Monday, October 17, 2016

🍃🌹 *Ini Hakekatnya* 🌹🍃

Sebagian manusia bekerja, siang malam, kedinginan, dan kepanasan tetapi tidak mendapat kecuali sedikit dari rupiah...

Sebagian manusia hanya duduk di atas meja, ruangan ber-AC, sedikit bergerak tapi mendapatkan banyak dari harta dunia...

Itulah rezeki, Allah-lah yang mengaturnya, Dia melapangkan kepada siapa yang dikehendaki dan menahannya dari siapa yang dikehendakiNya...

Tapi masalahnya adalah pemahaman kita tentang arti dari *KEKAYAAN ...*

_Apakah itu...?_

_Siapakah orang kaya yang sesungguhnya..?_

Selama seseorang tidak memahami hakekatnya maka ia akan berada di dalam kubangan kekurangan dan kemiskinan walaupun hartanya melimpah...

Mari kita perhatikan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berikut :

ليس الغنى عن كثرة العرض و لكن الغنى غنى النفس

"(Hakekat) kaya bukanlah dengan banyaknya harta benda, akan tetapi hakekat kaya adalah kaya jiwa".
[HR Bukhari : 6446, Muslim : 1051]

*Kaya jiwa, kaya hati inilah hakikatnya...*

Karena kaya jiwa seseorang bisa tersenyum tulus dari hatinya yang lapang...

Karena kaya jiwa seseorang bisa berbagi rezeki walaupun hidup kekurangan...

Karena kaya jiwa makan, minum dan menjalani hidup dengan tenang tanpa stress walaupun hidup seadanya...

Tapi kalau jiwa miskin, maka kesusahan dan kesempitan yang dirasakan, tidak bahagia, sulit berinfaq dan berbagi, dan hidup sesalu dihantui kekurangan dan kekurangan...

Sudah saatnya kita merubah pandangan kita agar tidak menyesal...

*Bacalah Al-Quran dan hadits-hadits Nabi, hadirilah kajian-kajian ilmu yang bermanfaat...*

Mengejar dunia tanpa mengetahui hakikatnya, akan membuahkan kesempitan, kejenuhan, was-was, stress dst...

Seseorang akan mengalami kejenuhan, ya kejenuhan...

*Kebahagiaan ada dalam kekayaan jiwa, dan ketaatan pada Allah...*

Selamat beraktifitas, dan selamat berbagi dengan sesama...


✏Ustaadz Abu Ya'la Kurnaedi
Mereka Yang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah

Ustadz Badrusalam March 8, 2013 Artikel Tulis Komentar 159 Views

Siapakah diantara kita yang tidak ingin diberikan kebaikan oleh Allah? Namun di sana, ada orang-orang yang diinginkan kebaikan oleh Allah Azza waJalla. Semoga kita termasuk dari mereka:

1. Dibukanya pintu amal sebelum kematian menjelang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq).[1]

2. dipercepat sanksinya di dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat.” (HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik).[2]

Namun kita tidak diperkenankan untuk meminta kepada Allah agar dipercepat sanksi kita di dunia, karena kita belum tentu mampu menghadapinya.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَادَ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَىْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ ». قَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِى بِهِ فِى الآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِى فِى الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ – أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ». قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ.

“Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seseorang dari kaum muslimin yang telah kurus bagaikan anak burung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kamu berdo’a dengan sesuatu atau kamu memintanya?” Ia berkata, “Ya, aku berdo’a, “Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Subhanallah, kamu tidak akan mampu itu. Mengapa kamu tidak berkata, “Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari adzab Neraka.” Maka orang itupun berdo’a dengannya. Allah pun menyembuhkannya.” (HR Muslim).

3. Diberikan cobaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR Ahmad dan Al Bukhari dari Abu Hurairah).

Cobaan pasti akan menerpa kehidupan mukmin, karena itu janji Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al Baqarah: 155).

Cobaan itu untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR Ahmad dengan sanad yang hasan).

