Wednesday, February 6, 2019

*MANUSIA VS IBLIS ★BAG2⃣*

🌾🍒🌾🍒🌾🍒🌾🍒🌾🍒🌾🍒🌾🍒


 ⁩بسم الله الرحمن الرحيم 
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى له وصحبه ومن اتبع هداه.
أما بعد

*Siapakah Setan Itu⁉*

Syaitan (setan, Ind.) dalam bahasa Arab adalah pecahan dari kata; شَطَن (jauh), karena (tabiatnya) jauh dari tabiat manusia dan jauh pula dari semua kebaikan, karena kefasikannya.

Ada juga yang berpendapat bahwa syaitan dari kata شَاطَ, karena diciptakan dari api.🔥

Al-Imam Sibawaih menukil bahwa orang Arab mengatakan, تَشَيْطَنَ فُلَانٌ (Si Fulan kesetanan) jika dia melakukan perbuatan syaitan (kejahatan).

Karena itulah, orang-orang Arab menamakan semua yang jahat—baik manusia, jin, maupun binatang—adalah syaitan.

Iblis juga makhluk ciptaan Allah ‘azza wa jalla dan termasuk kalangan jin; bahkan dia adalah nenek moyang para jin.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِۦٓۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُۥ وَذُرِّيَّتَهُۥٓ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِي وَهُمۡ لَكُمۡ عَدُوُّۢۚ بِئۡسَ لِلظَّٰلِمِينَ بَدَلٗا ٥٠

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.
📗 (al-Kahfi: 50)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).”
📗 (al–An’am: 112)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَبَا ذَرٍّ، تَعَوَّذْ بِاللهِ مِن شَيَاطِيْنِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ، فَقُلْتُ: أَوَ لِلْإنْسِ شَيَاطِيْنُ؟ قَالَ: نَعَمْ.

“Hai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari syaitan manusia dan jin.”

Aku bertanya, “Apakah pada manusia ada syaitannya?”

“Ya,” kata beliau.

Dalam Shahih Muslim, dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْمَرْأَةُ، وَالْحِمَارُ، وَالْكَلْبُ الْأَسْوَدُ. فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا بَالُ الْكَلْبِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْأَحْمَرِ وَالْأَصْفَرِ؟ فَقَالَ: الْكَلْبُالْأَسْوَدُ شَيْطَانٌ.

“(Yang dapat) memutuskan shalat (ialah) wanita, keledai, dan anjing hitam.”

Aku bertanya, “Ya Rasulullah, apa urusannya anjing hitam dibandingkan yang merah dan kuning?”

Kata beliau, “Anjing hitam itu setan.”
📗 (HR. Muslim no. 510)

Syaitan adalah musuh pertama, paling utama, dan paling hebat. Paling hebat di sini, bukan karena dia tidak terkalahkan dan selalu menang, melainkan paling hebat makar, kelicikannya, dan usahanya mencelakakan manusia. Dia dan tentaranya selalu mengintai dari arah yang tidak bisa dilihat oleh manusia.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ يَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءَٰتِهِمَآۚ إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ٢٧

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”
📗 (al-A’raf: 27)

Syaitan selalu menyertai manusia, karena berjalan pada diri manusia, di jalan darah mereka. Ketika manusia lalai, syaitan akan menyerang hatinya dan mulai meniupkan was-was untuk menyesatkan manusia tersebut.

Demikianlah yang diterangkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

إنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

“Sungguh, setan itu berjalan pada anak Adam (manusia) di jalan darahnya.”
📗 (HR. al-Bukhari [2035] dan Muslim [2175] [24] dari Ummul Mukminin Shafiyyah bintu Huyai radhiallahu ‘anha)

 🍒🌾🍒🌾🍒


Awal Permusuhan

Ketetapan Allah ‘azza wa jalla berlaku bahwasanya manusia (Adam) dipilih oleh Allah ‘azza wa jallasebagai khalifah di muka bumi. Setelah dia tercipta sempurna sebagai manusia, Allah ‘azza wa jallamemerintahkan para malaikat sujud kepada Adam.

Para malaikat itu semuanya sujud. Mereka tahu bahwa sujud kepada sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla adalah dosa dan pelanggaran besar. Akan tetapi, mereka pun menyadari bahwa sujud kepada Adam adalah bukti ketaatan mereka kepada Rabb yang menciptakan mereka, yaitu Allah ‘azza wa jalla.

Tidak ada yang tersisa kecuali satu makhluk. Dengan angkuhnya dia tetap tegak berdiri. Dia enggan merendahkan kepalanya sujud kepada Adam, yang sesungguhnya sujud itu adalah tanda atau bukti dia taat kepada Allah ‘azza wa jalla yang telah menciptakannya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman menerangkan kejadian ini sekaligus mengingatkan manusia betapa besar perhatian Allah ‘azza wa jalla kepada mereka agar mereka menyadari bahwa Allah ‘azza wa jallasesungguhnya memuliakan mereka,

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠ وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِ‍ُٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٣١ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ لَا عِلۡمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ ٣٢ قَالَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئۡهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسۡمَآئِهِمۡ قَالَ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَأَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ ٣٣ وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ أَبَىٰ وَٱسۡتَكۡبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ٣٤

Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Mereka berkata, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”

Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

Allah berfirman, “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.”

Setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman, “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.
📗 (al-Baqarah: 30—34)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قَالَ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ ٱلسَّٰجِدِينَ ٣٢

Allah berfirman, “Hai Iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama mereka yang sujud itu?”
📗 (al-Hijr: 32)

Dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قَالَ يَٰٓإِبۡلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسۡجُدَ لِمَا خَلَقۡتُ بِيَدَيَّۖ أَسۡتَكۡبَرۡتَ أَمۡ كُنتَ مِنَ ٱلۡعَالِينَ ٧٥

Allah berfirman, “Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”
📗 (Shad: 75)

Padahal, sujud kepada Adam ‘alaihissalam adalah perintah Allah ‘azza wa jalla,

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ إِذۡ أَمَرۡتُكَۖ قَالَ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ ١٢

Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?”
📗 (al-A’raf: 12)

Demikianlah, dan dengarlah ketika dia dengan angkuh dan keras kepala memberi jawaban kepada Maharaja yang Telah Menciptakannya dari tidak ada menjadi ada; Yang Telah Memberinya Kehidupan dan Kekuatan; dia justru berkata,

قَالَ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ ١٢

Iblis menjawab, “Aku lebih baik daripadanya; Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
📗 (al-A’raf: 12)

Dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan perkataan Iblis,

قَالَ لَمۡ أَكُن لِّأَسۡجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقۡتَهُۥ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ ٣٣

Iblis berkata, “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah ciptakan dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”
📗 (al-Hijr: 33)

Inilah awal kebenciannya kepada Adam ‘alaihissalam. Dia merasa telah melakukan pekerjaan besar, memimpin para Malaikat langit dunia untuk memerangi makhluk-makhluk yang berbuat kerusakan di muka bumi.

Ketika Adam ‘alaihissalam masih berupa tanah liat kering seperti tembikar dan terbujur di dekat pintu surga, Iblis mendekati dan menendangnya hingga sosok Adam berbunyi, “Makhluk apakah ini?”

“Kalau kamu diberi kekuasaan terhadap diriku, aku akan menentangmu. Kalau aku yang diberi kekuasaan terhadap kamu, pasti aku menindasmu,” itulah yang terbetik dalam hatinya. Demikianlah yang disebutkan dalam riwayat yang dinukil dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Setelah Adam ‘alaihissalam sempurna sebagai manusia, dia diajari oleh Allah ‘azza wa jalla nama-nama segala sesuatu. Kemudian Allah ‘azza wa jalla memerintah para malaikat untuk bersujud sebagai penghormatan kepada Adam. Namun, Iblis menolak dan enggan untuk sujud. Dia tidak rela menghinakan diri dengan menghormati manusia yang diciptakan sesudah dia dan mendapat kedudukan demikian mulia.

Akibat penolakannya, dia dikutuk dan diusir dari barisan malaikat dan dihinakan sebagaimana dalam ayat-ayat di atas. Allah ‘azza wajalla melaknatnya dan mengusirnya dari surga, mengubah tampilan lahiriahnya menjadi sosok yang paling buruk dan mengerikan. Begitu pula batinnya, menjadi simpanan semua kekejian, kejahatan, dan keingkaran.

🍒🌾🍒🌾🍒


Awal Mula Kias💦

Akhirnya, dendam dan permusuhan *Iblis terhadap manusia tidak pernah berhenti. Dia berusaha dengan semua yang ada padanya untuk menghancurkan manusia yang menjadi sebab dia terusir dan terlaknat. Padahal, semua itu adalah kesalahannya sendiri.

Dialah pangkal semua kejahatan yang ada di dunia ini. Dia sangat pandai memanfaatkan kelemahan manusia untuk menghancurkan dan menyeret mereka ke neraka.

Makhluk yang Allah ‘azza wa jalla ciptakan dengan kun ini merasa lebih baik dan lebih mulia dari manusia yang telah diciptakan oleh Allah ‘azza wa jalla dengan kedua Tangan-Nya yang Mahamulia lagi Mahasempurna.

Itulah kesombongan, kekibiran, tidak mau mengakui kebenaran yang sudah nyata. Dia mencoba membuat analogi tetapi salah. Di mana kesalahannya?

Para ulama muslimin menguraikan kekeliruan anggapan iblis bahwa dia lebih baik dari manusia, melalui kiasnya bahwa api lebih baik daripada tanah. Kias yang dilakukan iblis ini adalah sebuah kebodohan dan kezaliman. Kesalahan kias ini dapat dilihat dari beberapa sisi, di antaranya sebagai berikut.

