah itu?

Shukran atas jawaban nya. Wasalam.”

Dari: Adlindaman

Jawaban:

Wa alaikumus salam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

 🏡 *Kami berharap semoga Allah memberkahi anda dengan rumah baru ini, dan menjadikannya sebagai kediaman yang baik, nyaman dan berkah.*

*Berikut beberapa hal yang dianjurkan untuk dilakukan bagi muslim yang mendiami rumah baru,*

*Pertama, bersyukur kepada Allah atas nikmat ini*

Allah berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Ingatlah ketika Tuhanmu mengumumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Imam As-Sa’di menjelaskan, inti syukur ada 3:

Mengakui bahwa nikmat itu dari Allah, dan bukan semata hasil karyanya
Memuji Allah atas nikmat yang telah Dia anugerahkan
Menggunakan nikmat itu untuk kegiatan yang Allah ridhai, dan bukan untuk sesuatu yang terlarang.
Kebalikan dari hal itu adalah kufur nikmat yang hukumnya terlarang. (Tafsir As-Sa’di, 422).

*Kedua, syukuran rumah baru*

Sebagai bentuk menyempurnakan rasa syukur itu, kita dianjurkan untuk mengadakan walimah, mengundang orang lain untuk makan-makan. Walimah ini sering diistilahkan dengan Al-Wakirah. Sebagian ulama sangat menganjurkan hal ini, diantaranya Al-Imam As-Syafii. Beliau mengatakan tentang Al-Wakirah:

ومنها الوكيرة، ولا أرخص في تركها

“Diantara bentuk walimah adalah Al-Wakirah. Saya tidak memberi kelonggoran untuk meninggalkannya.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 8/207).

*Ketiga, masuklah rumah baru dengan mambaca:*

مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

MASYAA-ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH

Bacaan ini terdapat dalam firman Allah di surat Al-Kahfi,

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاء اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِن تُرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالاً وَوَلَداً

“Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu *“maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)*. Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS. Al-Kahfi: 39).

Ketika membahas ayat ini, Ibnul Qayim mengatakan,

فينبغي لمن دخل بستانه أو داره أو رأى في ماله وأهله ما يعجبه ، أن يبادر إلى هذه الكلمة، فإنه لا يرى فيه سوءا

“Selayaknya bagi orang yang memasuki kebunnya, atau rumahnya, atau terheran terhadap harta dan keluarganya, hendaknya dia segera membaca kalimat ini. Karena dia tidak akan melihat sesuatu yang buruk terhadap nikmat itu.” (Al-Wabilus Shayyib, hlm. 165).

Kemudian Ibnul Qayim membawakan riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَنعَمَ اللهُ عَلَى عَبدٍ نِعمَةً فِي أَهلٍ وَمَالٍ وَوَلَدٍ فَقَالَ : (مَا شَاءَ اللهُ لَا قُوَّةَ إِلا بِاللهِ)، فَيَرَى فِيهَا آفَةً دُونَ المَوتِ

Jika Allah memberi kepada seorang hamba nikmat kebaikan terhadap keluarga, harta, atau anak, kemudian dia membaca: “masyaa-allah, laa quwwata illaa billaah” maka dia tidak akan melihat adanya cacat dalam nikmat selain kematian. (HR. At-Thabrani dalam Al-Ausath 6/126, dishahihkan Ibnul Qoyim dalam Syifa Al-Alil 1/182, dan didhaifkan Al-Albani dalam Ad-Dhaifah).

