Wednesday, February 19, 2020

bab aqidah... selamatkan anakmu dari bahaya syirik


┏🔰━━━━━━━━━━━┓
*SELAMATKAN ANAKMU DARI BAHAYA SYIRIK !!*
┗━━━━━━━━━━━━━┛
Oleh: _Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc_

♨️ Anak tak hanya bisa menderita sakit pada fisiknya, tetapi dapat sakit pula hatinya, seperti penyakit syirik, yaitu menyekutukan Allah ﷻ. Tentu hal ini lebih berbahaya daripada sakit badannya, karena sakitnya badan tak menghapus amal shalih, dan tidak mengeluarkan dari Islam.

🔥 Sebaliknya, penyakit syirik dapat menghapus amal shalih, tidak diampuni dosanya, bahkan bisa jadi keluar dari agama. Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

_Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi._ (QS. az-Zumar: 65)

⛔ Di antara larangan terbesar yang Allah ﷻ sampaikan kepada hamba ialah larangan berbuat syirik, karena syirik menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya dan dosa yang paling besar. Oleh karena itu, orang tua hendaknya melarang anaknya agar tidak berbuat syirik. Allah ﷻ berfirman mengisahkan percakapan Luqman dan anaknya:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

⚠️ _Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar._ (QS. Luqman: 13)

🔖 Ibnu Katsir رحمه الله berkata, “Allah ﷻ menjelaskan wasiat Luqman kepada anaknya, namanya Luqman bin Anqa’ bin Saddun, sedangkan anaknya bernama Tsaran menurut yang diceritakan oleh as-Suhaili. Allah ﷻ menyebutnya dengan sebutan yang baik dan memberi hikmah kepada Luqman. Yaitu, dia berwasiat kepada anaknya yang paling disayangi, dan ini merupakan nikmat yang harus dimaklumi. Oleh karena itu, pertama kali yang diwasiatkan oleh orang tua kepada anaknya, hendaknya agar hanya beribadah kepada Allah ﷻ dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Luqman mengajari anaknya, bahwa syirik adalah kezaliman yang besar.” (Tafsir Ibnu Katsir: 6/336)

📝 Tulisan ini hanyalah ringkasan...
Simak artikel selengkapnya, *klik*👇
https://maribaraja.com/selamatkan-anakmu-dari-bahaya-syirik/

*PENTINGNYA DO'A*

💫 Orang tua tidak cukup berusaha agar anaknya tidak berbuat syirik, lebih daripada itu hendaknya sering berdoa kepada Allah agar anaknya dijauhkan dari perbuatan syirik. Hal itu karena syirik merupakan perkara yang sangat samar, bagaikan jejak langkah kaki semut hitam yang berjalan di atas batu hitam pada malam hari yang gelap gulita, nyaris tak tampak, hal ini sebagaimana diterangkan Ibnu Abbas رضي الله عنهما. Juga karena orang yang sudah beriman pun masih sering jatuh kepada perbuatan syirik. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

_Dan kebanyakan dari mereka tidak beriman kepada Allah, kecuali mereka dalam keadaan berbuat syirik._ (QS. Yusuf: 106)

✅ Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan orang tua agar anak mereka jauh dari kesyirikan, diantaranya;

▪️Jelaskan apa itu syirik, serta bahaya dan konsekuensi bagi pelakunya.

▪️Pahamkan kepada anak agar selalu merasa diawasi oleh Allah ﷻ

▪️Wasiat kepada mereka untuk menjadi ahli tauhid sejati.

▪️Jelaskan pula tentang bahaya ‘Syirik Tersembunyi’ (Riya).

Dan masih banyak lagi...
🔍 Simak penjelasannya yang lebih rinci, *klik tautan* ⏬
https://wp.me/pa7ASR-1d3

*🔰Semoga bermanfaat.*
Diterbitkan oleh: _Lajnah Dakwah Yayasan Maribaraja_


Tuesday, February 18, 2020

siapa kah orang yg mati itu??




                   *💥 SIAPAKAH ORANG YANG MATI ? 💥*

❅ https://t.me/MuliaDenganSunnah

✍🏽 *Ustadz Najmi Umar Bakkar*

Orang yang mati adalah orang yang hatinya tidak ada kehidupan. Hati seperti ini tidak mengenal Rabbnya, tidak menyembah-Nya dengan menjalankan berbagai perintah-Nya sesuai dengan apa yang telah Allah cintai...

*Salah seorang diantara orang-orang shalih terdahulu pernah berkata :*

يَا عَجَبًا مِنَ النَّاسِ يَبْكُوْنَ عَلَى مَنْ مَاتَ جَسَدُهُ وَلاَ يَبْكُوْنَ عَلَى مَنْ مَاتَ قَلْبُهُ وَهُوَ أَشَدُّ

"Alangkah mengherankan pada diri manusia, mereka menangisi orang yang mati jasadnya tetapi mereka tidak menangisi orang yang telah mati hatinya, padahal itu lebih utama (untuk ditangisi)" (Tazkiyatun Nufus hal 44 oleh Dr. Ahmad Farid)

قيل لابن مسعود رضي الله عنه: من ميت الأحياء؟
فقال: الذي لا يعرف معروفا ولا ينكر منكرا

*Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu ditanya* : "Siapakah orang mati (di antara orang-orang) yang hidup ?” Dia menjawab : "Orang yang tidak tahu perkara yang baik dan juga tidak mengingkari kemungkaran" (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf VII/504 dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa' 1/375)

*Imam Ibnul Jauzi rahimahullah* berkata :

ليس الميت من خرجت روحه من جنبيه، وإنما الميت من لا يفقه ماذا لربه من الحقوق عليه

"Bukanlah orang yang mati itu adalah orang yang ruhnya telah keluar dari tubuhnya, tetapi orang yang telah mati adalah orang yang tidak memahami apa hak-hak Rabbnya terhadap dirinya" (At-Tadzkirah hal 18)

*Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :*

الرَّجُــلُ: هُوَ الَّذِي يَخَافُ مَــوْتَ قَلْبِــہ ، لَا مَوْتَ بَدَنِــہ ِ، إِذْ أَكْثَرُ هَــؤُلَاءِ الْخَلْقِ يَخَافُونَ مَوْتَ أَبْدَانِهــِمْ، وَلَا يُبَالُـــونَ بِمَوْتِ قُلُوبِهِمْ

"Seorang laki-laki (yang sejati) itu adalah yang merasa takut akan kematian hatinya, dan dia tidak merasa takut akan kematian badannya. Karena kebanyakan orang justru takut dengan kematian badan mereka, tetapi tidak perduli dengan kematian hati mereka" (Madaarijus Saalikin III/248)

*Sebagian ahli hikmah telah berkata :*

الْمُسِيْءُ مَيـِتٌ وَإِنْ كَانَ فِي دَارِ الْحَيَاةِ وَالْمُحْسِنُ حَيٌّ وَإِنْ كَانَ فِي دَارِ الْأَمْوَاتِ

"Orang yang berbuat jahat (sejatinya) adalah mayat walaupun ia hidup di dunia, dan orang yang berbuat baik (hakikatnya) adalah hidup meskipun dia berada di negeri kematian (di dalam kubur)" (Fawaaid min Kitab Adabid Dunya wad Diin hal 4 oleh Imam al-Mawardi)

*Imam al-'Utsaimin rahimahullah berkata :*

العالم حي بعد مماته، والجاهل ميت في حياته

"Orang yang berilmu adalah orang yang hidup (namanya) setelah kematiannya, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang mati di masa hidupnya" (Adh-Dhiya' al-Lami’ hal 15)

Betapa seringnya hati ini mudah merasa iba saat melihat manusia yang miskin papa, tapi kenapa jarang merasa iba terlebih berduka saat melihat manusia yang bodoh yang tidak mau mempelajari agama...