Kias yang diutarakannya menyelisihi nash, yaitu perintah Allah ‘azza wa jalla. Sebab, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ

“Sujudlah kamu kepada Adam,” dan semua kias yang menyalahi perintah Allah ‘azza wa jalla yang sudah jelas adalah kias yang batil.

Dia salah besar karena mengakuaku bahwa api lebih baik dari tanah.

Sebab, tanah itu memiliki ketenangan, keteguhan, sifat memperbaiki, menyatukan, dan sejenisnya. Engkau letakkan padanya sebutir biji gandum, maka dia akan memberimu satu bulir gandum. Engkau letakkan sebutir biji kurma, dia akan memberimu satu pokok kurma.

Adapun api, dia bersifat gegabah, ringan, memisahkan, dan merusak. Setiap Engkau letakkan padanya sesuatu, pasti dia memisahkan dan merusaknya. Dengan sifatnya yang ringan dan gegabah, beterbanganlah berbagai kejahatan dari api itu lalu membakar semua yang di dekatnya, lalu terbang ke tempat lain membakar semua yang ada di balik itu.

Dengan demikian, tanah jauh lebih baik daripada api. Sebab itu pula, tabiat yang ada dalam api ini ikut membentuk watak iblis sehingga durhaka dan membangkang perintah Rabbnya. Sebaliknya, tabiat yang ada pada tanah, membentuk pula watak Adam sehingga meskipun mudah terjatuh dalam kekeliruan, dia segera kembali dan memohon ampunan kepada Rabbnya.

Seandainya api itu lebih baik dari tanah, maka belum tentu unsur asal yang membentuk sesuatu lebih utama dari wujud yang dihasilkannya.

Kenyataannya, sangat banyak benda yang rendah nilainya berasal dari unsur asal yang lebih utama atau sebaliknya. Bukan suatu keharusan bahwa benda yang tercipta dari sesuatu yang lebih baik akan lebih baik juga. Sebab, turunannya bisa jadi memiliki kekhususan dengan sesuatu yang tidak ada pada unsur asalnya.

Meski manusia itu tercipta dari tanah, dia telah menerima tiupan ruh suci yang membuatnya menjadi mulia.Manusia diciptakan oleh Allah ‘azza wa jalla dengan kedua Tangan-Nya yang mulia, sebagaimana firman-Nya,

مَا مَنَعَكَ أَن تَسۡجُدَ لِمَا خَلَقۡتُ بِيَدَيَّۖ

“Apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku.”

Kenyataan ini saja sudah menunjukkan kelebihan Adam dari seluruh makhluk yang ada sebelumnya.

Andaikata pernyataan Iblis itu diterima, maka dapat dikatakan, “Penghormatan dari pihak yang lebih utama kepada yang kurang utama bukanlah sesuatu yang harus diingkari.”[1]★

Akan tetapi, seperti disebutkan dalam sebuah ungkapan bahwa tidak ada yang mengetahui nilai sebuah keutamaan selain orang-orang yang memiliki keutamaan.

Penilaian Iblis terhadap dirinya sebagai sosok yang lebih baik dan mulia berganti menjadi kehinaan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قَالَ فَٱخۡرُجۡ مِنۡهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٞ ٣٤ وَإِنَّ عَلَيۡكَ ٱللَّعۡنَةَ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٣٥

Allah berfirman, “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk. Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.” (al-Hijr: 34-35)

Karena pembangkangan dan sikapnya yang pongah serta merasa besar, Allah ‘azza wa jalla melaknat dan mengusirnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قَالَ فَٱهۡبِطۡ مِنۡهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَٱخۡرُجۡ إِنَّكَ مِنَ ٱلصَّٰغِرِينَ ١٣

Allah berfirman, “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.”
📗 (al-A’raf: 13)

Apakah Iblis menerima begitu saja? Tidak. Dengan menantang dia berkata sebagaimana firman Allah‘azza wa jalla,

قَالَ أَنظِرۡنِيٓ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ١٤ قَالَ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡمُنظَرِينَ ١٥ قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ١٧

Iblis menjawab, “Berikan tangguhan bagiku sampai waktu mereka dibangkitkan.”

Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguhan.”

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukumku tersesat. Aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”
📗 (al-A’raf: 14-17)

Mulanya, pernyataan iblis bahwa banyak di antara manusia yang tidak bersyukur hanya sebatas dugaan (meskipun diperkuatnya dengan sumpah, sebagai sikap optimisnya). Akan tetapi, setelah berlalu masa yang panjang, sumpah itu terbukti, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَلَقَدۡ صَدَّقَ عَلَيۡهِمۡ إِبۡلِيسُ ظَنَّهُۥ فَٱتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقٗا مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢٠

“Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian orang-orang yang beriman.”
📗 (Saba’: 20)

 🍒🌾🍒🌾🍒


Beberapa Faedah

Di dalam kisah ini ada beberapa faedah, di antaranya sebagai berikut.

