BIODATA
Nama : Diana
Tempat Tanggal Lahir : Cirebon, 6 Desember 1973
Alamat : Depok
Status : Menikah
Pendidikan terakhir :
1.D4 /setara dg S1 Jurusan kesejahteraan sosial pada tahun 1998
2. S1 jurusan Bimbingan dan Konseling pada tahun 2013
Pengalaman Organisasi:
1. Anggota Departemen wanita Al Irsyad cirebon dan Pengurus Dana Asuh pada tahun 1990-1994
2. Pengurus di DKM masjid Al Ihsan Kampus STKS Bandung
3. Membuka TPA dengan metode qiroati pada tahun 2003 -2006 cabang Bilal Bin Rabbah Depok pengasuh Ustadzah Syahrazat (Rahimahallah)
4. Pengurus dan komite sekolah TK dan SD Al Fikri dan di SD Rahmani menjabat sebagai divisi pendidikan , korlas dan divisi kerohanian
5. Merintis sekolah taud Saqu zidna Ilma
Depok cabang Al wadi pada tahun
2018-2019
Kegiatan sekarang :
- Masih belajar tahsin dg ustad Asep Milah S.pdi (pemilik LTQ Al Kautsar Depok) dg tema Tajwid Rasa Qiroat di majid griya lembah
- Belajar tahsin di Griya Asri dengan ustadzah Irma dari rumah tajwid
- Belajar Tajwid dengan Ustadz Abu Ezra di depok 1
- Mengajar tahsin ibu2 dan anak2 di rumah
- Belajar bahasa Arab d baina yadaik jilid 1 dg ustadz Amarullah Teko di Perum Qurota salam insani KSU
- ikut program HSI (sudah 2,5 tahun) sekarang bab Rasul
Rumah Tahfidz, Belajar Tahsin dan Tajwid Al Qur'an, Kajian Ilmu syar'i Hub: Diana Gasim (Ummu Achmad ) 085312837788)
Tuesday, August 20, 2019
Sunday, August 18, 2019
Belajar Bahasa Arab
1. Pertanyaan :
Apakah jabatan شرًِ dalam surat Al Falaq
من شر ما خلق kenapa kasroh ?
Jawaban ;
Jadi syarri ini di satu sisi sebagai isim majrur, di satu sisi sebagai mudhof
dia bukan fi'il melainkan masdar
Dan masdhar adalah isim.
*Dari keterangan atau contoh diatas maka kita mengetahui ketika lafadz didahuului oleh huruf
Jar maka menunjukkan lafadz tersebut adalah ISIM, bukan Fi’il dan bukan Huruf dan lafadz
tersebut Majrur artinya di Jar (di Kasrahkan huruf akhirnya),*
Harokatnya kasroh Karena dia sebagai mudhof dalam ilmu nahwu, dan mudhof tdk boleh didampingi Alif lam dan tanwin
2. Pertanyaan utk Q.S. Al Balad لا أقسمُ di situ لا sebagai apa ?
Jawab :
Itu adalah lam qosam, laam utk bersumpah.
Dan أقسم sebagai fiil mudhori.
3. Pertanyaan utk huruf لا sebagai apa ?
١. لا إكراه
٣. لا يكلف الله
٣. لا ريب
Itu Laa nafyi...
~ kalau la nafyi masuk ke fi'il mudhori ttp Marfu (di rofa )
~ Tp kalau masuk ke isim jadi mabniy alalFathi (di nashab)
1. Pertanyaan :
Apakah jabatan شرًِ dalam surat Al Falaq
من شر ما خلق kenapa kasroh ?
Jawaban ;
Jadi syarri ini di satu sisi sebagai isim majrur, di satu sisi sebagai mudhof
dia bukan fi'il melainkan masdar
Dan masdhar adalah isim.
*Dari keterangan atau contoh diatas maka kita mengetahui ketika lafadz didahuului oleh huruf
Jar maka menunjukkan lafadz tersebut adalah ISIM, bukan Fi’il dan bukan Huruf dan lafadz
tersebut Majrur artinya di Jar (di Kasrahkan huruf akhirnya),*
Harokatnya kasroh Karena dia sebagai mudhof dalam ilmu nahwu, dan mudhof tdk boleh didampingi Alif lam dan tanwin
2. Pertanyaan utk Q.S. Al Balad لا أقسمُ di situ لا sebagai apa ?
Jawab :
Itu adalah lam qosam, laam utk bersumpah.
Dan أقسم sebagai fiil mudhori.
3. Pertanyaan utk huruf لا sebagai apa ?
١. لا إكراه
٣. لا يكلف الله
٣. لا ريب
Itu Laa nafyi...
~ kalau la nafyi masuk ke fi'il mudhori ttp Marfu (di rofa )
~ Tp kalau masuk ke isim jadi mabniy alalFathi (di nashab)
Friday, August 16, 2019
*Teruntuk Para Para Orang Tua & Guru; Perbaiki Satu Hal Ini, yang Lain Akan Beres*
--------------------
✍ Johan Saputra Halim
(Kepala MA Plus Abu Hurairah Mataram)
Tak jarang, kami mendengar guru mengeluhkan akhlak anak-anak didiknya yang negatif. _"Banyak orang tua kurang perhatian dengan anak. Terlalu diberi kebebasan di rumah. Akhlak mereka jadi susah dibentuk, susah nerima nasehat."_
Sebaliknya, sebagian orang tua di rumah menggerutu melihat kelakukan anaknya. _"Ustadz, anak saya diajarin apa sih di pondok?! Kok ga berubah seperti teman-temannya yang lain?!"_
Kemudian sebagian pendidik--baik orang tua maupun guru--, mulai sibuk memikirkan *metode* dan *trik-trik* yang mereka anggap jitu agar anak bisa berubah dalam sekejap, tanpa ribet, tanpa effort (upaya) kecuali se-minimalis mungkin. Ini gaya pendidik yang kebanyakan main HP. Maunya serba instan. Se-instan mereka Googling untuk cari jawaban.
Dan benar saja, orang tua dan guru sebagai pendidik mulai buka-buka YouTube, browsing. Yang mereka dapat; justru membiaskan fokus mereka, memalingkan dari tujuan tarbiyah sesungguhnya. Kalau bukan metode pendidikan Barat (baca: Liberal) yang didapat, mereka jadi asyik nonton keseharian para artis bagaimana mendidik anaknya. Inilah hasil YouTubing mereka. Kini bukan anak saja yang bermasalah, tapi juga pendidiknya, dalam hal ini; orang tua dan guru.
Tentu tidak semua orang tua dan guru seperti ini. Namun, inilah sebagian realita pilu yang terjadi. Sangat disayangkan.
_*Yang salah siapa...??* Kita...!! Para pendidik (baik orang tua maupun guru). Kitalah yang paling bertanggungjawab. Baik di rumah, juga di sekolah.
كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته
_"Setiap kalian adalah pemimpin, yang akan dimintai pertanggungjawaban terkait (baik-buruk) yang dipimpin"_
🍒 Lantas, Bagaimana Solusinya...??
