Materi 2⃣B
๐
๐
๐
๐
๐
๐
๐
TEKNIK MEMULAI HOME EDUCATION
SME: Septi Peni Wulandani (Praktisi HE sejak 1996)
-----------------------------
HE adalah kewajiban syar’i kita sebagai orang tua. Bahkan menurut saya, justru jadi ilmu wajib bagi para calon ibu dan bapak. HE dimulai dari dalam kandungan, masa pre aqil baligh dan aqil baligh. Ketika masuk usia sekolah, anak dapat memilih mau sekolah/home schooling/komunitas sesuai passion anak.
HE dimulai dari satu pemahaman para fasilitator utamanya yaitu kita sebagai orang tuanya. Maka mulailah:
✅ Berdiskusi secara rutin dengan pasangan tentang konsep HE.
Tentukan jadwal khusus untuk kita bersungguh-sungguh membahas hal ini
✅ Seringlah belajar bersama pasangan tentang HE, baik dengan silaturahim, ikut seminar, bedah buku, dan lain-lain kemudian segera tentukan apa hal-hal baik yang bisa segera kita terapkan di keluarga kita.
✅ Perkuat konsep pendidikan anak yang disepakati suami dan istri. Selama kita kuat, maka om, tante, dan nenek akan diam. Tetapi kalau kita tampak tidak yakin, maka orang lain akan campur tangan. Kuncinya selama Allah dan Rasul-NYa tidak murka, silakan jalan terus dengan keyakinan kita.
Berpegang teguhlah pada Al Quran dan Hadits sebagai acuan utama kita mendidik anak. Yang lain hanya dijadikan referensi, jangan justru membuat kita bingung
✅ Belajarlah melihat potensi unik anak-anak kita. Kemudian perkuat sisi keunikan tersebut. Ingat anak kita adalah ‘limited edition”. Hanya kita yang paham, jangan pasrahkan kepada orang lain
✅ Mulailah membuat kurikulum untuk anak-anak kita dengan sederhana, mulai dari aktivitas mereka 0-2 tahun, 2-7 tahun
✅ Perkuat bonding anda bersama anak-anak di usia 0-7 tahun ini. Perkuat dengan bahasa ibu dan bermain bersama alam. Jadi sebaiknya jangan terlalu dini memasukkan anak ke lembaga bernama “sekolah”
✅ Ketika sudah memasuki usia sekolah, perkaya wawasan anak dengan berbagai konsep pendidikan. Ingat, “sekolah” itu hanya bagian pilihan dari pendidikan, bukan satu-satunya.
Konsep utama HE adalah Iqra’ dan Thalabul ‘Ilmi. Jadi urusannya adalah belajar atau tidak belajar bukan sekolah atau tidak sekolah.
Rumah Tahfidz, Belajar Tahsin dan Tajwid Al Qur'an, Kajian Ilmu syar'i Hub: Diana Gasim (Ummu Achmad ) 085312837788)
Friday, August 7, 2015
Materi 2⃣
➡➡Bagaimana Memulai HE?➡➡
๐ค Harry Santosa
Panduan bagi HE, sekali lagi adalah menjaga fitrah yang baik dengan cara menumbuhkan dan mengeluarkan fitrah-fitrah baik itu (inside out) yang Allah karuniakan kepada anak-anak kita. Diantara Fitrah itu adalah bahwa tiap anak yang lahir adalah pembelajar yang tangguh.Potensi fitrah belajar ini harus dibebaskan dan tidak boleh kaku dan dalam tekanan nilai.Sejak anak dalam kandungan sampai lahir pada galibnya sudah mengalami home education.Tugas HE itu sampai anak kita berusia aqil baligh.Kalau wanita ada special exception, yaitu sampai pindah wali alias menikah, walau kemandirian dan kedewasaan tetap harus disiapkan ketika berusia aqil baligh.Pertanyaannya, bagaimana kita memulai home education?Apa yang harus kita lakukan untuk memulainya? Izinkan saya berbagi ya, hasil belajar panjang dan pengalaman bersama teman2, ustadz2, pakar2 yg telah memulainya lebih dulu.Sebelumnya saya mulai dengan sedikit renungan ya…
๐๐Renungan Pendidikan #1๐๐
Sesungguhnya hanya kedua orangtualah yg paling kenal potensi keunikan anak2nya.Dari sanalah karakter2 baik dikembangkan dan disempurnakan dgn akhlak mulia.Kedua orangtuanya lah makhluk yg paling mencintai dgn tulus anak2nya.Orangtua sejati adalah mereka yg menginginkan kebahagiaan anak2nya lebih dari apapun di muka bumi.
Dunia persekolahan adalah dunia yg tdk pernah mengandung anak2 kita, tdk pernah melahirkan anak2 kita bahkan tdk pernah diberi amanah oleh Allah swt sesaatpun juga, krn itu persekolahan bukanlah dunia yg sungguh2 mampu mengenal dan mencintai anak2 kita dgn tulus dan ikhlash
Bukankah anak kita adalah alasan terbesar dan terpenting mengapa kita ada di muka bumi ini? Merekalah sbg amanah mendidik generasi peradaban bagi dunia yg lebih damai dan sbg amanah yg akan membanggakan Ummat Muhammad di yaumilqiyamah kelak.
Membangun "home education" bukanlah pilihan tetapi kewajiban setiap orangtua, porsi kuantitas waktu dan kualitas perhatiannya mesti jauh lebih banyak bahkan meniadakan porsi persekolahan.
Sayangnya banyak ortu yg menganggap kewajiban mendidik telah selesai ketika anak2 berada sepenuh waktu di sekolah dan di lembaga2 kursus.Obrolan ttg pendidikan adalah obrolan seputar ranking, ijasah, prestasi2 akademis dan tugas2 sekolah yg dibawa ke rumah, bukan tentang mengembangkan karunia fitrah yg anak2 kita miliki.
Mari kembalikan fitrah kesejatian peran orangtua, kesejatian fungsi rumah, kesejatian pendidikan, kesejatian anak2 kita.Jangan sekali2 merubah fitrah kesejatian itu semua krn itulah sesungguhnya penyebab berbagai krisis dan kerusakan di muka bumi.
Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasispotensi dan akhlak
๐๐
Memulai Home Education adalah memulai utk mendidik diri kita sebagai orangtua.Memulai mendidik diri kita sebagai orangtua adalah diawali dengan membaca ayat2 Allah, baik Qouliyah maupun Kauniyah, kemudian mensucikan diri kita utk mengembalikan fitrah2 yg baik yg Allah telah karuniakan kpd kita.Mengembalikan kesadaran akan peran2 kesejatian kita sebagai orangtua. Pekerjaan mendidik adalah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah.Tiada aktifitas dan peran paling penting di dalam rumah kita kecuali peran dan aktifitas mendidik anak2 kita.
Mendidik anak2 kita adalah membangkitkan kesadaran fitrah anak2 kita, karenanya para orangtua perlu mengawali dgn mengembalikan fitrah2 baiknya melalui tazkiyatunnafs lebih dulu.Fitrah yg baik pd anak2 kita akan bertemu dgn fitrah yg baik yg ada dalam diri orangtua nya. Apa yg keluar dari fitrah yg baik, akan diterima oleh fitrah yg baik.
๐Fitrah keimanan pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah keimanan kedua orangtuanya.
๐Fitrah belajar pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah belajar kedua orangtuanya.
๐Fitrah potensi bakat pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah pengakuan potensi anak2nya sbg karunia Allah swt, dari keduaorangtuanya.
๐Fitrah tahapan perkembangan sesuai sunnatullah pertumbuhan anak, akan bertemu dengan fitrah pengakuan bhw segala sesuatu di muka bumi memiliki sunnatullah perkembangannya masing. Dstnya.
Tanpa memulai dengan ini maka perjalanan home education adalah perjalanan yg menjauh dari fitrah, berisi obsesi2 dan kecenderungan merusak fitrah krn ambisi tertentu maupun ketergesaan dalam tahapannya.Jadi memulai HE berawal dari bagaimana kita para ortu membangkitkan kesadaran fitrah kita sendiri dengan melakukan tazkiyatunnafs atau pensucian jiwa.
Silahkan dibuka surat 62:2
๐๐๐๐๐
Hari Jum’at (Al-Jumu`ah):2 - Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
๐๐๐๐
Ayat ini adalah jawaban atas Doa Nabi Ibrahim alaihisalam ttg generasi yg akan dibangkitkan dari keturunannya.
๐๐๐๐
Ya Tuhan kami, utuslah untuk merka seorang rasul dari kalangan mereka,
yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan
kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta
mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS 2 Al Baqoroh Ayat 129)
๐๐๐๐
Ada tahapan berbeda dari kedua ayat.
Doa Nabi Ibrahim as adalah "pembacaan", "pengajaran", "pensucian"Jawaban Allah adalah "pembacaan" dan "pensucian" sebelum memulai proses "pengajaran" (ta'limunal-Kitaba walHikmah).
Kata Tazkiyah atau pensucian oleh beberapa ulama dimaknakan sebagai Tarbiyah atau menumbuhkan fitrah yg merupakan inti Pendidikan itu sendiri, sdgkan pengilmuan atau pengajaran bersifat pemberian skill dan knowledge.Ayah Bunda harap bersabar utk tdk langsung melompat ke teknis HE.Kita sungguh memerlukan pijakan yg kokoh, jiwa2 yg full ridha menjalaninya.Karena sejujurnya HE ini melawan arus baik konsep maupun praktek pendidikan yg umumnya kita samakan dengan persekolahan atau pengajaran.Pendidikan sebgamna pengantar diawal adalah proses "inside out", membangkitkan fitrah2 dalam diri anak2 kita. Bukan proses penjejalan "outside in". Setiap anak kita terlahir dalam keadaan fitrah (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan dll).... namun semua fitrah itu adalah potensi2 terpendam, maka tugas kitalah utk mendidik/membangkitkan/menumbuhkan potensi fitrah itu agar anak2 kita mencapai peran peradabannya atau misi spesifiknya sbg khalifah di muka bumi
๐๐๐๐
Dalam QS. 13 ayat 11 Allah berfirman:
َُููู ُุนَِّูุจَุงุชٌู ِْูุจََِْูููุฏََِْูููู ِْูุฎََِِْููููุญَْูุธَُُูููู ِْูุฃَู ْุฑِุงَِّูููุۗฅَِّูุงَََّููููุงُูุบَِّูุฑُู َุงุจَِْููู ٍุญَุชَُّٰููุบَِّูุฑُูุงู َุงุจِุฃَُْููุณِِูู َْูุۗฅِุฐَุงุฃَุฑَุงุฏَุงَُّูููุจَِْููู ٍุณُูุกًุงََููุงู َุฑَุฏَََُّููููۚ َุงَُููู ْู ِْูุฏُِِูููู َِْููุงٍู
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
๐๐๐๐
Banyak yg menggunakan ayat ini sbgai argumen untuk belajar atau bekerja keras agar Allah mengubah keadaanya menjadi lebih baik. Padahal maksud ayat ini adalah agar manusia tidak mengubah fitrahnya (ู َุงุจِุฃَُْููุณِِูู ْ) sehingga masa depan kehidupannya menjadi lebih buruk.Yg terakhir di atas adalah nasehat dari ustadzuna Ferous.Semoga memahami bahwa mengapa kita menamakan dgn Home Education bukan Home Schooling? Karena pendidikan berbeda dgn persekolahan, mendidik tidak sama dengan mengajar, HE bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. HE bukan menjejalkan pengetahuan namun menyadarkan, membangkitkan fitrah2.Jika fitrah2 ini bangkit maka anak2 akan beriman dgn sendirinya, belajar tangguh dengan sendirinya, mengembangkan bakat dgn sendirinya, menjalani kehidupan sesuai tahap2 perkembangan dengan sendirinya. Memulai Teknis HE akan terasa mudah dan ringan jika kita memulai dari kesadaran ini. Sampai sini, silahkan jika ada masukan dan pendapat.
๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช
➡➡Bagaimana Memulai HE?➡➡
๐ค Harry Santosa
Panduan bagi HE, sekali lagi adalah menjaga fitrah yang baik dengan cara menumbuhkan dan mengeluarkan fitrah-fitrah baik itu (inside out) yang Allah karuniakan kepada anak-anak kita. Diantara Fitrah itu adalah bahwa tiap anak yang lahir adalah pembelajar yang tangguh.Potensi fitrah belajar ini harus dibebaskan dan tidak boleh kaku dan dalam tekanan nilai.Sejak anak dalam kandungan sampai lahir pada galibnya sudah mengalami home education.Tugas HE itu sampai anak kita berusia aqil baligh.Kalau wanita ada special exception, yaitu sampai pindah wali alias menikah, walau kemandirian dan kedewasaan tetap harus disiapkan ketika berusia aqil baligh.Pertanyaannya, bagaimana kita memulai home education?Apa yang harus kita lakukan untuk memulainya? Izinkan saya berbagi ya, hasil belajar panjang dan pengalaman bersama teman2, ustadz2, pakar2 yg telah memulainya lebih dulu.Sebelumnya saya mulai dengan sedikit renungan ya…
๐๐Renungan Pendidikan #1๐๐
Sesungguhnya hanya kedua orangtualah yg paling kenal potensi keunikan anak2nya.Dari sanalah karakter2 baik dikembangkan dan disempurnakan dgn akhlak mulia.Kedua orangtuanya lah makhluk yg paling mencintai dgn tulus anak2nya.Orangtua sejati adalah mereka yg menginginkan kebahagiaan anak2nya lebih dari apapun di muka bumi.
Dunia persekolahan adalah dunia yg tdk pernah mengandung anak2 kita, tdk pernah melahirkan anak2 kita bahkan tdk pernah diberi amanah oleh Allah swt sesaatpun juga, krn itu persekolahan bukanlah dunia yg sungguh2 mampu mengenal dan mencintai anak2 kita dgn tulus dan ikhlash
Bukankah anak kita adalah alasan terbesar dan terpenting mengapa kita ada di muka bumi ini? Merekalah sbg amanah mendidik generasi peradaban bagi dunia yg lebih damai dan sbg amanah yg akan membanggakan Ummat Muhammad di yaumilqiyamah kelak.
Membangun "home education" bukanlah pilihan tetapi kewajiban setiap orangtua, porsi kuantitas waktu dan kualitas perhatiannya mesti jauh lebih banyak bahkan meniadakan porsi persekolahan.
Sayangnya banyak ortu yg menganggap kewajiban mendidik telah selesai ketika anak2 berada sepenuh waktu di sekolah dan di lembaga2 kursus.Obrolan ttg pendidikan adalah obrolan seputar ranking, ijasah, prestasi2 akademis dan tugas2 sekolah yg dibawa ke rumah, bukan tentang mengembangkan karunia fitrah yg anak2 kita miliki.
Mari kembalikan fitrah kesejatian peran orangtua, kesejatian fungsi rumah, kesejatian pendidikan, kesejatian anak2 kita.Jangan sekali2 merubah fitrah kesejatian itu semua krn itulah sesungguhnya penyebab berbagai krisis dan kerusakan di muka bumi.
Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasispotensi dan akhlak
๐๐
Memulai Home Education adalah memulai utk mendidik diri kita sebagai orangtua.Memulai mendidik diri kita sebagai orangtua adalah diawali dengan membaca ayat2 Allah, baik Qouliyah maupun Kauniyah, kemudian mensucikan diri kita utk mengembalikan fitrah2 yg baik yg Allah telah karuniakan kpd kita.Mengembalikan kesadaran akan peran2 kesejatian kita sebagai orangtua. Pekerjaan mendidik adalah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah.Tiada aktifitas dan peran paling penting di dalam rumah kita kecuali peran dan aktifitas mendidik anak2 kita.
Mendidik anak2 kita adalah membangkitkan kesadaran fitrah anak2 kita, karenanya para orangtua perlu mengawali dgn mengembalikan fitrah2 baiknya melalui tazkiyatunnafs lebih dulu.Fitrah yg baik pd anak2 kita akan bertemu dgn fitrah yg baik yg ada dalam diri orangtua nya. Apa yg keluar dari fitrah yg baik, akan diterima oleh fitrah yg baik.
๐Fitrah keimanan pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah keimanan kedua orangtuanya.
๐Fitrah belajar pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah belajar kedua orangtuanya.
๐Fitrah potensi bakat pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah pengakuan potensi anak2nya sbg karunia Allah swt, dari keduaorangtuanya.
๐Fitrah tahapan perkembangan sesuai sunnatullah pertumbuhan anak, akan bertemu dengan fitrah pengakuan bhw segala sesuatu di muka bumi memiliki sunnatullah perkembangannya masing. Dstnya.
Tanpa memulai dengan ini maka perjalanan home education adalah perjalanan yg menjauh dari fitrah, berisi obsesi2 dan kecenderungan merusak fitrah krn ambisi tertentu maupun ketergesaan dalam tahapannya.Jadi memulai HE berawal dari bagaimana kita para ortu membangkitkan kesadaran fitrah kita sendiri dengan melakukan tazkiyatunnafs atau pensucian jiwa.
Silahkan dibuka surat 62:2
๐๐๐๐๐
Hari Jum’at (Al-Jumu`ah):2 - Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
๐๐๐๐
Ayat ini adalah jawaban atas Doa Nabi Ibrahim alaihisalam ttg generasi yg akan dibangkitkan dari keturunannya.
๐๐๐๐
Ya Tuhan kami, utuslah untuk merka seorang rasul dari kalangan mereka,
yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan
kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta
mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS 2 Al Baqoroh Ayat 129)
๐๐๐๐
Ada tahapan berbeda dari kedua ayat.
Doa Nabi Ibrahim as adalah "pembacaan", "pengajaran", "pensucian"Jawaban Allah adalah "pembacaan" dan "pensucian" sebelum memulai proses "pengajaran" (ta'limunal-Kitaba walHikmah).
Kata Tazkiyah atau pensucian oleh beberapa ulama dimaknakan sebagai Tarbiyah atau menumbuhkan fitrah yg merupakan inti Pendidikan itu sendiri, sdgkan pengilmuan atau pengajaran bersifat pemberian skill dan knowledge.Ayah Bunda harap bersabar utk tdk langsung melompat ke teknis HE.Kita sungguh memerlukan pijakan yg kokoh, jiwa2 yg full ridha menjalaninya.Karena sejujurnya HE ini melawan arus baik konsep maupun praktek pendidikan yg umumnya kita samakan dengan persekolahan atau pengajaran.Pendidikan sebgamna pengantar diawal adalah proses "inside out", membangkitkan fitrah2 dalam diri anak2 kita. Bukan proses penjejalan "outside in". Setiap anak kita terlahir dalam keadaan fitrah (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan dll).... namun semua fitrah itu adalah potensi2 terpendam, maka tugas kitalah utk mendidik/membangkitkan/menumbuhkan potensi fitrah itu agar anak2 kita mencapai peran peradabannya atau misi spesifiknya sbg khalifah di muka bumi
๐๐๐๐
Dalam QS. 13 ayat 11 Allah berfirman:
َُููู ُุนَِّูุจَุงุชٌู ِْูุจََِْูููุฏََِْูููู ِْูุฎََِِْููููุญَْูุธَُُูููู ِْูุฃَู ْุฑِุงَِّูููุۗฅَِّูุงَََّููููุงُูุบَِّูุฑُู َุงุจَِْููู ٍุญَุชَُّٰููุบَِّูุฑُูุงู َุงุจِุฃَُْููุณِِูู َْูุۗฅِุฐَุงุฃَุฑَุงุฏَุงَُّูููุจَِْููู ٍุณُูุกًุงََููุงู َุฑَุฏَََُّููููۚ َุงَُููู ْู ِْูุฏُِِูููู َِْููุงٍู
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
๐๐๐๐
Banyak yg menggunakan ayat ini sbgai argumen untuk belajar atau bekerja keras agar Allah mengubah keadaanya menjadi lebih baik. Padahal maksud ayat ini adalah agar manusia tidak mengubah fitrahnya (ู َุงุจِุฃَُْููุณِِูู ْ) sehingga masa depan kehidupannya menjadi lebih buruk.Yg terakhir di atas adalah nasehat dari ustadzuna Ferous.Semoga memahami bahwa mengapa kita menamakan dgn Home Education bukan Home Schooling? Karena pendidikan berbeda dgn persekolahan, mendidik tidak sama dengan mengajar, HE bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. HE bukan menjejalkan pengetahuan namun menyadarkan, membangkitkan fitrah2.Jika fitrah2 ini bangkit maka anak2 akan beriman dgn sendirinya, belajar tangguh dengan sendirinya, mengembangkan bakat dgn sendirinya, menjalani kehidupan sesuai tahap2 perkembangan dengan sendirinya. Memulai Teknis HE akan terasa mudah dan ringan jika kita memulai dari kesadaran ini. Sampai sini, silahkan jika ada masukan dan pendapat.
๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช
Materi 1⃣
๐ธ๐ธ"Apa itu Home Education"๐ธ๐ธ
SME: Harry Santosa
Peradaban sesungguhnya berawal dari sebuah rumah, dari sebuah keluarga.Home Education itu sifat wajib bagi kita yang berperan sebagai penjaga amanah.Karena sesungguhnya HE itu adalah kemampuan alami dan kewajiban syar’i yang harus dimiliki oleh setiap orang tua yang dipercaya menjaga amanahNya.
Jadi tidak ada yang “LUAR BIASA” yang akan kita kerjakan di HE. Kita hanya akan melakukan yang “SEMESTINYA” orangtua lakukan. Maka syarat pertama “dilarang minder” ketika pilihan anda berbeda dengan yang lain. Karena kita sedang menjalankan “misi hidup” dari sang Maha Guru.
Home Education dimulai dari proses seleksi ayah/ibu yang tepat untuk anak-anak kita, karena hak anak pertama adalah mendapatkan ayah dan ibu yg baik. Setelah itu dilanjutkan dari proses terjadinya anak-anak, di dalam rahim, sampai dia lahir. Tahap berikutnya dari usia 0-7 tahun, usia 8-14 tahun, dan usia 14 tahun ke atas kita sudah mempunyai anak yg akil baligh secara bersamaan. Home Education sebagai orang tua dan anak nyaris selesai di usia 14 th ke atas. Orang tua berubah fungsi menjadi coach anak dan mengantar anak menjadi dewasa, delivery method HE pun sudah jauh berbeda.
Kita dipercaya sebagai penjaga amanahNya, SEMESTINYA kita menjaganya dengan ilmu.Jadi orang tua yang belajar khusus untuk mendidik anaknya seharusnya hal BIASA, tapi sekarang menjadi hal yang LUAR BIASA karena tidak banyak orang tua yg melakukannya.
Hal yang SEMESTINYA orang tua lakukan :
๐Mendidik
๐Mendengarkan
๐ Menyanyangi
๐Melayani (pd usia 0-7 thn)
๐Memberi rasa aman&nyaman
๐Menjaga dari hal-hal yg merusak jiwa dan fisiknya
๐ Memberi contoh dan keteladanan
๐ Bermain
๐Berkomunikasi dengan baik sesuai usia anak
Tugas mendidik bukan menjejali “OUTSIDE IN“, tetapi “INSIDE OUT” yaitu menemani anak-anak menggali dan menemukan fitrah-fitah baik itu sehingga mereka menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) tepat ketika mencapai usia aqil baligh.Satu-satunya lembaga yang tahu betul anak-anak kita, mampu telaten dan penuh cinta hanyalah rumah dimana amanah mendidik adalah peran utama ayah bundanya.Anak lahir ke muka bumi membawa fitrahnya, sehingga perlu pendidikan yang mengeluarkan fitrah anak tersebut.
