Sabtu, 21 Jumadil Akhir 1441 H / 15 Pebruari 2020.
*💥 JANGAN KAU SAKITI KEDUA ORANGTUAMU 💥*
✍🏽 *Ustadz Dr.Musyaffa' Ad Dariny, Lc.MA*
Sungguh memprihatinkan...
Sebagian orang menyangka bahwa DURHAKA itu sebatas bila si anak memukuli orang tua, atau mengusir orang tua, atau menghinakannya di depan umum.
Sehingga mereka dengan seenaknya mencampuri urusan pribadi orang tuanya, menyetir orang tuanya, membentak orang tuanya, memarahi orang tuanya, dan seterusnya
⭕ Padahal itu semuanya adalah bentuk durhaka kepada orang tua yang *hukumannya akan DISEGERAKAN di dunia*.
⭕ Jika Allah memasukkan kata _*uff (ah)*_ kepada orang tua sebagai *bentuk tindakan durhaka* karena bisa menyakiti hati orang tua
~ _Bagaimana dengan tindakan membentak, memarahi, menyetir mereka, mencampuri urusan mereka, dst... ??_
Yang tentunya jauh lebih menyakiti hati mereka.
~ _Anda ingin mengetahui perasaan mereka?_
*Bayangkanlah bila anda di posisi mereka*
Dan bayangkan betapa pilu dan tersayatnya hati Anda ketika *dibentak oleh anak yang anda lahirkan*
Anda perjuangkan hidupnya, Anda korbankan semuanya untuk dia..
_Subhanallah..._
Dimanakah sikap merendah mereka kepada orangtua yang diperintahkan Alqur'an.
Mana pula belas kasih sayang terhadap orang tua, seorang yang paling banyak berjasa kepada mereka setelah Allah ta'ala?!
*Jika mereka sudah merasa TIDAK butuh lagi dengan pahala berbakti* kepada orang tua yang sangat besar, maka paling tidak harusnya mereka takut dengan sabda Nabi Shallallahu'laihi wa sallam
Dari Nufai' bin Al-Harits Ats-Tsaqafi Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ مِنَ الْبَغِى وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ
*_“Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini]–berikut dosa yang disimpan untuknya [di akhirat]–daripada perbuatan melampaui batas (kezaliman) dan memutus silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).”_*
_(HR. Tirmidzi, no. 2511; Abu Daud, no. 4902; dan Ibnu Majah, no. 4211. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)_
__________
*ICA-OFFICIAL DIGITAL MEDIA*
🌏 *ICA SAHABAT:* https://www.facebook.com/ICAsunnah
📮 *ICA Telegram:* https://telegram.me/icassunah
Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.
___🍃🕋🍃___
.
Rumah Tahfidz, Belajar Tahsin dan Tajwid Al Qur'an, Kajian Ilmu syar'i Hub: Diana Gasim (Ummu Achmad ) 085312837788)
Friday, February 14, 2020
◾ KENAPA MASIH BERLEHA-LEHA ? ◾
Tak tahu kapan maut mendatangi,
Menyergap dan memutus urat nadi,
Di dalam kubur mencekam sendiri,
Tapi mereka tidak juga bersiap diri...
Cukuplah kematian pemberi nasihat,
Dari kelalaian yang demikian cepat,
Tak berguna bagi yang tak kembali,
Merugi bagi yang tak menanggapi...
Semua kenikmatan tak lagi berarti saat maut menjemput, lantas mengapa masih bermaksiat kepada Allah tanpa takut...?
Bisa jadi sebentar lagi dalam barisan orang mati, tapi kenapa masih asyik berleha-leha tanpa taubat dan intropeksi diri...?
Ketahuilah, semenit yang telah terlewatkan adalah angan-angannya berjuta ruh, supaya mereka bisa beramal dan bertaubat, namun itu semua tidak mungkin bisa terjadi karena sudah terlambat...
Barangsiapa sibuk beribadah dan bertaubat, berdzikir serta mencintai Allah ketika hidup, maka dia akan disibukkan dengannya saat ruhnya keluar menuju Allah Ta'ala...
✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar
https://telegram.me/najmiumar
Instagram : @najmiumar_official
Youtube : najmi umar official
_____________________
◾ SIAPAKAH ORANG BERILMU ? ◾
Mujahid bin Jabr رحمه الله berkata :
"Orang yang faqih adalah orang yang takut kpda Allah Ta'ala meskipun ilmunya sedikit, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yg telah bermaksiat kepada Allah meskipun ilmunya banyak" (Al-Bidaayah wan Nihaayah IX/255)
Imam al-Barbahari رحمه الله berkata :
"Sesungguhnya orang yang disebut berilmu itu hanyalah orang yang mengikuti ilmu dan mengamalkan sunnah, meskipun ilmu serta kitabnya sedikit. Dan barangsiapa yang telah menyelisihi al-Qur'an dan as-Sunnah maka dia adalah ahli bid'ah, meskipun ilmu serta kitabnya banyak" (Syarhus Sunnah hal 99)
Ahlus Sunnah adalah orang2 yang berilmu, mereka tidak berbicara kecuali dengan dalil dari al-Qur'an dan as-Sunnah sebagaimana yang telah dipahami Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, serta generasi2 berikutnya yang telah mengikuti mereka dengan baik, sedangkan orang-orang yang bodoh berbicara dengan mengambil dari ucapan tokoh-tokoh mereka, dan tidak ada yang keluar darinya kecuali kesesatan...
✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar
https://telegram.me/najmiumar
Instagram : @najmiumar_official
Youtube : najmi umar official
Tak tahu kapan maut mendatangi,
Menyergap dan memutus urat nadi,
Di dalam kubur mencekam sendiri,
Tapi mereka tidak juga bersiap diri...
Cukuplah kematian pemberi nasihat,
Dari kelalaian yang demikian cepat,
Tak berguna bagi yang tak kembali,
Merugi bagi yang tak menanggapi...
Semua kenikmatan tak lagi berarti saat maut menjemput, lantas mengapa masih bermaksiat kepada Allah tanpa takut...?
Bisa jadi sebentar lagi dalam barisan orang mati, tapi kenapa masih asyik berleha-leha tanpa taubat dan intropeksi diri...?
Ketahuilah, semenit yang telah terlewatkan adalah angan-angannya berjuta ruh, supaya mereka bisa beramal dan bertaubat, namun itu semua tidak mungkin bisa terjadi karena sudah terlambat...
Barangsiapa sibuk beribadah dan bertaubat, berdzikir serta mencintai Allah ketika hidup, maka dia akan disibukkan dengannya saat ruhnya keluar menuju Allah Ta'ala...
✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar
https://telegram.me/najmiumar
Instagram : @najmiumar_official
Youtube : najmi umar official
_____________________
◾ SIAPAKAH ORANG BERILMU ? ◾
Mujahid bin Jabr رحمه الله berkata :
"Orang yang faqih adalah orang yang takut kpda Allah Ta'ala meskipun ilmunya sedikit, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yg telah bermaksiat kepada Allah meskipun ilmunya banyak" (Al-Bidaayah wan Nihaayah IX/255)
Imam al-Barbahari رحمه الله berkata :
"Sesungguhnya orang yang disebut berilmu itu hanyalah orang yang mengikuti ilmu dan mengamalkan sunnah, meskipun ilmu serta kitabnya sedikit. Dan barangsiapa yang telah menyelisihi al-Qur'an dan as-Sunnah maka dia adalah ahli bid'ah, meskipun ilmu serta kitabnya banyak" (Syarhus Sunnah hal 99)
Ahlus Sunnah adalah orang2 yang berilmu, mereka tidak berbicara kecuali dengan dalil dari al-Qur'an dan as-Sunnah sebagaimana yang telah dipahami Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, serta generasi2 berikutnya yang telah mengikuti mereka dengan baik, sedangkan orang-orang yang bodoh berbicara dengan mengambil dari ucapan tokoh-tokoh mereka, dan tidak ada yang keluar darinya kecuali kesesatan...
✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar
https://telegram.me/najmiumar
Instagram : @najmiumar_official
Youtube : najmi umar official
*M A R I B A R A J A .COM*
https://wp.me/pa7ASR-Dl
┏🔰━━━━━━━━━━━┓
*WASPADALAH! BAHAYA MENYERANG REMAJA*
┗━━━━━━━━━━━━━┛
Oleh: _Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc_
🏡Pada pembahasan yang lalu telah dibahas bagaimana orang tua menjauhkan perkara yang membahayakan putra dan putrinya pada usia remaja, tatkala mereka di rumah, misalnya: pakaian ibu dan saudari yang merangsang syahwat, tidur mereka tidak terpisah, kamar tidur keluarga terbuka, pergaulan orang tua yang tidak mendukung, orang tua tidak peduli dengan handphone putra dan putrinya, dan yang lainnya.
🖼Sesungguhnya bahaya yang mengancam mereka bukan hanya di rumah, tetapi di luar rumah pun masih banyak. Orang tua dan pendidik harus waspada agar anak yang shalih-shalihah tidak berubah menjadi rusak moralnya.
📝Tulisan ini hanyalah ringkasan...
🔍Simak artikel selengkapnya, *klik:*
https://maribaraja.com/waspadalah-bahaya-menyerang-remaja/
*Bahaya teman yang buruk agama dan akhlaknya*
🚷Orang tua hendaknya waspada dengan siapa anaknya berteman. Apakah mendukung kebaikan dirinya atau sebaliknya, malah merusak akidah dan akhlaknya?
Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
وَمَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْهُ شَيْءٌ أَصَابَكَ مِنْ رِيحِهِ وَمَثَلُ جَلِيسِ السُّوءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْكِيرِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْ سَوَادِهِ أَصَابَكَ مِنْ دُخَانِهِ
_“Perumpamaan kawan yang baik seperti pembawa minyak wangi. Bila kamu tidak mendapat sesuatu darinya (minyak tersebut) maka paling tidak kamu akan terkena aroma harumnya. Dan perumpamaan kawan yang jahat seperti pandai besi. Bila kamu tidak mendapat hitamnya, paling tidak kamu akan terkena asapnya.”_ (HR. Abu Dawud: 2/674, disahihkan oleh al-Albani)
Nabi Shallallahu'alaihi wasallam juga bersabda, _"Agama seseorang itu cenderung mengikuti agama temannya, oleh karena itu setiap orang dari kalian hendaknya melihat (memperhatikan) dengan siapa yang ia berteman."_ (HR. at-Tirmidzi: 2497, dihasankan oleh al-Albani)
*Berhubungan dengan wanita yang bukan mahram*
💞Di antara perusak kehidupan remaja adalah sering berhubungan dengan lain jenis yang bukan mahramnya. Bahkan itulah awal perbuatan zina. Orang tua harus berhati-hati dengan putra dan putrinya, dengan siapa mereka bergaul?
⚠Bahkan perbuatan keji ini bukan hanya dilakukan oleh remaja yang belum menikah. Yang sudah berkeluarga pun sering didapati. Itu berawal dari pandangan pertama yang dituruti. Sahabat Jarir Radhiallahu'anhu pernah berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam tentang hukum memandang wanita dengan tiba-tiba (tanpa sengaja). Maka beliau menjawab, _"Palingkan pandanganmu!."_ (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh al-Albani: 5/148)
⏱Orang tua pernah menjadi remaja. Begitu berat rasanya menjaga syahwat bila kita tidak memiliki iman yang kuat. Padahal pada waktu kita masih muda belum ada handphone, televisi, internet dan perangsang syahwat lainnya. Maka bagaimana dengan pemuda dan pemudi kita pada zaman sekarang? Apakah kita tidak kasihan bila mereka kita biarkan tanpa pengawasan dan kontrol orang tua?
*Bahaya wanita pergi tanpa mahram*
🌹Wanita, semua tubuh dan geraknya adalah keindahan. Bahkan suaranya juga. Jika dia pergi tanpa mahram, tentu berbahaya, terutama bila usianya masih muda. Hal ini tidak bisa kita ingkari. Berapa banyak kejadian perbuatan keji, penyebabnya wanita pergi sendiri? Orang tua hendaknya waspada, ke mana putrinya pergi? Bersama siapa dia? Rasulullah mengingatkan kita sebelum bala menimpa, Beliau bersabda:
وَلَا تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ.
_“Dan janganlah wanita itu bepergian melainkan bersama mahramnya.”_ (HR. Muslim: 2391)
*Bahaya wanita bila keluar bertabarruj*
💍Kebiasaan buruk bagi wanita ketika keluar rumah, dia bertabarruj, yaitu bersolek dan berdandan melebihi dandanannya saat bertemu suaminya jika dia sudah berkeluarga. Bersoleknya wanita ketika keluar, sekalipun bersama mahramnya tetap memfitnah remaja atau dirinya. Oleh karenanya, ketika keluar rumah wanita dilarang bersolek. (Lihat QS. al-Ahzāb: 33)
👠Mujahid (ulama tafsir tabi’in) berkata, _“Wanita Jahiliyah jika keluar dia berjalan berlenggak-lenggok, genit di hadapan kaum pria.”_ Muqatil bin Hayyan berkata, _"Wanita Jahiliyah bila berdandan, dia menanggalkan kerudungnya sehingga kelihatan giwang, anting-anting, kalung dan kelihatan lehernya."_ (Taisirul Aliyil Qadir: 1/2028)
https://wp.me/pa7ASR-Dl
┏🔰━━━━━━━━━━━┓
*WASPADALAH! BAHAYA MENYERANG REMAJA*
┗━━━━━━━━━━━━━┛
Oleh: _Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron, Lc_
🏡Pada pembahasan yang lalu telah dibahas bagaimana orang tua menjauhkan perkara yang membahayakan putra dan putrinya pada usia remaja, tatkala mereka di rumah, misalnya: pakaian ibu dan saudari yang merangsang syahwat, tidur mereka tidak terpisah, kamar tidur keluarga terbuka, pergaulan orang tua yang tidak mendukung, orang tua tidak peduli dengan handphone putra dan putrinya, dan yang lainnya.