4. Difaqihkan dalam agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” HR Al Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus terhadap Al Qur’an dan hadits berasal dari kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al Qur’an dan hadits dengan benar. Sebagaimana yang dikabarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kaum khawarij yang membaca Al Qur’an:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِى يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلَى صَلاَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَىْءٍ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ

“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Qur’an. Bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan Al Qur’an mereka, shalat dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an dan menyangka bahwa Al Qur’an mendukung mereka padahal Al Qur’an tidak mendukung mereka.” (HR Muslim).

Itu semua akibat kedangkalan ilmu dan mengikuti hawa nafsu, sehingga mereka tidak diberikan pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan hadits. Mereka mengira bahwa ayat Al Qur’am mendukung perbuatan mereka, padahal tidak demikian. Tentu yang memahaminya adalah orang-orang yang Allah faqihkan dalam agama dan selamatkan dari hawa nafsu.

5. Diberikan kesabaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر

“Tidaklah seseorang diberikan dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Kesabaran dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan. Badan tak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman tak akan hidup tanpa kesabaran. Untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya amat membutuhkan kesabaran. Karena Iblis dan balatentaranya tak pernah diam untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Tidak ada yang diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidak ada yang diberikannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushilat: 35).

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau inginkan kebaikan padanya, beri kami kesabaran untuk menjalani perintahMu dan menjauhi laranganMu, beri kami kesabaran dalam menghadapi musibah yang menerpa, beri kami kefaqihan dalam agama dan bukakan untuk kami pintu amal shalih sebelum wafat kami. Aamiin.

 




[1] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam shahih Jami’ no 304.

[2] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam shahih Jami’ no 308.

Nama beliau adalah Abu Yahya Badrussalam. Beliau lahir pada tanggal 27 April 1976 di desa Kampung Tengah, Cileungsi, Bogor, tempat dimana studio Radio Rodja berdiri. Beliau menamatkan pendidikan S1 di Universitas Islam Madinah Saudi Arabia Fakultas Hadits pada tahun 2001
Apakah Anda Termasuk Sebaik-baik Manusia?

By Ahmad Zainuddin, Lc. 18 January 2012


Setiap orang mendambakan menjadi yang terbaik. Sebagai seorang muslim, orientasi hidup untuk menjadi yang terbaik bukanlah dinilai dari ukuran manusia semata, tetapi karena ridha Allah Ta’ala. Inilah cara mudah menjadi orang terbaik dalam konsep Islam.

Pertama, tidak ingkar melunasi hutang

 عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عن رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أنه فَقَالَ « خَيْرُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً » متفق عليه

Artinya: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” Muttafaqun ‘alaih

Kedua, belajar Al-Quran dan mengajarkannya

عَنْ عُثْمَانَ – رضى الله عنه- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ» رواه البخاري

Artinya: “Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” Hadits riwayat Bukhari.

Ketiga, yang paling diharapkan kebaikannya dan paling jauh keburukannya

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَفَ عَلَى أُنَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ ». قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا. قَالَ « خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ …» رواه الترمذى

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di hadapan beberapa orang, lalu bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan sebaik-baik dan seburuk-buruk orang dari kalian?” Mereka terdiam, dan Nabi bertanya seperti itu tiga kali, lalu ada seorang yang berkata:“Iya, kami mau wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami sebaik-baik dan buruk-buruk kami,” beliau bersabda: “Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan sedangkan keburukannya terjaga…” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 2603)

Keempat, menjadi suami yang paling baik terhadap keluarganya

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى. رواه الترمذى

Artinya: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam berasabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Ash Shahihah (no. 285).

Kelima, yang paling baik akhlaqnya dan menuntut ilmu

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «خَيْرُكُمْ إِسْلاَماً أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقاً إِذَا فَقِهُوا» رواه أحمد

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian islamnya adalah yang paling baik akhlaq jika mereka menuntut ilmu.” Hadits riwayat Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3312)

Keenam, yang memberikan makanan

عَنْ حَمْزَةَ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ رضي الله عنه قَالَ: فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «خَيْرُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ» رواه أحمد

Artinya: “Hamzah bin Shuhaib meriwayatkan dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang memberikan makanan.” Hadits riwayat Ahmad dan dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3318)

Ketujuh, yang panjang umur dan baik perbuatannya

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رضي الله عنه أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ «مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ» رواه الترمذى

Artinya: “Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ada seorang Arab Badui berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” beliau menjawab: “Siapa yang paling panjang umurnya dan baik amalannya.” Hadits riwayat Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihut Targhib wat Tarhib (no. 3363).