Solusi terbaik adalah kembali pada Islam (al-Quran dan as-Sunnah) yang paripurna ini. Semua hal, yang membawa maslahat dan mafsadat, sudah tuntas dijelaskan. Masalah anak itu banyak. Semua masalah ada terapi dan solusinya dari al-Quran maupun as-Sunnah. Ada banyak metode Qurani dan Nabawi terkait bagaimana mendidik anak. Para ulama sampai menyusun berjilid-jilid buku yang tebal tentang hal ini. Namun mereka satu kata menyuarakan satu hal; _"Jika anak shalatnya baik, yang lain akan jadi baik. Jika shalat mereka beres, yang lain juga akan beres."_
Mari sejenak tadabburi ayat berikut ini:
وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ لَا نَسۡـَٔلُكَ رِزۡقٗاۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ
_"Dan *perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat, dan bersabarlah dalam mengerjakannya*. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akhir yang baik (di dunia dan akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa."_ [QS. Ta-Ha: 132]
Perihal ayat yang mulia ini, Imam as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya (Taisiir Kariimir Rahmaan) mengatakan;
فإن العبد إذا أقام صلاته على وجه المأمور به كان لما سواها من دينه أحفظ وأقوم. وإذا ضيعها كان لما سواها أضيع.
_"Sungguh, seorang hamba jika menegakkan shalatnya dengan sebenar-benarnya, maka urusan agama yang lain akan lebih terjaga dan lebih teguh dan lurus lagi. Sebaliknya, jika ia menelantarkan shalatnya, maka urusan yang lain akan lebih terlantar lagi."_
Beliau juga menjelaskan; shalat bukanlah sekedar urusan menunaikan rutinitas harian. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam shalat; rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, hal-hal yang wajib dalam shalat, seperti apa sunnah dan adabnya, serta--yang paling utama--bagaimana kekhusyuannya. Itu semua berat bagi jiwa. Betapapun, jiwa harus ditundukkan untuk itu. Tidak heran jika Allah memerintahkan dengan ungkapan _"wash-thobir"_, sebuah ungkapan perintah untuk bersabar namun bukan dengan sembarang sabar, tapi kesabaran yang hebat dalam menyempurnakan shalat.
ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ
_Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. *Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar*..._ -QS. al-Ankabut: 45
*****
Jika orang tua di rumah, juga para guru di sekolah, memberikan fokus perhatian yang besar pada urusan shalat. Benar-benar mengajarkan dan membiasakan anak didik bagaimana mendirikan shalat dengan benar dan sesuai sunnah, menekankan pada pemahaman bacaan shalat dan kekhusyuan, niscaya permasalahan anak yang menyangkut akhlak, karakter, dan bahkan kompetensi, akan mengalami perubahan yang dahsyat.
Betapa tidak, dalam shalat berjamaah--misalkan--, ada banyak tarbiyah karakter yang terkandung di dalamnya, selain 'ubudiyyah kepada Allah. Ada kedisiplinan (hadir berjamaah di awal waktu), ada kebersamaan sosial (bertemu orang-orang shalih di masjid), ada nilai kepatuhan, konsistensi pada aturan, ada sinergi, ada kesabaran yang ditempa, ada esensi muroqobah yang dipupuk, ada fokus yang dilatih, ada pemahaman makna bacaan shalat yang dituntut, dll. Ini semua jika terbentuk, sebenarnya sudah cukup untuk membereskan segenap masalah kehidupan.
*****
Namun itu semua mustahil terwujud pada anak jika orangtua dan guru tak memberikan qudwah (teladan) yang baik. Jika Bapak di rumah, atau guru di sekolah masih suka telat ke masjid saat adzan memanggil, maka jangan harap anak bakal baik shalatnya.
Dahulu, kaum Salaf jika hendak menyerahkan anaknya dididik oleh seorang guru, mereka meneliti shalat sang guru tersebut. Jika shalatnya baik, barulah kemudian mereka menyerahkan anak-anak mereka untuk dididik. Karena jika shalat sudah baik, maka yang lain pun pasti baik.
Shalat itu agung. Satu-satunya ibadah yang dijemput langsung perintahnya oleh Nabi ke langit ketika menghadap Allah, Rabb semesta alam. Maka shalat juga harus agung di hati orang tua dan guru, barulah dia akan agung di hati anak.
Shalat itu agung. Begitu agungnya, _Kahliilur-rahmaan_ Ibrahim 'alaihissalaam sampai berdo'a, dengan doa yang diabadikan al-Quran:
رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ
_"Duhai Rabbku, *jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap menegakkan shalat*, duhai Rabb kami, perkenankanlah doaku."_ [QS. Ibrahim: 40]
Padahal ketika mengucapkan doa ini, beliau 'alaihissalam telah dikarunai dua anak yang shalih, penerus kenabiannya; Isma'il dan Ishaq. Seorang Nabi pemilik keturunan yang juga Nabi, masih berdoa seperti ini...?? Allahuakbar!! Lantas, bagaimana dengan kita?
*Teruntuk orang tua tercinta dan para pendidik di jalan Allah*, jangan sampai hati dan lisan tak pernah melirihkan doa tersebut. Denyutkan selalu hati dan basahi terus lisan dengan doa tersebut. Sebut nama-nama mereka, anak-anak didik kita, dalam tulus doamu. _Baarakallaahufiikum_
_______
Lombok Timur, 11 Dzulhijjah 1440-H
✍ *Johan Saputra Halim*
(Kepala MA Plus Abu Hurairah Mataram)
Telegram: t.me/kristaliman
Web: ponpesabuhurairah.id | alhujjah.com
--------------------
✍ Johan Saputra Halim
(Kepala MA Plus Abu Hurairah Mataram)
Tak jarang, kami mendengar guru mengeluhkan akhlak anak-anak didiknya yang negatif. _"Banyak orang tua kurang perhatian dengan anak. Terlalu diberi kebebasan di rumah. Akhlak mereka jadi susah dibentuk, susah nerima nasehat."_
Sebaliknya, sebagian orang tua di rumah menggerutu melihat kelakukan anaknya. _"Ustadz, anak saya diajarin apa sih di pondok?! Kok ga berubah seperti teman-temannya yang lain?!"_
Kemudian sebagian pendidik--baik orang tua maupun guru--, mulai sibuk memikirkan *metode* dan *trik-trik* yang mereka anggap jitu agar anak bisa berubah dalam sekejap, tanpa ribet, tanpa effort (upaya) kecuali se-minimalis mungkin. Ini gaya pendidik yang kebanyakan main HP. Maunya serba instan. Se-instan mereka Googling untuk cari jawaban.
Dan benar saja, orang tua dan guru sebagai pendidik mulai buka-buka YouTube, browsing. Yang mereka dapat; justru membiaskan fokus mereka, memalingkan dari tujuan tarbiyah sesungguhnya. Kalau bukan metode pendidikan Barat (baca: Liberal) yang didapat, mereka jadi asyik nonton keseharian para artis bagaimana mendidik anaknya. Inilah hasil YouTubing mereka. Kini bukan anak saja yang bermasalah, tapi juga pendidiknya, dalam hal ini; orang tua dan guru.
Tentu tidak semua orang tua dan guru seperti ini. Namun, inilah sebagian realita pilu yang terjadi. Sangat disayangkan.