*Ketahuilah,* kebodohan di dalam agama ini dapat memperlama penghisaban dan bisa menggiring pelakunya masuk ke Neraka, karena banyaknya kewajiban yang tidak dia ketahui hingga membuatnya celaka...

*Oh...betapa malangnya hati yang mati, yang berkelana memburu dunia dan malas meniti jalan menuju akhirat, padahal semuanya akan kembali dan berakhir disana...*

*Oh...betapa malangnya hati yang buta, yang tidak sabar menahan kepahitan sesaat, dan dia lebih memilih kehinaan sepanjang abad dengan cara melakukan berbagai maksiat...*

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

"Maka sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada" (QS. Al-Hajj [22]: 46)

📑 Artikel Cahaya Sunnah
✒ Editor : Admin Asy-Syamil.com

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

                                               
                                            ___🍃🕋🍃___
.

materi nadar 10-20

📚 *MATERI 10 : CONTOH KALIMAT MUBTADA KHOBAR* 📚
_________________________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

✍🏻 Diantara Ketentuan mubtada dan khabar adalah,

 1⃣ Bila _*mubtada-nya*_ *mufrad* maka _*khabar-nya*_ pun harus *mufrad*

        Contoh :
🍃 المُدَرِّسُ جَالِسٌ
         ( _Guru tersebut duduk_ )

          👉 _Al mudarrisu_ adalah isim *mufrad*,
_jaalisun_  juga isim *mufrad*.

          👉 Tanda Marfu' keduanya adalah dhammah.

 2⃣ Bila _*mubtada-nya*_ *mutsanna atau jamak* maka _*khabar-nya*_ pun harus *mutsanna atau jamak*

        Contoh :
         🔖 *Mutsanna*
🍃 المُدَرِّسَانِ جَالِسَانِ
               ( _Dua guru tersebut duduk_ )

                 👉 _al mudarrisaani_ isim *mutsanna*. Maka _jaalisaani_ yang merupakan khobarnya pun isim *mutsanna*.

                 👉 Tanda marfu' dari keduanya adalah *alif*.

          🔖 *Jamak*
🍃 المُدَرِّسُونَ جَالِسُوْنَ
               ( _Para guru tersebut duduk_ )

                  👉 _Al mudarrisuuna_ dan
_jaalisuuna_  keduanya adalah *jamak mudzakkar salim*. Tanda rafa'nya adalah wawu ( و ).

3⃣ Bila _*mubtada-nya*_ *muannats* maka _*khabar-nya*_ pun harus *muannats* pula,  demikian juga bila *mudzakkar*.

        🔖 Contoh yang  mudzakkar sebagaimana yang ada pada poin 1 dan 2.

        🔖 *Contoh muannats*,
🍃 المُدَرِّسَةُ جَالِسَةٌ
             ( _Guru Perempuan tersebut duduk_ )

🍃 المُدَرِّسَتَانِ جَالِسَتَانِ
             ( _Dua guru Perempuan tersebut duduk_ )

🍃 المُدَرِّسَاتُ جَالِسَاتٌ
             ( _Para guru Perempuan tersebut duduk_ )

📍 *KESIMPULAN*
        Dari contoh-contoh di atas, dapat kita simpulkan bahwa mubtada' dan khobar memiliki *kesesuaian* dalam hal,
         🔖 *Jenis* (Mudzakkar/Muannats)
         🔖 *Jumlah* (Mufrad/Mutsanna/Jamak)
         🔖 *I'rab* (Rafa')

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم

_________________
✒ Tim Nadwa

______________________
________________________




 📚 *MATERI 12 :  I'ROB FI'IL* 📚
__________________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

✍ Kita masuk pembahasan tentang i'rob pada fi'il


🏷 Sebagian fi'il ada yang *mabni* (tidak berubah akhiran katanya) dan ada yang *mu'rob* (berubah  akhiran katanya).

🏷 Yang termasuk *fi'il mabni* ada 2, yaitu:
       1⃣ *Fi'il madhi*
       2⃣ *Fi'il amr*

🏷 Yang termasuk *fi'il mu'rob* adalah *hanya* fi'il mudhari'.

🏷 Sebagaimana yang kita ketahui sebelumnya bahwa i'rab terbagi atas 4 jenis, namun *perlu diperhatikan bahwa i'rab pada fi'il mudhari' hanya berlaku 3 jenis saja*, yaitu :

       1⃣ *Marfu'/rafa' (مَرْفُوْعٌ/رَفْعٌ)*

               🌱 Contohnya :
🍃 أَذْهَبُ
                   (saya sedang/akan pergi)

               📌 Berharakat dhommah diakhir adalah *tanda asal* fi'il mudhari'.

       2⃣ *Manshub/nashab (مَنْصُوْبٌ/نَصْبٌ)*

               🌱 Contohnya :
🍃 لَنْ أَذْهَبَ
                    (saya tidak akan pergi)

               📌 Kata "لَنْ" berfungsi/menjadi *sebab manshubnya* fi'il mudhari'.

       3⃣ *Majzum/jazm (مَجْزُوْمٌ/جَزْمٌ)*

               🌱 Contohnya :
🍃 لَمْ أَذْهَبْ
                  (saya tidak pergi)

               📌 Kata "لَمْ" berfungsi/menjadi *sebab majzumnya* fi'il mudhari'.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم

_______________
✒ Tim Nadwa

===============================


📚 *MATERI 13 : FI'IL DAN FA'IL* 📚
_____________________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

1⃣ *Fi'il* adalah setiap kata yang memiliki *makna* dan *terikat dengan waktu*. Dalam bahasa Indonesia Fi'il disebut *kata kerja/Predikat*. Misal,
🍃 ذَهَبَ ( _telah pergi_ )
🍃 يَذْهَبُ ( _sedang/akan pergi_ )
🍃 اِذْهَبْ ( _pergilah_ )

2⃣ *Fa'il* adalah *isim marfu'* yang terletak *setelah fi'il ma'lum* (kata kerja aktif) yang menunjukkan siapa yang melakukan perbuatan. Dalam bahasa Indonesia Fa'il disebut dengan *Subyek*.

3⃣ *Contoh kalimat* :
🌱 يَذْهَبُ زَيْدٌ
        ( _Zaid sedang pergi_ )
     🍃 يَذْهَبُ : fi'il
     🍃 زَيْدٌ : fa'il
       📍 *Kedua kata tersebut*,
                🔖 *mufrod* (tunggal),
                🔖 sama dari segi *jenisnya* yaitu *mudzakar*,
                🔖 dan *marfu'* dengan tanda dhommah untuk menunjukkan bahwa ia adalah *fa'il (subyek).* Dan fa'il (subyek) adalah *inti kalimat.*

4⃣ Kalimat,
🍃 يَذْهَبُ زَيْدٌ
        ( _Zaid sedang pergi_ )
         👉🏻 adalah *Jumlah Fi'liyyah*, yaitu kalimat yang *didahului oleh fi'il* (kata kerja).