🖼Sesungguhnya bahaya yang mengancam mereka bukan hanya di rumah, tetapi di luar rumah pun masih banyak. Orang tua dan pendidik harus waspada agar anak yang shalih-shalihah tidak berubah menjadi rusak moralnya.
📝Tulisan ini hanyalah ringkasan...
🔍Simak artikel selengkapnya, *klik:*
https://maribaraja.com/waspadalah-bahaya-menyerang-remaja/
*Bahaya teman yang buruk agama dan akhlaknya*
🚷Orang tua hendaknya waspada dengan siapa anaknya berteman. Apakah mendukung kebaikan dirinya atau sebaliknya, malah merusak akidah dan akhlaknya?
Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
وَمَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْهُ شَيْءٌ أَصَابَكَ مِنْ رِيحِهِ وَمَثَلُ جَلِيسِ السُّوءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْكِيرِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْ سَوَادِهِ أَصَابَكَ مِنْ دُخَانِهِ
_“Perumpamaan kawan yang baik seperti pembawa minyak wangi. Bila kamu tidak mendapat sesuatu darinya (minyak tersebut) maka paling tidak kamu akan terkena aroma harumnya. Dan perumpamaan kawan yang jahat seperti pandai besi. Bila kamu tidak mendapat hitamnya, paling tidak kamu akan terkena asapnya.”_ (HR. Abu Dawud: 2/674, disahihkan oleh al-Albani)
Nabi Shallallahu'alaihi wasallam juga bersabda, _"Agama seseorang itu cenderung mengikuti agama temannya, oleh karena itu setiap orang dari kalian hendaknya melihat (memperhatikan) dengan siapa yang ia berteman."_ (HR. at-Tirmidzi: 2497, dihasankan oleh al-Albani)
*Berhubungan dengan wanita yang bukan mahram*
💞Di antara perusak kehidupan remaja adalah sering berhubungan dengan lain jenis yang bukan mahramnya. Bahkan itulah awal perbuatan zina. Orang tua harus berhati-hati dengan putra dan putrinya, dengan siapa mereka bergaul?
⚠Bahkan perbuatan keji ini bukan hanya dilakukan oleh remaja yang belum menikah. Yang sudah berkeluarga pun sering didapati. Itu berawal dari pandangan pertama yang dituruti. Sahabat Jarir Radhiallahu'anhu pernah berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam tentang hukum memandang wanita dengan tiba-tiba (tanpa sengaja). Maka beliau menjawab, _"Palingkan pandanganmu!."_ (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh al-Albani: 5/148)
⏱Orang tua pernah menjadi remaja. Begitu berat rasanya menjaga syahwat bila kita tidak memiliki iman yang kuat. Padahal pada waktu kita masih muda belum ada handphone, televisi, internet dan perangsang syahwat lainnya. Maka bagaimana dengan pemuda dan pemudi kita pada zaman sekarang? Apakah kita tidak kasihan bila mereka kita biarkan tanpa pengawasan dan kontrol orang tua?
*Bahaya wanita pergi tanpa mahram*
🌹Wanita, semua tubuh dan geraknya adalah keindahan. Bahkan suaranya juga. Jika dia pergi tanpa mahram, tentu berbahaya, terutama bila usianya masih muda. Hal ini tidak bisa kita ingkari. Berapa banyak kejadian perbuatan keji, penyebabnya wanita pergi sendiri? Orang tua hendaknya waspada, ke mana putrinya pergi? Bersama siapa dia? Rasulullah mengingatkan kita sebelum bala menimpa, Beliau bersabda:
وَلَا تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ.
_“Dan janganlah wanita itu bepergian melainkan bersama mahramnya.”_ (HR. Muslim: 2391)
*Bahaya wanita bila keluar bertabarruj*
💍Kebiasaan buruk bagi wanita ketika keluar rumah, dia bertabarruj, yaitu bersolek dan berdandan melebihi dandanannya saat bertemu suaminya jika dia sudah berkeluarga. Bersoleknya wanita ketika keluar, sekalipun bersama mahramnya tetap memfitnah remaja atau dirinya. Oleh karenanya, ketika keluar rumah wanita dilarang bersolek. (Lihat QS. al-Ahzāb: 33)
👠Mujahid (ulama tafsir tabi’in) berkata, _“Wanita Jahiliyah jika keluar dia berjalan berlenggak-lenggok, genit di hadapan kaum pria.”_ Muqatil bin Hayyan berkata, _"Wanita Jahiliyah bila berdandan, dia menanggalkan kerudungnya sehingga kelihatan giwang, anting-anting, kalung dan kelihatan lehernya."_ (Taisirul Aliyil Qadir: 1/2028)
Wednesday, February 12, 2020
*KUAT DAN LEMAHNYA SIFAT HURUF*
📝 *Muallif / Penulis :*
Abu Syech Nur Rohman bin Sulimin
Dalam Matn al-Muqoddimah al-Jazariyyah di Bab ke-3, Imam ibnu Jazari (w.833 H) membagi Sifat Huruf menjadi 18 Sifat yang terbagi menjadi 2 bagian, antara lain :
1⃣ *SIFAT PUNYA LAWAN KATA*
Jahr, Hams, Syiddah, Bainiyyah, Rokhowah, Isti'la, Istifal, Ithbaq, Infitah, Ishmat, Idzlaq
2⃣ *SIFAT TIDAK PUNYA LAWAN KATA*
Shofir, Qolqolah, Lin, Inkhirof, Takrir, Tafasysyi, Istitholah
Dalam Matn tersebut, Imam Ibnu Jazari tidak menjabarkan *Profil Setiap Sifat* dilihat dari Kuat atau Lemahnya. Artinya ada isyarat bahwa butuh penyempurna dari setiap Matn dengan menegok Matn karangan Ulama Tajwid lainnya.