_*Yang salah siapa...??* Kita...!! Para pendidik (baik orang tua maupun guru). Kitalah yang paling bertanggungjawab. Baik di rumah, juga di sekolah.
كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته
_"Setiap kalian adalah pemimpin, yang akan dimintai pertanggungjawaban terkait (baik-buruk) yang dipimpin"_
🍒 Lantas, Bagaimana Solusinya...??
Solusi terbaik adalah kembali pada Islam (al-Quran dan as-Sunnah) yang paripurna ini. Semua hal, yang membawa maslahat dan mafsadat, sudah tuntas dijelaskan. Masalah anak itu banyak. Semua masalah ada terapi dan solusinya dari al-Quran maupun as-Sunnah. Ada banyak metode Qurani dan Nabawi terkait bagaimana mendidik anak. Para ulama sampai menyusun berjilid-jilid buku yang tebal tentang hal ini. Namun mereka satu kata menyuarakan satu hal; _"Jika anak shalatnya baik, yang lain akan jadi baik. Jika shalat mereka beres, yang lain juga akan beres."_
Mari sejenak tadabburi ayat berikut ini:
وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ لَا نَسۡـَٔلُكَ رِزۡقٗاۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ
_"Dan *perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat, dan bersabarlah dalam mengerjakannya*. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akhir yang baik (di dunia dan akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa."_ [QS. Ta-Ha: 132]
Perihal ayat yang mulia ini, Imam as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya (Taisiir Kariimir Rahmaan) mengatakan;
فإن العبد إذا أقام صلاته على وجه المأمور به كان لما سواها من دينه أحفظ وأقوم. وإذا ضيعها كان لما سواها أضيع.
_"Sungguh, seorang hamba jika menegakkan shalatnya dengan sebenar-benarnya, maka urusan agama yang lain akan lebih terjaga dan lebih teguh dan lurus lagi. Sebaliknya, jika ia menelantarkan shalatnya, maka urusan yang lain akan lebih terlantar lagi."_
Beliau juga menjelaskan; shalat bukanlah sekedar urusan menunaikan rutinitas harian. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam shalat; rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, hal-hal yang wajib dalam shalat, seperti apa sunnah dan adabnya, serta--yang paling utama--bagaimana kekhusyuannya. Itu semua berat bagi jiwa. Betapapun, jiwa harus ditundukkan untuk itu. Tidak heran jika Allah memerintahkan dengan ungkapan _"wash-thobir"_, sebuah ungkapan perintah untuk bersabar namun bukan dengan sembarang sabar, tapi kesabaran yang hebat dalam menyempurnakan shalat.
ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ
_Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. *Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar*..._ -QS. al-Ankabut: 45
*****
Jika orang tua di rumah, juga para guru di sekolah, memberikan fokus perhatian yang besar pada urusan shalat. Benar-benar mengajarkan dan membiasakan anak didik bagaimana mendirikan shalat dengan benar dan sesuai sunnah, menekankan pada pemahaman bacaan shalat dan kekhusyuan, niscaya permasalahan anak yang menyangkut akhlak, karakter, dan bahkan kompetensi, akan mengalami perubahan yang dahsyat.
Betapa tidak, dalam shalat berjamaah--misalkan--, ada banyak tarbiyah karakter yang terkandung di dalamnya, selain 'ubudiyyah kepada Allah. Ada kedisiplinan (hadir berjamaah di awal waktu), ada kebersamaan sosial (bertemu orang-orang shalih di masjid), ada nilai kepatuhan, konsistensi pada aturan, ada sinergi, ada kesabaran yang ditempa, ada esensi muroqobah yang dipupuk, ada fokus yang dilatih, ada pemahaman makna bacaan shalat yang dituntut, dll. Ini semua jika terbentuk, sebenarnya sudah cukup untuk membereskan segenap masalah kehidupan.
*****
Namun itu semua mustahil terwujud pada anak jika orangtua dan guru tak memberikan qudwah (teladan) yang baik. Jika Bapak di rumah, atau guru di sekolah masih suka telat ke masjid saat adzan memanggil, maka jangan harap anak bakal baik shalatnya.
Dahulu, kaum Salaf jika hendak menyerahkan anaknya dididik oleh seorang guru, mereka meneliti shalat sang guru tersebut. Jika shalatnya baik, barulah kemudian mereka menyerahkan anak-anak mereka untuk dididik. Karena jika shalat sudah baik, maka yang lain pun pasti baik.
Shalat itu agung. Satu-satunya ibadah yang dijemput langsung perintahnya oleh Nabi ke langit ketika menghadap Allah, Rabb semesta alam. Maka shalat juga harus agung di hati orang tua dan guru, barulah dia akan agung di hati anak.
Shalat itu agung. Begitu agungnya, _Kahliilur-rahmaan_ Ibrahim 'alaihissalaam sampai berdo'a, dengan doa yang diabadikan al-Quran:
رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ
_"Duhai Rabbku, *jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap menegakkan shalat*, duhai Rabb kami, perkenankanlah doaku."_ [QS. Ibrahim: 40]
Padahal ketika mengucapkan doa ini, beliau 'alaihissalam telah dikarunai dua anak yang shalih, penerus kenabiannya; Isma'il dan Ishaq. Seorang Nabi pemilik keturunan yang juga Nabi, masih berdoa seperti ini...?? Allahuakbar!! Lantas, bagaimana dengan kita?
*Teruntuk orang tua tercinta dan para pendidik di jalan Allah*, jangan sampai hati dan lisan tak pernah melirihkan doa tersebut. Denyutkan selalu hati dan basahi terus lisan dengan doa tersebut. Sebut nama-nama mereka, anak-anak didik kita, dalam tulus doamu. _Baarakallaahufiikum_
_______
Lombok Timur, 11 Dzulhijjah 1440-H
✍ *Johan Saputra Halim*
(Kepala MA Plus Abu Hurairah Mataram)
Telegram: t.me/kristaliman
Web: ponpesabuhurairah.id | alhujjah.com
Thursday, August 8, 2019
Group sekolah
Waktu SMP ana ikut umm tapi ana left ...
Gak enak juga membahas di group dg pihak sekolah ..karena sepertinya pihak sekolah maunya tabayun langsung umm bisa via telp atau face to face ...
Karena bahasa WA itu suka beda ya umm ..
Gak enak juga membahas di group dg pihak sekolah ..karena sepertinya pihak sekolah maunya tabayun langsung umm bisa via telp atau face to face ...
Karena bahasa WA itu suka beda ya umm ..
Alhamdulillah sekarang kelas 1 sudah ada group ortu , group kamar ..waktu dulu gak ada groupnya, Pas di kelas 3 baru buat group ...
Tinggal group kelas ya yg belum ada..
Apakah sudah ada pembagian kelas ya umm?
Apakah sudah ada pembagian kelas ya umm?
Semoga sich di group ini satu visi dan misi ...
Jadi sekiranya ada berbagai hal yg ingin ditanyakan/disampaikan/undangan rapat dari sekolah maka group ini bisa menjadi fasilitator utk menampung semua pertanyaan sekiranya ada yg berhalangan hadir ...