 و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم

___________________
✒ Tim Nadwa

==========================


 📚 *MATERI 11: FI'IL* 📚
_________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

*Fi'il* adalah kata yang memiliki makna *yang terikat dengan waktu*, dan berdasarkan waktunya fi'il terbagi menjadi *tiga* yaitu :

1⃣ *Fi'il madhi / الفِعْلُ المَاضِيْ*

        Fi'il madhi adalah fi'il yang menunjukkan kejadian pada *waktu lampau*.
        🌱 Contohnya :
🍃 ذَهَبَ
          ( _Dia (lk) *telah* pergi_ )


2⃣ *Fi'il mudhari' / الفِعْلُ المُضَارِعُ*

        Fi'il mudhari' adalah fi'il yang menunjukkan kejadian pada waktu *sekarang* atau *akan datang*.
        🌱 Contohnya :
🍃 يَذْهَبُ
          ( _Dia (lk) *sedang/akan* pergi_ )


3⃣ *Fi'il amr / الفِعْلُ الأَمْرُ*

        Fi'il amr adalah fi'il yang menunjukkan *perintah*, yang berarti harus dikerjakan pada waktu akan datang (yakni setelah adanya perintah).
        🌱 Contohnya :
🍃 اِذْهَبْ
          ( _Pergilah kamu!_ )

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم


_________________
✒ Tim Nadwa

=============================


📚 *MATERI 16 : MAF'UL BIH* 📚
______________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

🔖 *Maf'ul bih* adalah isim yg berperan sebagai   *objek* atau sesuatu yang *dikenai pekerjaan* failnya.

🔖 Hukum Maf'ul bih adalah *manshub dalam i'rob*

        🌱 *Contoh* :
🍃 كَتَبَ الطَّالِبُ *الدَّرْسَ*

                👉🏻 Kata  الدَّرْسَ dalam kalimat diatas berperan sebagai *objek*, atau yang di kenai pekerjaan. Dalam bahasa arab di sebut *Maf'ul bih*.

               📍 Perhatikan *harokat akhir* pada kata  الدَّرْسَ !
                      Di sana nampak *huruf akhir kata* tersebut berharakat *fathah*. Dan fathah merupakan salah satu tanda *i'rob* untuk isim yang *manshub*. Dan maf'ul bih itu i'robnya *manshub*.
                 👉🏻 Maka الدَّرْسَ *manshub dengan harokat fathah*.

        🌱 *Contoh yang lain* :
🍃 حَمِلَ حَامِدٌ *الكِتَابَيْنِ*
             ( _Hamid membawa *dua buku*_ )
              📍 Kita perhatikan kalimat di atas, bahwa yg berkedudukan sebagai *maf'ul bih* adalah kata *الكِتَابَيْنِ*.
                   Karena kata الكِتَابَيْنِ adalah bentuk *mutsanna* (dua) dari kata الكِتَابُ, dan kita tahu bahwa i'rob maf'ul bih itu adalah manshub.
                 👉🏻 Maka الكِتَابَيْنِ *manshubnya dengan huruf ya'*.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم


_________________
✒ Tim Nadwa

==========================


📚 *MATERI 14: KAIDAH FI'IL DAN FA'IL* 📚
______________________________________

بسم ﷲ الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاۃ والسلام علی رسول ﷲ

Ikhwatii fillaah... Kita akan memasuki pembahasan "kaidah fi'il dan fa'il dan contoh-contohnya".

🏷 Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kalimat yang dimulai dengan fi'il disebut dengan *jumlah fi'liyyah*.

🏷 Jumlah fi'liyyah ini memiliki beberapa kaidah yaitu :

1⃣ *Fi'il selalu bersesuaian jenis dengan fa'ilnya.*

         📌 Jika fa'ilnya berupa isim mudzakkar fi'ilnya juga mudzakkar

                 👉 Contoh :

🍃 كَتَبَ أَحْمَدُ
            (Ahmad telah menulis)
🍃 يَكْتُبُ أَحْمَدُ
            (Ahmad sedang/akan menulis)

        📌 Jika *fa'ilnya* berupa *isim muannats* maka fi'ilnya juga muannats dengan diberi tanda muannats yaitu menambahkan *ta' sukun (تْ) di akhir fi'il madhi* dan *ta' berharakat di awal fi'il mudhari*.

               👉 Contoh :
🍃 دَرَسَتْ عَائِشَةُ
            (Aisyah telah belajar)
🍃 تَدْرُسُ عَائِشَةُ
            (Aisyah sedang/akan belajar)

2⃣ *Fi'il selalu dalam keadaan mufrad*

          📌 Meskipun fa'ilnya berupa isim mutsanna atau jamak maka *fi'ilnya tetap mufrad (tunggal)*

                  👉 Contoh,

                         🌱 Untuk mudzakkar :
سَمِعَ / يَسْمَعُ الطَّالِبُ =
Pelajar (lk) itu telah / sedang mendengar
         يَسْمَعُ الطَّالِبَانِ =
Dua pelajar (lk) itu sedang mendengar
         يَسْمَعُ الطُّلَابُ =
Para pelajar (lk) itu sedang mendengar

                         🌱 Untuk muannats :
سَمِعَتْ / تَسْمَعُ الطَّالِبَةُ
Pelajar (pr) itu telah / sedang mendengar
             تَسْمَعُ الطَّالِبَتَانِ =
Dua pelajar (pr) itu sedang mendengar
             تَسْمَعُ الطَّالِبَاتُ =
Para pelajar (pr) itu sedang mendengar

📝Keterangan :
▪سَمِعَ = dia (lk) telah mendengar
▪يَسْمَعُ = dia (lk) sedang/telah mendengar
▪سَمِعَتْ = dia (pr) telah mendengar
▪تَسْمَعُ = dia (pr) sedang/akan mendengar

3⃣ *Fa'il harus dalam keadaan marfu' (ber-i'rab rafa')**, untuk menandakan bahwa ia inti kalimat.
*Tanda i'rab rafa' isim dapat dilihat pada materi 8.


وصلی ﷲ علی نبينا محمد وعلی آله وصحبه وسلم

__________________
✒ Tim Nadwa

========================


📚 *VIDEO 20 : IDHAFAH* 📚
_______________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

Ketika satu kata kurang bisa menyampaikan maksud kita, sering kita tambahkan kepadanya kata yang lain sebagai penjelas, sehingga menjadi susunan beberapa kata atau dalam Bahasa Arab kita sebut *murakkab* (المُرَكَّب).

Salah satu bentuk murakkab adalah idhafah (الإضافة), yaitu :

نِسْبَةُ اسْمٍ إِلَى اسْمٍ أٓخَرَ
_hubungan/kaitan suatu isim kepada isim yang lain_

Dari pengertian ini kita bisa ambil poin pentingnya, bahwa :

🏕 _*1. Idhafah merupakan susunan dua isim.*_

         ⛱ a. Isim pertama kita sebut *mudhaf* (مضاف), yakni isim yang *disandarkan*, atau yang memerlukan penjelasan.