Kedelapan, yang paling bermanfaat bagi manusia

عَنِ جابر، رَضِيَ الله عَنْهُمَا، قَالَ : قال رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: “Jabir radhiyallau ‘anhuma bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” Hadits dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ (no. 3289).

*) Ditulis oleh Abu Abdillah Ahmad Zain, Islamic Cultural Center 1430 H, Dammam KSA

Penulis: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc



Sumber: http://muslim.or.id/8144-apakah-anda-termasuk-sebaik-baik-manusia.html

Wednesday, October 12, 2016

 *Hadits Shahiih Tentang Shalat Dhuha*

(1). Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu , Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda  :

"Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat dhuha sebanyak 2 raka’at" [HR. Muslim no. 720]

(2). Dari Buraidah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

"Pada manusia terdapat 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah". Para sahabat pun mengatakan : "Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah ?". Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda : "Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat dhuha dua raka’at" [HR. Ahmad V/354, lafazh hadits ini adalah lafazhnya Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.666)

(3). Dari Nu’aim bin Hammar al-Ghothofaniy, beliau mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Allah Ta’ala berfirman : "Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang" [HR. Ahmad V/286, Abu Dawud no. 1289, at-Tirmidzi no. 475, dan ad-Darimi no. 1451]

(4). Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia berkata :

"Kekasihku Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menasihatkan 3 perkara kepadaku, aku tidak akan meninggalkannya selama aku hidup : Puasa 3 hari setiap bulan, shalat dhuha dan agar aku tidak tidur sebelum shalat witir" (HR. Muslim, Abu Dawud dan an-Nasaa'i, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 667).

(5). Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Tidaklah seseorang selalu mengerjakan shalat dhuha melainkan ia telah tergolong sebagai orang yang bertaubat" (HR. Ath-Thabrani dan Ibnu Khuzaimah, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.676).

(6). Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu , Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Barang siapa shalat shubuh di masjid dengan berjamaah, lalu dia duduk berdzikir sampai matahari terbit (setinggi tombak), lalu shalat sunnah 2 rakaat, maka ia akan mendapatkan pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna" (HR. At-Tirmidzi no.591, lihat Shahiih Sunan at-Tirmidzi no.480 dan Shahiihut Targhib wat Tarhiib no.464).

Dalam riwayat lain ada tambahan :

".....kemudian ia tetap di tempatnya hingga dia shalat dhuha karena Allah maka ia akan mendapatkan pahala....." (HR. Ath-Thabrani, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.469, hadits dari Uqbah bin Amir dan Utbah bin Abd).

*Hadits Dha'iif Tentang Shalat Dhuha*

(1). "Barangsiapa yang selalu mengerjakan shalat dhuha niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan" (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dha'iif, lihat Dho'iifut Targhiib wat Tarhiib no.402)

(2). "Barangsiapa yang shalat dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang ahli ibadah. Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka dia diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis dia sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan sebuah rumah di surga untuknya" (HR. Ath-Thabrani, dha'iif, lihat Dho'iifut Targhiib wat Tarhiib no.405)

(3). "Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu bernama pintu dhuha. Apabila Kiamat telah tiba maka akan ada suara yang berseru : "Di manakah orang-orang yang semasa hidup di dunia selalu mengerjakan shalat dhuha ? Ini adalah pintu buat kalian. Masuklah dengan rahmat Allah" (HR. Ath-Thabrani dalam al-Ausath, dha'iif jiddan (lemah sekali), lihat Dho'iifut Targhiib wat Tarhiib no.408 dan Silsilah adh-Dha’iifah no. 392)