Jadi sekiranya ada berbagai hal yg ingin ditanyakan/disampaikan/undangan rapat dari sekolah maka group ini bisa menjadi fasilitator utk menampung semua pertanyaan sekiranya ada yg berhalangan hadir ...
Jadi kita bisa bekerja sama dengan pihak sekolah dengan tetap menjaga adab ..
Karena biar bagaimanapun ketika anak2 sekolah di pondok orang tua turut memberikan perhatian
Karena biar bagaimanapun ketika anak2 sekolah di pondok orang tua turut memberikan perhatian
Banyak kejadian umm di pondok itu (kemaren teman ana datang ke rumah anaknya merokok , ada lagi yg suka membuli, yang suka kabur dll) ..ngeri ya umm kalo kita cuek kepada anak2 minimal kita orang tuanya kompak dulu semoga anak2 juga kompak karena bisa dirasakan bagaimana keharmonisan kita selaku orang tua ..
Semoga Allah ridho apa yg kita lakukan dengan niat ikhlas mencari pahala Allah saja demi kebaikan anak2 utk meraih cita2 nya dg rasa tanggung jawab dan amanah ...
Group ini sebagai bentuk ikhtiar saja .. selebihnya kita serahkan kdp Allah utk hasilnya ...
Maaf jadi panjang kalam nich ..hehe 🙏🙏
Mohon dimaafkan jika kurang bekenan
Mohon dimaafkan jika kurang bekenan
*Atau ada usulan lain umm ?*
Intinya di group ini kita sama gak ada yg merasa lebih atau yang lainnya
Wednesday, August 7, 2019
KENANGAN MANIS MATI LAMPU TERLAMA, NAMUN TETAP SEMANGAT MENUNTUT ILMU
🖊Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni حفظه الله تعلی
Ada hal yang membuat sangat bahagia dan bangga di ahad 4 Agustus 2019.
Apa itu?.
Jika seorang penuntut ilmu zaman now semangat menuntut ilmu karena terang benderang (tak mati lampu) itu wajar dan biasa.
Namun, jika seorang penuntut ilmu zaman now tetap menuntut ilmu walau keadaan mati lampu dan gerah/panas (karena tak ada kipas angin menyala) ini baru "LUAR BIASA".
Dengan penerangan seadanya, para penuntut ilmu mereka semangat menyimak materi kajian "Kitabul 'Ilmi, Syaikh Al-'Utsaimin" dengan menggunakan senter hp mereka untuk mengharokati dan menulis faidah-faidah ilmu yang didapatkan. Bahkan ada penuntut ilmu yang jauh datang ke Masjid Raudhatul Hasanah, Ds. Karangsentosa, Karangbahagia-Bekasi, ada dari Tangerang dan Jakarta Pusat.
Walau masjid belum memiliki genset listrik kajian rutin tetap harus berjalan walau penerangan seadanya.
Nikmatnya ngaji rutin kitab, terlebih ilmu yang banyak luput dan lalai untuk mempelajarinya yaitu "Akhlaq dan adab penuntut ilmu."
Sangkin nikmatnya menuntut ilmu dalam kondisi minim cahaya dan panas tanpa ada kipas angin, kajian terasa sangat sebentar walau dimulai dari ba'da Maghrib-jam 21.00 wib. Padahal biasanya kajian rutin ini hanya dari ba'da Maghrib s/d Isya' saja.
Karena mati lampu juga live dari studio mini Puldapii TV dari Yayasan Nurul Ilmi Al-Islamy ditiadakan.
Rasakan perubahan yang baik pada akhlaq dan adab antum/antunna, setelah mulai belajar "Kitabul 'Ilmi", karena di dalamnya terdapat penjelasan penyakit-penyakit ilmu dan obatnya. Sehingga setelah berangsur-angsur hilang penyakit menuntut ilmunya, maka Allah akan mudahkan ia menangkap dan memahami ilmu yang mana sebelumnya seorang penuntut ilmu sulit dan berat dalam memahami ilmu sehingga banyak dari lisan mereka mengatakan; "Pelajarannya sulit", padahal bukan sulit pelajarannya, namun kita masih banyak penyakit-penyakit menuntut ilmunya.
Ibarat mobil atau sepeda motor tak pernah servis, maka tarikannya terasa berat tak bertenaga dan bensin boros, setelah diservis ngacir dan bensin irit.
"HIKMAH DIBALIK MUSIBAH"
Semoga Allah menjaga istiqomah para penuntut ilmu dalam berjihad menuntut ilmu. آمبن
__________________________________
Semalam (Ahad, 4/8/19) belajar "Pasal Ke 2 Keutamaan-keutamaan ilmu di point ke 7 dalam Kitabul 'Ilmi Syaikh Al-'Utsaimin Rahimahullah"
📚💎📚💎📚💎📚💎📚💎📚
🚿Dan jangan berhenti di HP anda tapi sebarkan yaa ... karena *barangsiapa yg menunjukkan kebaikan kepada seseorang maka baginya pahala yang tiada putus.*
📲 Yuk share ke yang lain *tanpa merubah isi artikel dan sumbernya*
•┈┈➖•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•➖┈┈•
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.
🖊Ustadz Abu Salman Al-Kwasayni حفظه الله تعلی
Ada hal yang membuat sangat bahagia dan bangga di ahad 4 Agustus 2019.
Apa itu?.
Jika seorang penuntut ilmu zaman now semangat menuntut ilmu karena terang benderang (tak mati lampu) itu wajar dan biasa.
Namun, jika seorang penuntut ilmu zaman now tetap menuntut ilmu walau keadaan mati lampu dan gerah/panas (karena tak ada kipas angin menyala) ini baru "LUAR BIASA".
Dengan penerangan seadanya, para penuntut ilmu mereka semangat menyimak materi kajian "Kitabul 'Ilmi, Syaikh Al-'Utsaimin" dengan menggunakan senter hp mereka untuk mengharokati dan menulis faidah-faidah ilmu yang didapatkan. Bahkan ada penuntut ilmu yang jauh datang ke Masjid Raudhatul Hasanah, Ds. Karangsentosa, Karangbahagia-Bekasi, ada dari Tangerang dan Jakarta Pusat.
Walau masjid belum memiliki genset listrik kajian rutin tetap harus berjalan walau penerangan seadanya.
Nikmatnya ngaji rutin kitab, terlebih ilmu yang banyak luput dan lalai untuk mempelajarinya yaitu "Akhlaq dan adab penuntut ilmu."
Sangkin nikmatnya menuntut ilmu dalam kondisi minim cahaya dan panas tanpa ada kipas angin, kajian terasa sangat sebentar walau dimulai dari ba'da Maghrib-jam 21.00 wib. Padahal biasanya kajian rutin ini hanya dari ba'da Maghrib s/d Isya' saja.
Karena mati lampu juga live dari studio mini Puldapii TV dari Yayasan Nurul Ilmi Al-Islamy ditiadakan.