         ⛱ b. Isim kedua kita sebut *mudhaf ilaih* (مضاف إليه), yakni isim yang menjadi sandaran, atau yang menjadi *pengkhususan/ penjelasan*.

               Misal:
رَسُوْلُ اللهِ
            ( _Utusan Allah_ )

           📍 Kita lihat bahwa kata pertama adalah رسول, maka رسول  adalah *mudhaf*, dan lafadz الله  sebagai *mudhaf ilaih*. 

                 👉🏻 Ketika kita mengatakan رسول kemudian berhenti, maka pendengar masih akan bertanya-tanya, رسول yang mana yang dibicarakan.  Namun dengan kita tambahkan lafadz الله, maka mereka menjadi paham bahwa kita sedang membicarakan Utusan Allah atau Rasul Allah. 

           📍 Kemudian, karena mudhaf telah  mempunyai mudhaf ilaih, atau isim yang menjelaskan, maka *mudhaf tidak boleh bertanwin*.

🏕 _*2. Kedua isim tersebut mempunyai keterkaitan makna secara khusus*_:

        ⛱ a. Menjelaskan *pemilikan/ peruntukan*, atau makna huruf jar *lam* (اللام), misal:

رَسُوْلُ  اللهِ  💡  رَسُوْلٌ لِلهِ
_Utusan Allah_ atau _utusan yang dimiliki oleh Allah_

       ⛱ b. Menjelaskan *jenis*, atau makna huruf jar *min* (مِن), misal :

بَابُ الحَدِيْدِ  💡 بَابٌ مِن الحَدِيْدِ
_Pintu besi_ atau _pintu yang terbuat dari bahan besi._

       ⛱ c. Menjelaskan *waktu atau tempat*, atau makna huruf jar *fi* (في), misal :

طَالِبُ المَعْهَدِ  💡 طَالِبٌ فِي المَعْهَدِ
_Siswa ma’had_ atau _siswa yang belajar di ma’had_

💡 Karena hubungan antara mudhaf dan mudhaf ilaih memiliki makna huruf jar, maka *mudhaf ilaih selalu majrur*.

Semoga bermanfaat.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم

________________
✒ Tim Nadwa
[18/2 19.47] Agent Resmi Umi Travel: EBOOK BARU EDISI ANAK-ANAK

Kami hadirkan ebook latihan membaca dan menulis Bahasa Arab untuk anak-anak dengan desain yang insya Allah menarik. Berikut ini link downloadnya:

bit.ly/qiroah-kitabah-anak

Dan kami share ulang ebook Teknik Mengajar Bahasa Arab untuk Anak, semoga para orang tua bisa mengambil manfaatnya:

bit.ly/bahasa-arab-anak

Silakan dibagikan sebanyak-banyaknya

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya (HR. Muslim 3509)
[18/2 19.47] Agent Resmi Umi Travel: 🌱 *Penjelasan Soal Materi 17 no. 5* 🌱

Di dalam g-form terdapat 2 jawaban. Berikut penjelasannya,

🔖 *Maf'ul bih*
Maf'ul bih adalah sesuatu yang dikenai pekerjaan. Dan fi'il yg digunakan pada jumlah dengan naibul fa'il adalah pasif. Sehingga, naibul fa'il ini menjadi subyek dalam kalimat pasif. Subyek dalam kalimat pasif = obyek (maf'ul bih). Sehingga, *makna dari naibul fa'il adalah maf'ul bih*. Demikian yg dimaksud dalam soal.

Contoh,
نُصِرَ زَيْدٌ
-> Zaid ditolong

👉🏻 Zaid pada kalimat tersebut adalah Naibul Fa'il (pengganti fa'il) secara i'rab. Adapun secara makna, maka kita dapati bahwa sesungguhnya Zaid adalah objek dari aktivitas menolong.

🔖 *Tidak ada jawaban*
Opsi ini dibenarkan sementara, untuk mentolerir kemungkinan adanya pemahaman maksud kata "makna" dalam soal sebagai "arti". Sehingga memahami bahwa yang dimaksud dalam soal adalah "arti naibul fa'il".


________________
✒ Tim Nadar📚

=====================


📚 *VIDEO 18 : MAJRURNYA ISIM* 📚
____________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

*Tanda-tanda Isim Majrur :*

1⃣ Harakat *Kasrah* (ِ-)
       Kasrah merupakan tanda asal isim majrur. Isim-isim yang tanda majrurnya kasrah adalah :
        🔖 *Isim Mufrad*,          misalnya :
🍃 مُحَمَّدٍ
        🔖 *Jama' Taksir*, misalnya :
🍃 رُسُلٍ
             ( _Para rasul/utusan_ )
        🔖 *Jama' Muannats Salim*, misalnya :
🍃 مُؤمِنَاتٍ
             ( _Para perempuan yang beriman_ )

2⃣ Huruf *ya'* (ي)
       Isim-isim yang tanda majrurnya huruf ya' (ي) adalah :
        🔖 *Al-Asmaa`ul Khamsah*, misalnya :
🍃 أَخِيْكَ
             ( _Saudara laki-lakimu_ )
        🔖 *Isim Mutsanna*, misalnya :
🍃 وَالِدَيْنِ
             ( _Kedua orangtua_ )
        🔖 *Jama' Mudzakkar Salim*, misalnya :
🍃 مُسْلِمِيْنَ
             ( _Orang-orang yang berislam_ )

3⃣ Harakat *Fathah* (َ-)
       Isim yang tanda majrurnya harakat fathah adalah :
        🔖 Isim *Ghairu Munsharif*, misalnya :
🍃 عَائِشَةَ

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم


_________________
✒ Tim Nadwa


======================

📚 *MATERI 19 : ISIM MAJRUR* 📚
______________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

🔷 *Definisi Jar*
        *Jar* merupakan salah satu diantara 3 macam *I'rob* untuk *isim*. Dimana kalimah ( Bahasa Indonesia : *Kata* ) yang berhukum jar di sebut *majrur*. Dan tanda asli majrur adalah dengan harokat *kasroh*.

🔷 *Kapan isim berhukum jar?*
         Isim wajib berhukum jar salah satu sebabnya adalah bila *didahului oleh huruf -huruf jar*.

🔷 *Apa itu huruf  jar?*
         Huruf jar adalah  huruf yang bila mendahului suatu isim maka isim setelah huruf tersebut menjadi *majrur*. Huruf-huruf tersebut antara lain :
🍃 مِنْ : dari
🍃 إِلَى : ke
🍃 عَنْ : dari, tentang
🍃 عَلَى : di atas
🍃 فِيْ : di dalam
🍃 لِ : milik
🍃 بِ : dengan
🍃 وَ : demi
🍃 تَ : demi
🍃 كَ : seperti
🍃 حَتَّى : sampai
🍃 رُبَّ : betapa banyak

📍 *Kita perhatikan contoh berikut ini* :
🍃 الكِتَابُ   : عَلَى الكِتَابِ
         ( _Di atas buku_ : _Buku_ )
🍃 البَيْتُ    :  في البَيْتِ
         ( _Di dalam rumah_ : _Rumah_ )

           👉🏻 Dari contoh diatas bisa kita bedakan bahwa *isim yang di dahului oleh salah satu huruf jar, maka i'robnya menjadi jar*.