✍ Ust Najmi Umar Bakkar

 *Apakah Boleh Shalat Dhuha Dengan Berjama'ah ?*

Shalat sunnah yang utama adalah shalat sunnah yang dilakukan secara munfarid (sendiri) dan lebih utama lagi dilakukan di rumah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِى بُيُوتِكُمْ ، فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ

(1). "Hendaklah kalian wahai manusia (yaitu laki-laki) melaksanakan shalat (sunnah) di rumah kalian, karena sebaik-baik shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib (di masjid)" (HR. Bukhari no. 731)

(2). "Shalat sunnah yang dilakukan oleh seseorang secara sembunyi-sembunyi, dimana tidak ada seorang pun yang melihatnya lebih utama dibandingkan dengan shalat di hadapan orang lain sebanyak 25" (HR. Abu Ya'la, lihat Shahihul Jaami' ash-Shaghiir no.3821, hadits dari Shuhaib).

(3). Seorang laki-kaki dari sahabat Nabi berkata : "Shalat (sunnah) seseorang di rumahnya atas shalatnya yang di lihat oleh manusia adalah seperti keutamaan shalat fardhu diatas shalat sunnah" (HR. Al-Baihaqi, hadits dari Shuhaib bin Nu'man, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.441 dan HR. Ath-Thabrani, lihat Shahiihul Jaami' ash-Shaghiir no. 4217)

(4). "(Shalat) sunnah lelaki di rumahnya (pahalanya) lebih banyak daripada shalat sunnahnya di hadapan orang banyak, seperti keutamaan shalat seorang lelaki bersama jama'ah atas shalatnya sendirian" (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, lihat Shahiihul Jaami' ash-Shaghiir no. 2953)

*Lalu bolehkah sholat sunnah seperti sholat dhuha dikerjakan secara berjamaah ?*

(1). Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu berkata :

"Ada seorang laki-laki dari anshar berkata (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) : "Saya tidak bisa shalat bersama Anda". Dalam lanjutan hadis dinyatakan:

فَصَنَعَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا، فَدَعَاهُ إِلَى مَنْزِلِهِ، فَبَسَطَ لَهُ حَصِيرًا، وَنَضَحَ طَرَفَ الحَصِيرِ فَصَلَّى عَلَيْهِ رَكْعَتَيْنِ

Kemudian beliau membuat makanan untuk Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan mengundang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam agar datang ke rumahnya. Dihamparkan tikar dan beliau memerciki bagian ujung-ujungnya dengan air, kemudian shalat dua rakaat di atas tikar tersebut". Ada seseorang dari keluarga al-Jarud bertanya kepada Anas : "Apakah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melaksanakan shalat dhuha ?" jawab Anas : "Aku belum pernah melihat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melaksanakan dhuha kecuali hari itu" (HR. Bukhari no.670)

(2). Ubaidillah bin Abdillah bin ‘Uthbah berkata :

دخلت على عمر بن الخطاب بالهاجرة، فوجدته يسبح، فقمت وراءه، فقربني حتى جعلني حذاءه عن يمينه، فلما جاء (يرفأ) تأخرت فصففنا وراءه

"Aku masuk menemui Umar di waktu matahari sedang terik, ternyata aku melihat beliau sedang shalat sunnah, lalu aku berdiri di belakangnya dan beliau menarikku sampai aku sejajar dengan pundaknya di sebelah kanan. Ketika datang Yarfa’ (pelayan Umar) aku mundur dan membuat shaf di belakang Umar radhiyallahu ’anhu" (HR. Malik no.523, lihat ash-Shahihah no.2590)

*Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata :*

"Apabila seseorang melaksanakan shalat sunnah terus menerus secara berjama’ah, maka ini adalah sesuatu yang tidak disyari’atkan. Adapun jika dia melaksanakan shalat sunnah tersebut kadang-kadang secara berjama’ah, maka tidaklah mengapa karena terdapat petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini seperti shalat malam yang beliau lakukan bersama Ibnu ‘Abbas. Sebagaimana pula beliau pernah melakukan shalat bersama Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan anak yatim di rumah Ummu Sulaim, dan masih ada contoh lain semisal itu" (Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin 14/231, asy-Syamilah)

Berdasarkan keterangan di atas, maka shalat dhuha berjamaah dibolehkan dengan *"beberapa persyaratan"* :

◾Dilakukan kadang-kadang (tidak dijadikan kebiasaan).

