# Apapun Keadaanya, Jangan Pernah Tinggalkan Majelis Ilmu
“Pada mejelis ilmu ada dua hal utama yang membuat istiqamah sampai ajal menjemput:
Pertama : ilmu yang menjaga kita
Kedua: sahabat yang shalih yang selalu meingingatkan akan akhirat”
Saudaraku, apapun keadaannya dan bagaimanapun kondisinya, jangan pernah meninggalkan majelis ilmu. Jangan lah tinggalkan secara total, jika tidak bisa sepekan sekali, mungkin sebulan sekali, jika tidak bisa mungkin 2 atau 3 bulan sekali, insyaallah waktu itu selalu ada, yang menjadi intinya adalah apakah kita memprioritaskan atau tidak? Jika tidak menjadi prioritas, maka tidak akan ada waktu dan tidak akan ada usaha untuk itu. Jangan pernah juga meninggalkan majelis ilmu karena sudah merasa berilmu atau telah menjadi “ikhwan senior”, para ustadz dan ulama pun terus belajar dan menuntut ilmu.
Saudaraku, mereka yang berguguran dipersimpangan jalan dakwah adalah orang perlahan-lahan meninggalkan majelis ilmu secara total, baik itu tenggelam dengan kesibukan dunia atau merasa sudah berilmu kemudian menjadi sombong dan tergelincir.
Abdullah bin Mubarak menunjukkan keheranan, bagaimana mungkin seseorang jiwanya baik jika tidak mau menuntut ilmu dan menghadiri majelis ilmu. Beliau berkata,
عجبت لمن لم يطلب العلم, كيف تدعو نفسه إلى مكرمة
“Aku heran dengan mereka yang tidak menuntut ilmu, bagaimana mungkin jiwanya bisa mengajak kepada kebaikan.”? [Siyar A’lam AN-Nubala 8/398]
Sebagaimana yang kita sampai di awal bahwa pada majelis ilmu terdapat dua faktor utama agar seseorang bisa istiqamah:
[1] Ilmu yang menjaganya
Dengan ilmu dan pemahaman yang benar seseorang agar terjaga dari kesalahan dan ketergelinciran.
Ibnul Qayyim berkata,
ﺃﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺤﺮﺱ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﻭﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻳﺤﺮﺱ ﻣﺎﻟﻪ
“Ilmu itu menjaga pemiliknya sedangkan pemilik harta akan menjaga hartanya.”[Miftah Daris Sa’adah 1/29]
Dengan menghadiri majelis ilmu juga akan menimbulkan ketenangan dan kebahagiaan yang mejadi tujuan seseorang hidup di dunia ini. Apabila niatnya ikhlas, maka ia akan merasakan ketenangan di majelis ilmu dan akan terus mencari majelis ilmu di mana pun berada.
Majelis ilmu adalah taman surga yang membuat seseorang merasakan ketenangan.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.”[HR Tirmidzi, no. 3510, Ash Shahihah, no. 2562]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
إن للذكر من بين الأعمال لذة لا يشبهها شيء، فلو لم يكن للعبد من ثوابه إلا اللذة الحاصلة للذاكر والنعيم الذي يحصل لقلبه لكفى به، ولهذا سميت مجالس الذكر رياض الجنة
“Sesungguhnya dzikir di antara amal memiliki kelezatan yang tidak bisa diserupai oleh sesuatupun, seandaikan tidak ada balasan pahala bagi hamba kecuali kelezatan dan kenikmatan hati yang dirasakan oleh orang yang berdziki, maka hal itu [kenikmatan berdzikit saja, pent] sudah mencukupi,oleh karena itu majelis-majelis dzikir dinamakan taman-taman surga.” [Al-Wabilush Shayyib hal. 81, Darul Hadist, Koiro,, Asy-Syamilah]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
Dan tidaklah sekelompok orangberkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya.” [HR Muslim, no. 2699].
[2] Di majelis ilmu kita akan bertemu dengan sahabat yang selalu mengingatkan akan akhirat
Di majelis ilmu kita akan berjumpa dengan sahabat yang benar-benar sejati, yaitu sahabat yang selalu memberikan nasihat dan mengingatkan kita apabila salah. Sebuah ungkapan arab berbunyi:
ﺻﺪﻳﻘﻚ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ ﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ
“Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka”
“Sahabat sejati-mu adalah yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu”
Dengan Sering berjumpa dengan orang shalih yang sabar dengan kehidupan dunia ini dan tidak rakus akan harta dan kedudukan, hidup kita akan mudah dan lebih bahagia.
Perhatikan bagaimana Ibnul Qayyim mengisahkan tentang guru beliau Ibnu Taimiyyah, beliau berkata:
وكنا إذا اشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه، فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله وينقلب انشراحاً وقوة ويقيناً وطمأنينة
“Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”[ Al-wabilush shayyib hal 48, Darul Hadits, Syamilah]
Demikian semoga bermanfaat
@ Lombok, Pulau Seribu Masjid
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslim.or.id
https://muslim.or.id/45155-apapun-keadaanya-jangan-pernah-tinggalkan-majelis-ilmu.html
__
Follow akun (klik):
Telegram: bit.ly/muslimafiyah
Youtube: http://www.youtube.com/c/RaehanulBahraen
Rumah Tahfidz, Belajar Tahsin dan Tajwid Al Qur'an, Kajian Ilmu syar'i Hub: Diana Gasim (Ummu Achmad ) 085312837788)
Thursday, March 5, 2020
*Siapa yang Memberi Harakat al-Quran?*
Pertanyaan:
Saya mendengar, mushaf di zaman ustman tdk ada harakatnya.
Apa benar demikian? Lalu siapa yg memberi harakat al-Quran?
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Umumnya kaum muslimin di zaman sahabat, paham bahasa fushah (bahasa arab fasih). Sehingga mushaf yang diterbitkan di zaman khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu, ditulis tanpa harakat dan bahkan belum ada titik-titik huruf.
Bagi orang yang tidak memahami bahasa arab yang asli, huruf ba’, ta, dan tsa’ bentuknya sama.
Namun bagi para sahabat, dan mereka yang memahami karakter asli bahasa arab, bisa membedakan huruf-huruf itu.
Dengan demikian, apa yang disampaikan penanya adalah benar adanya.
Di zaman Khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu, tulisan mushaf al-Quran belum diberi harakat.