Ternyata penyempurnanya ada pada Matn at-Tuhfah as-Samanudiyyah fii Tajwid al-Kalimat al-Qur'aniyyah bait ke 64-65 yang dikarang oleh Imam Ibrahim As-Samanudiy (w.1429 H) :
ضَعِيفُهَا هَمْسٌ وَرِخْوٌ وَخَفَا * لِينُ انْفِتَاحٌ وَاسْتِفَالٌ عُرِفَا
وَمَا سِوَاهَا وَصْفُهُ بِالقُوَّةِ * لا الذَّلْقِ وَالإصْمَاتِ وَالبَيْنِيَّةِ
_"Yang perlu diketahui dari Sifat Huruf yang lemah adalah Hams, Rokhowah, Khofa', Lin, Infitah, Istifal. Dan selain dari itu adalah Sifat Huruf yang kuat (Jahr, Syiddah, Isti'la, Ithbaq, Shofir, Qolqolah, Takrir, Inkhirof, Tafasysyi, Istitholah). Kecuali Idzlaq, Ishmat, dan Bainiyyah (termasuk Sifat Huruf Pertengahan)."_
Ingin tahu lebih detail apa saja yang dibahas dalam Matn tersebut? Silahkan bergabung dalam Dauroh Matn Samanudiyyah yang diselenggarakan oleh Yayasan Riung Huffazh Indonesia yang dibimbing oleh asy-Syaikh al-Muqri Dr. Arief Wardani, Lc., Diplm, M.Hum pada tanggal 21-25 Maret 2020.
•┈┈┈┈••❁🍀☘🍀❁••┈┈┈┈•
Bincang dengan Bu Yuli Founder sekolah alam
Alhamdulliah....Haiii Haloo Bapak dan Ibu semua apa kabar?insyaAllah saya akan menemani Bapak dan Ibu semua di diskusi hari ini,mudah-mudahan apa kita diskusikan malam ini bermanfaat untuk semua.
Jauh sebelum merdeka belajar digaungkan oleh mas mentri …..sekolah alam sudah sejak lama mengaungkan dan melaksanakan konsep merdeka belajar bagi murid-muridnya, dan tugas guru adalah memerdekakan anak didiknya.
Misi yang dibawa sekolah alam adalah :
- Meyempurnakan Akhlak Manusia
- Rahmatan Lil Alamin
Sekolah alam dirancang untuk melahirkan calon pemimpin, ini selaras dengan misi penciptaan manusia di muka bumi.
Sekolah alam sudah menggunakan kurikulumnya secara ajeg dari tahun 1998 sampai dengan sekarang,
Sekolah alam sesungguhnya bukan sekolah yang menyeragamkan tapi sekolah yang berisi keragaman dan keunikan dari setiap mereka yang bergabung.
Dari tahun 1998 Sekolah Alam sudah menggunakan kurikulum tematik.
Saat ini kita tidak sedang membangun sekolah, tapi kita sedang membangun peradaban ( Lendo Novo Said ).
Mungkin bisa dielaborasi sedikit bu, tentang implementasi model belajar "tematik" dan contoh implementasi "merdeka belajar" disekolah alam.
Tema di sekolah alam berfungsi sebagai kendaraan menuju goals yang dicapai dalam setiap pembelajaran
Kami mengunakan Spider Web untuk mem breakdown pembelajaran yang akan disampaikan kepada murid-murid
Pembedahan tema ke dalam materi-materi yang lebih kecil yang saling berhubungan dan terintegrasi, pembedahan ini akan membuat suatu materi bisa dipahami secara utuh, holistic dan dapat dilihat dari segala sisi.
Tahap perkembangan dan Pendidikan berbasis fitrah menjadi acuan kita dalam menyusun kurikulum di setiap level.
Apakah kurikulum dan model spider web ini digunakan d semua sekolah alam, atau masing2 sekolah boleh jadi menerapkan metode yang berbeda2...?
Hampir semua sekolah alam menerapkan metode spider web
Pembelajaran di sekolah alam harus dikaitkan dengan In situ development di daerah dimana sekolah alam tersebut berada
Sekolah-sekolah alam yang tergabung di Jaringan sekolah alam nusantara menggunakan 4 Pilar Kurikulum Sekolah Alam yang sama, hanya setiap sekolah alam harus punya ke khas an masing-masing dalam menyampaikan pembelajarannya.
Kami menggunakan metode khas sekolah alam, Belajar Bersama Alam untuk merangsang logika berfikir anak, Bahasa Bunda Bahasa Cinta sebagai bahasa kasih sayang dan Outbond untuk leadership, Bisnis dengan metode magang.
dan semua pembelajaran di sekolah alam harus di dibungkus dengan Akhlak
Pertanyaan :
Anak saya juli nanti usia 4 tahun 3 bulan. Dia speech delay ( artikulasi belum jelas dan gagap bicara ) . sampai sekarang masih terapi wicara. saya sudah mencari beberapa sekolah dan mengkerucut pada 2 salah satunya sekolah islam alam inklusi. Pertanyaannya adalah lebih baik saya fokuskan pada terapinya. Atau disembari sekolah,karna anaknya sudah minta sekolah.(dirumah tidak ada teman/tetangga). Dan apakah sekolah Alam inklusi menurut ibu baik utk anak speech delay.terimakasih
Jawab:
pada prinsipnya kunci mencari sekolah adalah menyelaraskan misi visi keluarga dan misi visi sekolah, sama atau tidak misi dan visinya,
cari sekolah itu kan seperti mencari jodoh ya, harus dipertimbangkan banyak hal,
jika misi dan visi sama insyaAllah tidak akan ada masalah kedepannya,
untuk anak-anak berkebutuhan khusus pastikan mencari sekolah inklusi yang sudah siap perangkatnya dalam hal penanganan ABK, karena banyak sekolah berlabel inklusi tapi belum siap baik secara SDM maupun perangkat lainnya,
pastikan benar-benar mencari sekolah yang ramah anak dan ramah ke orangtuanya, dalam hal ini sekolah yang komunikatif di segala hal.
Terapi atau sekolah dulu?ada baiknya ibu bertemu dengan ahlinya ya ( Psikolog atau dokter tumbuh kembang ) untuk memastikan kesiapan anak untuk sekolah,
Pada dasarnya kita semua terlahir dalam kondisi fitrah, Allah SWT sudah mengkaruniakan potensi unik pada setiap manusia dan sudah memberikan tugas/misi spesifik di dunia, manusia sejak lahir sudah punya
1. fitrah keimanan,
2. fitrah belajar,
3. fitrah bakat,
4. fitrah perkembangan,
5. fitrah seksualitas,
6. Fitrah estetika,
dari lahir sudah Allah bekali dengan potensi luar biasa,
hanya fitrah-fitrah tersebut di tumbuhkan dan dirawat atau malah dimatikan, dan orangtua punya andil besar dalam proses tersebut.
4 pilar kurikulum sekolah alam :
1. Akhlak
Akhlak akan menjadi pondasi yang kokoh bagi berdirinya karakter positif dan kepribadian siswa yang akan berdampak pada sikap dan tindak tanduknya ketika menjadi pemimpin kelak.
Di sekolah alam Guru berfungsi sebagai suri tauladan
2. Kepemimpinan
Anak-anak diharapkan punya karakter yang kuat dan berdaya, memberi manfaat bagi sebanyak-banyaknya makhluk Allah SWT di muka bumi, setidaknya pemimpin di masyarakat.