◾Tidak terikat hari, waktu, atau moment tertentu.

◾Tidak ada kesepakatan sebelumnya, atau tidak ada pengumuman kepada masyarakat.

◾Tidak menjadi amalan yang menjamur dan banyak dilakukan masyarakat.

◾Jumlah orang yang ikut berjamaah sedikit, sehingga tidak boleh melaksanakan shalat dhuha berjamaah satu kampung, sebagaimana shalat fardhu.

◾Tidak dilaksanakan bersama-sama di masjid.

✍ Ust Najmi Umar Bakkar

* Apakah doa yang dibaca setelah shalat Dhuha ? *

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata :

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat Dhuha lalu membaca doa :

اللهم اغفرْ لي و تُبْ عليَّ ، إنك أنت التَّوابُ الرحيم

(HR.Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, lihat Shahih al-Adabul Mufrad no.482).

(2). Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata :

"Saat kami duduk-duduk, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang (ke kami). Kemudian beliau bersabda :

مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطٌّ إِلاَّ اِسْتَغْفَرْتُ اللهَ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Tidaklah aku berada di pagi hari kecuali aku beristigfar kepada Allah sebanyak 100 kali” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan ath-Thabrani di dalam al-Mu'jamul Ausath, lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahihah no. 1600)

Wallahul Muwaffiq (NUB)
[10/13, 11:15 AM] Ustadz Najmi Umar Bakar: * Benarkah Waktu Shalat Shubuh Di Indonesia Lebih Cepat 20-25 Menit Dari Waktu Yang Sebenarnya ? *

Berdasarkan infomasi itu, ada kaum muslimin yang mensiasatinya dengan tetap bergabung bersama jamaah masjid yang sedang shalat shubuh hingga selesai bersama imam, namun ia niatkan dalam hati bahwa ia sedang shalat qabliyah shubuh. Kemudian setelah lewat 20-25 menit dari waktu adzan shubuh, barulah ia melakukan shalat shubuh sendirian.

Ini terjadi karena mereka menganggap bahwa waktu shubuh belum masuk, karena langit masih gelap dan belum terlihat cahaya yang terang benderang. Perbuatan ini tidak benar dan harus diluruskan.

Fajar itu ada dua jenis yaitu :

(1). Fajar Kadzib :
persegi panjang berwarna putih yang terlihat di sisi langit, ia lalu hilang kemudian berganti dengan kegelapan.

(2). Fajar Shadiq :
warna putih yang bergaris dan terlihat di ufuk, cahayanya bertambah terang hingga matahari terbit.

Dan awal waktu shalat Fajar (shubuh) adalah mulai dari terbitnya fajar shadiq.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَوَقْتُ صَلاَةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ

"Waktu shalat shubuh adalah mulai terbit fajar (shadiq)" (HR. Muslim no. 612, hadits dari Abdullah bin Amr).

Dalil yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat shubuh di akhir malam saat gelap masih menyelimuti, diantaranya adalah :

(1). Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata :

كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ ، ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلاَةَ ، لاَ يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ

"Dahulu para wanita mukminah menghadiri shalat shubuh bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka melilit badan mereka dengan pakaian masing-masing. Kemudian mereka kembali ke rumah masing-masing ketika shalat telah selesai, tanpa seorang pun yang mengenali mereka karena hari masih gelap" (HR. Bukhari no. 578 dan Muslim no. 645)

(2). Dari Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu 'anhu, ia berkata :

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat shubuh, kemudian beliau tidak berpaling dari tempatnya dan tidak seorang pun di antara kami yang mengetahui tempat duduk beliau (saking gelapnya) dan saat itu beliau membaca 60 ayat hingga 100 ayat" (HR. Bukhari no. 541 dan Muslim no. 1097)

(3). Dari Abu Mas’ud al-Anshaari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :

وَصَلَّى الصُّبْحَ مَرَّةً بِغَلَسٍ ثُمَّ صَلَّى مَرَّةً أُخْرَى فَأَسْفَرَ بِهَا ثُمَّ كَانَتْ صَلَاتُهُ بَعْدَ ذَلِكَ التَّغْلِيسَ حَتَّى مَاتَ وَلَمْ يَعُدْ إِلَى أَنْ يُسْفِرَ

"Dan beliau (Rasulullah) shalat shubuh di saat gelap pada akhir malam. Kemudian beliau shalat pada kesempatan lain ketika cahaya mulai terang. Lalu setelah itu shalat beliau dilakukan saat gelap dan itu dilakukannya "Sampai Wafat". Beliau tidak lagi melakukannya di waktu hari telah terang" (lihat Shahih Sunan Abi Dawud no. 394)

Imam al-Albani rahimahullah berkata :

"Hadits inilah (no.3 diatas) yang diamalkan oleh jumhur (mayoritas) ulama dari Sahabat dan Tabi'in serta para imam mujtahid" (lihat Silsilah adh-Dha'iifah II/372).

Lalu kenapa ada pihak yang menyalah-nyalahkan shalat shubuh ketika masih gelap ?

Bukankah itu yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga wafatnya ?

"Mensegerakan dalam melaksanakan shalat shubuh adalah kebiasaan Khulafaa'ur Raasyidin" (Al-Ausath II/374 oleh Imam Ibnu Mundzir).

Ini merupakan pendapat mayoritas sahabat dan ulama setelahnya, seperti Umar, Utsman, Anas, Abu Hurairah, Ibnu Zubair, Abu Musa, Ibnu Mas’ud, Abu Mas’ud al-Anshari, penduduk Hijaz, dan dikalangan imam kaum muslimin seperti Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, al-Auza’I, Dawud, Abu Ja’far ath-Thabari dll.

Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr hafizhahullah berkata :

وإنما فعله في بعض الأحيان لبيان الجواز ولبيان أن ذلك سائغ، ولكن الذي داوم عليه والمعروف من فعله صلى الله عليه وسلم أنه كان يصليها بغلس.

"Sesungguhnya perbuatan Nabi pada sebagian waktu (melakukan saat terang) sebagai penjelas kebolehannya dan menjelaskan bahwa hal itu mudah, tetapi yang menjadi rutinitasnya dan diketahui sebagai perbuatannya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bahwa beliau shalat shubuh pada saat masih gelap" (Syarah Sunan Abi Dawud no. 60)

🔊 Ust Najmi Umar Bakkar

Tuesday, October 11, 2016

rasa khusyuk ibadah yg hilang..hafalan yg menghilang dll.

Seseorang yg diamanahi mengurus sekolah sunnah, lalu semua diniatkan sebagai amal jariyah / bukan materi. Dalam perjalanannya, krn mengurus sekolah itu banyak perkara yg harus dipikirkan, sehingga seseorang itu malah merasa futur, jadi jarang kajian..rasa khusyuk ibadah yg hilang..hafalan yg menghilang dll.

Ini adalah musibah. Coba evaluasi kembali niatnya, jika memang benar niatnya ikhlas, maka akan selalu bersemangat melakukan apa pun karena Allah.

Mungkin awalnya ikhlas, kemudian menjadi berkurang tingkat keikhlasannya. Maka perbanyaklah istighfar dan taubat kepada Allah, karena ini adalah bentuk gangguan syaitan untuk menjauhkan diri dari amal shalih.

Mengurus sekolah itu memang berat dengan berbagai masalahnya, tetapi jika diiringi dengan niat yang ikhlas, ilmu yang benar, sangat berharap ridho dan cintanya Allah, terampuninya dosa, besarnya pahala dst maka akan membuat masalah itu menjadi ringan.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Tidaklah seseorang muslim yang letih, terkena penyakit, bingung, sedih, terkena sesuatu penyakit dan duka cita bahkan terkena duri yang menusuknya, kecuali Allah menjadikan hal yang demikian sebagai pengggugur kesalahan-kesalahannya" (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad, lihat Shahiihul Jaami' ash-Shaghiir no.5818)