*Lalu siapa yang memberi harakat pertama kali?*
Berikut keterangan Dr. Abdullah bin Muhammad al-Muthlaq dalam artikel beliau yang berjudul al-Quran al-Karim bi Khatti Braille li al-Makfufin. Artikel ini diterbitkan dalam Jurnal al-Buhuts al-Islamiyah, volume 66, hlm. 337.
Dr. Abdullah al-Muthlaq mengatakan,
لا يدخل في الرسم العثماني الأمور التالية
*Beberapa hal berikut, tidak termasuk dalam naskah mushaf Utsmani,*
أولا : النقط التي تتميز بها الحروف فإنها إنما ألحقت بالحروف العربية في عصر التابعين وكانت الحروف قبل ذلك تكتب غير منقوطة . قال أبو عمرو عثمان بن سعيد الداني المتوفى سنة 444 هـ: ” باب ذكر من نقط المصاحف أولا من التابعين ومن كره ذلك ومن ترخص فيه من العلماء: اختلفت الرواية لدينا فيمن ابتدأ بنقط المصاحف من التابعين فروينا أن المبتدئ بذلك كان أبا الأسود الدؤلي .
وروينا أن ابن سيرين كان عنده مصحف نقطه يحيى بن يعمر وأن يحيى أول من نقطها” [كتاب النقط المطبوع مع المقنع في معرفة مرسوم مصاحف أهل الأمصار ص129[
*Pertama* titik yang membedakan antara satu huruf dengan huruf lainnya [misal, titik pada huruf-huruf: ي؛ ب؛ ت؛ ن؛ ث؛ . kita bisa tahu bedanya, karena titik]. Titik-titik ini baru dibubuhkan pada huruf arab di zaman tabiin. Sementara huruf-huruf sebelum masa itu, semuanya ditulis tanpa titik.
Abu Amr, Utsman bin Said ad-Dani (w. 444 H) mengatakan, ‘Penjelasan tentang titik pada mushaf pertama kali terjadi di masa tabiin.
Dan penjelaan tentang ulama yang membenci titik ini dan ada yang memberi keringanan.
Ada perbedaan riwayat yang kami miliki tentang siapa yang memulai pertama kali memberikan titik dalam mushaf di zaman tabiin. Kami mendapat riwayat bahwa yang melakukan pemberian titik pertama adalah Abul Aswad ad-Duali. Kami juga mendapat riwayat bahwa Ibnu Sirin memiliki mushaf yang hurufnya ada titiknya, dimana yang memberi titik adalah Yahya bin Ya’mar. Dan bahwa Yahya adalah orang yang pertama kali memberi titik mushaf.’ (Kitab: an-Nuqath al-Mathbu’ ma’a al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsum Mashahif Ahli Amshar, hlm. 129).
ثانيا : الحركات والتنوين وأول من وضعها أبو الأسود الدؤلي وكانت نقطا ، وذلك أنه أراد أن يعمل كتابا في العربية يقوّم الناس به ما فسد من كلامهم،…. وقيل إن أول من فعل ذلك نصر بن عاص الليثي . [كتاب النقط المطبوع مع المقنع في معرفة مرسوم مصاحف أهل الأمصار ص129[
ثم إن الخليل بن أحمد طور ذلك حيث اخترع الحركات المأخوذة من الحروف . [الإتقان في علوم القرآن ص 219[
*Kedua,* (yang tidak ada dalam mushaf Utsmani) Harakat dan tanwin.
Pertama kali yang membubuhkan harakat dan tanwin dalam kalimat bahasa arab adalah Abul Aswad ad-Duali.
Ini beliau lakukan ketika beliau menulis sebuah buku tentang belajar bahasa arab, dalam rangka meluruskan kekeliruan kalimat bahasa arab yang umumnya diucapkan masyarakat.
Ada juga yang mengatakan, Orang yang pertama memberi harakat dan tanwin adalah Nashr bin Ash al-Laith. Kitab: an-Nuqath al-Mathbu’ ma’a al-Muqni’, hlm. 129).
Kemudian Khalil bin Ahmad al-Farahidi mengembangkan hal itu, dimana beliau membuat beberapa harakat yang diambil dari huruf. (al-Itqan fi Ulum al-Quran, hlm. 219).
ثالثا : الهمزة والتشديد والرَّوْم والإشمام ، وأول من وضعها الخليل بن أحمد الفراهيدي .
*Ketiga,* hamzah, tasydid, raum, dan isymam. Pertama kali yang meletakkannya adalah Khalil bin Ahmad al-Farahidi.
رابعا : علامات التجويد وعلامات الوصل والوقف فإنها لم تكن في الرسم العثماني وإنما كتبت بعد الكتابة في علم التجويد
*Keempat,* tanda-tanda tajwid, tanda washal, atau waqaf.
Semua ini tidak ada dalam naskah mushaf Utsmani.
*Baru dibubuhkan dalam al-Quran setelah adanya ilmu tajwid.*
(al-Quran al-Karim bi Khatti Braille li al-Makfufin, diterbitkan dalam Majalah al-Buhuts al-Islamiyah, 66/337. Dinukil dari Fatwa Islam no. 95430).
Allahu a’lam
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.
Read more https://konsultasisyariah.com/20850-siapa-yang-memberi-harakat-al-quran.html
_______________
Tambahan :
*ilmu tajwid yang paling awal adalah ditulis oleh ulama Ahli sunnah pada tahun ke 3 Hijriyah yaitu Abu Muzahim Al-Haqani dalam bentuk qasidah (puisi) namanya Qosidah Al Khoqoni (qosidah Roiyyah) yaitu sebuah lmu tajwid yang terulung/paling ulung.*
Pada kurun ke-4 hijrah pula, lahir Ibnu Mujahid Al-Baghdadi dengan karangannya “Kitabus Sab’ah.
Selepas itu lahirlah para ulama Ilmu Tajwid dan Ilmu Qiroah yang tampil memelihara kedua-dua ilmu ini dari masa ke masa seperti:
1. Abu ‘Amr Ad-Dani dengan kitabnya At-Taysir,
2. Imam Asy-Syatibi Tahani dengan kitabnya “Hirzul Amani wa Wajhut Tahani”
yang menjadi tonggak kepada karangan-karangan tokoh-tokoh lain yang sezaman dan yang setelah mereka.
Tetapi yang jelas dari karangan-karangan mereka ialah *ilmu tajwid dan ilmu qiraat* senantiasa bergandengan, ditulis dalam satu kitab tanpa dipisahkan pembahasannya. penulisan ini juga diajarkan kepada murid-murid mereka.