Pelajaran berharga tentang buruknya sifat sombong, merasa besar, dan hebat dari orang lain.

Bahkan, dalam sebuah riwayat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan,

لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ مَنْ كَانَ في قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّة مِنْ كِبْرٍ. فَقَالَ رَجُلٌ: إنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَناً، ونَعْلُهُ حَسَنَةً؟ قَالَ: إنَّ اللهَجَمِيلٌ يُحِبُّ الجَمَالَ، الكِبْرُ: بَطَرُ الحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya masih ada sifat kibir seberat biji sawi.”

Lalu seorang sahabat berkata, “Sesungguhnya orang itu senang pakaiannya dan sandalnya bagus?”

Kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah itu Mahaindah. Dia menyukai keindahan. Kibir ialah menolak kebenaran dan menghinakan manusia.”
📗 (HR. Muslim [no. 91 dan 147] dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Ketika Iblis merasa besar dan sombong, dia menentang perintah Allah Yang telah Menciptakannya. Allah ‘azza wa jalla memberinya ganjaran berupa kehinaan, mengusirnya dari surga, dan menjauhkannya dari rahmat-Nya.



Melalui kisah ini, tampak jelas besarnya dendam dan permusuhan Iblis terhadap manusia.

Allah ‘azza wa jalla menerangkan pula bahwa Iblis tidak serta merta menjerumuskan manusia begitu saja, tetapi dengan cara halus seakan-akan datang sebagai sosok pemberi nasihat.

Permusuhan dan dendam Iblis tidak berhenti dengan keluarnya Adam ‘alaihissalam dan istrinya dari surga, bahkan diturunkan ke dunia, tetapi berlanjut sampai hari kiamat. Demikianlah pertarungan antara yang haq dan yang batil, tidak akan berhenti sampai kiamat.



Iblis dan para syaitan keturunannya adalah musuh manusia yang selalu berusaha mengokohkan dorongan buruk yang ada dalam diri manusia.

⚖ والله أعلم … وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

_(Insya Allah bersambung)_

📝Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

★[1] Secara ringkas dari Mudzakkirah asy-Syaikh asy-Syinqithi (hlm. 269—271) dan Majmu’ Fatawa Ibni Taimiyah (15/5).

📖 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك اللهم وأتوب إليك،

📬📠 Dipost Ulang WAG
🔰 *MenataMataHati* 🔰

🌾🍒🌾🍒🌾🍒🌾🍒🌾🍒🌾🍒🌾🍒

DHOMIR


Apabila kalimat idhofah di dalamnya terdapat isim mutsanna sebagai mudhofnya, maka kaidahnya sebagai berikut:

Mutsanna Menjadi Mudhof Dalam Keadaan ROFA'


Ketika rofa', NUN mutsanna dibuang dan alif ditetapkan. Contohnya:

- Asalnya: مُدَرِّسَانِ = dua bapak guru
- Idhofah: مُدَرِّسَا اللُّغَةِ = dua bapak guru bahasa.

Apabila dimasuki dhomir (selain ya mutakallim) maka bentuknya seperti ini:

- ذَانِكَ مُدَرِّسَاكَ  = itu dua bapak gurumu
- ذَانِكَ مُدَرِّسَاهُ  = itu dua bapak gurunya

Mutsanna Menjadi Mudhof Dalam Keadaan NASHOB atau JAR


Ketika nashob atau jar, NUN dibuang kemudian YA diberi harokat KASROH untuk membedakannya dengan jama' mudzakkar salim ketika mudhof dalam keadaan manshub. Contohnya:

- Asalnya: عَنْ مُدَرِّسَيْنِ = dari dua bapak guru.
- Idhofah manshub: رَأَيْتُ مُدَرِّسَيِ اللُّغَةِ = aku melihat dua bapak guru bahasa.
- Idhofah majrur: عَنْ مُدَرِّسَيِ اللُّغَةِ = dari dua bapak guru bahasa.

Apabila dimasuki dhomir (selain ya mutakallim) maka bentuknya seperti ini:

- عَنْ مُدَرِّسَيْكَ  = dari dua bapak gurumu
- رَأَيْتُ مُدَرِّسَيْكُمْ = aku melihat dua bapak guru kalian
- رَفَعَ يَدَيْهِ = dia mengangkat kedua tangannya

Silahkan belajar untuk memasukkan dhomir lainnya kecuali YA MUTAKALLIM, karena ia memiliki pembahasan tersendiri.
*ORANGTUA TIDAK PERNAH MENAFKAHI, WAJIBKAH ANAK TETAP BERBAKTI?*

📖 📖________✒


*Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan*

*Soal:*

Seorang lelaki menceraikan istrinya ketika hamil. Setelah melahirkan, Allah berikan rezeki kepada sang Ibu sehingga ia merawat anaknya, mendidiknya dan membesarkannya hingga sang anak menikah, tanpa sepeser pun bantuan dari bapak sang anak tersebut.