1⃣Fitrah Kesucian. Inilah yang menjelaskan mengapa tiap manusia mengenal dan mengakui adanya Tuhan, memerlukan Tuhan, sehingga manusia memiliki sifat mencintai kebenaran, keadilan, kesucian, malu terhadap dosa.
2⃣ Fitrah Belajar. Tidak satupun manusia yang tidak menyukai belajar, kecuali salah ajar. Khalifah di muka bumi tentunya seorang pembelajar tangguh sejati.
3⃣Fitrah Bakat. Ini terkait misi penciptaan spesifik atau peran spesifik khilafah atau peradaban, sehingga setiap anak yang lahir ke muka bumi pasti memiliki bakat yang berbeda-beda.
4⃣ Fitrah Perkembangan. Setiap manusia memiliki tahapan perkembangan hidup yang spesifik dan memerlukan pendidikan yang sesuai dengan tahapannya, karena perkembangan fisik dan psikologis anak bertahap mengikuti pertambahan usianya. Misalnya, Allah tidak memerintah ajarkan shalat sejak dini, tetapi ajarkan shalat jika mencapai usia 7 tahun. Pembiasaan boleh dilakukan tapi tetap harus didorong oleh dorongan penghayatan aqidah berupa cinta kepada Allah dari dalam diri anak-anak.
Kita pelru mengkaji lebih dalam pendidikan yang dialami oleh Rasulullah dari lahir sampai dewasa, sebagai contoh pendidikan untuk anak-anak nanti.Pendidikan dan persekolahan adalah hal yang berbeda.Bukan sekolah atau tidak sekolah yang yang ditekankan, tetapi bagaimana pendidikan yang sesuai dengan fitrah anak sehingga potensi alamiah anak dapat dikembangkan, karena setiap anak memiliki potensi yg merupakan panggilan hidupnya.
Pendidikan berbasis potensi yang dimaksud adalah yang terkait dengan performance. Dimulai dengan mengenal sifat bawaan atau istilah Abah Rama dengan Personality Productive yang kemudian menjadi aktivitas dan performance, lalu menjadi karir dan peran peradaban yang merupakan panggilan, akhirnya menentukan destiny. Jadi pengembangan potensi berkaitan dengan performansi, namun performansi memerlukan nilai-nilai yang disebut sebagai akhlak dan moral karakter.Dalam mengembangkan bakatnya, anak-anak perlu diingatkan dan diteladankan dengan nilai-nilai dalam keyakinannya (Al Islam) agar perannya bermanfaat dan rahmat atau menjadi akhlak mulia. ” Setiap keluarga memiliki kemerdekaan untuk menentukan dan mengejar mimpinya , termasuk dalam hal pendidikan.”
Tazkiyatunnafs secara sederhana dimaknai sebagai pensucian jiwa, membersihkan hati dengan banyak mendekat, memohon ampun, menjaga serta berhati-hati dari hal-hal yg syubhat apalagi haram atau waro’ kepada Allah dengan harapan keridhaan Allah SWT agar ditambah hidayah sehingga fitrah nurani memancar dalam akhlak dan sikap serta kesadaran yang tinggi atas peran (tauiyatul a’la).Pendidikan anak atau generasi memerlukan ini sebagai pondasi awal.Selanjutnya adalah masalah teknis.
Umumnya kecemasan, obsesif, banyak menuntut atau banyak memaksa atau sebaliknya, tidak konsisten (dalam arti sesuai fitrah anak, bukan obsesi orang tua), tidak percaya diri mendidik anak, muncul karena kurangnya tazkiyatunnafs para orang tuanya sehingga mudah terpengaruh oleh “tuntutan atau perlakuan” yang tidak sesuai atau menciderai fitrah. Tujuan tazkiyatunnafs orang tua, adalah agar kita kembali kepada kesadaran fitrah kita dengan memahami konsep pendidikan sejati sesuai fitrah.
Ketika orang tua menginginkan anaknya shalih maka orang tua harus memahami konsep kesejatian/fitrah anak dan makna keshalihan sesungguhnya.Shalih adalah amal, bukan status.
Pesan dari Bunda Septi yang selalu kami pegang, “Untuk itu siapkan diri, kuatkan mental, bersihkan segala emosi dan dendam pribadi, untuk menerima SK dari yang Maha Memberi Amanah. Jangan pernah ragukan DIA. Jaga amanah dengan sungguh-sungguh, dunia Allah yang atur, dan nikmati perjalanan anda.”
Sudah tidak diragukan lagi bahwa mendidik (bukan mengajarkan) Aqidah sejak usia dini, adalah hal yang mutlak. Aqidah yg kokoh akan amat menentukan pilihan2 serta pensikapan2 yg benar dan baik dalam kehidupan anak2 kita kelak ketika dewasa. Lalu bagaimana metode dan caranya?
Menurut yg saya pahami secara sederhana, bahwa pertama, setiap pendidik atau ortu perlu menyadari bhw sesungguhnya setiap anak manusia yg lahir sudah dalam keadaan memiliki fitrah aqidah atau keimanan kpd Allah Swt. Setiap manusia pernah bersaksi akan keberadaan Allah swt, sebelum mereka lahir ke dunia. Maka tdk pernah ditemui di permukaan bumi manapun, bangsa2 yg tidak memiliki Tuhan, yaitu Zat Yang Maha Hebat tempat menyerahkan dan menyandarkan semua masalah dalam kehidupan.
Dengan demikian maka, yg kedua adalah bhw tugas mendidik adalah membangkitkan kembali fitrah keimanan ini, namun bukan dengan doktrin atau penjejalan pengetahuan ttg keimanan, namun dengan menumbuhkan (yarubbu/inside out) kesadaran keimanan melalui imaji2 positif ttg Allah swt, ttg ciptaanNya yg ada pd dirinya dan ciptaanNya yg ada di alam semesta.
Dengan begitu maka, yg ketiga adalah dengan metode utk sebanyak mungkin belajar melalui hikmah2 yg ada di alam, hikmah yg ada pd peristiwa sehari2, hikmah pd sejarah, hikmah2 pd keteladanan dstnya. Menjadi penting membacakan kisah2 keteladanan orang2 besar yg memiliki akhlak yg mulia sepanjang sejarah, baik yg ada dalam Kitab Suci maupun Hadits maupun yg ditulis oleh orang2 sholeh sesudahnya.Menjadi penting senantiasa merelasikan peristiwa sehari2dengan menggali hikmah2 yg baik dan inspiratif.Menjadi penting untuk senantiasa belajar dengan beraktifitas fisik di alam dgn, meraba, merasa, mencium aroma, mengalami langsung dstnya.
Metode berikutnya, tentu saja kisah2 penuh hikmah itu perlu disampaikan dengan tutur bahasa yg baik, mulia dan indah bahkan sastra yg tinggi.Menjadi penting bahwa tiap anak perlu mendalami bahasa Ibunya dan bahasa Kitab Sucinya.Bukan mampu meniru ucapan, membaca tulisan dan menulis tanpa makna, namun yg terpenting adalah mampu mengekspresikan gagasan2 dalam jiwanya secara fasih, lugas dan indah, sensitif thd makna kiasan2 dalam bahasa sastra yg tinggi.Para Sahabat Nabi SAW yg dikenal tegas namun memiliki empati dan sensitifitas yg baik serta visioner umumnya sangat menggemari sastra.
Semua metode itu, kembali lagi, adalah bertujuan utk membangun kesadaran keimanan melalui imaji2 positif lewat kisah yg mengisnpirasi, melalui kegairahan yg berangkat dari keteladanan, pemaknaan yg baik melalui bahasa ibu yg sempurna dstmya. Imaji negatif akan melahirkan luka persepsi dan luka itu akan membuat pensikapan yg buruk ketika anak kita kelak dewasa.
Sampai sini kita menyadari bhw peran orangtua sebagai pendidik yg penuh cinta serta telaten maupun sebagai sosok yg diteladani dan menginspirasi tidak dapat digantikan oleh siapapun, apalagi dalam membangkitkan kesadaran keimanan anak2nya.Maka penting bagi para pendidik untuk melakukan pensucian jiwa (tazkiyatunnafs) sebelum memulai mendidik dgn kitab dan hikmah. Bukankah ortulah yg akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat bukan yang lain?
Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasispotensi akhlak
Welcome back to #homeeducation
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Harry Santosa: Sejatinya tiap anak lahir dalam keadaan fitrah yg baik. Maka tugas ortu adalah bukan menjejalkan (outside in) namun mengeluarkan (inside out) fitrah2.
1. Fitrah Kesucian dan kebenaran. Tiap anak menyukai kehebatan, suatu hari mereka sadar bhw mereka butuh dan tergantung pd Zat yg Maha Hebat. Tiap anak suka diperlakukan baik, penuh damai, harmony dan adil dstnya, suatu hari mereka akan rela dan ikhlash memperjuangkan kedamaian, keharmonian dan keadilan. Tiap anak suka tutur yg lembut, perangai yg santun, wajah yg ceria dstnya, suatu hari mereka akan menyampaikan hikmah dgn lembut, santun dan berseri. Jika ada anak yg tdk menyukai itu semua, maka fitrahnya telah menyimpang.Namun itu semua, sejak awal kelahiran, baru sifat dan perlu dibangkitkan dan disadarkan dgn sensitifitas, imajinasi, bahasa ibu, interaksi di alam dstnya.
2. Fitrah Belajar. Tiap anak adalah pembelajar sejati yg tangguh dan tak kenal putus asa.Sebuah jurnal ilmiah menyebut bhw tiap anak adalah scientist. Jika ada anak yg tdk menyukai belajar, maka fitrahnya telah menyimpang. Kesukaan dan kegemaran belajar itu mesti terus ditumbuhkan lewat tradisi2 bertanya di rumah, tradisi belajar ayah ibu dan lingkungannya, budaya berbagi pengetahuan dan intelectual curiosity.
3. Fitrah Bakat. Tiap anak memiliki sifat bawaan yg unik, yg disebut dengan Bakat.Sifat ini mesti digali, dipetakan, disadarkan melalui beragam aktifitas dan kemudian direncanakan serius utk dikembangkan sampai menuju perannya. Inilah panggilan hidup anak2 kita yg akan menjadi misi spesifik penciptaannya sbg Khalifah.
4. Semua Fitrah itu, 1-2-3 di atas memiliki Sunnatullah Tahapan sesuai perkembangan usia. Usia 0-7, usia 8-14, usia di atas 14, harus dipetakan dgn pendidikan. Buku Guide hasil kompilasi MLC sdh siap utk dibagikan akhir tahun ini, akan dibagikan gratis ke teman2 semua InsyaAllah.
Menurut saya yg penting jangan menganggap pendidikan itu persekolahan, dan jangan persekolahan adalah hal yg paling utama dan wajib.Sekolah itu, mohon maaf, umumnya mirip lembaga kursus saja kok fungsinya, guru2nya punya tupoksi menghabiskan bahan ajar, kepsek nya punya target jumlah kelulusan dan rangking sekolah.Urusan akhlak, bakat, aqidah.... siapa yg peduli??Memang ada guru2 baik, tetapi atmosfirmya lebih kpd penuntasan akademis dan standar kelulusan.