*Tidak ada masalah dengan masalah, karena semuanya telah terjadi dengan izin dari Allah...*

*Yang jadi persoalan adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi masalah itu...*

*Masalah yang menjadikan seseorang semakin dekat kepada Allah maka itu lebih baik dari pada kenikmatan yang membuat ia menjadi lalai...*

*Terkadang masalah yang menimpa dalam hidup ini menjadi penyebab kita bisa merasakan kenikmatan dalam beribadah, karena masalah itu semakin mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala...*

*Masalah terbesar bukanlah apa yang kita rasakan, tapi akibat dari masalah itu yaitu karena ketidak sabaran kita maka hilanglah 7 perkara yaitu : pahala, terhapusnya dosa, keberkahan, rahmat, petunjuk, naiknya derajat dan cinta Allah Ta'ala...*

Ustadz Najmi Umar Bakar

Saturday, June 18, 2016

Doa Buka Puasa 
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ
“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah-ed.”
[Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki](Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan selainnya; lihat Shahih al-Jami’: 4/209, no. 4678) [7]


Sumber: https://muslimah.or.id/1050-doa-berbuka-puasa-yang-shahih.html

Wednesday, May 25, 2016

Parenting

Jangan Menjadi Orang Tua Pemadam Kebakaran

Beberapa hari yang lalu saya mendengar sebuah kajian di sbuah radio islam yang menjelaskan tentang bahayanya kita menjadi orangtua pemadam kebakaran. Senang sekali mendengar parenting sudah di bahas oleh para asatidz di pelbagai media. Penjelasannya menarik sekali, dan saya merasa penting untuk hal ini diketahui oleh kita, para orangtua.

Sebagaimana namanya  tugas pemadam kebakaran adalah memadamkan bila ada kebakaran, anak TK juga tau. Ketika api sudah mulai muncul, baru mereka datang, dengan bunyi ‘berisik’, berlari-lari, terburu-buru, menyingkirkan orang lain, berkeringat, berjuang memadamkan api yang smakin lama semakin berkobar.
Ketika tidak ada panggilan darurat, maka mereka ‘ongkang-ongkang kaki’ menunggu, tidak melakukan apa-apa. 

Menurut ustadz yang memberi wejangan di radio tersebut, begitulah umumnya yang di lakukan oleh orang tua. Ketika anak nakal, memukul, bertingkah laku negatif, berisik…orangtua datang, menasihati, terburu-buru, marah, mencoba menyelesaikan masalah yang ada dengan ‘semprotan’ yang berlebihan, asal ‘kebakaran’ padam. Sedangkan kalau anak sedang menyenangkan, adem, akur, tenang.. tidak ada pujian sama sekali. Kebiasaan ini membuat anak berpikir bahwa orangtuanya akan memberikan perhatian hanya bila anak bertingkah laku negatif. Ketika positif, tidak ada respon, karena sudah di anggap sewajarnya bertingkah laku begitu. Jadi kalau anak mau dirinya diperhatikan oleh orangtua mereka, mereka harus nakal dulu.. betingkah dulu, baru wajah ibu berpaling dari mesin cuci, panci kotor dan telpon yang benar-benar selalu di tangan itu.

Jadi anak harus di puji kalau akur? ya kalau nggak mau muji, minimal utarakan kesenangan hati anda atas perilakunya yang baik. Jangan cuma perilaku bandelnya aja yang diliat pake kaca pembesar.

Saya, salah satu orang yang pelit memuji. Menurut saya pujian itu hanya dikasih ketika layak diberikan.
Jadi daripada “wah.. anak mama hebat banget sudah mau ke dokter gigi”, saya menggunakan kata “Alhamdulillah.. sudah berani duduk sendiri pas tadi di tambal gigi nya.
Secara kalau ke dokter gigi aja hebat.. kalau dia bikin mobil yang bisa terbang nanti, saya mau bilang apa?
Saya nggak ”eh..anak mama pinter deh.. makanannya di habisin” tapi “Alhamdulillah, makanannya habis, Kaizan tidak mubadzir”
Secara kalau ngabisin makan aja pinter.. kalau dia menang olimpiade fisika international, namanya apa?
Jadi bukan “Gitu dong.. main ama kakak gak berantem-berantem. Keren deh anak mama” Tapi “Alhamdulillah, mama senang melihat anak mama main dengan akur, gitu terus ya nak “
Untuk saya, keren itu kalau dia bisa bertahan berjilbab diantara teman-temannya yang tidak. Bertahan untuk tidak merokok diantara teman-temannya yang mengajak dan merayunya, dan takut sama allah walau saya tidak ada di dekatnya.