3. Logika
Anak-anak diharapkan memiliki sikap ilmiah,diantaranya ; cinta belajar, berfikir kritis dan berani dalam berinovasi
4. Kewirausahaan/Bisnis
Abak-anak di dorong untuk punya jiwa wirausaha dari dini, mau jadi apapun mereka kelak, mereka harus menjadi anak-anak mandiri yang tidak bergantung pada orang lain, harus mandiri secara ekonomi.
Kurikulum sekolah alam boleh diadopsi oleh lembaga non sekolah alam, sekolah alam merupakan gerakan, gerakan yang punya kontribusi dalam membangun peradaban.
Tahap Perkembangan berbasis fitrah :
0-2 tahun adalah usia pra latih pada usia ini anak harus dekat dengan ibunya karena sedang masa menyusui , seperti apa anak-anak melihat Tuhannya adalah bagaimana Ibu memperlakukannya dari usia 0, bagi anak-anak usai 0-2 tahun ibu adalah Tuhan mereka.Bahsa Ibu sebagai behasa pertama.
2-6 Tahun : anak-anak harus dekat dengan dengan kedua orangtuanya, usia-usia ini adalah usia imaginasi, orangtua yang orang rumah sebagai teladan dan bertindak tanduk, anak-anak harus dibangun imagi positif tentang alam, tentang kehidupan, tentang belajar dengan experiental learning, Jasmani dan Emosi menjadi PR utama yang harus distimulasi diusia ini, anak-anak harus dengan kedua orangtuanya sebagai bekal sempurna tumbuhnya fitrah seksualitas.
7 – 10 tahun : Dekatkan anak dengan laki-laki dengan ayah agar maskulinitasnya berkembang dan tumbuh dengan baik, Dekatkan anak perempuan dengan ibunya agar femininitasnya berkembang dan tumbuh dengan baik.Berikan anak untuk bereksplorasi yang memuaskan rasa ingin taunya dengan banyak memberikan kesempatan mereka bersentuhan dengan alam.
10 -14 tahun : Anak laki-laki dengan dengan ibu agar kelak mereka bisa memberikan suplai kasih sayang pada istri dan anak perempuannya, Anak perempuan dekat dengan Ayah agar kelak punya konsep diri yang kuat.
Usia-usia ini dimana orangtua sudah menjadi teman bagi anak,teman berbagi dalam segala hal.
15 tahun keatas ( Usia Akil Baliqh ): anak harus sudah mandiri dan bisa terjun dalam kegiatan kemasyarkatan, waktunya mereka menemukan potensinya dan sudah harus memikirkan kelak kemana kariernya.
Pertanyaan :
di kurikulumnya tentu ada tujuan pembelajaran yg ingin dicapai..ada target atau indikator pencapaian anak...atau kalau di kurtilas ada kompetensi dasar, yg hrs dicapai anak..apapun istilahnya..nah, di sekolah alam, itu acuannya dari mana? Memakai acuan apa? Apakah merumuskan sendiri/membuat sendiri? Atau bagaimana?
Jawab:
Indikator pasti ada ya bunda, kompetensi dasar, kompetensi inti, untuk pembelajaran akademis indikator menggunakan KD KI K13 Diknas, untuk capain lain diluar kurikulum akademis ada acuan tersendiri sesuai dengan ke khasan sekolah alam.
Pertanyaan:
Jadi kurikulumnya model kombinasi gitu ya bu...? Integrasi antara kurikulum diknas dan kurikulum khas sekolah alam...?
Model integrasinya juga agaknya berbeda2 ya bu..? Hanya saja core nya sama, demikian...?
Saya pernah dapat info dari salah satu sekolah alam, mereka mengombinasikan kurikulum diknas, kurikulum leadership, dan kurikulum akhlak kalau tidak salah...
Jawab:
Betul bu
__________
kalau sekolahnya ramah ke orangtua ibu,ibu bisa mengkomunikasikan hal tersebut kepada pengelola sekolah,makanya sekolah itu harus sangat komunikatif dan tidak boleh menutup diri dari saran dan kritik,misi dan visi itu seharusnya diturunkan menjadi kurikulum dan metode, tidak boleh bersebrangan antara misi visi dan kurikulumnya.
Untuk mewujudkan visi dan melaksanakan misi di sekolah itu diselenggarakan dengan kurikulum.kalau tidak tujuan besarnya tidak tercapai nanti.
Metode dan value sekolah alam itu kan agak unik ya... Apakah setiap guru yg terlibat d sekolah perlu melalui pelatihan2 khusus...?
Betul bu, karena salahsatu kunci suksesnya sekolah itu GUru
Pelatihan ini hanya d awal atau dilakukan periodik ya bu...? Apakah setiap guru menerima orientasi awal saja atau memang dikawal terus dalam penerapan kurikulum n values melalui pelatihan2/treatment khusus..?
di Sekolah kami sendiri ada beberapa macam upgrade, upgrade ruhiyah, upgrade knowledge, upgrade leadership,yang jadwalnya satu minggu satu kali.
per minggu di sekolah kami fasilitator ( sebutan Guru di sekolah alam ) harus mengikuti :
1. upgrade ruhiyah setiap hari senin,
2. upgrade knowledge di hari selasa,
3. rapat membahasa activity plan perminggu setiap kamis dan
4. team building per 3 bulan sekali.
di Sekolah Alam founder atau owner :
1. harus menguasai konsep dan menjadi penjaga visi misi dari sekolah,
2. harus menguasai kurikulum di sekolahnya,
~ upgrading pekanan
untuk di sekolah saya diberikan oleh founder dan team litbang,
~ untuk upgradding diluar sekolah dengan para maestro di bidang pendidikan ke sekolah alaman
Owner / Founder di sekolah alam harus betul-betul tau dan terjun secara langsung ke lapangan, agar tau hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki di sekolahnya.
Sekolah itu kan jualannya kurikulum dan konsep ya bu, lah kalau si penjual gak tau produknya kan bagaimana gitu ya, seyogjanya, yayasan utamanya tau secara mendalam konsep dan kurikulumnya, agar punya frekwensi yang sama dengan bawah-bawahnya atau pelaksana di lapangan.
Alhamdulillah
Semoga menjadi amal jariah beliau.. Aamiin
Tuesday, February 11, 2020
◾ SIAPAKAH ORANG BERILMU ? ◾
Mujahid bin Jabr رحمه الله berkata :
"Orang yang faqih adalah orang yang takut kpda Allah Ta'ala meskipun ilmunya sedikit, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yg telah bermaksiat kepada Allah meskipun ilmunya banyak" (Al-Bidaayah wan Nihaayah IX/255)
Imam al-Barbahari رحمه الله berkata :
"Sesungguhnya orang yang disebut berilmu itu hanyalah orang yang mengikuti ilmu dan mengamalkan sunnah, meskipun ilmu serta kitabnya sedikit. Dan barangsiapa yang telah menyelisihi al-Qur'an dan as-Sunnah maka dia adalah ahli bid'ah, meskipun ilmu serta kitabnya banyak" (Syarhus Sunnah hal 99)
Ahlus Sunnah adalah orang2 yang berilmu, mereka tidak berbicara kecuali dengan dalil dari al-Qur'an dan as-Sunnah sebagaimana yang telah dipahami Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, serta generasi2 berikutnya yang telah mengikuti mereka dengan baik, sedangkan orang-orang yang bodoh berbicara dengan mengambil dari ucapan tokoh-tokoh mereka, dan tidak ada yang keluar darinya kecuali kesesatan...
✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar
https://telegram.me/najmiumar
Instagram : @najmiumar_official
Youtube : najmi umar official
Mujahid bin Jabr رحمه الله berkata :
"Orang yang faqih adalah orang yang takut kpda Allah Ta'ala meskipun ilmunya sedikit, sedangkan orang yang bodoh adalah orang yg telah bermaksiat kepada Allah meskipun ilmunya banyak" (Al-Bidaayah wan Nihaayah IX/255)
Imam al-Barbahari رحمه الله berkata :
"Sesungguhnya orang yang disebut berilmu itu hanyalah orang yang mengikuti ilmu dan mengamalkan sunnah, meskipun ilmu serta kitabnya sedikit. Dan barangsiapa yang telah menyelisihi al-Qur'an dan as-Sunnah maka dia adalah ahli bid'ah, meskipun ilmu serta kitabnya banyak" (Syarhus Sunnah hal 99)
Ahlus Sunnah adalah orang2 yang berilmu, mereka tidak berbicara kecuali dengan dalil dari al-Qur'an dan as-Sunnah sebagaimana yang telah dipahami Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya, serta generasi2 berikutnya yang telah mengikuti mereka dengan baik, sedangkan orang-orang yang bodoh berbicara dengan mengambil dari ucapan tokoh-tokoh mereka, dan tidak ada yang keluar darinya kecuali kesesatan...
✍ Ustadz Najmi Umar Bakkar
https://telegram.me/najmiumar
Instagram : @najmiumar_official
Youtube : najmi umar official
*DOSA-DOSA MERUPAKAN SEBAB PERPECAHAN ANTAR ORANG YANG SALING MENCINTAI DAN PERSELISIHAN QALBU*
Segala pujian hanya bagi Allah, semoga shalawat dan salam tercurahkan atas Rasulullah serta keluarga beliau, sahabat beliau, dan orang-orang yang meniti jalan petunjuk beliau.
*Adapun selanjutnya; Sesungguhnya telah banyak terjadi perpecahan, perseteruan, perselisihan, dan perbedaan pendapat di tengah-tengah kaum mukminin. Yang demikian ini kembali pada sebab-sebab yang banyak, diantaranya adalah berbagai kemaksiatan dan dosa-dosa.*
Hal ini telah disebutkan di dalam sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dengan gamblang. al-Imam Ahmad meriwayatkan di dalam “al-Musnad” dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam beliau bersabda : *“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya (Allah) tidaklah ada dua orang yang saling mengasihi lalu keduanya berpisah, melainkan disebabkan dosa yang dikerjakan salah seorang dari keduanya”.*
Hadits ini disahihkan oleh al-Albani rahimahullah di dalam “Shahih at-Targhib wa at-Tarhib” (2219).
Di dalam lafazh oleh al-Bukhari dalam “al Adabul Mufrod” dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : *“Tidaklah ada dua orang yang saling mengasihi karena Allah ‘azza wa jalla atau karena Islam lalu keduanya berpisah, melainkan disebabkan dosa yang dikerjakan salah seorang dari keduanya”.* Disahihkan oleh al-Albani rahimahullah di dalam “Shahih al-Adabu al-Mufrod” (401) dan di dalam “ash-Shahihah” (637).
Berkata al-Munawi rahimahullah dalam “Faidhul Qadir Syarhul Jami’ ash-Shaghir” (5/437) : “Lafazh مَا تَوَادَّ (maa tawaadda : tidaklah ada yang saling mengasihi) dibaca dengan tasydid, (antara dua orang karena Allah lalu saling berpisah antara keduanya, melainkan disebabkan dosa yang dikerjakan salah seorang dari keduanya), maka terjadinya perpisahan ini merupakan hukuman atas dosa tersebut.
Oleh karenanya berkata Musa al-Kazhimi :
*“Jika telah berubah sikap sahabatmu kepadamu, maka ketahuilah bahwa hal itu disebabkan karena dosa yang telah engkau perbuat.*
➡️ *Maka bertaubatlah dari segala dosa niscaya akan langgeng kasih sayang sahabatmu”.*
Berkata pula al-Muzany :
✅ *“Jika engkau dapati sikap keras/antipati dari saudara-saudaramu maka bertaubatlah kepada Allah, ➡️ karena sesungguhnya engkau telah berbuat suatu dosa.*
✅ *Dan jika engkau dapati dari mereka bertambah sikap kasih sayang maka hal itu disebabkan amalan ketaatan yang engkau kerjakan,*
➡️ *oleh karenanya bersyukurlah kepada Allah”.*
Telah berkata al-Amir ash-Shon’ani di dalam “at-Tanwir Syarhu al-Jami’ ash-Shaghir” (9/379) : *“(Tidaklah ada dua orang yang saling mengasihi karena Allah lalu keduanya berpisah) setelah tadinya mereka berdua saling kasih-mengasihi, (melainkan disebabkan oleh dosa yang dikerjakan salah seorang dari keduanya). Maka ia mendapat hukuman dari Allah dengan terenggutnya hubungan persaudaraan yang ganjarannya amat besar di sisi Allah, karena sesungguhnya kemaksiatan-kemaksiatan itu akan merenggut barokahnya ketaatan.*
Berkata Musa al-Kazhimi :
*” Jika telah berubah sikap sahabatmu kepadamu, maka ketahuilah bahwa hal itu disebabkan karena dosa yang telah engkau perbuat. Maka bertaubatlah dari segala dosa niscaya akan langgeng kasih sayang sahabatmu”. Diantara contoh dari hal tersebut adalah: Telah meriwayatkan dua syaikh (al-Bukhari dan Muslim, wallahu a’lam -ed), Abu Dawud, at-Tirmidzi dan yang selainnya dari an-Nu’man bin Basyir, beliau berkata : Telah bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam : “Benar-benar kalian akan meluruskan shof-shof kalian, atau (jika tidak -ed) maka sungguh Allah akan membuat perselisihan diantara wajah-wajah kalian”.*
*Dan pada riwayat Abu Dawud*
yang lain dari an-Nu’man bin Basyir beliau berkata : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menghadap orang-orang (ketika hendak sholat -ed) lalu berkata : *“luruskanlah shof-shof kalian” -sebanyak tiga kali-, “demi Allah kalian benar-benar akan meluruskan shof-shof kalian atau sungguh Allah akan jadikan perselisihan diantara hati-hati kalian”*
an-Nu’man mengatakan :
*“Maka aku melihat salah seorang menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kaki dengan mata kakinya”.* Disahihkan oleh al-Albani rahimahullah di dalam “Shahih Sunan Abu Dawud” (662).