Kapasitas guru terlalu kurang dan sedikit jika harus dibebankan utk telaten menangani bakat, akhlak, aqidah siswa satu persatu.Urusan akademis saja sdh kehabisan nafas.Saya bukan merendahkan guru, memang kenyataannya demikian. Berbeda dgn guru2 di Surau, Pesantren tempo dulu... mereka bisa menjadi sosok pengganti ortu dan fokus pd pengembangan fitrah bukan ijasah. Kewajiban mendidik ada di rumah dan di komunitas/jamaah... tidak tergantikan di dunia dan di akhirat
Pendidikan dalam Islam diistilahkan dengan TARBIYAH, yang berasal dari kata robaa, yarubu yg artinya menumbuhkan, membimbing dll.AlQuran menyebut spt burung yg merendahkan sayapnya utk mengerami telurnya dalam masa sampai mandiri. Ada juga yg menyebut pendidikan dengan TA'DIBIYAH, proses memperadabkan: manusia, alam, kehidupan dengan nilai2 keyakinan yg dianut. Sebaik2 guru adalah kedua ortunya.Sebaik2 belajar adalah bersama Kehidupan, bersama Alam dan bersama Maestro.Sebaik2 rujukan pendidikan adalah alQuran dan Siroh Nabawiyah.Sebaik2 misi pendidikan adalah sesuai dengan misi penciptaan manusia yaitu menjadi khalifah dgn mencapai peran peradaban tiap anak dan ummat sesuai karunia fitrah.Sebaik2 visi pendidikan adalah menebar manfaat dan rahmat bagi semesta.๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช
๐ธ๐ธ"Apa itu Home Education"๐ธ๐ธ
SME: Harry Santosa
Peradaban sesungguhnya berawal dari sebuah rumah, dari sebuah keluarga.Home Education itu sifat wajib bagi kita yang berperan sebagai penjaga amanah.Karena sesungguhnya HE itu adalah kemampuan alami dan kewajiban syar’i yang harus dimiliki oleh setiap orang tua yang dipercaya menjaga amanahNya.
Jadi tidak ada yang “LUAR BIASA” yang akan kita kerjakan di HE. Kita hanya akan melakukan yang “SEMESTINYA” orangtua lakukan. Maka syarat pertama “dilarang minder” ketika pilihan anda berbeda dengan yang lain. Karena kita sedang menjalankan “misi hidup” dari sang Maha Guru.
Home Education dimulai dari proses seleksi ayah/ibu yang tepat untuk anak-anak kita, karena hak anak pertama adalah mendapatkan ayah dan ibu yg baik. Setelah itu dilanjutkan dari proses terjadinya anak-anak, di dalam rahim, sampai dia lahir. Tahap berikutnya dari usia 0-7 tahun, usia 8-14 tahun, dan usia 14 tahun ke atas kita sudah mempunyai anak yg akil baligh secara bersamaan. Home Education sebagai orang tua dan anak nyaris selesai di usia 14 th ke atas. Orang tua berubah fungsi menjadi coach anak dan mengantar anak menjadi dewasa, delivery method HE pun sudah jauh berbeda.
Kita dipercaya sebagai penjaga amanahNya, SEMESTINYA kita menjaganya dengan ilmu.Jadi orang tua yang belajar khusus untuk mendidik anaknya seharusnya hal BIASA, tapi sekarang menjadi hal yang LUAR BIASA karena tidak banyak orang tua yg melakukannya.
Hal yang SEMESTINYA orang tua lakukan :
๐Mendidik
๐Mendengarkan
๐ Menyanyangi
๐Melayani (pd usia 0-7 thn)
๐Memberi rasa aman&nyaman
๐Menjaga dari hal-hal yg merusak jiwa dan fisiknya
๐ Memberi contoh dan keteladanan
๐ Bermain
๐Berkomunikasi dengan baik sesuai usia anak
Tugas mendidik bukan menjejali “OUTSIDE IN“, tetapi “INSIDE OUT” yaitu menemani anak-anak menggali dan menemukan fitrah-fitah baik itu sehingga mereka menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) tepat ketika mencapai usia aqil baligh.Satu-satunya lembaga yang tahu betul anak-anak kita, mampu telaten dan penuh cinta hanyalah rumah dimana amanah mendidik adalah peran utama ayah bundanya.Anak lahir ke muka bumi membawa fitrahnya, sehingga perlu pendidikan yang mengeluarkan fitrah anak tersebut.
1⃣Fitrah Kesucian. Inilah yang menjelaskan mengapa tiap manusia mengenal dan mengakui adanya Tuhan, memerlukan Tuhan, sehingga manusia memiliki sifat mencintai kebenaran, keadilan, kesucian, malu terhadap dosa.
2⃣ Fitrah Belajar. Tidak satupun manusia yang tidak menyukai belajar, kecuali salah ajar. Khalifah di muka bumi tentunya seorang pembelajar tangguh sejati.
3⃣Fitrah Bakat. Ini terkait misi penciptaan spesifik atau peran spesifik khilafah atau peradaban, sehingga setiap anak yang lahir ke muka bumi pasti memiliki bakat yang berbeda-beda.
4⃣ Fitrah Perkembangan. Setiap manusia memiliki tahapan perkembangan hidup yang spesifik dan memerlukan pendidikan yang sesuai dengan tahapannya, karena perkembangan fisik dan psikologis anak bertahap mengikuti pertambahan usianya. Misalnya, Allah tidak memerintah ajarkan shalat sejak dini, tetapi ajarkan shalat jika mencapai usia 7 tahun. Pembiasaan boleh dilakukan tapi tetap harus didorong oleh dorongan penghayatan aqidah berupa cinta kepada Allah dari dalam diri anak-anak.
Kita pelru mengkaji lebih dalam pendidikan yang dialami oleh Rasulullah dari lahir sampai dewasa, sebagai contoh pendidikan untuk anak-anak nanti.Pendidikan dan persekolahan adalah hal yang berbeda.Bukan sekolah atau tidak sekolah yang yang ditekankan, tetapi bagaimana pendidikan yang sesuai dengan fitrah anak sehingga potensi alamiah anak dapat dikembangkan, karena setiap anak memiliki potensi yg merupakan panggilan hidupnya.
Pendidikan berbasis potensi yang dimaksud adalah yang terkait dengan performance. Dimulai dengan mengenal sifat bawaan atau istilah Abah Rama dengan Personality Productive yang kemudian menjadi aktivitas dan performance, lalu menjadi karir dan peran peradaban yang merupakan panggilan, akhirnya menentukan destiny. Jadi pengembangan potensi berkaitan dengan performansi, namun performansi memerlukan nilai-nilai yang disebut sebagai akhlak dan moral karakter.Dalam mengembangkan bakatnya, anak-anak perlu diingatkan dan diteladankan dengan nilai-nilai dalam keyakinannya (Al Islam) agar perannya bermanfaat dan rahmat atau menjadi akhlak mulia. ” Setiap keluarga memiliki kemerdekaan untuk menentukan dan mengejar mimpinya , termasuk dalam hal pendidikan.”
Tazkiyatunnafs secara sederhana dimaknai sebagai pensucian jiwa, membersihkan hati dengan banyak mendekat, memohon ampun, menjaga serta berhati-hati dari hal-hal yg syubhat apalagi haram atau waro’ kepada Allah dengan harapan keridhaan Allah SWT agar ditambah hidayah sehingga fitrah nurani memancar dalam akhlak dan sikap serta kesadaran yang tinggi atas peran (tauiyatul a’la).Pendidikan anak atau generasi memerlukan ini sebagai pondasi awal.Selanjutnya adalah masalah teknis.
Umumnya kecemasan, obsesif, banyak menuntut atau banyak memaksa atau sebaliknya, tidak konsisten (dalam arti sesuai fitrah anak, bukan obsesi orang tua), tidak percaya diri mendidik anak, muncul karena kurangnya tazkiyatunnafs para orang tuanya sehingga mudah terpengaruh oleh “tuntutan atau perlakuan” yang tidak sesuai atau menciderai fitrah. Tujuan tazkiyatunnafs orang tua, adalah agar kita kembali kepada kesadaran fitrah kita dengan memahami konsep pendidikan sejati sesuai fitrah.
Ketika orang tua menginginkan anaknya shalih maka orang tua harus memahami konsep kesejatian/fitrah anak dan makna keshalihan sesungguhnya.Shalih adalah amal, bukan status.
Pesan dari Bunda Septi yang selalu kami pegang, “Untuk itu siapkan diri, kuatkan mental, bersihkan segala emosi dan dendam pribadi, untuk menerima SK dari yang Maha Memberi Amanah. Jangan pernah ragukan DIA. Jaga amanah dengan sungguh-sungguh, dunia Allah yang atur, dan nikmati perjalanan anda.”
Sudah tidak diragukan lagi bahwa mendidik (bukan mengajarkan) Aqidah sejak usia dini, adalah hal yang mutlak. Aqidah yg kokoh akan amat menentukan pilihan2 serta pensikapan2 yg benar dan baik dalam kehidupan anak2 kita kelak ketika dewasa. Lalu bagaimana metode dan caranya?
Menurut yg saya pahami secara sederhana, bahwa pertama, setiap pendidik atau ortu perlu menyadari bhw sesungguhnya setiap anak manusia yg lahir sudah dalam keadaan memiliki fitrah aqidah atau keimanan kpd Allah Swt. Setiap manusia pernah bersaksi akan keberadaan Allah swt, sebelum mereka lahir ke dunia. Maka tdk pernah ditemui di permukaan bumi manapun, bangsa2 yg tidak memiliki Tuhan, yaitu Zat Yang Maha Hebat tempat menyerahkan dan menyandarkan semua masalah dalam kehidupan.
Dengan demikian maka, yg kedua adalah bhw tugas mendidik adalah membangkitkan kembali fitrah keimanan ini, namun bukan dengan doktrin atau penjejalan pengetahuan ttg keimanan, namun dengan menumbuhkan (yarubbu/inside out) kesadaran keimanan melalui imaji2 positif ttg Allah swt, ttg ciptaanNya yg ada pd dirinya dan ciptaanNya yg ada di alam semesta.
Dengan begitu maka, yg ketiga adalah dengan metode utk sebanyak mungkin belajar melalui hikmah2 yg ada di alam, hikmah yg ada pd peristiwa sehari2, hikmah pd sejarah, hikmah2 pd keteladanan dstnya. Menjadi penting membacakan kisah2 keteladanan orang2 besar yg memiliki akhlak yg mulia sepanjang sejarah, baik yg ada dalam Kitab Suci maupun Hadits maupun yg ditulis oleh orang2 sholeh sesudahnya.Menjadi penting senantiasa merelasikan peristiwa sehari2dengan menggali hikmah2 yg baik dan inspiratif.Menjadi penting untuk senantiasa belajar dengan beraktifitas fisik di alam dgn, meraba, merasa, mencium aroma, mengalami langsung dstnya.
Metode berikutnya, tentu saja kisah2 penuh hikmah itu perlu disampaikan dengan tutur bahasa yg baik, mulia dan indah bahkan sastra yg tinggi.Menjadi penting bahwa tiap anak perlu mendalami bahasa Ibunya dan bahasa Kitab Sucinya.Bukan mampu meniru ucapan, membaca tulisan dan menulis tanpa makna, namun yg terpenting adalah mampu mengekspresikan gagasan2 dalam jiwanya secara fasih, lugas dan indah, sensitif thd makna kiasan2 dalam bahasa sastra yg tinggi.Para Sahabat Nabi SAW yg dikenal tegas namun memiliki empati dan sensitifitas yg baik serta visioner umumnya sangat menggemari sastra.
Semua metode itu, kembali lagi, adalah bertujuan utk membangun kesadaran keimanan melalui imaji2 positif lewat kisah yg mengisnpirasi, melalui kegairahan yg berangkat dari keteladanan, pemaknaan yg baik melalui bahasa ibu yg sempurna dstmya. Imaji negatif akan melahirkan luka persepsi dan luka itu akan membuat pensikapan yg buruk ketika anak kita kelak dewasa.