📍 *Contoh yang lain* :
🔖 العِلْمُ *كَالنُّوْرِ*
         ( _Ilmu itu *seperti cahaya*_ )
🔖 السَّاعَۃُ *عَلَی السَّرِيْرِ*
         ( _Jam tangan itu *di atas kasur*_ )

           👉🏻 Dari dua contoh diatas, isim menjadi majrur bila *didahului oleh huruf jar*.

___________________
📌 *CATATAN*
         📍 Penulisan huruf jar yang terdiri dari *satu huruf*, seperti :
بِ، كَ، تَ
                Jika setelahnya adalah isim ber ال, maka penulisan alifnya ( ا ) *bersambung dengan huruf jar*. Seperti,
🍃 بِالْقَلَمِ ( Dibaca : _bilqolami_ )
           ( _Dengan pena_ )
🍃 كَالْنُّوْرِ ( Dibaca : _kannuuri_ )
           ( _Seperti cahaya_ )
🍃 تَاللّٰهِ ( Dibaca : _tallaahi_ )
           ( _Demi Allah_ )
           👉🏻 Di dalam syariat Islam, kita hanya boleh bersumpah dengan nama Allah saja.
       📍 Khusus untuk huruf jar لِ, jika setelahnya adalah isim ber ال, maka *alifnya dihilangkan*. Kemudian, huruf *lam yang tersisa* ditulis *bersambung dengan huruf jar*. Misal,
🍃 لِ + الزَّهْرَاء -> لِلزَّهْرَاءِ
            ( Dibaca : _lizzahro'_ )
            ( _Milik Az-zahro'_ )

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم


_________________
✒ Tim Nadwa

====================


📚 *MATERI 17 : NAIBUL FA'IL* 📚
__________________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

Seperti halnya dalam Bahasa Indonesia, dalam Bahasa Arab ada kalimat aktif dan kalimat pasif. 

Unsur pembentuk kalimat aktif adalah *fi’il ma’lum* (kata kerja aktif) dan *fa'il*, sedangkan kalimat pasif adalah *fi’il majhul* (kata kerja pasif) dan *naibul fa'il*.

Ketika kita hendak mengubah kalimat aktif menjadi *pasif*, yang kita lakukan adalah :

1⃣ *Menghilangkan fa'ilnya*
        Kalimat pasif digunakan karena kita tidak ingin menunjukkan fa'ilnya, dan sebaliknya lebih menonjolkan maf’ul bih.

         🔖 *Misal pada kalimat* :
🍃 كَتَبَ الطَّالِبُ الدَّرْسَ
                ( _Siswa itu telah menulis pelajaran tersebut_ )

                 Yang pertama kita lakukan adalah menghilangkan fa'ilnya, yaitu :  الطالب.

2⃣ *Mengubah fi’ilnya menjadi bentuk majhul* (pasif)
         Fi’il majhul dibentuk dari fi’il muta’adi ( fi’il yang *membutuhkan obyek* ), dengan cara :

            ✏ *Fi’il madhi* :
                    Harakat huruf pertama dijadikan *dhammah*, dan harakat huruf sebelum terakhir *dikasrah*.

              👉🏻 Misal kita ambil contoh kalimat di atas :

🍃 كَتَبَ الطَّالِبُ الدَّرْسَ

               Fi’ilnya adalah fi’il madhi : كتب, maka kita ubah fi’il ini dengan cara memberikan harakat *dhamah pada huruf pertama* dan harakat *kasrah pada huruf sebelum terakhirnya*, seperti ini:
📌 كَتَبَ – كُتِبَ

             ✏ *Fi’il mudhari* :
                      Harakat huruf pertama dijadikan *dhammah*, dan harakat huruf sebelum terakhir dijadikan *fathah*.

              👉🏻 Misal kita ambil contoh kalimat di atas, tetapi kita ganti fi’ilnya dengan yang mudhari.
🍃 يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ
                 ( _Siswa itu sedang menulis pelajaran tersebut_ )

                👉🏻 Fi’ilnya adalah fi’il mudhari : يكتب, maka kita ubah fi’il ini dengan cara memberikan harakat *dhammah pada huruf pertama* dan harakat *fathah pada huruf sebelum terakhirnya*, seperti ini :
📌 يَكْتُبُ - يُكْتَبُ

3⃣ *Menempatkan maf’ul bih sebagai naibul fa'il, dan mengubahnya menjadi marfu’*

         Karena fa'il yang merupakan unsur pokok kalimat telah dihilangkan, maka perlu disediakan penggantinya, dan inilah yang kita sebut *naibul fa'il* ( ِنَائِبُ الفَاعِل ).

         👉🏻 Naibul fail kita ambil dari *maf’ul bih* yang kita ubah menjadi *marfu’* agar memenuhi syarat sebagai pengganti fa'il.

         👉🏻 Misal pada kalimat di atas :
🍃 كَتَبَ الطَّالِبُ الدَّرْسَ

          Maka maf’ul bih الدرس yang semula berharakat akhir fathah sebagai tanda manshubnya, *diubah menjadi marfu’* dengan harakat dhamah sebagai tanda marfu’nya.

💡 Dengan melalui ketiga langkah di atas, telah kita dapatkan kalimat pasif sebagai berikut :

🖌 كُتِبَ الدَّرْسُ
       ( _Pelajaran itu telah ditulis_ )

Atau

🖌 يُكْتَبُ الدَّرْسُ
       ( _Pelajaran itu sedang ditulis_ )


Semoga bermanfaat.⛱⛱

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم


________________
✒ Tim Nadwa

===========================



 📚 *MATERI 15 : TANDA NASHAB ISIM* 📚
________________________________

بسم الله الرحمن الرحيم
ااحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على رسول الله

Kita telah mengetahui bahwa di antara jenis I'rab kata dalam bahasa Arab adalah *Nashab*.

❓ Apa saja *tanda nashab isim*? Berikut perinciannya,
       🔖 *Fathah* ( َ- )
         Ini merupakan *tanda asal* i'rab *Nashab*. Ada pada,
                🌱 *Mufrad*
🍃 مُحَمَّدًا
🍃 عَائِشَةَ
                🌱 *Jamak Taksir*
🍃 رُسُلًا
                  ( _Para rasul/utusan_ )

       🔖 *Alif* ( ا ). Ada pada,
                🌱 *Al-Asma' Al-Khomsah*
🍃 أَخَاكَ
                  ( _saudara laki-lakimu_ )

       🔖 *Kasrah* ( ِ- ). Ada pada,
                🌱 *Jamak Muannats Salim*
🍃 مُؤْمِنَاتٍ
                  ( _para perempuan yang beriman_ )

        🔖 *Ya'* ( ي ). Ada pada,
                 🌱 *Mutsanna*
🍃 وَالِدَيْنِ
                 ( _orang tua_ )

                 🌱 *Jamak Mudzakkar Salim*
🍃 مُسْلِمِيْنَ
                 ( _Orang-orang yang berislam_ )