Rasakan perubahan yang baik pada akhlaq dan adab antum/antunna, setelah mulai belajar "Kitabul 'Ilmi", karena di dalamnya terdapat penjelasan penyakit-penyakit ilmu dan obatnya. Sehingga setelah berangsur-angsur hilang penyakit menuntut ilmunya, maka Allah akan mudahkan ia menangkap dan memahami ilmu yang mana sebelumnya seorang penuntut ilmu sulit dan berat dalam memahami ilmu sehingga banyak dari lisan mereka mengatakan; "Pelajarannya sulit", padahal bukan sulit pelajarannya, namun kita masih banyak penyakit-penyakit menuntut ilmunya.
Ibarat mobil atau sepeda motor tak pernah servis, maka tarikannya terasa berat tak bertenaga dan bensin boros, setelah diservis ngacir dan bensin irit.
"HIKMAH DIBALIK MUSIBAH"
Semoga Allah menjaga istiqomah para penuntut ilmu dalam berjihad menuntut ilmu. آمبن
__________________________________
Semalam (Ahad, 4/8/19) belajar "Pasal Ke 2 Keutamaan-keutamaan ilmu di point ke 7 dalam Kitabul 'Ilmi Syaikh Al-'Utsaimin Rahimahullah"
📚💎📚💎📚💎📚💎📚💎📚
🚿Dan jangan berhenti di HP anda tapi sebarkan yaa ... karena *barangsiapa yg menunjukkan kebaikan kepada seseorang maka baginya pahala yang tiada putus.*
📲 Yuk share ke yang lain *tanpa merubah isi artikel dan sumbernya*
•┈┈➖•◈◉✹❒📚❒✹◉◈•➖┈┈•
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.
Zuhud Yang Banyak Disalah Pahami
ZUHUD YANG BANYAK DISALAH FAHAMI
Oleh
Ustadz Abu Ashim bin Musthofa
Ustadz Abu Ashim bin Musthofa
Dalam pengertian banyak orang, zuhud adalah menghindari hal-hal yang bersifat keduniaan. Mereka tidak mengerti, mana perkara-perkara duniawi yang tercela, yang harus ditinggalkan, dan mana yang boleh didekati. Sehingga iblis berkesempatan mempermainkan mereka. Lahirlah anggapan bahwa seseorang tidak akan selamat akhiratnya, kecuali jika meninggalkan dunia seisinya. Kalau perlu menyendiri di suatu tempat terpencil, khusus untuk melakukan peribadatan kepada Allah. Meskipun dengan meninggalkan keluarga, orang tua dan bahkan shalat berjama’ah serta shalat Jum’at. Sebagian orang menganggap, inilah zuhud yang hakiki. Persepsi semacam ini muncul lantaran kedangkalan terhadap ilmu agama.[1]
Orang awam yang jenuh dengan gemerlap dunia, atau muak melihat kepalsuan serta tipu muslihat dunia dan ingin mendapatkan ketenteraman rohani, mungkin akan mudah terperangkap dalam pengertian zuhud di atas. Ia akan lahap untuk mendengarkan secara salah ayat-ayat, hadits-hadits serta ceramah-cermah yang berisi celaan terhadap dunia. Asal berbau dunia, semuanya buruk dan negatif. Akhirnya akan berasumsi bahwa keselamatan akhirat hanya dapat diraih dengan meninggalkan dunia, meningalkan pekerjaan dan bermalas-malasan dengan dalih ibadah.
MAKNA ZUHUD[2]
Sebenarnya Apa Dan Bagaimana Zuhud Itu?
Zuhud secara bahasa adalah lawan kata gemar. Gemar merupakan suatu bentuk keinginan. Sedangkan zuhud adalah hilangnya keinginan terhadap sesuatu, baik disertai kebencian ataupun hanya sekedar hilang keinginan. [3]
Sebenarnya Apa Dan Bagaimana Zuhud Itu?
Zuhud secara bahasa adalah lawan kata gemar. Gemar merupakan suatu bentuk keinginan. Sedangkan zuhud adalah hilangnya keinginan terhadap sesuatu, baik disertai kebencian ataupun hanya sekedar hilang keinginan. [3]
Zuhud Menurut Pengertian Syari’at.
Dr. Yahya bin Muhammad bin Abdullah Al Hunaidi mengatakan, bahwa pengertian zuhud yang paling sempurna dan paling tepat adalah pengertian yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Dr. Yahya bin Muhammad bin Abdullah Al Hunaidi mengatakan, bahwa pengertian zuhud yang paling sempurna dan paling tepat adalah pengertian yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, zuhud yang disyari’atkan ialah meninggalkan rasa gemar terhadap apa yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Yaitu terhadap perkara mubah yang berlebih dan tidak dapat digunakan untuk membantu berbuat ketaatan kepada Allah, disertai sikap percaya sepenuhnya terhadap apa yang ada di sisi Allah.[4]
TINGKATAN ZUHUD
Zuhud itu sendiri, menurut Ibnu Al Qoyyim[5] serta ulama lain ada empat tingkatan.
Zuhud itu sendiri, menurut Ibnu Al Qoyyim[5] serta ulama lain ada empat tingkatan.
Pertama : Zuhud wajib bagi setiap muslim. Yaitu zuhud terhadap perkara haram. Yakni dengan cara meninggalkannya.
Kedua : Zuhud yang bersifat sunnah (mustahabbah). Yaitu zuhud terhadap perkara-perkara makruh dan perkara-perkara mubah yang berlebihan. Maksudnya, perkara mubah yang melebihi kebutuhan, baik makan, minum, pakaian dan semisalnya.
Ketiga : Zuhud orang-orang yang berpacu ketika berjalan menuju Allah. Zuhud ini ada dua macam.
1. Zuhud terhadap dunia secara umum. Maksudnya bukan mengosongkan tangan menjadi hampa dari dunia, dan bukan pula membuang dunia. Tetapi maksudnya, menjadikan hati kosong secara total dari hal-hal yang serba bersifat duniawi. Sehingga hati tidak tergoda oleh dunia. Dunia tidak dibiarkan menempati hatinya, meskipun kekayaan dunia berada di tangannya. Hal ini, seperti keadaan para khulafa’ur rasyidun dan Umar bin Abdul Aziz. Orang-orang yang zuhudnya menjadi panutan, meskipun kekayaan harta benda ada di tangannya. Begitu pula keadaan manusia terbaik, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika dunia ditaklukkan oleh Allah untuk Beliau, malah menjadikan Beliau semakin zuhud terhadap dunia.
2. Zuhud terhadap diri sendiri. Ini merupakan zuhud yang terberat.
1. Zuhud terhadap dunia secara umum. Maksudnya bukan mengosongkan tangan menjadi hampa dari dunia, dan bukan pula membuang dunia. Tetapi maksudnya, menjadikan hati kosong secara total dari hal-hal yang serba bersifat duniawi. Sehingga hati tidak tergoda oleh dunia. Dunia tidak dibiarkan menempati hatinya, meskipun kekayaan dunia berada di tangannya. Hal ini, seperti keadaan para khulafa’ur rasyidun dan Umar bin Abdul Aziz. Orang-orang yang zuhudnya menjadi panutan, meskipun kekayaan harta benda ada di tangannya. Begitu pula keadaan manusia terbaik, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika dunia ditaklukkan oleh Allah untuk Beliau, malah menjadikan Beliau semakin zuhud terhadap dunia.