Sampai sini kita menyadari bhw peran orangtua sebagai pendidik yg penuh cinta serta telaten maupun sebagai sosok yg diteladani dan menginspirasi tidak dapat digantikan oleh siapapun, apalagi dalam membangkitkan kesadaran keimanan anak2nya.Maka penting bagi para pendidik untuk melakukan pensucian jiwa (tazkiyatunnafs) sebelum memulai mendidik dgn kitab dan hikmah. Bukankah ortulah yg akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat bukan yang lain?
Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasispotensi akhlak
Welcome back to #homeeducation
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Harry Santosa: Sejatinya tiap anak lahir dalam keadaan fitrah yg baik. Maka tugas ortu adalah bukan menjejalkan (outside in) namun mengeluarkan (inside out) fitrah2.
1. Fitrah Kesucian dan kebenaran. Tiap anak menyukai kehebatan, suatu hari mereka sadar bhw mereka butuh dan tergantung pd Zat yg Maha Hebat. Tiap anak suka diperlakukan baik, penuh damai, harmony dan adil dstnya, suatu hari mereka akan rela dan ikhlash memperjuangkan kedamaian, keharmonian dan keadilan. Tiap anak suka tutur yg lembut, perangai yg santun, wajah yg ceria dstnya, suatu hari mereka akan menyampaikan hikmah dgn lembut, santun dan berseri. Jika ada anak yg tdk menyukai itu semua, maka fitrahnya telah menyimpang.Namun itu semua, sejak awal kelahiran, baru sifat dan perlu dibangkitkan dan disadarkan dgn sensitifitas, imajinasi, bahasa ibu, interaksi di alam dstnya.
2. Fitrah Belajar. Tiap anak adalah pembelajar sejati yg tangguh dan tak kenal putus asa.Sebuah jurnal ilmiah menyebut bhw tiap anak adalah scientist. Jika ada anak yg tdk menyukai belajar, maka fitrahnya telah menyimpang. Kesukaan dan kegemaran belajar itu mesti terus ditumbuhkan lewat tradisi2 bertanya di rumah, tradisi belajar ayah ibu dan lingkungannya, budaya berbagi pengetahuan dan intelectual curiosity.
3. Fitrah Bakat. Tiap anak memiliki sifat bawaan yg unik, yg disebut dengan Bakat.Sifat ini mesti digali, dipetakan, disadarkan melalui beragam aktifitas dan kemudian direncanakan serius utk dikembangkan sampai menuju perannya. Inilah panggilan hidup anak2 kita yg akan menjadi misi spesifik penciptaannya sbg Khalifah.
4. Semua Fitrah itu, 1-2-3 di atas memiliki Sunnatullah Tahapan sesuai perkembangan usia. Usia 0-7, usia 8-14, usia di atas 14, harus dipetakan dgn pendidikan. Buku Guide hasil kompilasi MLC sdh siap utk dibagikan akhir tahun ini, akan dibagikan gratis ke teman2 semua InsyaAllah.
Menurut saya yg penting jangan menganggap pendidikan itu persekolahan, dan jangan persekolahan adalah hal yg paling utama dan wajib.Sekolah itu, mohon maaf, umumnya mirip lembaga kursus saja kok fungsinya, guru2nya punya tupoksi menghabiskan bahan ajar, kepsek nya punya target jumlah kelulusan dan rangking sekolah.Urusan akhlak, bakat, aqidah.... siapa yg peduli??Memang ada guru2 baik, tetapi atmosfirmya lebih kpd penuntasan akademis dan standar kelulusan.
Kapasitas guru terlalu kurang dan sedikit jika harus dibebankan utk telaten menangani bakat, akhlak, aqidah siswa satu persatu.Urusan akademis saja sdh kehabisan nafas.Saya bukan merendahkan guru, memang kenyataannya demikian. Berbeda dgn guru2 di Surau, Pesantren tempo dulu... mereka bisa menjadi sosok pengganti ortu dan fokus pd pengembangan fitrah bukan ijasah. Kewajiban mendidik ada di rumah dan di komunitas/jamaah... tidak tergantikan di dunia dan di akhirat
Pendidikan dalam Islam diistilahkan dengan TARBIYAH, yang berasal dari kata robaa, yarubu yg artinya menumbuhkan, membimbing dll.AlQuran menyebut spt burung yg merendahkan sayapnya utk mengerami telurnya dalam masa sampai mandiri. Ada juga yg menyebut pendidikan dengan TA'DIBIYAH, proses memperadabkan: manusia, alam, kehidupan dengan nilai2 keyakinan yg dianut. Sebaik2 guru adalah kedua ortunya.Sebaik2 belajar adalah bersama Kehidupan, bersama Alam dan bersama Maestro.Sebaik2 rujukan pendidikan adalah alQuran dan Siroh Nabawiyah.Sebaik2 misi pendidikan adalah sesuai dengan misi penciptaan manusia yaitu menjadi khalifah dgn mencapai peran peradaban tiap anak dan ummat sesuai karunia fitrah.Sebaik2 visi pendidikan adalah menebar manfaat dan rahmat bagi semesta.๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช๐ช
Wednesday, August 5, 2015
Saya bantu copy ya MINI BROWNIES PIE
Dari Blog catatan Nina
CRUST PIE
Bahan :
500 gr tepung terigu serbaguna
300 gr margarin
2 sdt munjung gula kastor
3 kuning telur
1 sdt vanilla bubuk
Cara Membuat :
- Aduk rata semua bahan dengan menggunakan pisau pastry atau sendok kayu. Aduk hingga rata dan berbulir-bulir.
- Padatkan dan bulatkan adonan hingga mudah dipulung.
- Bagi adonan menjadi sama banyak (aku timbang @ 30gr) dan cetak di loyang pie yang sudah dioles margarin atau minyak. Lakukan hingga adonan habis.
- Adonan pie siap digunakan.
BROWNIES
Bahan :
120 gr tepung terigu serbaguna
200 gr margarin
3 butir telur
200 gr DCC cincang
150 gr gula kastor
1/4 sdt garam halus (skip)
Cara Membuat :
- Campur terigu dan gula halus, aduk rata. Sisihkan.
- Lelehkan margarin dengan cara ditim kemudian masukkan DCC. Aduk hingga rata dan coklat meleleh. Matikan api dan diamkan hingga hangat.
- Kocok telur hingga mengembang (bisa juga dengan menggunakan whisker ya), masukkan campuran tepung terigu dan gula. Aduk rata dengan menggunakan spatula.
- Tuang campuran margarin dan coklat leleh, aduk dengan menggunakan spatula.
Assembly :
- Tuang adonan brownies ke loyang pie hingga hampir penuh.
- Panggang dengan suhu 170'C hingga brownies mengembang.
- Setelah mengembang, kecilkan api hingga 150'C. Panggang hingga matang dan kulit pie kecoklatan.
- Angkat dan dinginkan baru kemudian keluarkan brownies pie dari loyangnya.
=====+++++++======
Yang di atas resep asli dan sudah #Pyebro modifikasi untuk dijual.
Dari Blog catatan Nina
CRUST PIE
Bahan :
500 gr tepung terigu serbaguna
300 gr margarin
2 sdt munjung gula kastor
3 kuning telur
1 sdt vanilla bubuk
Cara Membuat :
- Aduk rata semua bahan dengan menggunakan pisau pastry atau sendok kayu. Aduk hingga rata dan berbulir-bulir.
- Padatkan dan bulatkan adonan hingga mudah dipulung.
- Bagi adonan menjadi sama banyak (aku timbang @ 30gr) dan cetak di loyang pie yang sudah dioles margarin atau minyak. Lakukan hingga adonan habis.
- Adonan pie siap digunakan.
BROWNIES
Bahan :
120 gr tepung terigu serbaguna
200 gr margarin
3 butir telur
200 gr DCC cincang
150 gr gula kastor
1/4 sdt garam halus (skip)
Cara Membuat :
- Campur terigu dan gula halus, aduk rata. Sisihkan.
- Lelehkan margarin dengan cara ditim kemudian masukkan DCC. Aduk hingga rata dan coklat meleleh. Matikan api dan diamkan hingga hangat.
- Kocok telur hingga mengembang (bisa juga dengan menggunakan whisker ya), masukkan campuran tepung terigu dan gula. Aduk rata dengan menggunakan spatula.
- Tuang campuran margarin dan coklat leleh, aduk dengan menggunakan spatula.
Assembly :
- Tuang adonan brownies ke loyang pie hingga hampir penuh.
- Panggang dengan suhu 170'C hingga brownies mengembang.
- Setelah mengembang, kecilkan api hingga 150'C. Panggang hingga matang dan kulit pie kecoklatan.
- Angkat dan dinginkan baru kemudian keluarkan brownies pie dari loyangnya.
=====+++++++======
Yang di atas resep asli dan sudah #Pyebro modifikasi untuk dijual.
Martabak Bangka oke
500 gr tepung segitiga
700 ml air
2 butir telor utuh + 1 kuning telur
8 sdm skm / 2 sachet skm
7 sdm gula pasir
1 sdt munjung garam
1 sachet vanili
1 sachet sada kue. / 1sdt soda kue
700 ml air
2 butir telor utuh + 1 kuning telur
8 sdm skm / 2 sachet skm
7 sdm gula pasir
1 sdt munjung garam
1 sachet vanili
1 sachet sada kue. / 1sdt soda kue
Cara bikin nya
Gula untuk taburan
Mentega butter olesan
1/3 sdt soda kue untuk tambahan tiap loyangnya
Mentega butter olesan
1/3 sdt soda kue untuk tambahan tiap loyangnya
Isiannya :
Kacang sangrai yg diblender kasar
Keju parut
Mesis
Macam2 selai jg boleh sesuai selera
Kacang sangrai yg diblender kasar
Keju parut
Mesis
Macam2 selai jg boleh sesuai selera
Caranya :
Masukan tepung dallam wadah kasih air sambil diaduk pke whisk lalu masukan telur aduk terus sambil dimasukan bahan2 lainnya, gula ,susu, soda dan garam kocok smpe smua rata dan tepung jg licin tidak bergerindil dan sedikit berbuih adonannya .
Tutup dgn lap ato pladtik selama 60 menit.
Tutup dgn lap ato pladtik selama 60 menit.
Panaskan teflon sampe betul2 panas .
Ambil adonan disesuaikan dgn besarnya teflon .
( sya bagi 3 untuk loyang size 26 ) tebal sekali martabaknya.
Beri tambahan soda kira2 1/3 sendok teh/sesuaikan uk teflon/ loyang /bahan,aduk rata.
Tuang ke teflon / loyang panas kecilkan sedikit api nya.
Bila adonan sudah mulai bergelembung2 ,kecilkan lg api nya supaya tsk gosong lapisan kulit bawahnya.tutup sampai berbentuk pori2 kasih mentega di beberapa bagian dan taburi gula ,tutup lg dan matikan kompor .
Biarkan martabak masak dgn sisa panas dari teflon /loyang
Matang angkat dan beri isian sesuai selera terakhir cucurkan susu kental sebagai sentuhan akhirnya olesi kulit martabak dgn mentega ,potong menurut selera,siap dihidangkan.
Ambil adonan disesuaikan dgn besarnya teflon .
( sya bagi 3 untuk loyang size 26 ) tebal sekali martabaknya.
Beri tambahan soda kira2 1/3 sendok teh/sesuaikan uk teflon/ loyang /bahan,aduk rata.
Tuang ke teflon / loyang panas kecilkan sedikit api nya.
Bila adonan sudah mulai bergelembung2 ,kecilkan lg api nya supaya tsk gosong lapisan kulit bawahnya.tutup sampai berbentuk pori2 kasih mentega di beberapa bagian dan taburi gula ,tutup lg dan matikan kompor .