Anyway, balik lagi ke orangtua pemadam kebakaran, satu hal yang mau saya tambahkan dari paparan ustad tersebut yang belum ia masukkan ke dalam ‘mutiara nasihat’nya.
Selama saya di Indonesia, saya tidak pernah mendapatkan edukasi dari orang pemadam kebakaran bagaimana untuk mencegah kebakaran. Bagaimana agar kompor tidak meledak, penjelasan akan dimana tempat aman untuk meletakkan lilin ketika lampu mati, bagaimana pertolongan pertama jika listrik korslet dan saklar mengeluarkan api. Sy tidak pernah mendapatkan penjelasan tentang apa yang saya harus lakukan jika api sudah muncul dan bagaimana memadamkannya sebelum pemadam kebakaran tiba, bagaimana membantu orang yang terbakar, dan kalau api sudah besar, apa yang harus saya lakukan.

Jaman saya sekolah di amerika, dari TK sampai SMA, secara reguler ada trip ke stasiun pemadam kebakaran, atau mereka yang ke sekolah kami dan menjelaskan tentang hal-hal ini. Jadi kita tahu bahwa ketika api sudah berkobar pas kita bangun malam, kita harus merangkak menuju pintu karena karbon dioksida yang dihasilkan oleh pembakaran adalah gas yang lebih ringan daripada oksigen, sehingga CO2 akan menguap keatas, dan menginhalasinya akan sangat berbahaya untuk tubuh. Dalam 1 semester, ada beberapa kali kita latihan fire drill, agar ketika kebakaran benar-benar terjadi, anak-anak dan guru tidak berhamburan berlari menyelamatkan diri masing-masing, yang justru bisa menimbulkan bahaya dalam bentuk yang berbeda karena kepanikan yang ada.

Bukan hanya edukasi, ada fasilitas ‘penanggulangan’ yang juga disediakan dalam bentuk alarm yang bisa dibunyikan kapan saja jika kebakaran terjadi. Dan tabung pemadam api disediakan di setiap sudut sekolah, walaupun sekolah negeri.
Sedangkan seperti dinas pemadam kebakaran di negeri ini, kita sebagai orangtua pemadam kebakaran, jarang sekali mengedukasi anak tentang cara bagaimana menyelesaikan masalah. Anak di harapkan tau bagaimana menyelesaikan masalah yang dia hadapi sendiri. Padahal ketrampilan itu tidak datang sepaket dengan kelahiran manusia., seperti kemampuan untuk mengedip dan menelan. Anak diharapkan otomatis tau cara untuk berbagi, bermain dengan akur dengan saudaranya, setiap saat, setiap hari! Padahal mah kan, kalau anak terlahir dengan ilmu untuk tau cara menyelesaikan masalahnya sendiri, untuk apa orangtuanya?

Jadi, kalau pun anda keukeuh menjadi orangtua pemadam kebakaran, please minimal edukasi dulu, baru bantu. Kan anda tidak akan selalu ada disitu utk memadamkan api. Ajarkan cara negosiasi, berbagi, kompromi, sebelum kebakaran tiba. Jangan sudah terbakar.. anak tidak tau bagaimana memadamkan, anda tidak mengajarkan, malah marah-marah. 

Saya tidak suka kata terlanjur, jadi motto saya bukan ‘pantang pulang sebelum padam”,  karena kalau sudah kadung kebakar, kadang padamnya tidak menyisakan apa-apa lagi. Tapi ‘sedia payung sebelum hujan’, karena akan jauh lebih mudah mencegah daripada mengobati.

#Ust Abdullah Zein