2. Zuhud terhadap diri sendiri. Ini merupakan zuhud yang terberat.
Keempat : Zuhud terhadap perkara syubhat. Yaitu dengan cara meninggalkan perkara yang belum jelas bagi seseorang, apakah halal atau haram. Inilah zuhudnya orang-orang yang wara’ (menjaga kehormatan).[6]
Berkaitan dengan zuhud terhadap persoalan duniawi, maka perlu diterangkan secara lebih rinci. Sebab orang-orang sufi dapat memaksudkan zuhud tersebut dengan melupakan makhluk, tidak mau memandang makhluk atau mengingkari keberadaan makhluk. Semua ini adalah salah.
Jadi zuhud terhadap dunia, seperti dikatakan oleh Imam Ibnu Al Qoyim di atas, tidak berarti mengosongkan tangan menjadi hampa dari harta. Tetapi zuhud itu terletak di dalam hati. Yakni, agar hati tidak tergantung pada cinta dunia. Namun ketergantungannya hanya kepada Allah saja dengan cara taat kepadaNya, baik ia memiliki kesenangan duniawi ataupun tidak. Kadang, zuhud itu bisa terjadi bersama dengan kekayaan atau bersama dengan kemiskinan.
Para nabi terdahului juga zuhud meskipun kaya raya. Misalnya Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman Alaihissallam. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terkenal sebagai orang yang jauh lebih baik dari lembutnya angin sepoi yang berhembus. Sebagaimana tersebut dalam hadits shahih Muslim, Kitab al Fadha’il, Bab Kaana an Nabiyyu Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajwadan Naasi bil Khair min ar Riihi al Mursalati. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salalm terkenal tidak pernah menolak orang yang meminta-minta. Begitu pula Abu Bakar, Utsman dan Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhum. Mereka adalah orang-orang zuhud, padahal mereka dikenal sebagai sahabat yang kaya raya.
HAL-HAL YANG DAPAT MELURUSKAN ZUHUD
Dalam masalah zuhud terhadap dunia, Imam Ibnu Al Qoyim rahimahullah menjelaskan, zuhud ini bisa diluruskan dengan tiga hal.
Dalam masalah zuhud terhadap dunia, Imam Ibnu Al Qoyim rahimahullah menjelaskan, zuhud ini bisa diluruskan dengan tiga hal.
Pertama : Hendaknya seorang muslim memahami bahwa dunia hanyalah bayang-bayang dan khayalan yang akan lenyap. Dunia hanyalah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبُُ وَلَهْوُُ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرُُ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرُُ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي اْلأَخِرَةِ عَذَابُُ شَدِيدُُ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانُُ وَمَاالْحَيَاةُ الدُّنْيَآ إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, ajang berbangga-banggaan di antara kamu dan ajang berbanyak-banyakan dalam harta dan anak. Laksana hujan yang tanam-tanamannya membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering, dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ada ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. [Al Hadid : 20].
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, ajang berbangga-banggaan di antara kamu dan ajang berbanyak-banyakan dalam harta dan anak. Laksana hujan yang tanam-tanamannya membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering, dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ada ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. [Al Hadid : 20].
Juga sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat. Allah menyebut kehidupan dunia sebagai kesenangan yang menipu, dan Allah melarang, agar hambaNya tidak tertipu dengan dunia serta menceritakan akibat buruk bagi orang-orang yang tertipu dengan dunia.
Kedua : Hendaknya seorang muslim memahami bahwa di belakang dunia ada negeri (kehidupan) yang lebih besar dan lebih agung kedudukannya. Itulah negeri abadi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan perbandingan antara dunia dan akhirat dengan sabdanya:
وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali laksana seseorang di antara kamu mencelupkan jarinya ini (Perawi yang bernama Yahya bin Sa’id mengisyaratkan dengan jari telujuknya) ke dalam sungai. Maka lihatlah apa yang bisa dibawa oleh jarinya itu”.[8]
Ketiga : Hendaknya ia memahami bahwa zuhud terhadap dunia tidak akan menghalangi seseorang untuk memperoleh dunia yang telah ditakdirkan untuknya. Sebaliknya, semangatnya untuk memperoleh dunia tidak akan menyebabkan ia dapat memperolehnya jika ia tidak ditakdirkan memperolehnya. Hal ini akan memudahkan dirinya untuk zuhud terhadap dunia.
PERKATAAN SEBAGIAN SAHABAT NABI TENTANG ZUHUD
Umar bin Khaththab pernah menulis kepada Abu Musa Al Asy’ari: “Sesungguhnya engkau tidak akan memperoleh amal akhirat yang lebih baik daripada zuhud terhadap dunia. Hati-hatilah engkau dari akhlak buruk dan rendah”.[9]
Umar bin Khaththab pernah menulis kepada Abu Musa Al Asy’ari: “Sesungguhnya engkau tidak akan memperoleh amal akhirat yang lebih baik daripada zuhud terhadap dunia. Hati-hatilah engkau dari akhlak buruk dan rendah”.[9]
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Dunia pasti akan pergi membelakangi, dan akhirat pasti akan datang menjelang. Masing-masing dari dunia maupun akhirat memiliki anak-anak generasi. Maka jadilah engkau anak generasi akhirat, dan jangan menjadi anak generasi dunia. Hari ini adalah hari beramal, tidak ada hisab (penghitungan amal). Sedangkan esok adalah hari hisab, tidak ada amal.[10]
ZUHUD YANG BENAR
Zuhud yang paling utama adalah zuhud yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan zuhud yang paling buruk adalah zuhud yang tidak sesuai dengan petunjuk Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Zuhud yang paling utama adalah zuhud yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan zuhud yang paling buruk adalah zuhud yang tidak sesuai dengan petunjuk Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Amma ba’du: Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik bimbingan adalah bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan secara baru dalam agama, dan setiap bid’ah adalah sesat.[11]
Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingkari keinginan zuhud para sahabat yang menyimpang. Yaitu ketika ada orang yang tak hendak menikah, sementara yang lain tak hendak tidur dan yang lain lagi tak hendak makan daging. Sebagaimana dalam hadits:
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَفَرًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلُوا أَزْوَاجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَمَلِهِ فِي السِّرِّ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا آكُلُ اللَّحْمَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا أَنَامُ عَلَى فِرَاشٍ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ فَقَالَ مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّي أُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
“Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya ada beberapa orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada isteri-isteri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal perbuatan Beliau manakala tidak terlihat orang lain.Akhirnya sebagian mereka berkata: “Saya tidak akan menikahi perempuan”. Sebagian lain berkata: “Saya tidak akan makan daging”. Sedangkan sebagian lain berkata: “Saya tidak akan tidur membaringkan diri di tempat tidur”.