Biarkan martabak masak dgn sisa panas dari teflon /loyang
Matang angkat dan beri isian sesuai selera terakhir cucurkan susu kental sebagai sentuhan akhirnya olesi kulit martabak dgn mentega ,potong menurut selera,siap dihidangkan.
Catatan : setiap mau masak loyang berikutnya soda ditambahkan untuk setiap adonan/teplonnya/ loyang
IKUTI SAJA RESEPNYA ,SODA KUE JANGAN DI GANTI BAKING POWDER.
TIDAK PAKAI ' FERMIPAN "
Selamat mencoba.
IKUTI SAJA RESEPNYA ,SODA KUE JANGAN DI GANTI BAKING POWDER.
TIDAK PAKAI ' FERMIPAN "
Selamat mencoba.
Resep baru martabak by : Ricka Erlyani
Tuesday, August 4, 2015
Nikmatnya bermesraan dengan Alqur'an. ๐
Berikut ini adalah delapan hal yang insyaaAllah membuat kita merasa nikmat menghafal Al-Qur’an. Tips ini kami dapatkan dari ust. Deden Makhyaruddin yang menghafal 30 juz dalam 19 hari (setoran) dan 56 hari untuk melancarkan. Tapi uniknya, beliau mengajak kita untuk berlama-lama dalam menghafal.
Pernah beliau menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantren beliau…
“Ustadz, menghafal di tempat antum tu berapa lama untuk bisa khatam?”
“SEUMUR HIDUP”, jawab ust. Dede santai.
Meski bingung, Ibu itu tanya lagi, “Targetnya, Ustadz?”
“Targetnya HUSNUL KHOTIMAH, MATI DALAM KEADAAN PUNYA HAFALAN.”
“Mmm…kalo pencapaiannya, Ustadz?”, Ibu itu terus bertanya.
“Pencapaiannya adalah DEKAT DENGAN ALLAH”, kata ust. Deden tegas.
Menggelitik, tapi sarat makna. Prinsip beliau : CEPAT HAFAL itu datangnya dari ALLAH, INGIN CEPAT HAFAL (bisa jadi) datangnya dari SYETAN.
Sebelum membaca lebih jauh, saya harap anda punya komitmen terlebih dahulu untuk meluangkan waktu satu jam per hari khusus untuk qur’an. Kapanpun itu, yang penting durasi satu jam.
Mau tahu lebih lanjut, yuk kita pelajari delapan prinsip dari beliau beserta sedikit penjelasan dari saya.
1. MENGHAFAL TIDAK HARUS HAFAL
Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yang berbeda-beda pada tiap orang. Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs -yang mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya- yaitu Imam Asim menghafal Al-Quran dalam kurun waktu 20 tahun. Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yang sudah kita agendakan HANYA untuk menghafal.
2. BUKAN UNTUK DIBURU-BURU, BUKAN UNTUK DITUNDA-TUNDA
Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah WAKTU KHUSUS untuk menghafal misalnya, maka berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah. Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar-benar kita hafal. Nikmati saja saat-saat ini. Saat dimana kita bercengkrama dengan Allah. satu jam lho. Masak untuk urusan duniawi delapan jam betah, hehe. Inget, satu huruf melahirkan sepuluh pahala bukan?
So, jangan buru-buru. Tapi ingat, juga bukan untuk ditunda-tunda. Habiskan saja durasi menghafal secara ‘PAS’.
3. MENGHAFAL BUKAN UNTUK KHATAM, TAPI UNTUK SETIA BERSAMA QUR’AN.
Kondisi HATI yang tepat dalam menghafal adalah BERSYUKUR bukan BERSABAR. Tapi kita sering mendengar kalimat “Menghafal emang kudu sabar”, ya kan? Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja. Kesannya ayat-ayat itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat-cepat kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam). Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan BUKAN SEBAGAI BEBAN. Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang? Setialah bersama Al-Qur’an.
4. SENANG DIRINDUKAN AYAT
Ayat-ayat yang sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, sebenarnya ayat itu lagi kangen sama kita. Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe. Coba dibaca arti dan tafsirnya. Bisa jadi ayat itu adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru-buru suntuk dan sumpek ketika gak hafal-hafal. Senanglah jadi orang yang dirindukan ayat.
5. MENGHAFAL SESUAP-SESUAP
Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang-ulang. Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat. Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake centong nasi bikin muntah karena terlalu banyak. Menghafal-pun demikian. Jika “’amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah “’amma” diulang-ulang. Jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “’anin nabail ‘adzhim” kemudian diulang-ulang. Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.
6. FOKUS PADA PERBEDAAN, ABAIKAN PERSAMAAN
“Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini, 1 saja! maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman. Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.๐
7. MENGUTAMAKAN DURASI
Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada DURASI bukan pada jumlah ayat yang akan dihafal. Ibarat argo taxi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap. Serahkan satu jam kita pada Allah.. syukur-syukur bisa lebih dari satu jam. Satu jam itu gak sampe 5 persen dari total waktu kita dalam sehari loh! Lima persen untuk Al-Quran, harus bisa dong ah…
8. PASTIKAN AYATNYA BERTAJWID
Cari guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yang ‘terlanjur’ kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya). Jangan dibiasakan otodidak dalam hal apapun yang berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran.
NB:
Setiap point dari 1 – 8 saling terkait.
Semoga bermanfaat, niat kami hanya ingin berbagi. Mungkin ini bisa jadi solusi bagi teman-teman yang merasa tertekan, bosan, bahkan capek dalam menghafal.
Kami yakin ada yang tidak setuju dengan uraian di atas. Pro-kontra hal yang wajar karena setiap kepala punya pikiran dan setiap hati punya perasaan. Oh ya, bagi penghafal pemula jangan lama-lama berkutat dalam mencari metode menghafal yang cocok dan pas. Dewasa ini banyak buku ataupun modul tentang menghafal Al-Qur’an dengan beragam judulnya yang marketable. Percayalah, satu metode itu untuk satu orang. Si A cocok dengan metode X, belum tentu demikian dengan si B, karena si B cocok dengan metode Y. Yakini saja sepenuhnya dalam hati bahwa menghafal itu PENELADANAN PADA SUNNAH NABI BUKAN PENERAPAN PADA SUATU METODE.
Satu lagi seringkali teman kita menakut-nakuti, “Jangan ngafal. Awas lho, kalo lupa dosa besar”. Hey, yang dosa itu MELUPAKAN, bukan LUPA. Imam masjidil Harom pernah lupa sehingga dia salah ketika membaca ayat, apakah dia berdosa besar?
Oke ya. Semoga kita masuk syurga dengan jalan menghafal Qur’an. Amiin.
Selamat menghafal.
[Catatan dari Kajian Indahnya hidup dengan Menghafal dan Mentadabburi Al Quran bersama Ustadz Bachtiar Nashir dan Ustadz Deden Mukhyaruddin di Masjid Al Falah; 7/6/’15] – bersama Ustadzuna Alfan Syulukh, S.Psi., Al Hafidz]
Sumber : alquranikrar.blogspot.com
***
Copas dr sebelah, smg ada manfaatnya
[02/08 22:02] Diana Bunda AMAR ALKA: Cara Cepat Menghafal Al-Qur’an
Segala pujian hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, dan para sahabat seluruhnya.
Keistimewaan metode ini adalah seseorang akan memperoleh kekuatan dan kemapanan hafalan serta dia akan cepat dalam menghafal sehingga dalam waktu yang singkat dia akan segera mengkhatamkan Al-Quran. Berikut kami akan paparkan metodenya beserta pencontohan dalam menghafal surah Al-Jumuah:
1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali.
2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali.
3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali.
4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali
5. Keempat ayat di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali.
7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali.
8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali.
9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali.
10. Keempat ayat (ayat 5-8) di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
11. Bacalah ayat pertama hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
Demikian seterusnya pada setiap surah hingga selesai menghafal seluruh surah dalam Al-Quran. Jangan sampai kamu menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, karena itu akan menyebabkan hafalanmu bertambah berat sehingga kamu tidak bisa menghafalnya.
JIKA AKU INGIN MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA, BAGAIMANA CARANYA?
Jika kamu ingin menambah hafalan baru (halaman selanjutnya) pada hari berikutnya, maka sebelum kamu menambah dengan hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas, maka anda harus membaca hafalan lama (halaman sebelumnya) dari ayat pertama hingga ayat terakhir (muraja’ah) sebanyak 20 kali agar hafalan ayat-ayat sebelumnya tetap kokoh dan kuat dalam ingatanmu. Kemudian setelah mengulangi (muraja’ah) maka baru kamu bisa memulai hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas.
BAGAIMANA CARANYA AKU MENGGABUNGKAN ANTARA MENGULANG (MURAJA’AH) DENGAN MENAMBAH HAFALAN BARU?
Jangan sekali-kali kamu menambah hafalan Al-Qur`an tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya. Hal itu karena jika kamu hanya terus-menerus melanjutkan menghafal Al-Qur’an hingga khatam tapi tanpa mengulanginya terlebih dahulu, lantas setelah khatam kamu baru mau mengulanginya dari awal, maka secara tidak disadari kamu telah banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal. Oleh karena itu metode yang paling tepat dalam menghafal adalah dengan menggabungkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Bagilah isi Al-Qur`an menjadi tiga bagian,yang mana satu bagian berisi 10 juz. Jika dalam sehari kamu telah menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga kamu menyelesaikan 10 juz. Jika kamu telah berhasil menyelesaikan 10 juz maka berhentilah menghafal selama satu bulan penuh dan isi dengan mengulang apa yang telah dihafal, dengan cara setiap hari kamu mengulangi (meraja’ah) sebanyak 8 halaman.
Setelah selesai satu bulan kamu mengulangi hafalan, sekarang mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan hafalan 20 juz. Jika kamu telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulangi hafalan 20 juz, dimana setiap hari kamu harus mengulang (meraja’ah) sebanyak 8 halaman. Jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.
Jika anda telah selesai menghafal semua isi Al-Qur`an, maka ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan, dimana setiap harinya kamu mengulang setengah juz. Kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya, juga diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama setiap harinya. Kemudian pindahlah untuk mengulang 10 juz terakhir dari Al-Qur`an selama sebulan, dimana setiap harinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.
BAGAIMANA CARA MERAJA’AH AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH AKU MENYELESAIKAN METODE MURAJA’AH DI ATAS?
Mulailah mengulangi Al-Qur’an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulanginya 3 kali dalam sehari. Dengan demikian maka kamu akan bisa mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap dua minggu.
Dengan metode seperti ini maka dalam jangka satu tahun (insya Allah) kamu telah mutqin (kokoh) dalam menghafal Al-Qur’an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun penuh.
APA YANG AKU LAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL-QUR’AN SELAMA SATU TAHUN?
Setelah menguasai hafalan dan mengulangInya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, hendaknya bacaan Al-Qur’an yang kamu baca setiap hari hingga akhir hayatmu adalah bacaan yang dilakukan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- semasa hidup beliau. Beliau membagi isi Al-Qur`an menjadi tujuh bagian (dimana setiap harinya beliau membaca satu bagian tersebut), sehingga beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sepekan.
Aus bin Huzaifah -rahimahullah- berkata: Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, “Bagaimana caranya kalian membagi Al-Qur`an untuk dibaca setiap hari?” Mereka menjawab:
ُูุญَุฒِّุจُُู ุซََูุงุซَ ุณَُูุฑٍ َูุฎَู ْุณَ ุณَُูุฑٍ َูุณَุจْุนَ ุณَُูุฑٍ َูุชِุณْุนَ ุณَُูุฑٍ َูุฅِุญْุฏَู ุนَุดْุฑَุฉَ ุณُูุฑَุฉً َูุซََูุงุซَ ุนَุดْุฑَุฉَ ุณُูุฑَุฉً َูุญِุฒْุจَ ุงْูู َُูุตَِّู ู ِْู َูุงْู ุญَุชَّู ُูุฎْุชَู َ
“Kami membaginya menjadi (tujuh bagian yakni): Tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb al-mufashshal yaitu dari surat Qaf sampai akhir (mushaf).” (HR. Ahmad no. 15578).