Kemudian lahir pula seorang *tokoh yang amat penting dalam ilmu tajwid dan qiraat yaitu imam (ulama) yang lebih terkenal dengan nama Ibnul Jazari dengan karangan beliau yang masyhur yaitu “An-Nasyr”, “Toyyibatun Nasyr” dan “Ad-Durratul Mudhiyyah” yang mengatakan ilmu qiraat adalah sepuluh sebagai pelengkap bagi apa yang telah dinyatakan imam Asy-Syatibi dalam kitabnya “Hirzul Amani” sebagai qiraat tujuh.*
*Imam Al-Jazari juga telah mengarang karangan yang masih asing bagi ilmu Tajwid dalam kitabnya “At-Tamhid” dan puisi beliau yang lebih terkenal dengan nama “Matan Al-Jazariah”.*
Imam Al-Jazari telah mewariskan karangan-karangannya yang begitu banyak berserta bacaannya sekaligus, yang kemudian telah menjadi pedoman dan panduan bagi karangan-karangan ilmu tajwid dan qiraat serta bacaan al-Quran hingga saat ini....
Ada lagi matn Tuhfatul Athfal karya dari seorang ulama yg bernama Sulaiman Al Jamzuri
Dan masih banyak lagi kitab2 ilmu tajwid yg di karang oleh para ulama...
Pertanyaan:
Saya mendengar, mushaf di zaman ustman tdk ada harakatnya.
Apa benar demikian? Lalu siapa yg memberi harakat al-Quran?
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Umumnya kaum muslimin di zaman sahabat, paham bahasa fushah (bahasa arab fasih). Sehingga mushaf yang diterbitkan di zaman khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu, ditulis tanpa harakat dan bahkan belum ada titik-titik huruf.
Bagi orang yang tidak memahami bahasa arab yang asli, huruf ba’, ta, dan tsa’ bentuknya sama.
Namun bagi para sahabat, dan mereka yang memahami karakter asli bahasa arab, bisa membedakan huruf-huruf itu.
Dengan demikian, apa yang disampaikan penanya adalah benar adanya.
Di zaman Khalifah Utsman radhiyallahu ‘anhu, tulisan mushaf al-Quran belum diberi harakat.
*Lalu siapa yang memberi harakat pertama kali?*
Berikut keterangan Dr. Abdullah bin Muhammad al-Muthlaq dalam artikel beliau yang berjudul al-Quran al-Karim bi Khatti Braille li al-Makfufin. Artikel ini diterbitkan dalam Jurnal al-Buhuts al-Islamiyah, volume 66, hlm. 337.
Dr. Abdullah al-Muthlaq mengatakan,
لا يدخل في الرسم العثماني الأمور التالية
*Beberapa hal berikut, tidak termasuk dalam naskah mushaf Utsmani,*
أولا : النقط التي تتميز بها الحروف فإنها إنما ألحقت بالحروف العربية في عصر التابعين وكانت الحروف قبل ذلك تكتب غير منقوطة . قال أبو عمرو عثمان بن سعيد الداني المتوفى سنة 444 هـ: ” باب ذكر من نقط المصاحف أولا من التابعين ومن كره ذلك ومن ترخص فيه من العلماء: اختلفت الرواية لدينا فيمن ابتدأ بنقط المصاحف من التابعين فروينا أن المبتدئ بذلك كان أبا الأسود الدؤلي .
وروينا أن ابن سيرين كان عنده مصحف نقطه يحيى بن يعمر وأن يحيى أول من نقطها” [كتاب النقط المطبوع مع المقنع في معرفة مرسوم مصاحف أهل الأمصار ص129[
*Pertama* titik yang membedakan antara satu huruf dengan huruf lainnya [misal, titik pada huruf-huruf: ي؛ ب؛ ت؛ ن؛ ث؛ . kita bisa tahu bedanya, karena titik]. Titik-titik ini baru dibubuhkan pada huruf arab di zaman tabiin. Sementara huruf-huruf sebelum masa itu, semuanya ditulis tanpa titik.
Abu Amr, Utsman bin Said ad-Dani (w. 444 H) mengatakan, ‘Penjelasan tentang titik pada mushaf pertama kali terjadi di masa tabiin.
Dan penjelaan tentang ulama yang membenci titik ini dan ada yang memberi keringanan.
Ada perbedaan riwayat yang kami miliki tentang siapa yang memulai pertama kali memberikan titik dalam mushaf di zaman tabiin. Kami mendapat riwayat bahwa yang melakukan pemberian titik pertama adalah Abul Aswad ad-Duali. Kami juga mendapat riwayat bahwa Ibnu Sirin memiliki mushaf yang hurufnya ada titiknya, dimana yang memberi titik adalah Yahya bin Ya’mar. Dan bahwa Yahya adalah orang yang pertama kali memberi titik mushaf.’ (Kitab: an-Nuqath al-Mathbu’ ma’a al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsum Mashahif Ahli Amshar, hlm. 129).
ثانيا : الحركات والتنوين وأول من وضعها أبو الأسود الدؤلي وكانت نقطا ، وذلك أنه أراد أن يعمل كتابا في العربية يقوّم الناس به ما فسد من كلامهم،…. وقيل إن أول من فعل ذلك نصر بن عاص الليثي . [كتاب النقط المطبوع مع المقنع في معرفة مرسوم مصاحف أهل الأمصار ص129[
ثم إن الخليل بن أحمد طور ذلك حيث اخترع الحركات المأخوذة من الحروف . [الإتقان في علوم القرآن ص 219[
*Kedua,* (yang tidak ada dalam mushaf Utsmani) Harakat dan tanwin.
Pertama kali yang membubuhkan harakat dan tanwin dalam kalimat bahasa arab adalah Abul Aswad ad-Duali.
Ini beliau lakukan ketika beliau menulis sebuah buku tentang belajar bahasa arab, dalam rangka meluruskan kekeliruan kalimat bahasa arab yang umumnya diucapkan masyarakat.
Ada juga yang mengatakan, Orang yang pertama memberi harakat dan tanwin adalah Nashr bin Ash al-Laith. Kitab: an-Nuqath al-Mathbu’ ma’a al-Muqni’, hlm. 129).
Kemudian Khalil bin Ahmad al-Farahidi mengembangkan hal itu, dimana beliau membuat beberapa harakat yang diambil dari huruf. (al-Itqan fi Ulum al-Quran, hlm. 219).
ثالثا : الهمزة والتشديد والرَّوْم والإشمام ، وأول من وضعها الخليل بن أحمد الفراهيدي .