_Apakah sang anak tetap wajib berbuat baik kepada ayah kandungnya dan berbakti kepadanya?_

Padahal ia tidak pernah merawat sang anak dan sang anak tidak pernah merasakan kehangatan seorang ayah di sisinya.

_Jawab:_

Iya, *_tetap wajib_* bagi seorang anak untuk menunaikan hak orang tuanya. Walaupun sang orang tua lalai dalam pemenuhan kewajibannya berupa pendidikan dan nafkah.

*Karena anak maupun orang tua memiliki hak yang wajib ditunaikan kepada satu-sama-lain.* Jika orang tua lalai dalam pemenuhan hak terhadap anak, maka ia *_berdosa_* .
Namun ini tidak mengugurkan pemenuhan hak orang tua dari sang anak, yaitu dengan berbakti kepadanya dan berbuat baik kepadanya.

Dan hendaknya setiap Muslim membalas kebaikan kepada orang yang berbuat buruk kepadanya, walaupun terhadap selain orang tuanya.

Allah Ta’ala berfirman:


وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ


_“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik”_ *(QS. Fushilat: 34).*

Allah Ta’ala juga berfirman:

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ


_“maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah”_ *(QS. Asy Syura: 40).*

Cerita ini mungkin sudah sangat akrab di telinga kita. Seorang nabi pemimpin ahli tauhid memiliki ayah penyembah berhala.
Sekalipun sang ayah mengancam hendak melempari batu Ibrahim, beliau tetap memperlakukan ayahnya dengan *_sopan._*

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya;

_“Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?_

Pada ayat di atas, Ibrahim memanggil ayahnya dengan panggilan: *_’Ya Abati’ [يَا أَبَتِ],_* itu panggilan _lembut_ untuk sang ayah.
Ibrahim tidak memanggil ayahnya denagn *_’Ya Abi’,_* karena lebih kasar dari pada yang pertama.

Anda lihat, bagaimana sikap ayahnya kepada Ibrahim,

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا


Berkata bapaknya:

_“Apakah kamu benci kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”._ *(QS. Maryam: 46)*

```Setiap Muslim dituntut untuk membalas keburukan orang lain dengan kebaikan.```

_Maka bagaimana lagi jika ia orang tua kita?_ Maka lebih ditekankan lagi untuk berbuat demikian.

***
_Muslim.or.id_

🖊  Pembina :  Ustadz Musyaffa' ad Dariny, Lc., M.A.
💎  Oleh: Mutiara Risalah Islam
_______________

Tuesday, February 5, 2019

Nasihat buat penghafal Qur'an:

Dalam kitab Ta'limul Muta'alim oleh Allamah Az Zarnuji dikatakan:

"Yang menjadi sebab hafal (quran) antara lain :
1.  bersungguh-sungguh,
2. keajekan/kontinuitas,
3. sedikit makan,
4. memperbanyak shalat malam dan
5. memperbanyak membaca Al-Qur'an.

Adapun yang menyebabkan menjadi pelupa antara lain ialah :
1. perbuatan maksiat,
2. banyaknya dosa,
3. bersedih karena urusan keduniaan,
4. banyaknya kesibukan (yang kurang berguna) dan
5. banyak hubungan (yang tidak mendukung)."

Semoga Allah memudahkan kita dalam menghafal Alquran
TAJWID ATAU TAHFIZH DULU

Beberapa kali kami mendapatkan pertanyaan dari para peserta Online Tajwid, baik via Telegram, WA, atau FB.

Pertanyaan yang juga cukup sering ditanyakan oleh peserta Daurah Tajwid, baik di Bandung atau di Depok.

"Manakah yang diutamakan, tajwid dulu atau tahfizh dulu?"

Membaca Al-Quran dengan tajwid hukumnya fardhu 'ain. Sekurang-kurangnya adalah sampai bisa membaca surat Al-Fatihah tanpa kesalahan yang mengubah makna. Karena hal tersebut berkaitan dengan rukun shalat, yang menentukan sah atau tidaknya shalat kita.

Sedangkan kewajiban membaca dengan tajwid pada surat-surat yang lain, selain Al-Fatihah, masih berada di bawahnya, namun seseorang tetap wajib berusaha untuk melatih lisannya sampai tidak ada lagi kesalahan yang mengubah makna. Adapun kesempurnaan sifat-sifat huruf dan hukum-hukum tajwid yang bila ditinggalkan tidak mengubah makna, para Ulama sepakat semua itu bukan fardhu 'ain, kecuali dalam proses periwayatan dan pengambilan sanad. Maka wajib bagi seorang Syaikh memperhatikan bacaan muridnya, mengoreksinya dengan detail, karena ia sedang menyandarkan bacaannya kepada bacaan Rasuulullaahi shallallaahu 'alayhi wa sallam.

Berkaitan dengan menghafal Al-Quran, maka para Ulama berbeda pendapat, apakah hukumnya fardhu kifayah atau sunnah. Mayoritas Ulama mengatakan hukumnya fardhu kifayah.

Dari perbandingan status keduanya, maka sebetulnya kita sudah bisa mengambil kesimpulan, bahwa membaca Al-Quran dengan tajwid lebih utama daripada memperbanyak hafalan Al-Quran tanpa memperhatikan tajwid, apalagi bila hafalannya sampai mengubah makna. Mengutip perkataan sebagian guru-guru kami, siapa saja yang menghafal Al-Quran tanpa memperhatikan tajwid, terutama bila sampai mengubah makna, maka sejatinya ia tidaklah menghafal Al-Quran. Hafalannya bukanlah Al-Quran. Yang ia baca pun bukan Al-Quran. Maka perhatikanlah hal ini. Kalaupun belum bisa menyempurnakan bacaan secara detail, minimal berusaha agar bacaan dan hafalannya tidak sampai mengubah makna Al-Quran itu sendiri.

Namun demikian, memulai menghafal Al-Quran tidak mesti menunggu bacaan kita sempurna. Yang terpenting adalah tidak meninggalkan pembelajaran tajwid. Selama kita menekuni tajwid, mendatangi halaqah tahsin secara rutin, maka tidaklah terlarang untuk menghafal, walaupun masih banyak yang keliru.

Adapun yang keliru, adalah bila seseorang sibuk menghafal, dan bersamaan dengan itu ia tidak menekuni tajwid. Tidak memiliki waktu khusus untuk talaqqi dan musyafahah dalam majlis tahsin secara rutin. Ini sangat membahayakan. Apalagi bila ia tidak memahami bahasa Arab. Potensi rusaknya jauh lebih besar daripada maslahatnya.

Lebih dari itu, ada hal yang juga mesti kita pahami bersama. Bahwa ada kewajiban yang lebih tinggi daripada tajwid. Adalah tafhiimul Quran. Memahami makna Al-Quran.

Memahami makna dan kandungan Al-Quran lebih dituntut bagi seorang muslim mukallaf. Karena Al-Quran diturunkan untuk dibaca, ditadabburi, dan diamalkan.

Bagaimana mungkin seseorang bisa mentadabburi dan mengamalkan Al-Quran bila ia tidak memahami isinya?

Lihatlah generasi Sahabat. Mereka tidaklah menambah hafalan Al-Quran kecuali bila telah memahami isi kandungan Al-Quran yang telah dihafalnya. Mereka bersabar menghafal Al-Quran sepuluh ayat - sepuluh ayat, tidak tergesa untuk menambah hafalannya. Yang terpenting mereka mutqin pada apa yang telah dihafalnya, memahami kandungannya, dan bisa diamalkan.

Maka, bagi muslim mukallaf, orientasi terhadap Al-Quran mesti berubah. Bukan sekadar tajwid dan tahfiznya saja. Ia harus bisa melangkah lebih jauh lagi menuju tafhim.

Sehingga, bila ia memiliki halaqah tahsin dan tahfizh sepekan sekali, maka minimal ia harus memiliki halaqah tafhim sepekan dua kali. Mengapa? Karena kewajiban memiliki pemahaman lebih tinggi daripada kewajiban tajwid dan tahfizh.