Maksudnya:
-Hari pertama: Mereka membaca surat “al-fatihah” hingga akhir surat “an-nisa`”.
-Hari kedua: Dari surat “al-maidah” hingga akhir surat “at-taubah”.
-Hari ketiga: Dari surat “Yunus” hingga akhir surat “an-nahl”.
-Hari keempat: Dari surat “al-isra” hingga akhir surat “al-furqan”.
-Hari kelima: Dari surat “asy-syu’ara” hingga akhir surat “Yasin”.
-Hari keenam: Dari surat “ash-shaffat” hingga akhir surat “al-hujurat”.
-Hari ketujuh: Dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-nas”.
Para ulama menyingkat bacaan Al-Qur`an Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ini menjadi kata: ”َูู ِู ุจِุดٍَْูู“. Setiap huruf yang tersebut menjadi simbol dari awal surat yang dibaca oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pada setiap harinya. Maka:
– Huruf “fa`” adalah simbol dari surat “al-fatihah”. Maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari pertama dimulai dari surah al-fatihah.
– Huruf “mim” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kedua dimulai dari surah al-maidah.
– Huruf “ya`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketiga dimulai dari surah Yunus.
– Huruf ”ba`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keempat dimulai dari surah Bani Israil yang juga dinamakan surah al-isra`.
– Huruf “syin” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kelima dimulai dari surah asy-syu’ara`.
– Huruf “waw” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keenam dimulai dari surah wash shaffat.
– Huruf “qaaf” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketujuh dimulai dari surah qaf hingga akhir muashaf yaitu surah an-nas.
Adapun pembagian hizib yang ada pada Al-Qur an sekarang, maka itu tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.
BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (AYAT YANG MIRIP) DALAM AL-QUR’AN?
Cara terbaik untuk membedakan antara dua ayat yang kelihatannya menurut kamu hampir sama (mutasyabih), adalah dengan cara membuka mushaf dan carilah kedua ayat tersebut. Lalu carilah perbedaan antara kedua ayat tersebut, cermatilah perbedaan tersebut, kemudian buatlah tanda/catatan (di dalam hatimu) yang bisa kamu jadikan sebagai tanda untuk membedakan antara keduanya. Kemudian, ketika kamu melakukan murajaah hafalan, maka perhatikanlah perbedaan tersebut secara berulang-ulang sampai kamu mutqin dalam mengingat perbedaan antara keduanya.
BEBERAPA KAIDAH DAN KETENTUAN DALAM MENGHAFAL AL-QUR`AN:
1- Kamu harus menghafal melalui bantuan seorang guru yang bisa membenarkan bacaanmu jika salah.
2- Hafalkanlah 2 halaman setiap hari: 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib. Dengan metode seperti ini (insya Allah) kamu akan bisa menghafal Al-Qur`an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun. Tetapi jika kamu memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka kemampuan menghafalmu akan melemah.
3- Menghafallah mulai dari surat an-nas hingga surat al-baqarah karena hal itu lebih mudah. Tapi setelah kamu menghafal Al-Qur`an maka urutan meraja’ahmu dimulai dari Al-Baqarah sampai An-Nas.
4- Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf saja (baik dalam cetakan maupun bentuknya), karena hal itu sangat membantu dalam menguatkan hafalan dan agar lebih cepat mengingat letak-letak ayatnya, ayat apa yang ada di akhir halaman ini dan ayat apa yang ada di awal halaman sebelahnya.
5- Setiap orang yang menghafal Al-Qur’an pada 2 tahun pertama biasanya apa yang telah dia hafal masih mudah hilang, dan masa ini disebut fase at-tajmi’ (pengumpulan hafalan). Karenanya janganlah kamu bersedih karena ada sebagian hafalanmu yang kamu lupa atau kamu banyak keliru dalam hafalan. Ini adalah fase yang sulit sebagai ujian bagimu, dan ini adalah fase rentan yang bisa menjadi pintu masuknya setan untuk menghentikan kamu dari menghafal Al-Qur`an. Tolaklah was-was tersebut dari dalam hatimu dan teruslah menghafal, karena dia (menghafal Al-Qur`an) merupakan perbendaharaan harta yang tidak diberikan kepada sembarang orang.
[Oleh: Asy-Syaikh Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al-Qasim, imam dan khathib di Masjid Nabawi]
Sunday, August 2, 2015
Cara Cepat Menghafal Al-Qur’an
Segala pujian hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, dan para sahabat seluruhnya.
Keistimewaan metode ini adalah seseorang akan memperoleh kekuatan dan kemapanan hafalan serta dia akan cepat dalam menghafal sehingga dalam waktu yang singkat dia akan segera mengkhatamkan Al-Quran. Berikut kami akan paparkan metodenya beserta pencontohan dalam menghafal surah Al-Jumuah:
1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali.
2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali.
3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali.
4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali
5. Keempat ayat di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali.
7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali.
8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali.
9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali.
10. Keempat ayat (ayat 5-8) di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
11. Bacalah ayat pertama hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
Demikian seterusnya pada setiap surah hingga selesai menghafal seluruh surah dalam Al-Quran. Jangan sampai kamu menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, karena itu akan menyebabkan hafalanmu bertambah berat sehingga kamu tidak bisa menghafalnya.
JIKA AKU INGIN MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA, BAGAIMANA CARANYA?
Jika kamu ingin menambah hafalan baru (halaman selanjutnya) pada hari berikutnya, maka sebelum kamu menambah dengan hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas, maka anda harus membaca hafalan lama (halaman sebelumnya) dari ayat pertama hingga ayat terakhir (muraja’ah) sebanyak 20 kali agar hafalan ayat-ayat sebelumnya tetap kokoh dan kuat dalam ingatanmu. Kemudian setelah mengulangi (muraja’ah) maka baru kamu bisa memulai hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas.
BAGAIMANA CARANYA AKU MENGGABUNGKAN ANTARA MENGULANG (MURAJA’AH) DENGAN MENAMBAH HAFALAN BARU?
Jangan sekali-kali kamu menambah hafalan Al-Qur`an tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya. Hal itu karena jika kamu hanya terus-menerus melanjutkan menghafal Al-Qur’an hingga khatam tapi tanpa mengulanginya terlebih dahulu, lantas setelah khatam kamu baru mau mengulanginya dari awal, maka secara tidak disadari kamu telah banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal. Oleh karena itu metode yang paling tepat dalam menghafal adalah dengan menggabungkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Bagilah isi Al-Qur`an menjadi tiga bagian,yang mana satu bagian berisi 10 juz. Jika dalam sehari kamu telah menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga kamu menyelesaikan 10 juz. Jika kamu telah berhasil menyelesaikan 10 juz maka berhentilah menghafal selama satu bulan penuh dan isi dengan mengulang apa yang telah dihafal, dengan cara setiap hari kamu mengulangi (meraja’ah) sebanyak 8 halaman.
Setelah selesai satu bulan kamu mengulangi hafalan, sekarang mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan hafalan 20 juz. Jika kamu telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulangi hafalan 20 juz, dimana setiap hari kamu harus mengulang (meraja’ah) sebanyak 8 halaman. Jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.
Jika anda telah selesai menghafal semua isi Al-Qur`an, maka ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan, dimana setiap harinya kamu mengulang setengah juz. Kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya, juga diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama setiap harinya. Kemudian pindahlah untuk mengulang 10 juz terakhir dari Al-Qur`an selama sebulan, dimana setiap harinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.
BAGAIMANA CARA MERAJA’AH AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH AKU MENYELESAIKAN METODE MURAJA’AH DI ATAS?
Mulailah mengulangi Al-Qur’an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulanginya 3 kali dalam sehari. Dengan demikian maka kamu akan bisa mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap dua minggu.
Dengan metode seperti ini maka dalam jangka satu tahun (insya Allah) kamu telah mutqin (kokoh) dalam menghafal Al-Qur’an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun penuh.
APA YANG AKU LAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL-QUR’AN SELAMA SATU TAHUN?
Setelah menguasai hafalan dan mengulangInya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, hendaknya bacaan Al-Qur’an yang kamu baca setiap hari hingga akhir hayatmu adalah bacaan yang dilakukan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- semasa hidup beliau. Beliau membagi isi Al-Qur`an menjadi tujuh bagian (dimana setiap harinya beliau membaca satu bagian tersebut), sehingga beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sepekan.
Aus bin Huzaifah -rahimahullah- berkata: Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, “Bagaimana caranya kalian membagi Al-Qur`an untuk dibaca setiap hari?” Mereka menjawab:
ُูุญَุฒِّุจُُู ุซََูุงุซَ ุณَُูุฑٍ َูุฎَู ْุณَ ุณَُูุฑٍ َูุณَุจْุนَ ุณَُูุฑٍ َูุชِุณْุนَ ุณَُูุฑٍ َูุฅِุญْุฏَู ุนَุดْุฑَุฉَ ุณُูุฑَุฉً َูุซََูุงุซَ ุนَุดْุฑَุฉَ ุณُูุฑَุฉً َูุญِุฒْุจَ ุงْูู َُูุตَِّู ู ِْู َูุงْู ุญَุชَّู ُูุฎْุชَู َ
“Kami membaginya menjadi (tujuh bagian yakni): Tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb al-mufashshal yaitu dari surat Qaf sampai akhir (mushaf).” (HR. Ahmad no. 15578).
Maksudnya:
-Hari pertama: Mereka membaca surat “al-fatihah” hingga akhir surat “an-nisa`”.
-Hari kedua: Dari surat “al-maidah” hingga akhir surat “at-taubah”.
-Hari ketiga: Dari surat “Yunus” hingga akhir surat “an-nahl”.
-Hari keempat: Dari surat “al-isra” hingga akhir surat “al-furqan”.
-Hari kelima: Dari surat “asy-syu’ara” hingga akhir surat “Yasin”.
-Hari keenam: Dari surat “ash-shaffat” hingga akhir surat “al-hujurat”.
-Hari ketujuh: Dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-nas”.
Para ulama menyingkat bacaan Al-Qur`an Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ini menjadi kata: ”َูู ِู ุจِุดٍَْูู“. Setiap huruf yang tersebut menjadi simbol dari awal surat yang dibaca oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pada setiap harinya. Maka:
– Huruf “fa`” adalah simbol dari surat “al-fatihah”. Maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari pertama dimulai dari surah al-fatihah.
– Huruf “mim” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kedua dimulai dari surah al-maidah.
– Huruf “ya`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketiga dimulai dari surah Yunus.
– Huruf ”ba`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keempat dimulai dari surah Bani Israil yang juga dinamakan surah al-isra`.
– Huruf “syin” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kelima dimulai dari surah asy-syu’ara`.
– Huruf “waw” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keenam dimulai dari surah wash shaffat.
– Huruf “qaaf” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketujuh dimulai dari surah qaf hingga akhir muashaf yaitu surah an-nas.
Adapun pembagian hizib yang ada pada Al-Qur an sekarang, maka itu tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.
BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (AYAT YANG MIRIP) DALAM AL-QUR’AN?
Cara terbaik untuk membedakan antara dua ayat yang kelihatannya menurut kamu hampir sama (mutasyabih), adalah dengan cara membuka mushaf dan carilah kedua ayat tersebut. Lalu carilah perbedaan antara kedua ayat tersebut, cermatilah perbedaan tersebut, kemudian buatlah tanda/catatan (di dalam hatimu) yang bisa kamu jadikan sebagai tanda untuk membedakan antara keduanya. Kemudian, ketika kamu melakukan murajaah hafalan, maka perhatikanlah perbedaan tersebut secara berulang-ulang sampai kamu mutqin dalam mengingat perbedaan antara keduanya.