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca hamdalah dan memuji Allah. Beliau bersabda: “Mengapa orang-orang itu berkata demikian dan demikian? Padahal aku shalat dan aku tidur. Aku berpuasa dan aku makan. Dan aku menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, berarti ia bukan termasuk golonganku”.[12]
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca hamdalah dan memuji Allah. Beliau bersabda: “Mengapa orang-orang itu berkata demikian dan demikian? Padahal aku shalat dan aku tidur. Aku berpuasa dan aku makan. Dan aku menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, berarti ia bukan termasuk golonganku”.[12]
Begitu pula, tidak termasuk zuhud yang dibenarkan dalam syari’at, apabila seseorang ingin hidup memutuskan diri sama sekali dari kesenangan dunia dan memisahkan diri dari keramaian untuk beribadah sepenuhnya kepada Allah (tabattul). Sebagaimana dalam shahih Muslim
عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ رَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ التَّبَتُّلَ وَلَوْ أَذِنَ لَهُ لَاخْتَصَيْنَا
“Dari Sa’id bin Al Musayyib, sesungguhnya ia mendengar Sa’d bin Abi Waqqash berkata: “Utsman bin Mazh’un ingin hidup bertabattul, namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Kalaulah Beliau membolehkannya, tentu kami sudah melakukan kebiri.[13]
Jadi zuhud yang dibenarkan dalam syari’at, ialah meninggalkan perkara mubah yang berlebihan, yang tidak dapat membantu ketaatan kepada Allah, baik berupa makan, minum, pakaian, harta dan lain sebagainya. Sebagaimana perkataan Imam Ahmad “Zuhud ialah makan tetapi di bawah ukuran makan seperti umumnya, berpakaian, tetapi lebih sederhana dari umumnya, dan bahwa dunia hanyalah hari-hari yang hanya sebentar.[14]
KESIMPULAN
Sebagai kata penutup, sesungguhnya hakikat zuhud tidaklah sama dengan tasawuf. Dan tasawuf bukan zuhud. Sebab tasawuf telah terasuki keyakinan, pemikiran, filsafat dan perkara-perkara bid’ah.
Sebagai kata penutup, sesungguhnya hakikat zuhud tidaklah sama dengan tasawuf. Dan tasawuf bukan zuhud. Sebab tasawuf telah terasuki keyakinan, pemikiran, filsafat dan perkara-perkara bid’ah.
Zuhud tidak dicela oleh siapapun, sedangkan tasawuf dicela oleh para ulama Sunnah.[15]
Karena itu, marilah belajar berzuhud secara benar dan sungguh-sungguh. Wallahu Waliyyu at Taufiq.
Maraji’
1. At Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qalbiyah- Tahqiq wa Dirasah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Tahqiq, Ta’liq dan Takhrij Dr. Yahya bin Muhammad bin Abdullah al Hunaidi, Maktabah ar Rusyd, Riyadh, Cet. I-1421H/2000 M.
2. Al Muntaqa an Nafis min Talbis Iblis (dari karya Imam Ibnu al Jauzi), karya Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid, Daar Ibnu al Jauzi, Cet. I – 1410H/ 1990M.
3. Thariq al Hijratain wa Bab as Sa’adatain, karya Imam Ibnu al Qoyyim, Dar al Kutub al Ilmiyah, Cet. I – 1402H/1982M.
4. Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, tarqim Muhammad Fuad Abdul Baqi, Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al Islamiyah, Riyadh.
5. Shahih Muslim Syarah Nawawi, tahqiq dan takhrij Khalil Ma’mun Syiha, Daar al Ma’rifah, Beirut, Libanon .
1. At Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qalbiyah- Tahqiq wa Dirasah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Tahqiq, Ta’liq dan Takhrij Dr. Yahya bin Muhammad bin Abdullah al Hunaidi, Maktabah ar Rusyd, Riyadh, Cet. I-1421H/2000 M.
2. Al Muntaqa an Nafis min Talbis Iblis (dari karya Imam Ibnu al Jauzi), karya Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid, Daar Ibnu al Jauzi, Cet. I – 1410H/ 1990M.
3. Thariq al Hijratain wa Bab as Sa’adatain, karya Imam Ibnu al Qoyyim, Dar al Kutub al Ilmiyah, Cet. I – 1402H/1982M.
4. Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, tarqim Muhammad Fuad Abdul Baqi, Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud al Islamiyah, Riyadh.
5. Shahih Muslim Syarah Nawawi, tahqiq dan takhrij Khalil Ma’mun Syiha, Daar al Ma’rifah, Beirut, Libanon .
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun IX/1426/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Lihat Al Muntaqa an Nafis min Talbis Iblis (dari karya Imam Ibnu Al Jauzi), karya Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid. Bab kesembilan, hlm. 191.
[2]. Pengertian ini disadur secara ringkas dari buku at Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qolbiyah, Tahqiq wa Dirasah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang ditahqiq serta dita’liq oleh Dr. Yahya bin Muhammad bin Abdullah Al Hunaidi, bagian muqadimah, hlm. 174-184. Ditambah beberapa referensi lain yang akan diterangkan dalam catatan kaki.
[3]. Diringkas dari Muqadimah at Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qolbiyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, oleh Dr. Yahya Al Hunaidi, hlm. 174.
[4]. Lihat Muqadimah at Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qolbiyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang ditahqiq serta dita’liq oleh Dr. Yahya bin Muhammad bin Abdullah Al Hunaidi. Hlm. 174-175.
[5]. Lihat Thariq al Hijratain wa Bab as Sa’adatain, karya Imam Ibnu Al Qoyyim, Dar al Kutub al Ilmiyah, Cet. I, 1402 H/1982 M, hlm. 251 dst.
[6]. Lihat pula Muqadimah at Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qolbiyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang ditahqiq serta dita’liq oleh Dr. Yahya bin Muhammad bin Abdullah Al Hunaidi, hlm. 181.
[7]. Lihat Thariq al Hijratain, hlm. 252-253.
[8]. Lihat Shahih Muslim Syarah Nawawi, tahqiq dan takhrij Khalil Ma’mun Syiha (XVII/189), no. 7126.
[9]. Dinukil dari Kitab Az Zuhud, karya Imam Ahmad oleh Dr Yahya al Hunaidi dalam Muqadimah at Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qolbiyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 178.
[10]. Lihat Muqadimah at Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qolbiyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 178, dan Shahih Bukhari-Fathul Bari (XI/230) secara mu’allaq dengan shighat jazm.
[11]. Lihat Shahih Muslim Syarah Nawawi, tahqiq dan takhrij Khalil Ma’mun Syiha (VI/392) Kitab al Jum’ah, Bab Raf’us Shaut fi al Khutbah wa Maa Yaquulu fiha, no. 2002.
[12]. Lihat Shahih Muslim Syarah Nawawi, tahqiq dan takhrij Khalil Ma’mun Syiha (IX/178), no. 3389.
[13]. Shahih Muslim Syarah Nawawi, tahqiq dan takhrij Khalil Ma’mun Syiha (IX/180), no. 3392.
[14]. Dinukil dari Kitab al Wara’ Imam Ahmad, oleh Dr. Yahya bin Muhammad bin Abdullah al Hunaidi dalam Muqadimah at Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qolbiyah tahqiq wa dirasah, hlm. 184.
[15]. Lihat Al Muntaqa an Nafis min Talbis Iblis (dari karya Imam Ibnu al Jauzi), karya Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid. Bab kesepuluh, hal 214 dengan catatan kakinya.
_______
Footnote
[1]. Lihat Al Muntaqa an Nafis min Talbis Iblis (dari karya Imam Ibnu Al Jauzi), karya Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid. Bab kesembilan, hlm. 191.