❌⛔ *Keempat, kami tidak menjumpai adanya doa khusus atau bacaan khusus ketika memasuki rumah baru.*

*Hanya saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk banyak beramal ketika di rumah, namun sifatnya umum berlaku untuk semua rumah, tidak hanya rumah baru. Berikut diantaranya,*

*1. Rajin baca Alquran dan ibadah apapun di dalam rumah. Terutama membaca surat Al-Baqarah.*

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تجعلوا بيوتكم مقابر، إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة

“Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim 780, At-Turmudzi 2877)

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam men-kontras-kan antara rumah dengan kuburan. Beliau memerintahkan agar rumah kita tidak dijadikan seperti kuburan. Salah satu sifat yang mencolok dari kuburan adalah itu bukan tempat ibadah. Agar rumah kita tidak seperti kuburan yang bisa jadi banyak setan pengganggu, gunakan rumah kita untuk ibadah.

Hadis ini sekaligus menuntut Anda yang belum bisa membaca Alquran agar segera dan serius dalam belajar Alquran. Untuk menjadikan rumah Anda sebagai taman bacaan Alquran, tidak mungkin setiap hari Anda harus mengundang orang lain untuk membaca Alquran di rumah anda.

Dalam hadis yang lain, dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

“Jadikanlah bagian shalat kalian di rumah kalian. Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan.” (HR. Bukhari 432, Muslim 777, dan yang lainnya).

Maksud shalat di sini adalah shalat sunah yang dikerjakan sendiri dan tidak berjamaah. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis:

إِنَّ أَفْضَلَ صَلاَةِ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الصَّلاَةَ المَكْتُوبَةَ

Sesungguhnya shalat seseorang yang paling utama adalah shalat yang dikerjakan di rumahnya, kecuali shalat wajib.” (HR. Bukhari 7290 dan yang lainnya).

*2. Baca doa ketika masuk rumah*

Hal kecil yang mungkin perlu dibiasakan adalah memulai segala yang penting dengan doa atau dzikir. Salah satunya, ketika kita masuk rumah. Meskipun kelihatanya remeh, namun hasilnya luar biasa.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ، وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ، وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يُذْكَرِ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ

“Apabila ada orang yang masuk rumah, kemudian dia mengingat Allah ketika masuk, dan ketika makan, maka setan akan mengatakan (kepada temannya): ‘Tidak ada tempat menginap dan tidak ada makan malam.’ Tapi apabila dia tidak mengingat Allah (bismillah dan jangan lupa ucapkan salam) ketika masuk, maka setan mengatakan: ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’.” (HR. Muslim 2018, Abu Daud 3765 dan yang lainnya)

*3. Baca basamalah ketika tutup pintu*

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan banyak saran agar kita tidak terganggu setan. Salah satunya:

وَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا

“Tutuplah pintu, dan sebutlah nama Allah. Karena setan tidak akan membuka pintu yang tertutup (yang disebut nama Allah).” (HR. Bukhari 3304, Muslim 2012 dan yang lainnya)

*4. Berdoa ketika keluar rumah*

Satu doa ketika keluar rumah. Ringkas, mudah dihafal, tapi khasiatnya besar:

بسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

*Bismillahi  TAWAKKALTU ‘ALALLAAH, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAH*
Dengan nama Allah aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Dalam hadis dinyatakan, siapa yang keluar rumah kemudian dia membaca doa di atas, maka disampaikan kepadanya: Kamu diberi petunjuk, dicukupi dan dilindungi. Maka setan kemudian berteriak:

كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ

“Bagaimana kalian bisa mengganggu orang yang sudah diberi hidayah, dicukupi, dan dilindungi.” (HR. Abu Daud 5095, Turmudzi 3426 dan dishahihkan al-Albani)

Disamping amalan dan dzikir di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan sikap tertentu agar rumahnya dimasuki malaikat dan dihindari setan.

Diantara sikap itu adalah

*1. Menjauhkan rumah Anda dari gambar makhluk bernyawa*

Siapa sangka, ternyata gambar makhluk bernyawa bisa membuat jin dan setan nakal itu semakin betah di rumah kita.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنَّ المَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ

“Sesungguhnya malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada gambar.” (HR. Bukhari 3224, Nasai 5348 dan yang lainnya).