BEBERAPA KAIDAH DAN KETENTUAN DALAM MENGHAFAL AL-QUR`AN:
1- Kamu harus menghafal melalui bantuan seorang guru yang bisa membenarkan bacaanmu jika salah.
2- Hafalkanlah 2 halaman setiap hari: 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib. Dengan metode seperti ini (insya Allah) kamu akan bisa menghafal Al-Qur`an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun. Tetapi jika kamu memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka kemampuan menghafalmu akan melemah.
3- Menghafallah mulai dari surat an-nas hingga surat al-baqarah karena hal itu lebih mudah. Tapi setelah kamu menghafal Al-Qur`an maka urutan meraja’ahmu dimulai dari Al-Baqarah sampai An-Nas.
4- Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf saja (baik dalam cetakan maupun bentuknya), karena hal itu sangat membantu dalam menguatkan hafalan dan agar lebih cepat mengingat letak-letak ayatnya, ayat apa yang ada di akhir halaman ini dan ayat apa yang ada di awal halaman sebelahnya.
5- Setiap orang yang menghafal Al-Qur’an pada 2 tahun pertama biasanya apa yang telah dia hafal masih mudah hilang, dan masa ini disebut fase at-tajmi’ (pengumpulan hafalan). Karenanya janganlah kamu bersedih karena ada sebagian hafalanmu yang kamu lupa atau kamu banyak keliru dalam hafalan. Ini adalah fase yang sulit sebagai ujian bagimu, dan ini adalah fase rentan yang bisa menjadi pintu masuknya setan untuk menghentikan kamu dari menghafal Al-Qur`an. Tolaklah was-was tersebut dari dalam hatimu dan teruslah menghafal, karena dia (menghafal Al-Qur`an) merupakan perbendaharaan harta yang tidak diberikan kepada sembarang orang.
[Oleh: Asy-Syaikh Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al-Qasim, imam dan khathib di Masjid Nabawi]
Segala pujian hanya milik Allah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, dan para sahabat seluruhnya.
Keistimewaan metode ini adalah seseorang akan memperoleh kekuatan dan kemapanan hafalan serta dia akan cepat dalam menghafal sehingga dalam waktu yang singkat dia akan segera mengkhatamkan Al-Quran. Berikut kami akan paparkan metodenya beserta pencontohan dalam menghafal surah Al-Jumuah:
1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali.
2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali.
3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali.
4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali
5. Keempat ayat di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali.
7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali.
8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali.
9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali.
10. Keempat ayat (ayat 5-8) di atas dari awal hingga akhir digabungkan dan dibaca ulang sebanyak 20 kali.
11. Bacalah ayat pertama hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
Demikian seterusnya pada setiap surah hingga selesai menghafal seluruh surah dalam Al-Quran. Jangan sampai kamu menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, karena itu akan menyebabkan hafalanmu bertambah berat sehingga kamu tidak bisa menghafalnya.
JIKA AKU INGIN MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA, BAGAIMANA CARANYA?
Jika kamu ingin menambah hafalan baru (halaman selanjutnya) pada hari berikutnya, maka sebelum kamu menambah dengan hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas, maka anda harus membaca hafalan lama (halaman sebelumnya) dari ayat pertama hingga ayat terakhir (muraja’ah) sebanyak 20 kali agar hafalan ayat-ayat sebelumnya tetap kokoh dan kuat dalam ingatanmu. Kemudian setelah mengulangi (muraja’ah) maka baru kamu bisa memulai hafalan baru dengan metode yang aku sebutkan di atas.
BAGAIMANA CARANYA AKU MENGGABUNGKAN ANTARA MENGULANG (MURAJA’AH) DENGAN MENAMBAH HAFALAN BARU?
Jangan sekali-kali kamu menambah hafalan Al-Qur`an tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya. Hal itu karena jika kamu hanya terus-menerus melanjutkan menghafal Al-Qur’an hingga khatam tapi tanpa mengulanginya terlebih dahulu, lantas setelah khatam kamu baru mau mengulanginya dari awal, maka secara tidak disadari kamu telah banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal. Oleh karena itu metode yang paling tepat dalam menghafal adalah dengan menggabungkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Bagilah isi Al-Qur`an menjadi tiga bagian,yang mana satu bagian berisi 10 juz. Jika dalam sehari kamu telah menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga kamu menyelesaikan 10 juz. Jika kamu telah berhasil menyelesaikan 10 juz maka berhentilah menghafal selama satu bulan penuh dan isi dengan mengulang apa yang telah dihafal, dengan cara setiap hari kamu mengulangi (meraja’ah) sebanyak 8 halaman.
Setelah selesai satu bulan kamu mengulangi hafalan, sekarang mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan hafalan 20 juz. Jika kamu telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulangi hafalan 20 juz, dimana setiap hari kamu harus mengulang (meraja’ah) sebanyak 8 halaman. Jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, sambil kamu mengulangi setiap harinya 8 halaman hingga kamu bisa menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.
Jika anda telah selesai menghafal semua isi Al-Qur`an, maka ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan, dimana setiap harinya kamu mengulang setengah juz. Kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya, juga diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama setiap harinya. Kemudian pindahlah untuk mengulang 10 juz terakhir dari Al-Qur`an selama sebulan, dimana setiap harinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.
BAGAIMANA CARA MERAJA’AH AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH AKU MENYELESAIKAN METODE MURAJA’AH DI ATAS?
Mulailah mengulangi Al-Qur’an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulanginya 3 kali dalam sehari. Dengan demikian maka kamu akan bisa mengkhatamkan Al-Qur’an sekali setiap dua minggu.
Dengan metode seperti ini maka dalam jangka satu tahun (insya Allah) kamu telah mutqin (kokoh) dalam menghafal Al-Qur’an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun penuh.
APA YANG AKU LAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL-QUR’AN SELAMA SATU TAHUN?
Setelah menguasai hafalan dan mengulangInya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, hendaknya bacaan Al-Qur’an yang kamu baca setiap hari hingga akhir hayatmu adalah bacaan yang dilakukan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- semasa hidup beliau. Beliau membagi isi Al-Qur`an menjadi tujuh bagian (dimana setiap harinya beliau membaca satu bagian tersebut), sehingga beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sepekan.
Aus bin Huzaifah -rahimahullah- berkata: Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, “Bagaimana caranya kalian membagi Al-Qur`an untuk dibaca setiap hari?” Mereka menjawab:
ُูุญَุฒِّุจُُู ุซََูุงุซَ ุณَُูุฑٍ َูุฎَู ْุณَ ุณَُูุฑٍ َูุณَุจْุนَ ุณَُูุฑٍ َูุชِุณْุนَ ุณَُูุฑٍ َูุฅِุญْุฏَู ุนَุดْุฑَุฉَ ุณُูุฑَุฉً َูุซََูุงุซَ ุนَุดْุฑَุฉَ ุณُูุฑَุฉً َูุญِุฒْุจَ ุงْูู َُูุตَِّู ู ِْู َูุงْู ุญَุชَّู ُูุฎْุชَู َ
“Kami membaginya menjadi (tujuh bagian yakni): Tiga surat, lima surat, tujuh surat, sembilan surat, sebelas surat, tiga belas surat, dan hizb al-mufashshal yaitu dari surat Qaf sampai akhir (mushaf).” (HR. Ahmad no. 15578).
Maksudnya:
-Hari pertama: Mereka membaca surat “al-fatihah” hingga akhir surat “an-nisa`”.
-Hari kedua: Dari surat “al-maidah” hingga akhir surat “at-taubah”.
-Hari ketiga: Dari surat “Yunus” hingga akhir surat “an-nahl”.
-Hari keempat: Dari surat “al-isra” hingga akhir surat “al-furqan”.
-Hari kelima: Dari surat “asy-syu’ara” hingga akhir surat “Yasin”.
-Hari keenam: Dari surat “ash-shaffat” hingga akhir surat “al-hujurat”.
-Hari ketujuh: Dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-nas”.
Para ulama menyingkat bacaan Al-Qur`an Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ini menjadi kata: ”َูู ِู ุจِุดٍَْูู“. Setiap huruf yang tersebut menjadi simbol dari awal surat yang dibaca oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pada setiap harinya. Maka:
– Huruf “fa`” adalah simbol dari surat “al-fatihah”. Maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari pertama dimulai dari surah al-fatihah.
– Huruf “mim” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kedua dimulai dari surah al-maidah.
– Huruf “ya`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketiga dimulai dari surah Yunus.
– Huruf ”ba`” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keempat dimulai dari surah Bani Israil yang juga dinamakan surah al-isra`.
– Huruf “syin” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari kelima dimulai dari surah asy-syu’ara`.
– Huruf “waw” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari keenam dimulai dari surah wash shaffat.
– Huruf “qaaf” maksudnya bacaan Al-Qur`an beliau di hari ketujuh dimulai dari surah qaf hingga akhir muashaf yaitu surah an-nas.
Adapun pembagian hizib yang ada pada Al-Qur an sekarang, maka itu tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.
BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (AYAT YANG MIRIP) DALAM AL-QUR’AN?
Cara terbaik untuk membedakan antara dua ayat yang kelihatannya menurut kamu hampir sama (mutasyabih), adalah dengan cara membuka mushaf dan carilah kedua ayat tersebut. Lalu carilah perbedaan antara kedua ayat tersebut, cermatilah perbedaan tersebut, kemudian buatlah tanda/catatan (di dalam hatimu) yang bisa kamu jadikan sebagai tanda untuk membedakan antara keduanya. Kemudian, ketika kamu melakukan murajaah hafalan, maka perhatikanlah perbedaan tersebut secara berulang-ulang sampai kamu mutqin dalam mengingat perbedaan antara keduanya.
BEBERAPA KAIDAH DAN KETENTUAN DALAM MENGHAFAL AL-QUR`AN:
1- Kamu harus menghafal melalui bantuan seorang guru yang bisa membenarkan bacaanmu jika salah.
2- Hafalkanlah 2 halaman setiap hari: 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib. Dengan metode seperti ini (insya Allah) kamu akan bisa menghafal Al-Qur`an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun. Tetapi jika kamu memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka kemampuan menghafalmu akan melemah.
3- Menghafallah mulai dari surat an-nas hingga surat al-baqarah karena hal itu lebih mudah. Tapi setelah kamu menghafal Al-Qur`an maka urutan meraja’ahmu dimulai dari Al-Baqarah sampai An-Nas.
4- Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf saja (baik dalam cetakan maupun bentuknya), karena hal itu sangat membantu dalam menguatkan hafalan dan agar lebih cepat mengingat letak-letak ayatnya, ayat apa yang ada di akhir halaman ini dan ayat apa yang ada di awal halaman sebelahnya.
5- Setiap orang yang menghafal Al-Qur’an pada 2 tahun pertama biasanya apa yang telah dia hafal masih mudah hilang, dan masa ini disebut fase at-tajmi’ (pengumpulan hafalan). Karenanya janganlah kamu bersedih karena ada sebagian hafalanmu yang kamu lupa atau kamu banyak keliru dalam hafalan. Ini adalah fase yang sulit sebagai ujian bagimu, dan ini adalah fase rentan yang bisa menjadi pintu masuknya setan untuk menghentikan kamu dari menghafal Al-Qur`an. Tolaklah was-was tersebut dari dalam hatimu dan teruslah menghafal, karena dia (menghafal Al-Qur`an) merupakan perbendaharaan harta yang tidak diberikan kepada sembarang orang.
[Oleh: Asy-Syaikh Dr. Abdul Muhsin Muhammad Al-Qasim, imam dan khathib di Masjid Nabawi]
Subscribe to:
Posts (Atom)