[2]. Pengertian ini disadur secara ringkas dari buku at Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qolbiyah, Tahqiq wa Dirasah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang ditahqiq serta dita’liq oleh Dr. Yahya bin Muhammad bin Abdullah Al Hunaidi, bagian muqadimah, hlm. 174-184. Ditambah beberapa referensi lain yang akan diterangkan dalam catatan kaki.
[3]. Diringkas dari Muqadimah at Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qolbiyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, oleh Dr. Yahya Al Hunaidi, hlm. 174.
[4]. Lihat Muqadimah at Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qolbiyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang ditahqiq serta dita’liq oleh Dr. Yahya bin Muhammad bin Abdullah Al Hunaidi. Hlm. 174-175.
[5]. Lihat Thariq al Hijratain wa Bab as Sa’adatain, karya Imam Ibnu Al Qoyyim, Dar al Kutub al Ilmiyah, Cet. I, 1402 H/1982 M, hlm. 251 dst.
[6]. Lihat pula Muqadimah at Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qolbiyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang ditahqiq serta dita’liq oleh Dr. Yahya bin Muhammad bin Abdullah Al Hunaidi, hlm. 181.
[7]. Lihat Thariq al Hijratain, hlm. 252-253.
[8]. Lihat Shahih Muslim Syarah Nawawi, tahqiq dan takhrij Khalil Ma’mun Syiha (XVII/189), no. 7126.
[9]. Dinukil dari Kitab Az Zuhud, karya Imam Ahmad oleh Dr Yahya al Hunaidi dalam Muqadimah at Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qolbiyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 178.
[10]. Lihat Muqadimah at Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qolbiyah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 178, dan Shahih Bukhari-Fathul Bari (XI/230) secara mu’allaq dengan shighat jazm.
[11]. Lihat Shahih Muslim Syarah Nawawi, tahqiq dan takhrij Khalil Ma’mun Syiha (VI/392) Kitab al Jum’ah, Bab Raf’us Shaut fi al Khutbah wa Maa Yaquulu fiha, no. 2002.
[12]. Lihat Shahih Muslim Syarah Nawawi, tahqiq dan takhrij Khalil Ma’mun Syiha (IX/178), no. 3389.
[13]. Shahih Muslim Syarah Nawawi, tahqiq dan takhrij Khalil Ma’mun Syiha (IX/180), no. 3392.
[14]. Dinukil dari Kitab al Wara’ Imam Ahmad, oleh Dr. Yahya bin Muhammad bin Abdullah al Hunaidi dalam Muqadimah at Tuhfah al Iraqiyah fi al A’mal al Qolbiyah tahqiq wa dirasah, hlm. 184.
[15]. Lihat Al Muntaqa an Nafis min Talbis Iblis (dari karya Imam Ibnu al Jauzi), karya Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid. Bab kesepuluh, hal 214 dengan catatan kakinya.
Read more https://almanhaj.or.id/2781-zuhud-yang-banyak-disalah-pahami.html
Menolak kebenaran dan sulit melakukan ketaatan
Oleh ustadz Muhajir Jamaludin Hafidzahullah
Depok, 6 Agst 2019
2 sifat yang apabila ada di dalam diri setiap hamba maka akan sulit menerima kebenaran dan akan sulit menjalankan ketaatan :
1. Ghuluw artinya merasa tinggi/lebih
Sehingga orang2 yg lainnya di pandang enteng dan remeh sehingga dia rendahkan dan dia remehkan
2. Kibr yaitu sombong
Nabi bersabda : "kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain "
Terkadang seorang tahu kebenaran dan kebaikan tetapi utk mengikutinya berat bagi dia apabila ada 2 sifat ini di dalam dirinya.
Fir'aun bukan tidak tahu kebenaran sementara 9 mukjizat besar sudah ditampakkan kepadanya dan kepada bala tentaranya.
Demikianlah karena Fir'aun merasa tinggi di muka bumi ini. Fir'aun menentang ajakan semua dakwah nabi Musa , Fir'aun mengingkari sementara di dalam dirinya mereka yakin kebenaran itu .
Coba liat kejadian ketika Fir'aun mengumpulkan tukang2 sihir dan tukang sihir itu mampu menipu mata2 mereka ketika tali diblempar maka berubah menjadi ular padahal tali2 itu tetap tali karena para tukang sihir hanya mengelabui mata2 manusia dan nabi Musa pun terkelabui dg melihat ular ..
Namun ketika tongkat nabi Musa yg dari kayu itu diblempar oleh Musa dan kayu itu benar2 menjadi ular yang nyata kemudian para tukang sihir pun tersungkur sujud.
Fir'aun pun mengancam para tukang sihir dg ancaman ingin memotong tangan dan kaki secara bersilangan dan tukang sihir pun menjawab tidak ada masalah karena tukang sihir yakin bahwa ini sebuah kebenaran akan adanya Allah yaitu Tuhannya Nabi Musa.
Fir'aun menolak karena kesombongan dan merasa tinggi hal ini yg menyebabkan tidak mau menerima Al Haq .
Sebagianmana firman Allah Ta'ala
بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَآ أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ
وعَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” (QS. An Naml: 14).
Fir’aun berkata sebagaimana dalam Al-Quran,
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى
Fir’aun berkata, “Aku adalah rabb kalian yang paling tinggi”. (QS : An Nazi’at: 24).
2 lawan sifat tadi adalah
1. Qona'ah yaitu merasa cukup atas nikmat yang Allah berikan kepada dia
2. Zuhud adalah seseorang tidak mengejar kelebihan dari keduniawian
Orang yang merasa tinggi dan sombong adalah karena orang tsb dipastikan tidak mempunya sifat qona'ah dan Zuhud.
Orang yang merasa tinggi dan sombong adalah karena orang tsb dipastikan tidak mempunya sifat qona'ah dan Zuhud.
Dikisahkan oleh seorang ulama yang mempunyai sifat Zuhud yang luar biasa sebagaimana yg disebutkan oleh Al Imam Al Dzahali dalam biografi Al Imam Al Ansi, beliau apabila keluar rumah dari masjid beliau selalu menggenggam tangan kanannya di atas tangan kirinya. Lalu ditanya kenapa melakukan itu ? Jawab beliau : saya khawatir kerusakan yang dimunculkan dari tangan ku".
Hal ini beliau lakukan agar tangannya tidak melakukan kerusakan dan untuk menahan kesombongan, karena saya takut ketika kesombongan/merasa tinggi itu muncul di dalam diri saya maka saya akan menolak kebenaran sebagaimana dalam hadist Nabi
"Tidak akan masuk surga orang2 yang memasukkan ke dalam dirinya seberat biji sawi berupa kesombongan".
--------+
sebab orang sulit menerima kebenaran. Ada pula sifat yang mudah menerima kebenaran.
Yang perlu dipahami, manusia hanyalah pemberi peringatan atau mengajarkan ilmu. Namun untuk membuat seseorang menjadi baik dan dapat hidayah adalah wewenang Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (7) إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (8) وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ (9) وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (10) إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (11)
Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (QS. Yasin: 7-11)
Subscribe to:
Posts (Atom)