Lalu, langkah apa yang mesti diambil untuk mendapatkan pemahaman yang benar terhadap Al-Quran?

Setidaknya ada 4 ilmu yang mesti diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang komprehensif:

1. Bahasa Arab,
2. Ulumul Quran,
3. Tafsir, dan
4. Hadits.

Namun, tentu tidak semua orang dapat meraih semua itu. Karena aktivitas dan kesibukan setiap orang pasti berbeda.

Bila demikian, maka pelajarilah ilmu-ilmu praktis yang merupakan pengejawantahan dari Al-Quran dan As-Sunnah, seperti Dasar-Dasar Aqidah, Fiqih (ibadah dan muamalah) yang bisa langsung diamalkan, dan Tazkiyatun Nafs. Semua ini bisa diikuti, bahkan bila mengandalkan waktu senggang sekalipun. Baik melalui ta'lim-ta'lim, kajian online, membaca buku, atau rekaman audio dan video. Perhatikan, bahwa tujuan semua itu adalah amal. Agar kita bisa beramal shalih.

Prioritas tersebut tentu saja berbeda bagi anak-anak yang belum mukallaf. Maka bagi mereka, tajwid dan tahfizh menjadi prioritas. Bahkan bagi sebagian besar anak-anak memiliki daya hafal luar biasa, tahfizh bisa diprioritaskan, yang penting hafalannya tidak mengubah makna, walaupun tajwidnya belum sempurna. Adapun tajwidnya bisa menyusul saat ia telah memahami sistem koreksi dan pemahaman atas teori dasar tajwid.

Semoga dengan ini kita bisa lebih memperhatikan kembali prioritas dalam aktivitas kita. Karena sesungguhnya yang dituntut dari kita atas interaksi dengan Al-Quran adalah amal. Sedangkan amalan hati lebih penting daripada amalan fisik.

Wallaahu a'lam.

Laili Al-Fadhli
https://alfadhli.wordpress.com/2017/07/28/tajwid-atau-tahfizh-dulu/

جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم

Sunday, February 3, 2019

Alquran materi

🕋 MATERI SHIFATUL HURUF 🕋

📌 Pembahasan Makharijul Huruf dan Shifatul Huruf merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

📌 Seseorang tidak akan bisa mengucapkan huruf Hijaiyyah dengan bahasa yang paling fasih kecuali memahami persoalan Makhraj dan Shifatul Huruf.

📌 Teori-teori makhraj dan sifat dapat dipelajari dan dipahami dalam waktu yang singkat. Adapun mutqin dalam tathbiq butuh proses, latihan, dan koreksi dari seorang guru yang kompeten.

👇🏻👇🏻👇🏻👇🏻👇🏻

Pengantar Shifatul Huruf
https://youtu.be/S2hg0-ZbnQk

Sifat Hams-Jahr dan Syiddah-Rakhawah
https://youtu.be/V3QYNqBOd_M

https://youtu.be/yLAxOLadI-U

Sifat Isti'la-Istifal dan Ithbaq-Infitah
https://youtu.be/EjWYVhQxZB8

https://youtu.be/dnboLqQjhj0

Sifat Idzlaq-Ishmat
https://youtu.be/9NPGZrWEM2g

Sifat Shafir dan Qalqalah
https://youtu.be/Ala39x9P8TE

Sifat Liin, Inhiraf, Takrir, Tafasysyi, dan Istithalah
https://youtu.be/yzF8p3tUnW4

Takrir
https://youtu.be/agTYX-J5QCU

Tambahan Sifat (Khafa dan Ghunnah)
https://youtu.be/IK1BlEnr73Q

https://youtu.be/6pzxKxFda7I

Tambahan: An-Nabr
https://youtu.be/vP6j2SPFo6E

👆🏻👆🏻👆🏻👆🏻👆🏻

https://t.me/online_tajwid/1532

🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 29 Jumādâ Al-Ūlā 1440 H / 04 Februari 2019 M
👤 Ustadz Ratno, Lc
📗 Adab Sosial Media
🔊 Halaqah 01: Ahlan wa Sahlan wa Marhaban Bikum Jami'an (Selamat Datang)
⬇ Download audio: bit.ly/UR-AdabSosMed-01
〰〰〰〰〰〰〰

*ADAB DALAM SOSIAL MEDIA*

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Alhamdulilāh,

Pujian yang sempurna hanyalah milik Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Washshalātu wassalāmu 'alā rasūlullāh (Semoga shalawat dan salam selalu tercurah dan terlimpahkan kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam). 

Wa 'alā ālihu wa ashhābihi wa man tabi'ahum bi ihsānin ilā yaumil qiyyamah (Begitu juga kepada keluarga, shahābat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat).

Amā ba'du.

Sahabat BiAS rahīmaniy  wa rahīmakumullāh.

Saya ucapkan selamat datang dalam group Bimbingan Islām

Ahlan wa sahlan wa marhaban bikum jami'an

Semoga group ini nantinya bisa menjadi teman, bisa menjadi sahabat atau bisa menjadi sarana antum semuanya dalam mempelajari agama Islām.

Sebuah agama yang telah Allāh ridhāi untuk dianut, bahkan telah disempurnakan sebelum Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam wafat.

Tidaklah seorang berpaling darinya kecuali dia akan binasa.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ

_"Telah ku tinggalkan untuk kalian agama, telah kutinggapkan untuk kalian penjelasan yang sangat jelas, yang sangat terang malamnya seperti siangnya. Tidaklah seorang berpaling dari agama tersebut setelah kepergianku kecuali dia akan binasa."_

Sahabat BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Setelah memberikan pesan kepada umatnya, bahwa Beliau telah meninggalkan agama Islām ini dalam kesempurnaan, dalam kejelasan yang sangat sempurna seakan-akan malamnya seperti siangnya.