*Ketiga,* hamzah, tasydid, raum, dan isymam. Pertama kali yang meletakkannya adalah Khalil bin Ahmad al-Farahidi.
رابعا : علامات التجويد وعلامات الوصل والوقف فإنها لم تكن في الرسم العثماني وإنما كتبت بعد الكتابة في علم التجويد
*Keempat,* tanda-tanda tajwid, tanda washal, atau waqaf.
Semua ini tidak ada dalam naskah mushaf Utsmani.
*Baru dibubuhkan dalam al-Quran setelah adanya ilmu tajwid.*
(al-Quran al-Karim bi Khatti Braille li al-Makfufin, diterbitkan dalam Majalah al-Buhuts al-Islamiyah, 66/337. Dinukil dari Fatwa Islam no. 95430).
Allahu a’lam
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.
Read more https://konsultasisyariah.com/20850-siapa-yang-memberi-harakat-al-quran.html
_______________
Tambahan :
*ilmu tajwid yang paling awal adalah ditulis oleh ulama Ahli sunnah pada tahun ke 3 Hijriyah yaitu Abu Muzahim Al-Haqani dalam bentuk qasidah (puisi) namanya Qosidah Al Khoqoni (qosidah Roiyyah) yaitu sebuah lmu tajwid yang terulung/paling ulung.*
Pada kurun ke-4 hijrah pula, lahir Ibnu Mujahid Al-Baghdadi dengan karangannya “Kitabus Sab’ah.
Selepas itu lahirlah para ulama Ilmu Tajwid dan Ilmu Qiroah yang tampil memelihara kedua-dua ilmu ini dari masa ke masa seperti:
1. Abu ‘Amr Ad-Dani dengan kitabnya At-Taysir,
2. Imam Asy-Syatibi Tahani dengan kitabnya “Hirzul Amani wa Wajhut Tahani”
yang menjadi tonggak kepada karangan-karangan tokoh-tokoh lain yang sezaman dan yang setelah mereka.
Tetapi yang jelas dari karangan-karangan mereka ialah *ilmu tajwid dan ilmu qiraat* senantiasa bergandengan, ditulis dalam satu kitab tanpa dipisahkan pembahasannya. penulisan ini juga diajarkan kepada murid-murid mereka.
Kemudian lahir pula seorang *tokoh yang amat penting dalam ilmu tajwid dan qiraat yaitu imam (ulama) yang lebih terkenal dengan nama Ibnul Jazari dengan karangan beliau yang masyhur yaitu “An-Nasyr”, “Toyyibatun Nasyr” dan “Ad-Durratul Mudhiyyah” yang mengatakan ilmu qiraat adalah sepuluh sebagai pelengkap bagi apa yang telah dinyatakan imam Asy-Syatibi dalam kitabnya “Hirzul Amani” sebagai qiraat tujuh.*
*Imam Al-Jazari juga telah mengarang karangan yang masih asing bagi ilmu Tajwid dalam kitabnya “At-Tamhid” dan puisi beliau yang lebih terkenal dengan nama “Matan Al-Jazariah”.*
Imam Al-Jazari telah mewariskan karangan-karangannya yang begitu banyak berserta bacaannya sekaligus, yang kemudian telah menjadi pedoman dan panduan bagi karangan-karangan ilmu tajwid dan qiraat serta bacaan al-Quran hingga saat ini....
Ada lagi matn Tuhfatul Athfal karya dari seorang ulama yg bernama Sulaiman Al Jamzuri
Dan masih banyak lagi kitab2 ilmu tajwid yg di karang oleh para ulama...
Wednesday, March 4, 2020
*Sejarah Ilmu Tajwid*
bismillahirrohmanirrohim.......
Sejarah ilmu tajwid, asal usul dan akar ilmu tajwid, asal kata tajwid yaitu dari kata bahasa Arab jawwada- yujawwidu- tajwiidan mengikuti wazan taf 'iil yang berarti membuat sesuatu menjadi bagus.
di dalam beberapa buku tajwid disebutkan bahwa istilah ini muncul ketika seseorang bertanya kepada khalifah ke-empat, ‘Ali bin Abi Thalib tentang firman Allah yang berbunyi:
ورتل القرأن ترتيلا**
Bacalah Al Quran dg tartil
*beliau menjawab bahwa yang dimaksud dengan kata tartil adalah tajwiidul huruuf wa ma’rifatil wuquuf yang berarti membaca huruf-hurufnya dengan bagus (sesuai dengan makhraj dan shifat) dan tahu tempat-tempat waqof/tanda baca..*
Selama ini memang belum ditemukan musnad tentang perkataan beliau mengenai hal di atas, dan kisah ini hanya terdapat dalam kitab tajwid.
Akan tetapi para ulama’ bersepakat bahwa yang dimaksud dengan tartil adalah tajwiidul huruuf wa ma’rifatil wuquuf.
*Pengertian tajwid*
---------------------
Untuk menghindari kesalahpahaman antara tajwid dan qiraat, maka perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan tajwid.
Pendapat sebagaian ulama memberikan pengertian tajwid sedikit berbeda namun pada intinya sama.
*Secara bahasa, tajwid berarti al-tahsin atau membaguskan.*
*sedangkan menurut istilah yaitu, mengucapkan setiap huruf sesuai dengan makhrajnya menurut sifat-sifat huruf yang mesti diucapkan, baik berdasarkan sifat asalnya maupun berdasarkan sifat-sifatnya yang baru.*
Sebagian ulama yang lain medefinisikan tajwid sebagai berikut>>
*“tajwid ialah mengucapkan huruf (al-Quran) dengan tertib menurut yang semestinya, sesuai dengan makhraj serta bunyi asalnya, serta melembutkan bacaannya sesempurna mungkin tanpa belebihan ataupun dibuat-buat”.*
Jika dibincangkan kapan bermulanya ilmu tajwid, maka kenyataan menunjukkan bahwa ilmu ini telah bermula sejak dari al-Quran itu diturunkan kepada Rasululla.
Ini karena Rasulullah sendiri diperintah untuk membaca al-Quran dengan tajwid dan tartil seperti yang disebut dalam ayat 4, surah al-Muzammil: >>>>
وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا…… ......
*“…..Bacalah al-Quran itu dengan tartil(perlahan-lahan).”*
Kemudian Rasulullah mengajar ayat-ayat tersebut kepada para sahabat dengan bacaan yang tartil.
Sahabat Ali Bin Abi Thalib apabila ditanya tentang apakah maksud bacaan al-Quran secara tartil itu???