_______________________
📌 *Catatan*
       💡 Penulisan *fathatain* ( ً- ) diikuti dengan *alif*. *Kecuali* pada,
               🔖 *ta' marbuthoh* ( ة ), seperti :
🍃 مُسْلِمَةً
                     ( _perempuan yang berislam_ )
🍃 ثَمَرَةً
                     ( _buah_ )
               🔖 dan *hamzah* ( ء ) yang *sebelumnya alif*. Seperti,
🍃 سَمَاءً ( _langit_ )
🍃 إِنْشَاءً ( _esai_ )

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه و سلم


__________________
✒ Tim Nadwa

penyakit hati yg paling berbahaya

PENYAKIT HATI YANG PALING BERBAHAYA (2) 

Pada tulisan yang lalu penulis telah menjelaskan beberapa penyakit hati yang harus dijauhi, 

yaitu: ghadhab (marah), riya (pamer), ujub (membanggakan diri) dan hasad (iri hati). Pada tulisan ini penulis ingin mengetengahkan tiga penyakit hati yang tidak kalah berbahayanya, yaitu: ananiyah (egois), ghibah (ngrasani) dan namimah (adu domba).  Hati merupakan unsur yang sangat berarti bagi diri manusia, tidak hanya yang bersifat materi, lebih-lebih yang immateri. Dalam hal ini Nabi memperingatkan kepada kita:
اَلاَ وَاِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً اِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَاِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ اَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ (رواه البخارى)
“ Ketahuilah, didalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik,baiklah tubuh seluruhnya, dan apabila daging itu rusak, rusaklah tubuh seluruhnya. Ketahuilah olehmu, bahwa segumpal daging itu adalah qalbu (hati)” (H.R. Bukhari).
Hati di sini bisa bersifat materi, tetapi juga yang immateri. Segumpal darah yang bersifat materi ini merupakan organ penting yang memiliki peran dalam kesehatan manusia. Jika hati ini sakit, maka akan berdampak pada organ tubuh yang lain, misalnya mata kuning, kaki dan perut membengkak, dan penyakit inilah yang disebut dengan penyakit liver atau hepatitis.
Dalam pandangan medis, hepatitis dapat merusak fungsi organ hati dan kerja hati sebagai penetral racun dan sistem pencernaan makanan dalam tubuh yang mengurai sari-sari makanan untuk kemudian disebarkan ke seluruh organ tubuh yang sangat penting bagi manusia. Hepatitis merupakan penyakit peradangan hati karena berbagai sebab. Penyebab tersebut adalah beberapa jenis virus yang menyerang dan menyebabkan peradangan dan kerusakan pada sel-sel dan fungsi organ hati. Hepatitis memiliki hubungan yang sangat erat dengan penyakit gangguan fungsi hati. Hepatitis banyak digunakan sebagai penyakit yang masuk ke semua jenis penyakit peradangan pada hati (liver). Penyebab hepatitis juga dapat berasal dari jenis obat-obatan tertentu, jenis makanan tertentu atau bahkan pada hubungan seksual yang salah satu dari pasangan memiliki penyakit hepatitis (https://id.search.yahoo.com/yhs/search?hspart=iba&hsimp=yhs-1&type=mmds_5199_CRW_ID&p).
Berbeda dengan hati pada unsur materi di atas, maka hati dalam unsur immateri bersifat psikologis dan akan tampak dalam perilaku sehari-hari manuisia. Inilah yang tidak kalah pentingnya untuk dijaga. Seperti dijelaskan oleh Zakiah Darajat (Zakiah Darajat, Kesehatan  Mental,1990, p. 56), bahwa penyakit itu terdiri dari dua macam: pertama, adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh gangguan-gangguan kejiwaan telah  berlarut-larut, sehingga mencapai puncaknya tanpa suatu penyelesaian yang wajar, atau dengan kata lain disebabkan oleh hilangnya keseimbangan mental secara menyeluruh akibat kondisi lingkungan yang sangat menekan, ketegangan batin dan sebagainya: kedua, penyakit yang disebabkan oleh adanya kerusakan anggota tubuh, misalnya: otak, sentral saraf atau anggota fisik lain untuk menjalankan tugasnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena keracunan akibat minum-minuman keras, obat-obat perangsang atau narkotik akibat penyakit kotor (sifilis), dan sebagainya. Dengan kata lain ada penyakit organik dan unorganik.
Ananiah (egois)
Ananiah adalah sikap seseorang yang selalu mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan orang lain di sekitarnya. Sifat ini sangat tercela, dan membahayakan di dalam pergaulan di masyarakat. Ananiah termasuk penyakit hati, dan akan berkembang menjadi penyakit sombong, takabur, iri dan dengki. Penyakit ini akan menghinggapi siapa saja tidak pandang itu orang awam, terdidik, atau berpangkat. Penyakit ananiah akan mendatangkan kerugian bagi dirinya sendiri, antara lain: tidak dipedulikan orang lain, bahkan dibenci. Cara menghindari penyakit tesrsebut adalah dengan menyadari bahwa manusia mempunyai hak dan martabat yang sama, dan menyadari bahwa perbuatan ananiah termasuk perbuatan dosa.
Ghibah (Menggunjing)
Ghibah ialah membicarakan aib orang lain, sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Saw yang artinya :
“Tahukah kamu, apakah menggunjing itu? “Sahabat berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Nabi bersabda : “Yaitu kamu menceritakan tentang saudaramu mengenai hal-hal yang dibencinya. Kemudian sahabat bertanya lagi: “Bagaimana, jika yang saya katakan itu sebetulnya terdapat pada saudara tersebut ? Nabi menjawab: “Jika yang kamu katakan itu ada padanya, berarti kamu telah menggunjingnya, dan jika tidak seperti apa yang kamu katakan itu, sungguh kamu telah berbuat dusta tentang dirinya (kamu telah memfitnah). (H.R. Muslim, Abu Daud, Tirmizi dan Nasa’i).
Dalam Al Qur’an Q.S. Al Hujurat [49] : 12 dijelaskan:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa, dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al Hujurat [49] : 12)
Di dalam ayat tersebut diibaratkan, bahwa orang yang gibah itu seperti makan daging bangkai saudaranya sendiri. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Hadis Nabi :
عَنْ جَابِرٍ وَاَبِى سَعِيْدٍ قَالاَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِيَاكُمْ وَالْغِيْبَةَ فَاِنَّ الْغِيْبَةَ اَشَدُّ مِنَ الزِّنَا قِيْلَ لَهُ كَيْفَ قَالَ اِنَّ الرَّجُلَ يَزْنِى وَيَتُوبُ اللهُ عَلَيْهِ وَاِنَّ صَاحِبَ الغِيْبَةِ لاَيَغْفِرُ لَهُ حَتَّى يَغْفِرَ لَهُ صَاحِبَهُ (اخرجه البيهقى والطبرنى وابوالشيخ وابن ابى الدنيا)
“Dari Jabir dan Abu Sa'id mereka berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda: Jauhilah olehmu sifat ghibah karena ghibah itu lebih besar dosanya dari pada zina. Ditanyakan kepada Rasul "bagaimana bisa?" Rasulullah menjawab: seorang laki-laki berzina kemudian bertaubat Allah akan mengampuni kepadanya dan orang yang mempunyai sifat ghibah Allah tidak akan mengampuninya sehingga temannya mau mengampuninya.
Jadi dosa ghibah tidak akan diampuni oleh Allah sebelum orang lain (yang digunjing) mau mengampuninya. Dosa kepada Allah mudah untuk minta ampun, sedangkan dosa terhadap orang lain Allah belum mau mengampuni jika belum meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Bahaya sifat ghibah antara lain, menimbulkan rasa permusuhan dengan orang lain, memutuskan persaudaraan di kalangan manusia  dan menimbulkan perbuatan fitnah(https://id.search.yahoo.com/yhs/)..
Namimah (adu domba) 
Namimah artinya adu domba yaitu  usaha untuk membuat orang lain saling bermusuhan. Sikap namimah sangat dibenci Islam, karena dapat membuat persaudaraan menjadi pecah sehingga dapat melumpuhkan (melemahkan)  kekuatan persaudaraan (ukhuwwah). Orang yang mempunyai sifat namimah tidak akan masuk surga seperti dadijelaskan dalam hadis Nabi Saw :
عَنْ حُذَ يْفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَامٌ (اخرجه الشيخان)
Diriwayatkan dari Hudzaifah dia berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda: "tidak akan masuk surga orang yang suka adu domba". (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda, yang artinya:
“Yang amat dicintai Allah Swt. ialah yang terbaik akhlaknya, yang dermawan lagi gemar menjamu orang, yang dapat menyesuaikan diri lagi dapat diikuti penyesuaian dirinya itu, sedang yang amat dibenci di sisi Allah ialah orang-orang yang suka berjalan dengan berbuat adu domba, yang memecah belah antara saudara-saudara, lagi pula mencari-cari alasan untuk melepaskan diri dari kesalahan-kesalahan”. (H.R. Ahmad).
Dalam kehidupan bermasyarakat sifat namimah  akan menimbulkan terjadinya konflik. Oleh karena itu sifat namimah harus selalu dijauhi oleh semua orang, terutama bagi orang-orang terdidik, supaya ketenteraman dalam kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi dapat terjaga. Allahumma jannibna ‘an al-akhlaq al-mazmumah...
(Author)