Berkata an-Nawawi rahimahullah di dalam “Syarhu Muslim” (4/173) : *“(Benar-benar kalian akan meluruskan shof-shof kalian atau (jika tidak -ed) maka sungguh Allah akan memperselisihkan diantara wajah-wajah kalian).* Dikatakan : maknanya adalah Allah akan memburukkannya dan mengubahnya dari bentuk/rupanya. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam : (Allah akan menjadikan rupanya menjadi rupa keledai).
*Dikatakan pula : Allah akan mengubah sifat-sifatnya. Dan yang lebih nampak* (kebenarannya -ed)
-wallahu a’lam-
*bahwa maknanya adalah : akan terjadi diantara mereka permusuhan dan kebencian, serta perselisihan qolbu. Sebagaimana dikatakan : telah berubah wajah fulan terhadapku. Artinya telah nampak dari wajahnya kebencian terhadapku dan telah berubah perasaannya terhadapku.*
*Hal ini dikarenakan perselisihan mereka dalam shof merupakan perselisihan secara zhahir (nampak), sedangkan perselisihan zhahir mereka merupakan sebab dari perselisihan batin-batin mereka”.*
Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam “al-Fathu” (2/269) setelah menyebutkan perkataan an-Nawawi : “Dan riwayat Abu Dawud dan selainnya menjadi penguat dengan lafazh : *(atau sungguh Allah akan memperselisihkan hati-hati kalian) sebagaimana akan datang penyebutannya sebentar lagi”. Berkata al-‘Azhim Abadi rahimahullah di dalam “‘Aunul Ma’bud Syarhu Sunan Abu Dawud” (2/295) setelah menukil perkataan an-Nawawi : “Riwayat ini (riwayat Abu Dawud -ed) menguatkan riwayat penulis (an-Nawawi)”. Berkata as-Subki rahimahullah dalam “al-Manhalul ‘Adzbul Maurud fii Syarhi Sunan al-Imam Abu Dawud” (5/53) :
*“Yang dimaksudkan dengan perselisihan diantara hati-hati mereka adalah terjadinya permusuhan dan kebencian diantara mereka, sehingga sebagian mereka berubah sikap kepada sebagian yang lain, karena perselisihan mereka dalam shof merupakan perselisihan secara zhahir sedangkan perselisihan zhahir merupakan sebab dari perselisihan batin”.*
Berkata al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah di dalam “Tanbihul Afham Syarhu ‘Umdatil Ahkam” (1/181) : “(atau sungguh Allah akan memperselisihkan) artinya : akan terjadi perselisihan diantara mereka. Huruf lam (pada lafazh ليخالفن : layukhaalifanna : berselisih) sebagaimana huruf lam pada lafazh لتسون (latasawwanna : meluruskan), dan kata (atau) menunjukkan pilihan, maknanya :
*bisa jadi mereka meluruskan shof, atau terjadi perselisihan diantara wajah-wajah mereka jika tidak meluruskannya. (diantara wajah-wajah kalian) artinya : diantara arah-arah pandang kalian, maka perselisihan itu muncul di setiap arah sehingga merekapun berpecah belah.*
*Pada riwayat Abu Dawud disebutkan : ( demi Allah kalian benar-benar akan meluruskan shof-shof kalian atau sungguh Allah akan jadikan perselisihan diantara hati-hati kalian)”.*
Pada poin ini berkata al-Qurthubi sebagaimana dinukilkan Ibnu Hajar dalam “al-Fathu” (2/269) : *“Maknanya adalah : kalian saling berpecah belah, sehingga setiap orang akan mengambil arah yang selain dari arah yang diambil oleh sahabatnya, karena sikap lebih mengedepankan dirinya daripada yang selainnya merupakan tempat sangkaan adanya rasa sombong yang akan merusak hati dan mengajak kepada perpecahan”.*
*Wahai saudara seiman, jika hukuman ini ditimpakan dengan sebab kemaksiatan tersebut (tidak meluruskan shof -ed), maka bagaimana lagi dengan kemaksiatan yang lebih besar dan lebih buruk daripadanya..?!*
*Ya Allah tutupilah aib-aib kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan perbaikilah hubungan diantara kami. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga beliau.*
—————————-
Diposting oleh :
Yusuf Shafshaaf Pada forum al-Ajurry
Segala pujian hanya bagi Allah, semoga shalawat dan salam tercurahkan atas Rasulullah serta keluarga beliau, sahabat beliau, dan orang-orang yang meniti jalan petunjuk beliau.
*Adapun selanjutnya; Sesungguhnya telah banyak terjadi perpecahan, perseteruan, perselisihan, dan perbedaan pendapat di tengah-tengah kaum mukminin. Yang demikian ini kembali pada sebab-sebab yang banyak, diantaranya adalah berbagai kemaksiatan dan dosa-dosa.*
Hal ini telah disebutkan di dalam sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dengan gamblang. al-Imam Ahmad meriwayatkan di dalam “al-Musnad” dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam beliau bersabda : *“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya (Allah) tidaklah ada dua orang yang saling mengasihi lalu keduanya berpisah, melainkan disebabkan dosa yang dikerjakan salah seorang dari keduanya”.*
Hadits ini disahihkan oleh al-Albani rahimahullah di dalam “Shahih at-Targhib wa at-Tarhib” (2219).
Di dalam lafazh oleh al-Bukhari dalam “al Adabul Mufrod” dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : *“Tidaklah ada dua orang yang saling mengasihi karena Allah ‘azza wa jalla atau karena Islam lalu keduanya berpisah, melainkan disebabkan dosa yang dikerjakan salah seorang dari keduanya”.* Disahihkan oleh al-Albani rahimahullah di dalam “Shahih al-Adabu al-Mufrod” (401) dan di dalam “ash-Shahihah” (637).
Berkata al-Munawi rahimahullah dalam “Faidhul Qadir Syarhul Jami’ ash-Shaghir” (5/437) : “Lafazh مَا تَوَادَّ (maa tawaadda : tidaklah ada yang saling mengasihi) dibaca dengan tasydid, (antara dua orang karena Allah lalu saling berpisah antara keduanya, melainkan disebabkan dosa yang dikerjakan salah seorang dari keduanya), maka terjadinya perpisahan ini merupakan hukuman atas dosa tersebut.