*maka beliau menjawab>>>” adalah membaguskan sebutan atau pelafalan bacaan pada setiap huruf dan berhenti pada tempat yang betul”.*
Ini menunjukkan *bahwa pembacaan al-Quran bukanlah suatu ilmu hasil dari ijtihad (fatwa) para ulama’ yang diolah berdasarkan dalil-dalil dari al-qur'an dan sunnah,*
*tetapi pembacaan al-qur'an adalah suatu yang taufiqi (diambil terus) melalui riwayat dari sumbernya yang asalnya yaitu sebutan dan bacaan Rasulullah*
Walau bagaimanapun, apa yang dikira sebagai penulisan ilmu tajwid yang paling awal ialah apabila bermulanya kesadaran perlunya *mushaf utsmaniah yang ditulis oleh Sahabat Utsman bin Affan itu diletakkan titik-titik kemudiannya baris-baris bagi setiap huruf dan perkataannya. gerakan ini telah diketuai oleh Abu Aswad Ad-Duali dan Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi, apabila pada masa itu khalifah umat islam memikul tugas untuk berbuat demikian *ketika umat islam mulai melakukan-kesalaha dalam bacaan.*
Ini karena *semasa Utsman menyiapkan mushaf al-Quran dalam enam atau tujuh buah itu, beliau telah membiarkannya tanpa titik-titik huruf dan baris-barisnya, karena memberi keluasan kepada para sahabat dan tabi’in pada masa itu untuk membacanya sebagaimana yang mereka telah ambil dari Rasulullah sesuai dengan Lahjah (dialog) bangsa Arab yang bermacam-macam.*
Tetapi setelah berkembang luasnya agama islam ke seluruh tanah Arab serta jatuhnya Roma dan Parsi ke tangan umat islam pada tahun pertama dan kedua hijriah, bahasa Arab mulai bercampur dengan bahasa penduduk-penduduk yang ditaklukkan umat islam. *ini telah menyebabkan berlakunya kesalahan yang banyak dalam penggunaan bahasa Arab dan begitu juga pembacaan al-qur'an.*
Maka al-qur'an mushaf Utsmaniah" telah diusahakan" untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam membacanya dengan penambahan baris dan titik pada huruf-hurufnya bagi karangan ilmu qiraat yang paling awal, sepakat apa yang diketahui oleh para penyelidik ialah apa yang telah dihimpun oleh Abu ‘Ubaid Al-Qasim Ibnu Salam dalam kitabnya “Al-Qiraat” pada kurun ke-3 Hijriah. tetapi ada yang mengatakan apa yang telah disusun oleh Abu ‘Umar Hafs Ad-Duri dalam ilmu qiraat adalah lebih awal.
Pada kurun ke-4 hijrah pula, lahir Ibnu Mujahid Al-Baghdadi dengan karangannya “Kitabus Sab’ah”, dimana beliau adalah orang yang mula-mula mengasingkan qiraat kepada tujuh imam bersesuaian dengan tujuh perbedaan dan mushaf Utsmaniah yang berjumlah tujuh naskah kesemuanya pada masa itu karangan
*ilmu tajwid yang paling awal adalah ulama Ahli sunnah yaitu tulisan Abu Mazahim Al-Haqani dalam bentuk qasidah (puisi) ilmu tajwid pada akhir kurun ke-3 hijriah adalah yang terulung/paling ulung.*
Selepas itu lahirlah para ulama Ilmu Tajwid dan Ilmu Qiroah yang tampil memelihara kedua-dua ilmu ini dari masa ke masa seperti:
1. Abu ‘Amr Ad-Dani dengan kitabnya At-Taysir,
2. Imam Asy-Syatibi Tahani dengan kitabnya “Hirzul Amani wa Wajhut Tahani”
yang menjadi tonggak kepada karangan-karangan tokoh-tokoh lain yang sezaman dan yang setelah mereka.
Tetapi yang jelas dari karangan-karangan mereka ialah *ilmu tajwid dan ilmu qiraat* senantiasa bergandengan, ditulis dalam satu kitab tanpa dipisahkan pembahasannya. penulisan ini juga diajarkan kepada murid-murid mereka.
Kemudian lahir pula seorang *tokoh yang amat penting dalam ilmu tajwid dan qiraat yaitu imam (ulama) yang lebih terkenal dengan nama Ibnul Jazari dengan karangan beliau yang masyhur yaitu “An-Nasyr”, “Toyyibatun Nasyr” dan “Ad-Durratul Mudhiyyah” yang mengatakan ilmu qiraat adalah sepuluh sebagai pelengkap bagi apa yang telah dinyatakan imam Asy-Syatibi dalam kitabnya “Hirzul Amani” sebagai qiraat tujuh.*
*Imam Al-Jazari juga telah mengarang karangan yang masih asing bagi ilmu Tajwid dalam kitabnya “At-Tamhid” dan puisi beliau yang lebih terkenal dengan nama “Matan Al-Jazariah”.*
Imam Al-Jazari telah mewariskan karangan-karangannya yang begitu banyak berserta bacaannya sekaligus, yang kemudian telah menjadi pedoman dan panduan bagi karangan-karangan ilmu tajwid dan qiraat serta bacaan al-Quran hingga saat ini....
Ada lagi matn Tuhfatul Athfal karya dari seorang ulama yg bernama Sulaiman Al Jamzuri
Dan masih banyak lagi kitab2 ilmu tajwid yg di karang oleh para ulama...
bismillahirrohmanirrohim.......
Sejarah ilmu tajwid, asal usul dan akar ilmu tajwid, asal kata tajwid yaitu dari kata bahasa Arab jawwada- yujawwidu- tajwiidan mengikuti wazan taf 'iil yang berarti membuat sesuatu menjadi bagus.
di dalam beberapa buku tajwid disebutkan bahwa istilah ini muncul ketika seseorang bertanya kepada khalifah ke-empat, ‘Ali bin Abi Thalib tentang firman Allah yang berbunyi:
ورتل القرأن ترتيلا**
Bacalah Al Quran dg tartil
*beliau menjawab bahwa yang dimaksud dengan kata tartil adalah tajwiidul huruuf wa ma’rifatil wuquuf yang berarti membaca huruf-hurufnya dengan bagus (sesuai dengan makhraj dan shifat) dan tahu tempat-tempat waqof/tanda baca..*
Selama ini memang belum ditemukan musnad tentang perkataan beliau mengenai hal di atas, dan kisah ini hanya terdapat dalam kitab tajwid.