Ketika malaikat penebar rahmat tidak memasuki rumah Anda, di saat itulah makhluk lain, yang juga tidak kelihatan, akan menggantikan posisi mereka. Foto keluarga, gambar binatang dan seterusnya bisa jadi membuat rumah Anda makin indah bagi setan.

*2. Menjauhkan rumah Anda dari musik*

Banyak orang tidak sadar, ternyata suara ini berbahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya “mizmarus syaithan” (musik setan). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan salah satunya adalah lonceng. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  فِي الْجَرَسِ مِزْمَارُ الشَّيْطَانِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang lonceng: musik setan. (HR. Abu Daud 2556)

*Di kesempatan yang sama, malaikat penebar rahmat menghindari rumah yang dipenuhi dengan musik.*

Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَا تَصْحَبُ رُفْقَةً فِيهَا جَرَسٌ

“Sesungguhnya malaikat tidak akan menyertai rombongan yang di sana ada loncengnya.” (HR. Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, 1001).

Kita telah memahami, terjadi sikap kontradiktif antara malaikat penebar rahmat dengan setan pembangkang. Ketika salah satunya menghindar, di saat itulah yang satunya menggantikan.

*Jadikan rumah Anda seperti taman-taman malaikat penebar rahmat, bukan tempat peristirahatan yang nyaman bagi setan.*

*Selamat menempati rumah baru, semoga diberkahi ...Aamiin

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinan www.KonsultasiSyariah.com)

Read more https://konsultasisyariah.com/17140-amalan-ketika-menempati-rumah-baru.html
Halaqah - 16 -

Faedah-faedah Dari Hadīts Aisyah رضي الله عنها

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Halaqah yang ke - 16 dari Silsilah Ilmiyyah Sirah Nabawiyah adalah tentang Faedah-faedah Dari Hadīts Aisyah رضي الله عنها

Diantara Faedah yang bisa kita ambil dari Hadits Aisyah رضي الله عنها

1. Pentingnya seorang muslim memiliki waktu berkhalwah dengan Allah ﷻ

Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah رٙحِمٙهُ اللهُ di dalam Majmu Al-Fatawa

لابد للعبد من أوقات ينفرد بها بنفسه في دعائه وذكره وصلاته وتفكره ومحاسبة نفسه وإصلاح قلبه…

Haruslah seorang hamba memiliki waktu-waktu yang di situ dia menyendiri dengan dirinya, di dalam doanya, dzikirnya, shalatnya, perenungannya, muhasabah terhadap dirinya dan memperbaiki hatinya

2. Hadits diatas menjelaskan bahwa surat Al-Alaq ayat 1-5 adalah yang pertama turun kepada Nabi ﷺ dan ini adalah pendapat jumhur ulama

3. Hadits ini menunjukkan bahwasanya sebelum menjadi Nabi, beliau ﷺ sudah memiliki sifat-sifat yang sangat mulia

4.  Akhlak yang baik adalah sebab seseorang selamat dari berbagai keburukan

5. Hadits ini menunjukkan keutamaan Khadijah ketika beliau رضي الله عنها berusaha menenangkan Nabi ﷺ dari ketakutan dengan cara menyebutkan kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan beliau, yang ini semua adalah sebab Allah tidak akan menyia-nyiakan beliau ﷺ

6.  Usaha Khadijah sebagai seorang istri untuk mengetahui hakikat dari kejadian yang menimpa Nabi ﷺ dengan mendatangi seorang yang berilmu yaitu Waraqah supaya Nabi ﷺ semakin tenang menghadapi semua ini

7.  Kedudukan ilmu Waraqah bin Naufal tentang para Nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ

8. Bahwa dakwah memiliki tantangan dan rintangan, sebagaimana di kabarkan oleh Waraqah bin Naufal

9. Bahwa Khadijah adalah orang yang pertama kali beriman kepada Rasulullah ﷺ dari kalangan wanita

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullāh Roy
Di kota Pandeglang