Monday, February 17, 2020

sanad

Bismillahirahmanirrahi.
Sanad artinya sandaran yang dapat dipercaya atau bukti (menurut bahasa). Sedangkan menurut istilah, sanad adalah rantai yang menghubungkan pembawa berita (rawi/ periwayat) sebuah matn atau teks (lafazh) kepada pembicara (bila berupa perkataan) atau penulisnya (bila berupa tulisan).

Teks/ lafazh yang dibawa atau diriwayatkan oleh perawi dapat berupa kitab, seperti Al-Quran, kitab-kitab hadits, aqidah, atau fiqih. Dapat juga berupa syair, seperti Manzhumah-Manzhumah ilmiyah yang disusun oleh para Ulama. Dapat juga berupa Matn-Matn hadits (sebuah hadits) yang memiliki kesamaan sifat dalam meriwayatkannya (disebut dengan istilah hadits musalsal).

SANAD AL-QURAN

Bila yang dimaksud adalah sanad Al-Quran, maka artinya adalah rangkaian (rantai) para perawi (orang-orang yang meriwayatkan lafazh/ ayat) dari zaman kita sampai kepada Rasuulullaahi shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Dan Rasuulullaah meriwayatkan Al-Quran dari Malaikat Jibril, dari Allaah Azza wa Jalla.

Al-Quran diriwayatkan lafazh (teks) dan cara membacanya (qiraah), di mana tajwid atau tahsin terdapat di dalamnya. Inilah yang membedakannya dengan sanad selain Al-Quran.

Sanad atau periwayatan selain Al-Quran hanya berkaitan erat dengan penjagaan terhadap lafazh (teks) semata. Tidak ada keharusan membacanya dengan kaidah-kaidah tertentu, juga tidak ada keharusan membacanya dengan dialek atau bahasa Arab yang paling fasih. Karena tugas utama periwayatan adalah penjagaan terhadap lafazh dan makna, sehingga selama lafazh atau maknanya tidak berubah, maka hal tersebut sudah cukup baginya.

Disebabkan dalam periwayatan Al-Quran juga terkandung di dalamnya qiraah (cara membaca lafazh-lafazhnya), maka seorang perawi (orang yang meriwayatkan) dituntut untuk bisa melafazhkan ayat demi ayat Al-Quran dengan bahasa yang paling fasih dan kaidah-kaidah yang telah disepakati para Ulama Ahli Qiraah dan Tajwid. Atau setidaknya, telah melampaui standar minimal bacaan yang benar dan terhindar dari lahn (kesalahan) dalam melafazhkannya.

Untuk menjaga cara membaca Al-Quran itulah kemudian para Ulama menyusun kaidah-kaidah ilmu Qiraat dan Tajwid.

Selengkapnya di website : https://alfadhli.wordpress.com/

Copas dari fb markaz quran

Saturday, February 15, 2020

Pertolongan Allah begitu dekat..


Waktu ammar sakit demam di tempat kost sendirian gak ada siapa2, ga ada wifi,  gak ada yg merawat dan gak ada yg kasih kabar ke mama...
Sakit sejak jumat mama dapat kabar hari ahad dari aleh evi yg dihubungi pak asep bapak kost
Mama dan baba serta tata dan Achmad langsung ke tempat ammar..

Saat itu ammar demam tinggi, mengigau, dan tidak bisa tidur..
Memikirkan ujian dan melawan sakit

Ammar di rawat dirumah aleh evi, terus di urut dan akhirnya dirawat di RS ketika mau ujian pada hari selasa karena sudah gak kuat..

dengan bantuan Ka Adhi ammar bisa diperiksa oleh dokter padahal jam praktek sudah selesai
Ammar bisa masuk ruang inap dengan biaya BPJS..
Masya Allah.. Allahu akbar..

Alhamdulillah semuanya tentunya karena dzikir pagi dan sore yg kita baca, puasa, doa2, baca alquran...
dan semua kemudahan yg kita terima itu karena nikmat dan pertolongan  serta rahmat dari Allah.

Ternyata dzikir pagi dan sore, sholat tahajud, puasa dan baca alquran bisa menolong kita dari kesulitan yg kita hadapi..

Semoga kisah ini dapat memotivasi kita utk terus semangat membaca dzikir, beristighfar, bersedekah, baca alquran yg semuanya kita lakukan ikhlas karena Allah..

Banyak kisah sejak mama berumah tangga , pada saat hamil, melahirkan, menyusul dan membesarkan anak2 dengan banyak kemudahan2

Namun tidak dipungkiri juga bahwa Allah akan memberikan  ujian2 agar kita naik kelas keimanan dan ketaqwaan nya

Semoga anak2 kelak tumbuh menjadi orang yg bersyukur kpd orang  tuanya, tidak smbong dan tidak meremehkan

Terus berbakti kepada kedua orang tua dg memaaflan, mendoakan dan berlemah lembut kpd nya..

Semoga Allah karuniakan kita anak2 yg kerap berbakti, taat kpd Allah dan i'tiba kpd Rasulullah.. Aamin

Ketika anak2 mulai besar anak2 punya kesibukan yg luar biasa karena tuntutan sekolah dan pekerjaan  .. Tapi lisan ibu tak henti2 nya mendoakan kebaikan dan ridho atas apa yg dilakukan anak2 agar kelak anak2 mendapatkan kemudahan dari Allah dan mendapatkan ridho dari Allah..