Akan tetapi para ulama’ bersepakat bahwa yang dimaksud dengan tartil adalah tajwiidul huruuf wa ma’rifatil wuquuf.
*Pengertian tajwid*
---------------------
Untuk menghindari kesalahpahaman antara tajwid dan qiraat, maka perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan tajwid.
Pendapat sebagaian ulama memberikan pengertian tajwid sedikit berbeda namun pada intinya sama.
*Secara bahasa, tajwid berarti al-tahsin atau membaguskan.*
*sedangkan menurut istilah yaitu, mengucapkan setiap huruf sesuai dengan makhrajnya menurut sifat-sifat huruf yang mesti diucapkan, baik berdasarkan sifat asalnya maupun berdasarkan sifat-sifatnya yang baru.*
Sebagian ulama yang lain medefinisikan tajwid sebagai berikut>>
*“tajwid ialah mengucapkan huruf (al-Quran) dengan tertib menurut yang semestinya, sesuai dengan makhraj serta bunyi asalnya, serta melembutkan bacaannya sesempurna mungkin tanpa belebihan ataupun dibuat-buat”.*
Jika dibincangkan kapan bermulanya ilmu tajwid, maka kenyataan menunjukkan bahwa ilmu ini telah bermula sejak dari al-Quran itu diturunkan kepada Rasululla.
Ini karena Rasulullah sendiri diperintah untuk membaca al-Quran dengan tajwid dan tartil seperti yang disebut dalam ayat 4, surah al-Muzammil: >>>>
وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا…… ......
*“…..Bacalah al-Quran itu dengan tartil(perlahan-lahan).”*
Kemudian Rasulullah mengajar ayat-ayat tersebut kepada para sahabat dengan bacaan yang tartil.
Sahabat Ali Bin Abi Thalib apabila ditanya tentang apakah maksud bacaan al-Quran secara tartil itu???
*maka beliau menjawab>>>” adalah membaguskan sebutan atau pelafalan bacaan pada setiap huruf dan berhenti pada tempat yang betul”.*
Ini menunjukkan *bahwa pembacaan al-Quran bukanlah suatu ilmu hasil dari ijtihad (fatwa) para ulama’ yang diolah berdasarkan dalil-dalil dari al-qur'an dan sunnah,*
*tetapi pembacaan al-qur'an adalah suatu yang taufiqi (diambil terus) melalui riwayat dari sumbernya yang asalnya yaitu sebutan dan bacaan Rasulullah*
Walau bagaimanapun, apa yang dikira sebagai penulisan ilmu tajwid yang paling awal ialah apabila bermulanya kesadaran perlunya *mushaf utsmaniah yang ditulis oleh Sahabat Utsman bin Affan itu diletakkan titik-titik kemudiannya baris-baris bagi setiap huruf dan perkataannya. gerakan ini telah diketuai oleh Abu Aswad Ad-Duali dan Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi, apabila pada masa itu khalifah umat islam memikul tugas untuk berbuat demikian *ketika umat islam mulai melakukan-kesalaha dalam bacaan.*
Ini karena *semasa Utsman menyiapkan mushaf al-Quran dalam enam atau tujuh buah itu, beliau telah membiarkannya tanpa titik-titik huruf dan baris-barisnya, karena memberi keluasan kepada para sahabat dan tabi’in pada masa itu untuk membacanya sebagaimana yang mereka telah ambil dari Rasulullah sesuai dengan Lahjah (dialog) bangsa Arab yang bermacam-macam.*
Tetapi setelah berkembang luasnya agama islam ke seluruh tanah Arab serta jatuhnya Roma dan Parsi ke tangan umat islam pada tahun pertama dan kedua hijriah, bahasa Arab mulai bercampur dengan bahasa penduduk-penduduk yang ditaklukkan umat islam. *ini telah menyebabkan berlakunya kesalahan yang banyak dalam penggunaan bahasa Arab dan begitu juga pembacaan al-qur'an.*
Maka al-qur'an mushaf Utsmaniah" telah diusahakan" untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam membacanya dengan penambahan baris dan titik pada huruf-hurufnya bagi karangan ilmu qiraat yang paling awal, sepakat apa yang diketahui oleh para penyelidik ialah apa yang telah dihimpun oleh Abu ‘Ubaid Al-Qasim Ibnu Salam dalam kitabnya “Al-Qiraat” pada kurun ke-3 Hijriah. tetapi ada yang mengatakan apa yang telah disusun oleh Abu ‘Umar Hafs Ad-Duri dalam ilmu qiraat adalah lebih awal.
Pada kurun ke-4 hijrah pula, lahir Ibnu Mujahid Al-Baghdadi dengan karangannya “Kitabus Sab’ah”, dimana beliau adalah orang yang mula-mula mengasingkan qiraat kepada tujuh imam bersesuaian dengan tujuh perbedaan dan mushaf Utsmaniah yang berjumlah tujuh naskah kesemuanya pada masa itu karangan
*ilmu tajwid yang paling awal adalah ulama Ahli sunnah yaitu tulisan Abu Mazahim Al-Haqani dalam bentuk qasidah (puisi) ilmu tajwid pada akhir kurun ke-3 hijriah adalah yang terulung/paling ulung.*
Selepas itu lahirlah para ulama Ilmu Tajwid dan Ilmu Qiroah yang tampil memelihara kedua-dua ilmu ini dari masa ke masa seperti:
1. Abu ‘Amr Ad-Dani dengan kitabnya At-Taysir,
2. Imam Asy-Syatibi Tahani dengan kitabnya “Hirzul Amani wa Wajhut Tahani”
yang menjadi tonggak kepada karangan-karangan tokoh-tokoh lain yang sezaman dan yang setelah mereka.
Tetapi yang jelas dari karangan-karangan mereka ialah *ilmu tajwid dan ilmu qiraat* senantiasa bergandengan, ditulis dalam satu kitab tanpa dipisahkan pembahasannya. penulisan ini juga diajarkan kepada murid-murid mereka.