Oleh karenanya berkata Musa al-Kazhimi :
*“Jika telah berubah sikap sahabatmu kepadamu, maka ketahuilah bahwa hal itu disebabkan karena dosa yang telah engkau perbuat.*
➡️ *Maka bertaubatlah dari segala dosa niscaya akan langgeng kasih sayang sahabatmu”.*
Berkata pula al-Muzany :
✅ *“Jika engkau dapati sikap keras/antipati dari saudara-saudaramu maka bertaubatlah kepada Allah, ➡️ karena sesungguhnya engkau telah berbuat suatu dosa.*
✅ *Dan jika engkau dapati dari mereka bertambah sikap kasih sayang maka hal itu disebabkan amalan ketaatan yang engkau kerjakan,*
➡️ *oleh karenanya bersyukurlah kepada Allah”.*
Telah berkata al-Amir ash-Shon’ani di dalam “at-Tanwir Syarhu al-Jami’ ash-Shaghir” (9/379) : *“(Tidaklah ada dua orang yang saling mengasihi karena Allah lalu keduanya berpisah) setelah tadinya mereka berdua saling kasih-mengasihi, (melainkan disebabkan oleh dosa yang dikerjakan salah seorang dari keduanya). Maka ia mendapat hukuman dari Allah dengan terenggutnya hubungan persaudaraan yang ganjarannya amat besar di sisi Allah, karena sesungguhnya kemaksiatan-kemaksiatan itu akan merenggut barokahnya ketaatan.*
Berkata Musa al-Kazhimi :
*” Jika telah berubah sikap sahabatmu kepadamu, maka ketahuilah bahwa hal itu disebabkan karena dosa yang telah engkau perbuat. Maka bertaubatlah dari segala dosa niscaya akan langgeng kasih sayang sahabatmu”. Diantara contoh dari hal tersebut adalah: Telah meriwayatkan dua syaikh (al-Bukhari dan Muslim, wallahu a’lam -ed), Abu Dawud, at-Tirmidzi dan yang selainnya dari an-Nu’man bin Basyir, beliau berkata : Telah bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam : “Benar-benar kalian akan meluruskan shof-shof kalian, atau (jika tidak -ed) maka sungguh Allah akan membuat perselisihan diantara wajah-wajah kalian”.*
*Dan pada riwayat Abu Dawud*
yang lain dari an-Nu’man bin Basyir beliau berkata : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menghadap orang-orang (ketika hendak sholat -ed) lalu berkata : *“luruskanlah shof-shof kalian” -sebanyak tiga kali-, “demi Allah kalian benar-benar akan meluruskan shof-shof kalian atau sungguh Allah akan jadikan perselisihan diantara hati-hati kalian”*
an-Nu’man mengatakan :
*“Maka aku melihat salah seorang menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kaki dengan mata kakinya”.* Disahihkan oleh al-Albani rahimahullah di dalam “Shahih Sunan Abu Dawud” (662).
Berkata an-Nawawi rahimahullah di dalam “Syarhu Muslim” (4/173) : *“(Benar-benar kalian akan meluruskan shof-shof kalian atau (jika tidak -ed) maka sungguh Allah akan memperselisihkan diantara wajah-wajah kalian).* Dikatakan : maknanya adalah Allah akan memburukkannya dan mengubahnya dari bentuk/rupanya. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam : (Allah akan menjadikan rupanya menjadi rupa keledai).
*Dikatakan pula : Allah akan mengubah sifat-sifatnya. Dan yang lebih nampak* (kebenarannya -ed)
-wallahu a’lam-
*bahwa maknanya adalah : akan terjadi diantara mereka permusuhan dan kebencian, serta perselisihan qolbu. Sebagaimana dikatakan : telah berubah wajah fulan terhadapku. Artinya telah nampak dari wajahnya kebencian terhadapku dan telah berubah perasaannya terhadapku.*
*Hal ini dikarenakan perselisihan mereka dalam shof merupakan perselisihan secara zhahir (nampak), sedangkan perselisihan zhahir mereka merupakan sebab dari perselisihan batin-batin mereka”.*
Berkata al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam “al-Fathu” (2/269) setelah menyebutkan perkataan an-Nawawi : “Dan riwayat Abu Dawud dan selainnya menjadi penguat dengan lafazh : *(atau sungguh Allah akan memperselisihkan hati-hati kalian) sebagaimana akan datang penyebutannya sebentar lagi”. Berkata al-‘Azhim Abadi rahimahullah di dalam “‘Aunul Ma’bud Syarhu Sunan Abu Dawud” (2/295) setelah menukil perkataan an-Nawawi : “Riwayat ini (riwayat Abu Dawud -ed) menguatkan riwayat penulis (an-Nawawi)”. Berkata as-Subki rahimahullah dalam “al-Manhalul ‘Adzbul Maurud fii Syarhi Sunan al-Imam Abu Dawud” (5/53) :
*“Yang dimaksudkan dengan perselisihan diantara hati-hati mereka adalah terjadinya permusuhan dan kebencian diantara mereka, sehingga sebagian mereka berubah sikap kepada sebagian yang lain, karena perselisihan mereka dalam shof merupakan perselisihan secara zhahir sedangkan perselisihan zhahir merupakan sebab dari perselisihan batin”.*
Berkata al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah di dalam “Tanbihul Afham Syarhu ‘Umdatil Ahkam” (1/181) : “(atau sungguh Allah akan memperselisihkan) artinya : akan terjadi perselisihan diantara mereka. Huruf lam (pada lafazh ليخالفن : layukhaalifanna : berselisih) sebagaimana huruf lam pada lafazh لتسون (latasawwanna : meluruskan), dan kata (atau) menunjukkan pilihan, maknanya :
*bisa jadi mereka meluruskan shof, atau terjadi perselisihan diantara wajah-wajah mereka jika tidak meluruskannya. (diantara wajah-wajah kalian) artinya : diantara arah-arah pandang kalian, maka perselisihan itu muncul di setiap arah sehingga merekapun berpecah belah.*
*Pada riwayat Abu Dawud disebutkan : ( demi Allah kalian benar-benar akan meluruskan shof-shof kalian atau sungguh Allah akan jadikan perselisihan diantara hati-hati kalian)”.*
Pada poin ini berkata al-Qurthubi sebagaimana dinukilkan Ibnu Hajar dalam “al-Fathu” (2/269) : *“Maknanya adalah : kalian saling berpecah belah, sehingga setiap orang akan mengambil arah yang selain dari arah yang diambil oleh sahabatnya, karena sikap lebih mengedepankan dirinya daripada yang selainnya merupakan tempat sangkaan adanya rasa sombong yang akan merusak hati dan mengajak kepada perpecahan”.*
*Wahai saudara seiman, jika hukuman ini ditimpakan dengan sebab kemaksiatan tersebut (tidak meluruskan shof -ed), maka bagaimana lagi dengan kemaksiatan yang lebih besar dan lebih buruk daripadanya..?!*
*Ya Allah tutupilah aib-aib kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan perbaikilah hubungan diantara kami. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga beliau.*
—————————-
Diposting oleh :
Yusuf Shafshaaf Pada forum al-Ajurry
Subscribe to:
Posts (Atom)