Semoga anak2 trus belajar islam yg benar..
Agar senantiasa banyak mengucapkan istighfar, dzikir pagi dan sore , sedekah, sholat tahajud, memaafkan, melupakan kesalahan orang lain, taat pada suami, membersihkan hati, puasa, umroh, berhaji, zakat dll

Di tengah2 gadget semoga Allah mudahkan utk melakukan kebaikan, amal sholih dan ketaatan kpd Allah dan i'tiba kpd Rasulullah

Semoga Allah jauh kan hawa nafsu yg buruk dan syahwat serta syubhat..

Aamiin ya rabbal salamin


Depok, Sabtu, 15 februari 2020
Catatan kajian parenting di sekolah cahaya Qur'an


Anak itu mungkin aja salah mendengar. Tp anak itu tidak akan salah meniru.(meniru ke ortu nya).

Misal suami pulang kerja dan bilang ; biasanya ada teh nih disini..trus istri lagi nyetrika lalu menjawab aku kan cape udh nyuci,udah ngerjain.udh ngerjain itu.udah ngurusin anak2 juga.masak. segala macem dll.

 Dampak negatifnya anak akan tumbuh jd anak yg ketika d kritik maka harus melawan.dan belajar untuk tidak menghargai seorang ayah.

 Lalu yg baik ketika suami minta teh maka jawab dg halus kendalikan emosi kita jika memang merasa cape.bilang; iya pah kasih mama waktu 5 menit ya.. mau rapihin ini dulu.

Point selanjutnya.
Ngasih label ke anak misal anak sholeh...ketika anak habis solat maka d bilang anak sholeh.tp di lain waktu dia d omelin d marah2in karena berbuat yg menurut kita salah.jd mengajarkan k anak tidak konsisten dg ucapan.
Bagusnya jgn d kasih label meskipun dg label baik.

Tidak membandingkan
Misal..mah aku dpt nilai 5..trus temen kamu dpt brp 10...langsung d marah2in yah kamu ko gk bisa?itu orang aja bisa. (Itu salah tanggapan yg salah ke anak. Dan anak mungkin akan memilih untuk tidak cerita lagi besoknya).
Yg benar jawab dg iya gpp brrti besok harus belajar lebih baik lagi supaya dapat nilainya di atas ini.(besarkan hatinya. Tp tidak dg membandingkan dg anak lain).

 Selanjutnya;
Anak umur 5 th momong ade nya karena ibunya nyetrika...dimenit awal2 sampai menit 20 masih anteng dan d menit2 ke 21 baru nangis. Yg salah yg d marahin kakanya..
Ibunya nanya sambil nyetrika; kaka kenapa adeknya? Di apain ko adek nangis?(ini salah) karena bagaimanapun kesibukan kita anak itu tetap tanggung jawab kita bukan kakaknya.

Yg benar..cabut setrikaan/kerjaan apa yg sedang d pegang. Lalu dekatin dan katakan makasih ya nakk dari tadi sudah jagain adek..jd bisa bantuin ibu. Belajar menghargai kebaikan anak.

Hindari kata mengancam kecuali mengancam itu langsung d lakukan. Jd jgn sampai mengancam ke anak.

Lanjut;
Emosi itu bikin kita bodoh...
Malas..
contoh: ibu sedang asyik main hp anak manjat2..lalu d bilang turun takut jatoh sampai berkali2 d bilangin. Dari mulai nada biasa sampai nada tinggi dan bahkan sampai d bentak2.
 Yg ada anak akan makin gak mau ngikutin apa kata ortu.bahkan bisa lebih dari itu besoknya dan akan meniru cara marahnya kita.
Solusinya; simpan hp ketika melihat anak naik2...deketin. nakk yuuk turun klo memungkinkan gendong dan rangkul lalu temenin main.

Ketika anak mau memilih sekolah misal d kampus ini.
Peran Ortu jgn bilang nakk... nnti susah cari duitnya kalo sekolah disitu, nnti setelah lulus kerja juga susah cari kerjanya jadi gk kaya2..(mengajarkan untuk cinta dunia).

tp ucapkan kalo bisa cari sekolah yg kedepannya kira2 bisa ada manfaatnya.karena klo sudah jadi org yg bermanfaat maka rezeki akan mengikuti sndiri.

___________


Anak adalah tamu istimewa yg kita undang dalam kehidupan kita atas izin Alloh lewat doa2 kita.

Ortu yg d anugrahi seorang anak adlh ortu yg menurut Alloh pantas dan mampu .pantas dlm arti mampu untuk menjaganya.mendidiknya dsb.
Jika anak itu Tamu maka apa yg harus kita lakukan ketika dia hadir dalam hidup kita?
Ibarat seorang presiden mau datang berkunjung ke rumah kita apa yg kita persiapkan?
Apalagi seorang anak ini Alloh yg mendatangkan.dan merupakan titipan Alloh juga.apakah anak ini pantas untuk mendapat luapan kemarahan dari kita? Atau hanya mendapatkan tuntutan dari keinginan kita? Atau hanya sekedar ketika dia ada salah langsung kita salahin?.
Tidak....
Karena semua anak itu terlahir baik,tapi hanya dg kebiasaan kita dan dg ucapan2 kita anak menjadi kurang baik.
Contoh; ketika anak usia 1 th yg bljar jalan kemudian dia berjalan tertatih lalu jatuh.
Dan ortu mengatakan; yahh jatoh...ayo bangun nakk...lantainya nakal ya..pukul lantainya.
Dampak negatif ke anak;
1. Mengajarkan untuk berbohong(karena bukan lantai penyebabnya)
2. Mendidik anak untuk ketika ada masalah menyalahkan orang lain(contoh d sini ke lantai)

Saat menyeru anak untuk melaksanakn solat atau mengaji tidak perlu dg ancaman&menakut nakuti.
Contoh; menyeru ke anak yg belom baligh
ayo solat nakk...(seruan ke 1 masih belom)
Nakk ayo solat...(ke 2x).nnti kalo gak solat dosa loh...klo dosa nnti masuk neraka.
Nakk ayo solat dg nada tinggi.dan terus mengancam
 Dampaknya;
-ketika dewasa nnti dia malah enggan untuk solat karena bisa jadi dia merasa karena solat aku d marah2in setiap hari bahkan setiap waktunya solat.
-mengajarkan berbohong..karena anak blm baligh gak dosa

Nahh...bagaimana cara yg tepatnya? Yakni dengan mengajak pelan2...misal ayoo kita wudhu  siapa yg bisa wudhu duluan.atau kalo anak masih kecil lebih ke diajarin cara bersyukur.misal; alhamdulillah ya nak Alloh kasih kita mata sempurna jd kita bisa melihat indahnya ciptaan Alloh. Salah satu bersyukur kita,kita harus mau melksanakan kewajiban2 kita salah satunya solat.
Atau ketika pas mau solat..ayo nak kita solat posisi kita sudah pake mukena(dg contoh).

Harus dengan pelan2...tidak pke emosi supaya sampai ke hati anak apa yg kita sampaikan.karena proses itu harus d barengin dg kesabaran tidak bisa instan untuk membuahkan hasil.