Kemudian lahir pula seorang *tokoh yang amat penting dalam ilmu tajwid dan qiraat yaitu imam (ulama) yang lebih terkenal dengan nama Ibnul Jazari dengan karangan beliau yang masyhur yaitu “An-Nasyr”, “Toyyibatun Nasyr” dan “Ad-Durratul Mudhiyyah” yang mengatakan ilmu qiraat adalah sepuluh sebagai pelengkap bagi apa yang telah dinyatakan imam Asy-Syatibi dalam kitabnya “Hirzul Amani” sebagai qiraat tujuh.*
*Imam Al-Jazari juga telah mengarang karangan yang masih asing bagi ilmu Tajwid dalam kitabnya “At-Tamhid” dan puisi beliau yang lebih terkenal dengan nama “Matan Al-Jazariah”.*
Imam Al-Jazari telah mewariskan karangan-karangannya yang begitu banyak berserta bacaannya sekaligus, yang kemudian telah menjadi pedoman dan panduan bagi karangan-karangan ilmu tajwid dan qiraat serta bacaan al-Quran hingga saat ini....
Ada lagi matn Tuhfatul Athfal karya dari seorang ulama yg bernama Sulaiman Al Jamzuri
Dan masih banyak lagi kitab2 ilmu tajwid yg di karang oleh para ulama...
Tuesday, March 3, 2020
*PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU ANGKATAN PERTAMA TP 2020/2021 SMP IT AL MANSOURA*
Sekolah Al Mansoura (Islamic Innovative School) adalah Sekolah Islam Tingkat Menengah (SMP) khusus ikhwan (Non Boarding) berbasis Al Qur’an dan Sunnah yang berlokasi di Bintaro (Jombang) - Tangerang Selatan
*VISI SEKOLAH*
Menjadi sekolah Islam unggulan yang inovatif di tingkat nasional dan menghasilkan peserta didik bertauhid yang berakidah benar, berakhlak mulia, dan kompetitif dengan peserta didik seusianya
*PENASIHAT SEKOLAH*
1. Ustadz Ammi Nur Baits Hafidzahullahu (Pembina Yufid Network dan Pengasuh KonsultasiSyariah)
2. Ustadz Muhammad Qosim Muhajir Hafidzahullahu (Koordinator Direktur Pesantren Islam Al-Irsyad)
*KURIKULUM SEKOLAH*
Kurikulum Pendidikan Akademik:
Mengikuti Kurikulum Nasional berbasis PKBM
Kurikulum Keislaman:
Tahfizh Qur’an, Hafalan Hadits (Arbain Nawawi), Fiqih Ibadah (Rukun Islam), Bahasa Arab (Nahwu dan Sharf), Tauhid dan Aqidah, Adab dan Akhlak, Hafalan Doa dan Dzikir
Kurikulum Pengembangan Diri:
Club Panah, Sepak Bola, Basket, Pertahanan Diri, Renang
Program Liburan:
Study Tour (Dauroh) ke Pesantren Darush Sholihin binaan Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Hafidzahullahu
*TENAGA PENGAJAR*
1. Lulusan Keagamaan (Sarjana Pendidikan Agama/LIPIA/STDI)
2. Lulusan S1/S2 Pendidikan/Umum
3. Alumni Pondok Pesantren
*FASILITAS SEKOLAH*
Gedung sendiri, AC, Kantin, Wifi, proyektor, Perpustakaan (soon)
*ALAMAT SEKOLAH*
JL. Aria Putra (Jombang Raya) no. 1, Pondok Pucung, Kec. Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten - 15227
https://maps.app.goo.gl/SLHBceuWCV5oBxs29
*INFORMASI PENDAFTARAN*
Senin - Sabtu 09.00 - 21.00
Pendaftaran Gelombang 1:
1 Februari - 31 Maret 2020
Tes masuk Gelombang 1:
4 April 2020
Informasi Biaya:
0821-7857-3289 | Call or WA
0813-8779-4937 | Call or WA
Email : sekolah.almansoura@gmail.com
Instagram : @sekolah_almansoura
Website : www.almansoura.sch.id (coming soon)
Panitia PPDB SMP IT AL MANSOURA TP 2020/2021
Thursday, February 27, 2020
:: AMALMU ADALAH TANDA HATIMU ::
Berkata Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu:
Seringkali jika engkau bertanya kepada orang yang mughalithin atau orang yang maghrur (tertipu):
”Mengapa engkau pangkas jenggotmu ?”
"Mengapa engkau tidak shalat ?”
Dan pertanyaan lainnya, yang terkait dengan kewajiban syariat atau yang terkait dengan perkara sunnah yang mulia.
Mereka pun akan menjawab:
“Iman itu di hati !”
Kadang mereka berdalil dengan sabda Nabi ﷺ : “Taqwa itu di sini” -seraya mengisyaratkan kepada dadanya-..!
Benar, Iman itu di hati.
Akan tetapi jika di hati terdapat iman, niscaya amalnya akan baik.
Dan penampilannya pun akan baik.
Adapun memangkas jenggot dan meninggalkan shalat dan perkara lainnya (dari larangan Allah) adalah termasuk bagian dari dosa.
Suatu kelakuan jelek itu mesti menunjukkan akan alamat jeleknya hati.
Begitupun sebaliknya, jika pada perangainya terlihat sedang beramal baik, maka itu menunjukkan bahwa alamat hatinya baik pula..
(Silahkan lihat Syarah Kitab Al Kabair-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 26-27, cet. Dar Ar Risalah Alamiyah 2012)
WA Sedikit Faidah Saja
Atsar ID | Arsip Fawaid Salafy
Telegram : t.me/atsarid
Twitter: twitter.com/atsarid
Line : https://line.me/R/ti/p/%40bqg5243o
YT : https://www.youtube.com/c/AtsarID
Website: www.atsar.id
Berkata Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu:
Seringkali jika engkau bertanya kepada orang yang mughalithin atau orang yang maghrur (tertipu):
”Mengapa engkau pangkas jenggotmu ?”
"Mengapa engkau tidak shalat ?”
Dan pertanyaan lainnya, yang terkait dengan kewajiban syariat atau yang terkait dengan perkara sunnah yang mulia.
Mereka pun akan menjawab:
“Iman itu di hati !”
Kadang mereka berdalil dengan sabda Nabi ﷺ : “Taqwa itu di sini” -seraya mengisyaratkan kepada dadanya-..!
Benar, Iman itu di hati.
Akan tetapi jika di hati terdapat iman, niscaya amalnya akan baik.
Dan penampilannya pun akan baik.
Adapun memangkas jenggot dan meninggalkan shalat dan perkara lainnya (dari larangan Allah) adalah termasuk bagian dari dosa.
Suatu kelakuan jelek itu mesti menunjukkan akan alamat jeleknya hati.
Begitupun sebaliknya, jika pada perangainya terlihat sedang beramal baik, maka itu menunjukkan bahwa alamat hatinya baik pula..