Maka Beliau mengabarkan sebuah berita yang akan terjadi pada masa yang akan datang setelah kepergian Beliau.

Beliau (shallallāhu 'alayhi wa sallam) bersabda :

فمَنْ يَعِش مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا

_"Siapa yang berumur panjang, dia akan melihat banyak perselisihan (akan melihat banyak perbedaan, berbagai pendapat akan bermunculan)."_

Apa nasihat Beliau ?

فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ

_"(Untuk menghadapi perselisihan dan berbagai berbedaan pendapat tersebut), amalkanlah sunnahku, ikuti jalan hidupku yang telah kalian ketahui, begitu juga sunnahnya Khulafa Ar Rasyidun (pemimpin-pemimpin para khalifah setelahku yang terbimbing)."_

عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

_"Gigitlah sunnah-sunnah tersebut dengan gigi geraham."_

وَعَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا

_"Dan hendaknya, kalian mentaati pemerintah yang berkuasa, walaupun pemimpinnya adalah seorang budak hitam dari negeri Habasyah."_

فَإِنَّمَا الْمُؤْمِنُ كَالْجَمَلِ الْأَنِفِ، حَيْثُمَا قِيدَ انْقَادَ

_"Karena seorang mukmin itu, bagaikan unta yang ditusuk hidungnya, kemanapun tali kekang diarahkan ia akan mengikutinya."_

(Hadīts shahīh riwayat Imām Ibnu Mājah dalam sunan beliau dengan nomor 43 dan dishahīhkan oleh Syaikh Albāniy rahimahullāh ta'āla)

Di antara pelajaran hadīts tersebut adalah:

√ Kita akan berada pada masa yang banyak perbedaan, banyak pendapat. Yang satu bilang A, yang lain bilang B, C, D, atau bahkan E.

Untuk menghadapi berbagai perbedaan pendapat ini, kita membutuhkan ilmu. Kita butuh sunnah-sunnah Nabi dan kita butuh sunnah Khulafā'i Ar Rāsyidīn, kemudian memeganginya dengan kuat-kuat.

Dan seorang tidak akan bisa tahu apa saja sunnah Nabi kecuali dengan belajar, menuntut ilmu dan sering bertanya.

√ Apa sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hal ini?

√ Apa sikap yang Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bimbingkan dalam permasalan ini?

Dengan hadirnya group bimbingan Islām ini, ada sebuah harapan, semoga bisa membuat kaum muslimin sedikit demi sedikit bisa mengerti sunnah, bisa mengerti apa saja yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam dan juga para Khulafa Ar Rasyidin ajarkan.

Dan in syā Allāh dalam group ini, akan ada berbagai audio dari berbagai macam cabang ilmu.

▪️ ILMU FIQIH

Ada ilmu fiqih yang akan diajarkan, ilmu tentang tatacara beribadah.

Semisal shalāt-shalāt. Apa saja syaratnya, apa saja rukunnya, apa saja kewajibannya, bagaimana jika lupa dalam shalāt dan lain sebabagainya yang berkaitan dengan shalāt. Begitu juga akan dibahas tentang zakāt, puasa, haji dan bermuamalah, serta permasalahan lainnya tentang fiqih.

Semuanya (in syā Allāh) merujuk kepada kitāb dalam madzhab Syāfi'iyyah. Sebuah kitāb yang sering dikenal dengan Matan Abū Syujā' atau matan Al Ghāyah wat Taqrib, karya Syihābuddien Abuth Thiib Al Ashfahāni. Nama beliau Ahmad bin Al Husain yang meninggal pada tahun 593 Hijriyah.

▪️99 HADITS PILIHAN

In syā Allāh juga akan diperlajari 99 hadīts-hadīts yang berkaitan dengan kehidupan sehari hari, berkaitan dengan Islām, iman dan lain-lain yang in syā Allāh akan merujuk kepada kitāb Bahjah Qulūbil abrār wa Qurratu ‘Uyuunil Akhyār, karya Syaikh Abdurrahman bin Nāshir As Sa’di rahimahullāh yang meninggal pada tahun 1376 Hijriyyah.

▪️ AQIDAH

Ada juga pembahasan tentang aqidah, dimana itu adalah pembahasan yang sangat penting dalam kehidupan beragama. Tentang kepercayaan atau iman terhadap hal-hal yang ghāib. Tentang sifat Allāh, Surga, Neraka, dan berbagai kejadian setelah kematian.

▪️ PENDIDIKAN ANAK

Kemudian juga akan ada pelajaran tentang pendidikan anak, merujuk kepada kitāb Tarbiyatul Abna.


▪️ASY SYAMA’IL AL MUHAMMADIYYAH

Dan ada juga pembahasan tentang sifat-sifat Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, baik itu sifat fisik, akhlak dan kepribadian Beliau atau barang-barang yang dimiliki oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang merujuk pada kitāb Asy Syamāil Al Muhammadiyyah, karya Imam At Tirmidzī , Abū Īsā, Muhammad bin Īsā yang meninggal pada tahun 279 Hijriyyah.

Semoga dengan berbagai keterbatasan kami, Allāh memberikan keberkahan yang banyak kepada kaum muslimin dan semoga apa yang bisa kami hadirkan ini menjadi amal yang ikhlās karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla, sehingga kita bisa meraih keridhāan dan surga-Nya.

Semoga bermanfaat.

Wallāhu Ta'āla A'lam bish Shawwāb.

Washallallāhu 'alā Nabiyyina Muhammad

__________________


🏦 *Salurkan Donasi Dakwah Terbaik Anda* melalui :

| BNI Syariah
| Kode Bank (427)
| Nomor Rekening : 8145.9999.50
| a.n Yayasan Bimbingan Islam
| Konfirmasi klik https://bimbinganislam.com/konfirmasi-donasi/
__________________