(Silahkan lihat Syarah Kitab Al Kabair-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 26-27, cet. Dar Ar Risalah Alamiyah 2012)
WA Sedikit Faidah Saja
Atsar ID | Arsip Fawaid Salafy
Telegram : t.me/atsarid
Twitter: twitter.com/atsarid
Line : https://line.me/R/ti/p/%40bqg5243o
YT : https://www.youtube.com/c/AtsarID
Website: www.atsar.id
*JANGAN BENCI PADA ORANG YANG MENUNJUKKAN AIB KITA*
💎Sebenarnya, kita berkeinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dan kita sendiri tahu, bahwa masih banyak aib yang mesti diperbaiki. Akan tetapi, entah kenapa setiap kali ada yang mengingatkan, kita merasa tidak suka. Bahkan, tidak jarang orang yang mengingatkan akan cela kita tadi, menjadi musuh yang patut untuk dibenci dan dijauhi.
🔍Padahal, orang-orang shalih terdahulu justru sangat senang kala ada orang yang menunjukkan aib mereka. Sehingga mereka tahu dan bisa memperbaiki aib mereka tersebut. Umar bin Khattab radhiyallahu anhu ketika menjadi Amirul Mukminin pernah mengatakan:
رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيْنَا عُيُوْبَنَا
_“Semoga Allah merahmati seorang yang telah menunjukkan aib-aib kami pada kami.”_ (Mukhtashar Minhajul Qashidin: 196)
⚙Inilah permasalahan dan perbedaan kita dengan orang-orang shalih terdahulu. Imam Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:
وَقَدْ كَانَ السَّلَفُ يُحِبُّوْنَ مَنْ يُنَبِّهُهُمْ عَلَى عُيُوْبِهِمْ، وَنَحْنُ الآنَ فِي الغَالِبِ أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَيْنَا مَنْ يُعَرِّفُنَا عُيُوْبَنَا
_“Dahulu para salaf merasa senang jika ada seseorang yang mengingatkan kepada mereka tentang aib-aib mereka. Namun kita sekarang ini secara umum, orang yang paling kita benci adalah siapa saja yang menjelaskan kepada kita tentang aib-aib kita.”_ (Mukhtashar Minhajul Qashidin: 196)
🏷Hal ini tentu sebagai tanda bahwa kita tak jujur dalam niat kita untuk memperbaiki diri. Hati kita masih saja kotor oleh sifat sombong dan dengki. Oleh sebab itu, lihatlah diri kita saat ini, jika kita justru murka kepada orang-orang yang menunjukkan aib kita, maka segeralah untuk kembali menata hati.
🔍 *Baca juga artikel:*👇
https://maribaraja.com/siapa-diantara-kita-yang-tidak-memiliki-aib/
*🔰Semoga bermanfaat.*
Ditulis oleh: _Zahir al-Minangkabawi_
Diterbitkan oleh: _Lajnah Dakwah Yayasan Maribaraja_
Allah Tau Apa yang terbaik untuk kita.
Sehubungan dengan informasi bahwa Kerajaan Saudi Arabia telah mengeluarkan *kebijakan larangan untuk jamaah Umrah indonesia berkunjung disebabkan upaya antisipasi terhadap penyebaran virus Corona* per tanggal 27 Februari 2020 pukul 01.00 WKSA.
Bagi para jamaah umrah yg telah siap untuk berangkat atau akan berangkat, InsyaAllah *pahalanya tidak akan sia-sia,* tercatat karena sudah niat, DENGAN SYARAT, Ridho dgn ketentuan Allah dan tetep Ikhlas.
1. Boleh jadi kita benci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kita.
Allah berfirman;
عَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٢١٦)
“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
2. Allah akan tulis satu kebaikan sempurna
Rasulullah - shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, Allah berfirman dalam Hadits Qudsi:
فَمَنْ هَمّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا الله عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً
"Apabila hambaku berkeinginan kuat untuk melakukan kebaikan lalu tidak jadi mengerjakannya, maka Allah tulis satu kebaikan sempurna di sisiNya (HR Bukhori dan Muslim)
3. Jangan membuka pintu setan. Semua kehendak Allah
Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda:
وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَماَ شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ .
“...Jika kamu ditimpa sesuatu, jangan berkata seandainya aku berbuat begini, maka akan begini dan begitu, tetapi katakanlah Allah telah menakdirkan, dan kehendak oleh Allah pasti dilakukan. Sebab kata ‘seandainya’ itu dapat membuka perbuatan setan.” [HR. Muslim]
Pemerintah Indonesia dan pihak terkait senantiasa berupaya mencari solusi yang terbaik.
Semoga Allah selamatkan kaum muslimin dan negerinya serta dimudahkan untuk ibadah di Tanah Suci.
Sehubungan dengan informasi bahwa Kerajaan Saudi Arabia telah mengeluarkan *kebijakan larangan untuk jamaah Umrah indonesia berkunjung disebabkan upaya antisipasi terhadap penyebaran virus Corona* per tanggal 27 Februari 2020 pukul 01.00 WKSA.
Bagi para jamaah umrah yg telah siap untuk berangkat atau akan berangkat, InsyaAllah *pahalanya tidak akan sia-sia,* tercatat karena sudah niat, DENGAN SYARAT, Ridho dgn ketentuan Allah dan tetep Ikhlas.
1. Boleh jadi kita benci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kita.
Allah berfirman;
عَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٢١٦)
“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
2. Allah akan tulis satu kebaikan sempurna
Rasulullah - shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, Allah berfirman dalam Hadits Qudsi:
فَمَنْ هَمّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا الله عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً
"Apabila hambaku berkeinginan kuat untuk melakukan kebaikan lalu tidak jadi mengerjakannya, maka Allah tulis satu kebaikan sempurna di sisiNya (HR Bukhori dan Muslim)
3. Jangan membuka pintu setan. Semua kehendak Allah
Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda:
وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَماَ شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ .
“...Jika kamu ditimpa sesuatu, jangan berkata seandainya aku berbuat begini, maka akan begini dan begitu, tetapi katakanlah Allah telah menakdirkan, dan kehendak oleh Allah pasti dilakukan. Sebab kata ‘seandainya’ itu dapat membuka perbuatan setan.” [HR. Muslim]
Pemerintah Indonesia dan pihak terkait senantiasa berupaya mencari solusi yang terbaik.
Semoga Allah selamatkan kaum muslimin dan negerinya serta dimudahkan untuk ibadah di Tanah Suci.
Subscribe to:
Posts (Atom)